Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Sang Dewi Kematian
Di penjuru Utara , berdiri sebuah kerajaan kokoh yang di lindungi oleh sosok legendaris . Nama Sedra bergema di setiap sudut negeri . Seorang pendekar wanita hebat yang kekuatannya melampaui nalar manusia . Dunia mengenalnya dengan julukan yang mengerikan , Dewi kematian .
Tak ada musuh yang tersisa jika sedra sudah turun tangan . Baginya pedang adalah keadilan dan perintah raja adalah napasnya .
Namun segalanya hancur dalam semalam . Tuduhan keji sebagai pembunuh raja seketika membalikan dunianya . Dari pahlawan yang di puja kini ia menjadi buronan yang di hina .
Suasana ruang singgasana mendadak pecah oleh kegaduhan yang memekakkan telinga .
" Pendekar Sedra telah berkhianat ! Dia membunuh Baginda Raja dengan sangat kejam ! " Seru pangeran Elias suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan .
Sedra terperanjat . Jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar tuduhan itu .
" Apa apaan ini pangeran Elias ! Bagaimana mungkin aku melakukannya ? Yang Mulia sudah tewas saat aku tiba , dan kau ada disana bersamaku . Kau saksinya ! "
Sedra membela diri dengan suara bergetar . Tak percaya bertahun-tahun ia mengabdikan hidupnya demi kerajaan , namun kini ia justru di jebak dalam skenario pembunuhan yang keji .
" Pengawal ! Seret dia ke penjara ! " Titah Elias dengan tegas sembari menyunggingkan senyum licik yang hanya bisa dilihat oleh sedra .
Para pengawal pun bergerak maju mengunci ruang gerak Sedra dengan kepungan mata pedang yang berkilauan tepat di lehernya .
" Pangeran Elias..., jadi inilah wajah aslimu ! " desis sedra dengan tatapan tajam penuh amarah .
" Kalian semua telah ditipu olehnya ! " Teriak Sedra memberontak .
Sedra berusaha melepaskan diri , namun dia merasa ada yang aneh . Sesuatu yang salah tengah terjadi , Sedra tak lagi bisa menggunakan kekuatannya .
" Ada apa ini ? Mengapa aku tidak bisa merasakan apa apa ? " panik nya .
Elias tersenyum penuh kemenangan saat melihat Sedra kini menjadi wanita lemah tak berdaya .
" Cepat bawa pengkhianat ini ! " Titah Elias .
Mereka pun menyeret Sedra dengan paksa dan memasukannya ke dalam penjara .
****
Sementara itu , jauh di wilayah selatan , seorang pangeran berparas rupawan melangkah tegas dengan wibawa yang memancar kuat menuju singgasana Raja .
" Hormat saya , Yang Mulia! " ucapnya lantang sembari sedikit membungkuk memberikan tanda hormat .
" Cakra ! Kau adalah satu-satunya yang bisa ku andalkan . Jasamu bagi kerajaan ini sungguh tak ternilai . " puji Raja Indra , Sang penguasa agung kerajaan Selatan .
" Ayahanda terlalu memuji . Nyatanya sampai saat ini aku bahkan belum berhasil meringkus pendekar wanita yang telah merenggut banyak nyawa itu ." Sahut Cakra dingin . Dibalik wajah tampannya , Sang pangeran memang di kenal berhati beku dan tak kenal ampun .
Meski Raja telah memandatkan takhta kepadanya , jalan Cakra tidaklah mulus . Dibalik bayang bayang pilar istana sepasang mata penuh dengki terus mengawasi dengan penuh iri hati .
Langkah kaki yang tergesa memecah keheningan aula , di susul suara lantang pangeran Julian yang baru saja memasuki ruang istana . Tak lupa dia memberikan hormatnya pada Raja yang juga merupakan ayahandanya .
" Pendekar gila itu sangat sulit di taklukan . Bukankah dia akan selalu menjadi ancaman bagi kerajaan Selatan , Ayahanda ? " cetus Julian dengan nada provokatif .
" Pangeran Julian benar . " sahut sang Raja dengan raut wajah serius . " Kita harus meringkusnya dengan cara apapun . "
Cakra yang sejak tadi terdiam , akhirnya membuka suara dengan nada dingin .
" Bagaimana dengan salah satu tawanan yang kita tangkap ? Apakah dia sudah mulai bicara ? "
" Dia masih dalam proses interogasi pangeran . " jawab seorang petinggi militer bernama Riu yang juga merupakan tangan kanan Cakra .
" Terus siksa dia sampai mengaku ! " Cakra mengepalkan tangannya dengan geram .
Tak lama kemudian seorang perwira masuk dengan terengah-engah . " Lapor pangeran Cakra ! Prajurit tawanan itu akhirnya mengaku . Dia bilang...dia berasal dari Utara . "
" Apa ! " pekik mereka hampir bersamaan , tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar .
" Utara adalah wilayah kekuasaan Raja Seno . " gumam sang raja , keningnya berkerut dalam .
" Bagaimana mungkin dia mendalangi pemberontakan ini ? Aku mengenalnya dengan baik , dia adalah Raja yang sangat bijaksana . "
Cakra menyipitkan mata , menatap tajam sang perwira . " apa kebenarannya bisa di pastikan ? " tanya nya dengan penuh penekanan .
Belum sempat perdebatan itu berlanjut seorang pengawal istana tiba tiba menerjang masuk dan bersimpuh dengan nafas yang memburu .
