NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sore bersama yang terkasih

Sabtu pagi itu, langit tampak bersahabat saat aku dan Rain memulai perburuan tempat tinggal baru. Fokus kami kali ini sangat spesifik: sebuah hunian yang lebih luas dari sekadar kamar kos, namun tetap membumi—bukan apartemen pencakar langit yang kaku.

Kami menyisir beberapa lokasi di sepanjang ruas jalan utama bahkan sampai gang sempit, mencari bangunan yang maksimal terdiri dari tiga lantai, mirip konsep rusun atau paviliun bertingkat rendah yang masih menyisakan sisa-sisa interaksi antar tetangga.

​"Bukan gedung kaca yang tinggi, kan?" tanya Rain memastikan sembari memarkir motornya di lokasi pertama.

​"Bukan. Aku butuh ruang yang lebih lebar, Rain. Sesuatu yang punya sirkulasi udara alami dan mungkin teras kecil untuk menaruh tanaman," jawabku mantap sembari menatap bangunan tiga lantai di hadapan kami.

"Aku juga ingin tempat yang seperti itu"

​Kami memasuki lokasi pertama, sebuah bangunan minimalis yang tiap lantainya hanya berisi empat unit hunian. Aku menyukai jendelanya yang besar, namun Rain langsung memeriksa sudut-sudut plafon dan rembesan air di dinding kamar mandi.

​"Desainnya oke, Ra. Tapi lihat jalur airnya? Sepertinya bakal bermasalah kalau musim hujan tiba," komentar Rain jujur.

​Kami berlanjut ke lokasi kedua dan ketiga yang berada di jalur yang sama. Konsepnya serupa; hunian vertikal rendah yang terasa lebih luas karena memiliki ruang tamu dan dapur kecil yang terpisah dari area tidur.

Namun, masalahnya selalu sama. Di lokasi kedua, unit yang tersedia berada di lantai tiga dan tangganya terlalu curam. Di lokasi ketiga, suasananya terlalu bising karena dekat dengan bengkel.

​Menjelang siang, peluh mulai membasahi kening kami. Kami memutuskan menepi di sebuah kedai soto di bawah pohon rindang tak jauh dari lokasi terakhir.

​Sembari meletakkan daftar catatan rumah yang tadi kami kunjungi. "Kita harus Sabar, Ra. Masalahnya hampir semua yang bagus tadi statusnya masih waiting list. Penghuni lamanya baru akan pindah akhir bulan depan, atau pemiliknya masih menunggu pelunasan administrasi."

​"Termasuk hunian yang baru dibangun dekat gedung kantor itu?" tanyaku penuh harap.

​"Sama saja," Rain menghela napas sembari meminum es teh manisnya. "Pembangunannya baru benar-benar tuntas beberapa minggu lagi. Bahkan catnya saja mungkin belum sepenuhnya kering. Kita benar-benar harus menunggu."

​Makan siang itu berlalu dengan obrolan yang jauh lebih tenang. Meski semua opsi yang kami survei hari ini berakhir dengan status "tunggu", aku tidak merasa kecewa. Ada rasa nyaman yang menyelinap saat mendiskusikan detail tempat tinggal bersama Rain—sesuatu yang sangat mendasar dan nyata di tengah kegilaan ini.

​"Hari ini kita pulang dengan tangan hampa rain, padahal kalau ada yang ok salah satu dari kita bisa dapat dulu?" Ucapku saat kami bersiap meninggalkan kedai.

​Rain mengenakan helmnya, lalu menatapku melalui kaca pelindung yang bening. "Tidak sepenuhnya hampa, yara. Setidaknya kita sudah memetakan wilayah. Besok-besok kita cek lagi kalau statusnya sudah berubah.."

​Aku tersenyum, lalu naik ke boncengan motornya. Meskipun hari ini semua jawaban adalah waiting list, setidaknya aku tahu ada satu orang yang sama denganku sedang mencari tempat berteduh, aku tidak sendirian di tengah pencarian tempat tinggal ini.

Motor Rain menderu pelan, membelah angin sore yang mulai terasa sejuk. Aku sedikit mencondongkan tubuh ke depan, mencoba mengalahkan suara bising knalpot agar pertanyaanku terdengar jelas.

​"Rain," panggilku, "Rumah yang tempo hari sempat kamu booking... ada kabar terbaru gak? Pemiliknya jadi menyuruh anaknya pindah ke atau gak, sih?"

