Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Bleeding Skies (Langit berdarah)
Mereka sampai.
Setelah mengambil jalan memutar demi menghindari Zona Kematian, kelompok kecil itu akhirnya sampai di tujuan mereka.
Rifana mendorong gerbang rumahnya terbuka dan berjalan masuk, menuntun kedua bersaudara itu masuk ke dalam.
Melihat pemandangan yang familiar, sedikit menenangkan hati Rifana. Dunia menjadi terlalu berbahaya, bahkan untuk orang seperti dirinya yang telah membangkitkan kekuatan super.
Mau tak mau, Rifana perlu memikirkan kembali rencana masa depannya. Sudah terlalu banyak variabel yang muncul dari penjelajahannya kali ini.
Rencananya untuk bertahan di rumah dan secara perlahan meningkatkan kekuatannya harus segera ditinggalkan, rencana itu telah menjadi lebih berisiko sekarang.
Dengan adanya dua bahaya tingkat tinggi di sekelilingnya, bagaimana bisa Rifana tidur dengan tenang di malam hari nantinya? Yah itu bodoh, karena dia bahkan tak tahu waktu saat ini.
Diantara mereka bertiga, rasa Rifana akan waktu telah lama kacau setelah semua kejadian itu. Mulai dari kebangkitannya, atau bahkan saat dirinya pingsan.
Kunci diputar membuka pintu utama rumah itu, Rifana membawa mereka berdua masuk "Duduklah di sofa" Dia mengunci pintu sebelum mengikuti mereka masuk "Mending, kalian istirahat sebentar" Ucapnya singkat.
Kedua orang itu hanya mengangguk dan membaringkan tubuhnya di sofa, beberapa gejala aneh masih timbul dalam tubuhnya.
Rifana masuk ke kamarnya, ia duduk di kasur dan merilekskan tubuhnya setelah perjalanan jauh.
'Gua harus bikin rencana.. ' Dia berpindah ke meja belajar di samping kasur, tangannya menggapai kotak penuh buku di bawah kasur dan mengambil ssatu secara acak.
Buku tua berdebu ditarik keluar dari tempatnya, dengan sedikit gerakan Rifana membersihkan debu di permukaanya dan mengambil pulpen.
'Baiklah ini dia' Satu persatu, dia mulai menulis semua informasi yang dia dapatkan hingga saat ini.
"Mutan buaya tingkat tinggi, bersarang di timur" Dengan keberadaan makhluk itu, penjelajahan ke timur harus dihentikan di masa depan. Kecuali dia memiliki kekuatan, sebaiknya menghindari daerah itu.
Dan juga Rifana harus tetap menjaga jarak dari utara, dalam perjalanannya kembali ke rumah, dia telah mengambil jalan memutar sejauh beberapa kilometer.
Demi menghindari wilayah ane yang sangat berbahaya, Rifana tanpa sadar mulai memberi nama pada beberapa hal yang ditemukannya di sepanjang jalan.
"Death zone" begitulah Rifana menyebut wilayah aneh dengan spora yang merambat itu, saat pengamatan pertamanya dia memperkirakan setidaknya satu death zone akan memiliki luas puluhan sampai ratusan meter.
Itupun berdasarkan penemuannya, Rifana tak tahu apakah spora spora itu akan menyebar tanpa batasan jarak layaknya penyakit. Dia hanya bisa menebak dengan pengetahuannya yang terbatas.
Dan satu hal yang disadarinya saat itu adalah fakta, kalau Death zone memiliki ciri yang sama.
Semua death zone yang ditemunya memiliki ritme jarak satu sama lainnya, dan ini membawa spekulasi yang masuk akal untuk Rifana.
Titan.
Semua death zone layaknya jejak kaki, yang telah ditinggalkan oleh Titan yang melintas di malam sebelumnya, setiap langkahnya menciptakan lingkungan Kematian bagi manusia biasa seperti Adam dan Ziva.
Hanya dilihat dari penampilan luar mereka, siapapun dapat tahu kalau kedua orang ini tidak benar. Beberapa bercak merah timbul di kulit mereka, perlahan menyebar layaknya parasit.
Rifana harus segera mempercepat tindakannya, jika dia ingin membantu mereka. Dan hanya ada satu cara yang terpikirkan olehnya saat ini.
Membunuh mutan!
