Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 26: Cincin Itu Kembali
bulan telah berlalu sejak perjalanan ke makam Sari dan Cahaya. Enam bulan yang diisi dengan kebiasaan baru yang perlahan-lahan terasa seperti ritme alami kehidupan Aisha. Arka kini hampir setiap hari di rumah. Bukan tinggal, tapi hadir. Ia datang pagi-pagi sebelum Baskara berangkat sekolah, kadang ikut mengantar dengan sepeda menemani Aisha dan Baskara. Ia pulang malam setelah Baskara tidur, setelah berbincang panjang dengan Aisha di teras belakang.
Mereka tidak lagi membahas masa lalu. Bukan karena takut, tapi karena semua sudah terucap, semua sudah dimaafkan. Yang tersisa hanyalah masa depan yang ingin mereka bangun bersama.
Baskara tumbuh menjadi anak yang lebih ceria. Nilai-nilainya di sekolah meningkat, teman-temannya bertambah, dan ia tidak lagi terbangun di tengah malam karena mimpi buruk. Dokter Andini bilang Baskara sudah bisa dihentikan sesi terapinya, meski ia menyarankan untuk tetap memantau perkembangannya.
Aisha juga berubah. Ia tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri setiap hari. Ia belajar menerima bahwa masa lalu adalah masa lalu, dan yang terpenting adalah apa yang ia lakukan sekarang. Bisnis kateringnya berkembang pesat. Ia bahkan membuka cabang kecil di bilangan Kemang, dikelola oleh sepupunya yang baru lulus kuliah.
Arka juga berubah. Ia lebih terbuka, lebih sabar, dan lebih hadir. Ia tidak lagi menyembunyikan perasaannya di balik kerja dan diam. Ia bercerita tentang ketakutannya, tentang keraguannya, tentang bagaimana ia hampir menyerah pada hidup ketika Aisha berselingkuh. Ia juga lebih sering menghabiskan waktu dengan Mia, yang kini sudah tinggal di rumah perlindungan dan mulai membuka usaha kecil-kecilan menjual kue kering.
---
Pagi itu, Aisha sedang menyiram tanaman di taman belakang ketika Baskara berlari ke arahnya dengan wajah panik.
“Bu, Bu! Ayah telepon! Ayah bilang Ayah mau ke sini sekarang! Ada yang penting!”
Aisha mengerutkan kening. “Ada apa, Nak? Ayah bilang kenapa?”
“Nggak tahu. Ayah cuma bilang penting banget. Ayah udah di jalan!”
Aisha meletakkan selang air, masuk ke rumah untuk berganti pakaian. Ia tidak tahu apa yang membuat Arka terburu-buru seperti itu. Biasanya Arka selalu memberi tahu sebelumnya jika ingin datang.
Setengah jam kemudian, bel pintu berbunyi. Baskara sudah berlari membukakan pintu sebelum Aisha sempat beranjak dari sofa.
“Ayah! Ayah! Ada apa, Ayah?”
Aisha mendengar suara Arka yang terengah-engah, seperti baru saja berlari. “Baskara, tolong tunggu di kamar dulu, ya. Ayah mau bicara dengan Ibu.”
“Tapi Ayah—”
“Sebentar saja, Nak. Ayah janji akan cerita nanti.”
Baskara mengangguk, berlari ke kamarnya dengan wajah kecewa.
Arka masuk ke ruang tamu. Wajahnya serius, matanya jujur, dan di tangannya ia memegang sebuah kotak beludru merah kecil.
Jantung Aisha berdegup kencang. Ia tahu kotak itu. Ia pernah melihatnya dulu, lima belas tahun yang lalu, ketika Arka melamar nya di restoran Jepang di kawasan Kuningan.
“Arka, apa itu?” suara Aisha bergetar.
Arka berlutut di hadapan Aisha. Tangannya gemetar membuka kotak beludru itu. Di dalamnya, sebuah cincin berlian dengan potongan princess cut —cincin yang dulu ia berikan pada Aisha di hari lamaran mereka.
“Aisha, cincin ini kusimpan selama bertahun-tahun. Setelah kita bercerai, aku hampir membuangnya. Tapi aku tidak bisa. Cincin ini adalah simbol dari cinta yang pernah kita janjikan. Cincin ini adalah saksi bahwa kita pernah bahagia. Dan aku ingin kita bahagia lagi.”
Aisha menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh.
“Aisha, aku tahu kita sudah bercerai. Aku tahu kita sudah melalui banyak hal. Tapi aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Aku mencintaimu ketika kau masih istriku. Aku mencintaimu ketika kau berselingkuh. Aku mencintaimu ketika kita bercerai. Aku mencintaimu ketika kita berjuang untuk Baskara. Dan aku mencintaimu sekarang, di saat ini, di sini.”