​Aku teringat unit kecil di lantai dua bangunan bergaya rusun itu. Lokasinya sangat ideal. Aku sudah membayangkan sangat nyaman jika Rain jadi mendapatkan rumah itu.

​Rain sedikit melirik melalui spion, lalu menggeleng pelan. "Belum ada kabar lagi, Ra. Terakhir aku telepon tadi pagi, pemilik bangunannya bilang anaknya masih bimbang antara mau menempati unit itu atau pindah."

​"Masih digantung juga ya?" aku menghela napas panjang, sedikit ikut kecewa. "Padahal menurutku  tata ruangnya ok banget.  Tidak terlalu tinggi, tapi cahayanya dapet banget."

​"Yah, begitulah risikonya kalau mengincar bangunan favorit. Peminatnya banyak, pemiliknya pun jadi lebih pilih-pilih atau malah plin-plan," sahut Rain tenang.

Ia melambatkan motor saat melewati polisi tidur. " Kayaknya harus Sabar sedikit lagi. Biasanya kalau sudah rezeki, pemiliknya sendiri yang akan menghubungi karena butuh kepastian penyewa."

​Aku terdiam sejenak, menatap punggung jaket Rain. "Tapi kalau minggu depan masih belum ada kabar, sepertinya kita masih  harus sama - sama mulai cari alternatif lain. Aku tidak bisa terus-terusan mengandalkan status waiting list yang tidak jelas ujungnya."

​Rain mengangguk setuju. "Betul. Jangan ditaruh di satu keranjang saja harapannya. Nanti coba kita sisir lagi jalan di belakang kantor, siapa tahu ada unit serupa yang luput dari pantauan kita kemarin."

Aku tersenyum kecil, memandangi deretan bangunan rendah yang kami lewati. Di lini masa ini, mencari tempat berteduh ternyata membutuhkan kesabaran yang sama besarnya dengan mencari jawaban atas takdir kami yang terlempar kembali ini.

Di tengah deru mesin motor yang konstan, saku jaket Rain bergetar hebat. Ia melambatkan laju kendaraan, menepi di bawah sebongkah pohon  yang teduh untuk merogoh ponselnya. Begitu melihat nama yang tertera di layar, rahangnya sedikit mengeras, namun tatapannya melembut.

​"Halo, Nek?" suara Rain terdengar sangat hati-hati, hampir menyerupai bisikan.

​Aku terdiam di boncengan, memperhatikan ekspresi Rain yang berubah-ubah. Dari keterkejutan, hingga seulas senyum lega yang langka.

Rupanya, sore ini Nenek rain sedang dalam "mode sadar", momen-momen jernih yang jarang terjadi di tengah kabut demensia yang menyelimuti ingatannya.

​Setelah menutup telepon, Rain menoleh ke arahku. "Ra, itu tadi Nenek. Dia lagi fase  ingat semuanya... . Nenek tanya apa aku  bisa mampir."

​Rain menjeda kalimatnya, seolah merasa tidak enak hati  "Pusat perawatan lansianya agak jauh dari sini, sekitar 10km". Kamu mau ikut sebentar melihat Nenek, atau mau aku antar pulang sekarang?"

​Aku tertegun sejenak.

"Aku ikut, Rain. Kalau boleh." ucapku serius.

​Rain tampak sedikit terkejut, namun matanya memancarkan rasa terima kasih yang tulus. "Terima kasih, Ra."

--

​Begitu sampai di teras belakang pusat perawatan itu, aku melihat seorang wanita lansia dengan rambut putih perak yang disanggul rapi. Beliau duduk di kursi kayu, menatap hamparan bunga matahari dengan binar mata yang cerdas.

​"Nek," panggil Rain lembut sembari menghampiri dan mencium punggung tangan beliau.

​Nenek  menoleh, senyumnya langsung merekah. "Rain... dan ini...ayyara" Beliau menyipitkan mata, menatapku dengan tatapan yang sangat dalam.

"Ayyara, kan? Gadis yang selalu ada di cerita Rain."

​Aku mendekat, menyalami tangan beliau yang terasa dingin namun lembut. "Iya, Nek. Saya Ayyara."

​"Kamu lebih cantik dari yang Nenek bayangkan," gumam beliau pelan, jemarinya mengelus punggung tanganku. "Terima kasih sudah menjaga cucu Nenek yang kaku ini."