" Lapor Yang Mulia ! Saya membawa kabar duka dari Utara . Sahabat lama anda Raja Seno... telah dibunuh di kediamannya ! "
Semua mata seketika membelalak dengan sempurna tatkala mendengar kabar itu .
***
Di balik dingin nya jeruji kini sedra hanya bisa menatap kosong ke dinding sel yang lembap . Pikirannya melayang mencoba mencerna kenyataan pahit yang baru saja menimpanya .
Rasa cintanya yang tulus dan kesetiaan yang dia berikan kepada Elias ternyata dibalas dengan pengkhianatan yang paling rendah . Di setiap Medan perang Sedra selalu menjadi perisai terdepan , mempertaruhkan nyawa dibawah perintah Elias . Namun ternyata , dia tak lebih dari sekedar pion yang di buang setelah tujuan sang pangeran tercapai .
" Siapa sangka...aku berakhir di tempat sehina ini . " gumamnya lirih di tengah kegelapan yang dingin .
Terdengar suara langkah kaki yang beradu dengan lantai batu yang lembab memecah kesunyian sel . Sedra tidak perlu mendongak untuk tau siapa yang datang . Aroma parfum mahal yang bercampur dengan bau besi berkarat itu sudah sangat dia kenali .
Elias berdiri disana , menatap Sedra dari balik jeruji dengan ekspresi yang sulit di baca .
" Tempat ini tidak cocok untuk seorang ' Dewi Kematian ' , bukan ? " Suara Elias memecah keheningan terdengar tenang namun tatapan nya begitu tajam .
Sedra perlahan mengangkat wajahnya . Menatap Elias dengan penuh kemarahan . Sedra mencengkeran besi sel hingga buku jarinya memutih .
" Kau iblis.."
" Bukan , Sedra . Aku adalah pemenang . " Elias tersenyum licik menatap Sedra yang kini terlihat begitu kecil .
" Tega sekali kau ! Memanfaatkan dan mempermainkan ku..Kau bahkan membunuh ayahmu sendiri ! " Sedra langsung memalingkan wajah saat tangan Elias mulai menyentuhnya . Elias pun terkekeh melihat reaksi Sedra yang seolah jijik padanya .
" itulah masalahmu Sedra . Kau memberikan segalanya terlalu mudah . " bisik Elias .
" Kau adalah pedang yang hebat . Tajam , patuh , dan mematikan . Tapi , seorang raja tidak berteman dengan pedangnya . Dia hanya menggunakannya . "
" Dasar brengsekkk! Aku bunuh kau.." tangan Sedra mengepal begitu erat giginya menggertak menahan dendam dan sakit hati yang kini telah memenuhi hatinya .
Elias semakin tertawa mendengar ancaman Sedra barusan seolah hal itu sama sekali tak berpengaruh apa apa padanya .
" Cec...membunuhku hmm ? Dengan cara apa ? Kau bahkan tidak berdaya sekarang. "
Sedra baru sadar jika mungkin Elias lah yang membuatnya kehilangan seluruh kekuatannya .
" Apa yang telah kau lakukan padaku , Elias ? Racun ? Sihir ? Katakan ! " nafas sedra memburu karena amarah yang memuncak netra tajamnya tak lepas ia layangkan pada sang pangeran .
" Hanya sedikit penawar untuk kekuatanmu yang terlalu berbahaya itu . " jawab Elias dengan santai .
Sedra tiba tiba tertawa . Tawanya terdengar begitu getir merutuki kebodohannya sendiri yang bisa dengan sangat mudah di perdaya oleh Elias .
" Chahh...Aku memberikan segalanya kesetiaanku, pedangku , bahkan hatiku dan sekarang inilah balasannya . "
Elias mendekat . Jemarinya menyentuh jeruji besi yang dingin " Cinta adalah kelemahan yang membuatmu berguna Sedra . Karena kau mencintaiku , kau tidak pernah mempertanyakan perintahku . Kau tidak pernah curiga sedikitpun kau selalu mempercayai semua yang aku katakan . "
Elias menjeda , matanya berkilat haus akan kekuasaan . Dia mendekatkan wajahnya ke jeruji suaranya berubah menjadi bisikan tajam.
" Kekuatanmu , Sedra . Hanya itu yang kuhargai darimu . Kau adalah senjata terhebatku . Tapi senjata harus bisa dikendalikan . Saat kau mulai menanyakan perintahku , saat kau mulai berpikir tentang kedamaian dan berhenti membunuh... disitulah kegunaan mu berakhir . "
Sedra sedikit menarik ujung bibirnya membisikan sesuatu di telinga Elias .
" Kau pikir ini sudah berakhir ? Kau mengambil kekuatanku , kau menghancurkan perasaan ku...tapi kau lupa satu hal , Elias . "
Elias menaikan sebelah alisnya seolah meremehkan . " Oh ? Apa itu ? "
" Kau membiarkanku hidup . " Desis Sedra dengan nada yang tiba tiba tenang ketenangan yang jauh lebih menakutkan dari pada amarahnya tadi .
" Dan selama jantungku masih berdetak , aku adalah kutukan yang akan menghantui setiap malam di atas takhtamu . "
Mendengar itu Elias mendengus lalu berbalik pergi
" Membiarkan hidup katamu ? CK..,besok fajar aku pastikan kau akan dieksekusi . Sejarah akan mengingatmu sebagai pembunuh raja yang gila . Selamat tinggal sedra . " Ejek Elias sebelum benar benar pergi .
Bersambung....
🌹🌹🌹