Aisha terisak. “Arka...”
“Aisha Prameswari, maukah kau menikah denganku lagi? Bukan karena Baskara, bukan karena orang lain, tapi karena kita saling mencintai. Maukah kau menjadi istriku lagi?”
Aisha menangis. Ia tidak bisa berkata-kata. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengangguk, berulang kali, sambil tersenyum.
Arka menghela napas lega. Tangannya yang gemetar mengeluarkan cincin dari kotak, lalu menyematkannya di jari manis Aisha. Cincin itu pas, seperti tidak pernah lepas.
“Kau yakin, Aisha?” bisik Arka.
“Aku yakin, Arka. Aku belum pernah seyakin ini dalam hidupku.”
Arka menarik Aisha ke dalam pelukannya. Mereka berdua berpelukan di ruang tamu, di bawah sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela.
Baskara keluar dari kamarnya, matanya membulat melihat ayah dan ibunya berpelukan. Ia melihat cincin di jari ibunya, dan ia tahu apa yang terjadi.
“Ayah! Ibu! Kalian balikan?!” teriak Baskara sambil berlari menghampiri.
Arka melepaskan pelukannya, meraih Baskara, dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Iya, Nak! Ayah dan Ibu akan menikah lagi!”
Baskara berteriak kegirangan. “Hore! Hore! Aku mau jadi pagar ayunan!”
Aisha tertawa. “Pagar ayunan? Kamu mau jadi apa, Nak?”
“Maksudku, jadi anak gantaran! Eh, anak gantaran apa, Bu? Anak yang bawa bunga!”
“Anak pembawa bunga? Flower boy?”
“Iya, itu! Aku mau jadi flower boy!”
Arka tertawa, menurunkan Baskara. “Kamu sudah besar untuk jadi flower boy, Nak. Tapi Ayah akan kasih tugas khusus buat kamu.”
“Apa, Ayah?”
“Kamu akan jadi saksi. Saksi bahwa Ayah dan Ibu saling mencintai.”
Baskara mengangguk semangat. “Aku siap, Ayah!”
---
Kabar pertunangan Aisha dan Arka menyebar cepat. Keluarga besar dari kedua belah pihak memberi restu, meski ada beberapa yang masih ragu. Tapi Aisha dan Arka tidak peduli. Mereka sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa yang terpenting adalah kebahagiaan mereka dan Baskara.
Mia adalah orang pertama yang memberi selamat. Wanita itu datang ke rumah keesokan harinya dengan membawa sekeranjang buah-buahan dan kue kering buatannya sendiri.
“Aisha, Arka, aku bahagia untuk kalian,” kata Mia sambil memeluk Aisha.
“Terima kasih, Mia,” jawab Aisha.
“Aisha, aku tahu aku tidak punya hak untuk meminta apa pun. Tapi jika suatu hari nanti kalian menikah, bolehkah aku datang?”
Aisha menatap Arka. Arka mengangguk.
“Tentu, Mia. Kau keluarga kami.”
Mia menangis. Aisha memeluknya.
---
Persiapan pernikahan dimulai. Aisha dan Arka memutuskan untuk tidak mengadakan pesta besar. Hanya keluarga dekat dan teman-teman terbaik. Mereka ingin pernikahan yang sederhana, tapi bermakna.
Aisha memilih gaun putih sederhana dengan renda di bagian lengan. Arka memilih setelan jas hitam dengan dasi biru—warna favorit Aisha. Baskara akan mengenakan setelan mini yang sama dengan Arka.
Tempat pernikahan dipilih di taman belakang rumah Aisha. Taman yang dulu ia rawat sendiri, yang kini bermekaran dengan bunga-bunga warna-warni. Taman yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka melewati badai.
---
Dua minggu sebelum pernikahan, Aisha dan Arka pergi ke Bandung lagi. Kali ini sendirian, tanpa Baskara. Mereka ingin mengunjungi makam Sari dan Cahaya sekali lagi, untuk memberi tahu mereka bahwa Arka akan menikah.
Di depan makam itu, Aisha berlutut, meletakkan bunga mawar merah di atas batu nisan.
“Sari, maafkan aku. Maafkan Arka. Kami akan memulai hidup baru. Tapi kami tidak akan melupakanmu dan Cahaya. Kalian akan selalu ada di hati kami.”
Arka berdiri di samping Aisha, tangannya memegang pundak Aisha. Ia tidak berkata apa-apa, tapi matanya berkaca-kaca.
Mereka berdoa bersama, memohon restu, lalu pergi dengan hati yang lebih tenang.