​Aku melirik Rain yang mendadak salah tingkah, membuang muka ke arah taman bunga. Di sore yang tenang itu, di tengah wangi tanah basah dan aroma teh hangat.

Nenek menyesap teh hangatnya pelan, matanya yang jernih menatap lurus ke arah Rain. Sebagai nenek kandung, beliau adalah saksi hidup yang paling memahami setiap inci perjalanan hidup cucunya ini. Di sore yang tenang itu, percakapan mereka mengalir begitu jujur, seolah kabut demensia yang sering menyerang beliau sedang menepi sejenak.

​"Bagaimana kabar ibumu, Rain? Dia tidak menelepon ke sini?" tanya Nenek lembut.

​Rain berdeham pelan, jemarinya mempermainkan kunci motor di atas meja kayu.

"Ibu sedang sibuk, Nek. Sepertinya kontrak kerja musimannya di luar negeri diperpanjang. Mungkin beberapa bulan lagi baru bisa pulang.

​Nenek mengangguk-angguk, gurat keriput di wajahnya menyiratkan pengertian yang dalam. "Bekerja jauh itu berat. Syukurlah kalau dia tetap sehat."

​"Oh iya, Nek," sambung Rain, mencoba mengalihkan nada bicara menjadi lebih ceria. "Ayah juga baru memberi kabar. Bulan depan beliau berencana pulang ke rumah. Tidak sendiri, Ayah akan membawa ibu tiri dan kedua adikku. Katanya, mereka ingin menetap lebih lama di sini."

​Mata Nenek berbinar. "Benarkah?"

​"Iya. Ayah bilang ingin lebih sering merawat Nenek dan menjenguk Nenek di sini. Itu sebabnya Nenek harus rajin makan dan tetap sehat. Dua cucu Nenek yang kecil-kecil itu pasti sudah tidak sabar ingin bertemu," ujar Rain sembari mengusap lembut punggung tangan wanita tua itu.

​Sore itu, di bawah naungan pohon yang teduh, Nenek mulai bercerita. Suaranya mengalir tenang, membawa kami masuk ke dalam labirin sejarah keluarga yang rumit. Beliau bercerita tentang ibu kandung Rain yang dulu adalah menantunya.

Meski telah menikah lagi semenjak berpisah dengan ayah Rain, bagi Nenek, wanita itu tetaplah anaknya sendiri.

​"Mereka bercerai saat Rain baru berusia tiga tahun," kenang Nenek, tatapannya menerawang ke arah taman. "Bukan karena tidak saling cinta, tapi karena perbedaan keyakinan yang terlalu sulit untuk dijembatani saat itu. Tak lama setelah berpisah, mereka masing-masing membangun keluarga baru."

​Aku melirik ke arah Rain. Ia terdiam, memandangi hamparan bunga matahari dengan ekspresi yang sulit dibaca.

​"Saat itu, ayah dan ibunya masing-masing menawari Rain untuk ikut," lanjut Nenek pelan. "Tapi anak ini keras kepala. Sejak kecil dia sudah sangat menempel pada Nenek. Dia bilang, 'Rain tidak mau keluar dari rumah Nenek'. Dia memilih tumbuh besar di rumah ini, bersamaku, daripada harus memilih antara ayah atau ibunya."

​Mendengar itu, dadaku terasa sesak. Aku baru menyadari bahwa di balik sosok Rain yang kaku dan mandiri, ada luka lama tentang perpisahan dan keputusan besar yang harus ia ambil di usia yang sangat dini.

Pantas saja ia begitu gigih mencari hunian yang tepat; ia adalah seseorang yang sejak kecil sudah memahami arti kesetiaan pada satu tempat yang ia sebut "rumah".

​Nenek kemudian sedikit terkekeh, seolah teringat sesuatu. "Untung dulu ada adik laki-laki Nenek dan istrinya, Elia. Mereka sering membantu Nenek mengurus Rain kalau Nenek sedang lelah. Rain kecil itu kalau sudah merajuk, hanya bisa diam kalau diajak jalan-jalan oleh mereka."

Rain menoleh padaku, seulas senyum pahit tersungging di bibirnya.

​Aku membalas tatapannya, mencoba menyampaikan lewat mata bahwa aku memahami setiap bebannya.

Di sore yang mulai temaram itu, aku merasa tembok-tembok di antara kami perlahan runtuh, digantikan oleh pemahaman baru yang jauh lebih dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!