---
Hari pernikahan tiba. Cuaca cerah, langit biru tanpa awan. Taman belakang rumah Aisha dihiasi dengan kursi-kursi putih, bunga-bunga segar, dan lampu-lampu hias yang akan menyala di malam hari.
Para tamu mulai berdatangan. Keluarga Arka dari pihak ibu, keluarga Aisha dari kedua orang tuanya, Mia dengan gaun ungu muda, Tante Ningsih dengan kebaya batik, Tono yang sudah sembuh total, dan Dokter Andini yang juga diundang sebagai tanda terima kasih.
Baskara berdiri di depan pintu, memegang bantal kecil berisi dua cincin. Ia tersenyum lebar, tidak sabar menunggu ibunya keluar.
Ketika pintu terbuka, semua tamu terdiam.
Aisha berjalan keluar dengan gaun putih sederhana, kerudung tipis di kepalanya, dan buket bunga mawar merah di tangannya. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar, senyumnya tulus.
Arka berdiri di ujung pelaminan, menatap Aisha dengan mata penuh cinta. Tangannya gemetar menahan haru.
Baskara berjalan di depan Aisha, sesekali menoleh untuk memastikan ibunya masih di belakangnya.
Ketika Aisha tiba di hadapan Arka, mereka berdua tersenyum.
“Kau cantik sekali, Aisha,” bisik Arka.
“Kau juga tampan, Arka.”
Penghulu memulai prosesi pernikahan. Ijab kabul diucapkan dengan lancar, tanpa hambatan. Arka mengucapkan janji suci dengan suara lantang, tanpa ragu.
“Saya terima nikahnya Aisha Prameswari binti Hartawan dengan maskawin seperangkat alat sholat dan cincin emas seberat 5 gram, dibayar tunai.”
Aisha tersenyum, menerima akad itu dengan hati yang lapang.
Setelah ijab kabul, mereka berdua duduk sebentar di pelaminan, menerima ucapan selamat dari para tamu. Baskara tidak mau jauh dari mereka, duduk di pangkuan Arka, sesekali memeluk Aisha.
“Bu, Ayah, aku seneng banget,” bisik Baskara.
“Kami juga seneng, Nak,” jawab Aisha.
---
Acara resepsi berlangsung sederhana tapi meriah. Tidak ada orkestra besar, hanya pemain gitar yang memainkan lagu-lagu romantis. Tidak ada hidangan mewah, hanya masakan rumahan yang Aisha masak sendiri dengan bantuan Tante Ningsih.
Tapi semua orang tampak bahagia. Tertawa, bercerita, bernostalgia tentang masa lalu.
Mia mendekati Aisha ketika acara hampir selesai. “Aisha, aku pamit pulang dulu. Aku tidak enak badan.”
“Kau tidak apa-apa, Mia?”
“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing. Terima kasih sudah mengundangku.”
Mia memeluk Aisha. “Aku bahagia melihatmu bahagia, Aisha. Kau pantas mendapatkannya.”
“Terima kasih, Mia. Kau juga pantas bahagia.”
Mia tersenyum, lalu berjalan keluar. Arka menyusulnya, mengantarnya ke mobil.
“Mia, terima kasih sudah datang.”
“Terima kasih sudah mengundangku, Arka. Aku minta maaf untuk semuanya.”
“Tidak perlu minta maaf lagi, Mia. Aku juga minta maaf.”
Mia tersenyum, lalu masuk ke mobil dan pergi.
---
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Aisha dan Arka duduk di teras belakang. Baskara sudah tidur kelelahan setelah seharian menjadi flower boy dan saksi.
“Aisha, apa kau bahagia?” tanya Arka.
“Bahagia, Arka. Aku tidak pernah sebahagia ini.”
“Aku juga. Aku tidak pernah membayangkan kita bisa sampai di sini.”
Aisha menatap cincin di jari manisnya. Cincin yang sama, tapi terasa berbeda. Dulu cincin itu adalah simbol janji yang mereka ingkari. Kini cincin itu adalah simbol tekad yang tidak akan pernah mereka khianati lagi.
“Arka, aku janji tidak akan berselingkuh lagi.”
“Aku percaya padamu, Aisha.”
“Aku janji tidak akan menyembunyikan rahasia lagi,” kata Arka.
“Aku juga percaya padamu, Arka.”
Mereka berdua tersenyum, saling menggenggam tangan.
Di kejauhan, bintang-bintang bertaburan, bulan tersenyum tipis.
Badai telah berlalu. Luka telah sembuh. Dan mereka, yang pernah hancur, kini utuh kembali.
Bersama.