Dengan membunuh mutan, dia akan bisa mendapatkan monster core dan membantu mereka bangkit kembali sebagai superhuman.
Namun inilah masalah utamanya.
'Sebaiknya gua ngelihat chat global dulu' Dengan perintah pikiran, layar tipis muncul dari udara tipis mengisi kekosongan di hadapan Rifana.
[Status*]
[Misi*]
[Chat*]
Dalam layar tipis itu, terdapat tiga opsi sederhana dengan titik merah di atasnya, layaknya notifikasi ponsel yang tak terbaca titik itu berkedip.
'Jam berapa sekarang?' Rifana melihat semua opsi sistem yang memiliki titik merah yang berkedip, dia menggaruk kepalanya tak ingat kapan terakhir kali dia mengecek benda ini.
Dengan tak adanya penanda, rasa akan waktu semua orang semakin menghilang sekarang. Semua benda digital telah rusak sepenuhnya, ini seperti akibat dari ledakan bom EMP yang mencangkup seluruh negeri, atau bahkan dunia.
Dia menggerakan jarinya, menyentuh panel misi terlebih dahulu.
Pertemuan tak terduga kemarin membawa petunjuk untuk penyelesaian misinya kali ini, dan dia harus menyelesaikannya cepat atau lambat.
Saat suara klik yang garing terdengar, layar itu berkedip kedalam bentuk lain.
Menunjukan panel baru yang berbeda dari ingatannya.
[Mission]
Misi aktif : King of the lake
Kesulitan : Nightmare
Progress : 0%
Deskripsi : Danau di timur telah dikuasai oleh makhluk mutan khusus "Abomination Crocodile" Rebut kembali dan jatuhkan kekuasaan makhluk itu dari tempat ini.
Hadiah : ???
Batas waktu : 2 bulan
Setelah membaca deskripsi misi yang telah diperbarui Rifana jatuh dalam pikirannya 'Sial' dia tak dapat melakukan hal lain selai mengutuk.
'Gimana cara gua bunuh makhluk segede itu cok' Rifana berkeringat, dengan kondisinya yang seperti ini menjatuhkan makhluk tiran seperti itu hanyalah mimpi belaka.
Bahkan dengan traitnya, dia tak terlalu bisa bertarung.
Kondisi fisiknya sudah buruk bahkan sebelum kiamat terjadi, dan bahkan kepalanya selalu terasa tidak pada tempatnya. Ini membuat Rifana terkadang kabur akan realitas.
Dia bisa saja lupa dalam waktu yang singkat, bahkan dia lupa apa efek samping trait adaptasinya itu.
Emosinya selalu bergejolak di setiap saat, rasa tak terkendali dan terasing terkadang menyerbu pikirannya tanpa sebab.
Membuatnya terdiam tanpa kata.
"...Kalo gini ceritanya sih" Rifana melihat pintu kamar yang dikunci, suara dengkuran samar dapat didengar dari luar "Ada mereka, mungkin gua bisa" Dia tak terburu buru pergi, tangannya menggenggam pulpen itu lagi dan kembali menulis.
'Pergi sendirian akan terlalu sulit buat gua..' Dia menekan pulpen, mencipatakan huruf-huruf informatif di kertas 'Gua harus bikin kelompok' Tangannya terus bergerak dengan bebas di atas meja.
Waktu terus berlalu saat Rifana menulis semua hal yang ditemukannya, hingga energi mentalnya terkuras habis, dia akhirnya tertidur.
...
Rifana terbangun di waktu yang tak diketahui.
Tenggorokannya mengering kekurangan air, dia kemudian kembali ke ruang ruang tamu untuk mengecek kondisi dua bersaudara itu.
Dengan segelas air di tangannya, Rifana pergi meninggalkan dapur menuju ruang tamu.
Di sofa lapuk yang sudah tua, mereka terbaring lemah di tengah kegelapan. Nafasnya tersengal-sengal dengan keringat deras tumpah dari tubuhnya, seolah mengalami mimpi yang sangat mengerikan kedua orang itu terus menggeliat layaknya cacing.
Rifana tak ingin membangunkan mereka untuk saat ini, dia hanya perlu mengecek keadaan dan kembali ke kamar setelahnya, namun.
Sesuatu menganggunya.
Crack..
Suara retak yang tiba-tiba, terdengar dari luar rumahnya, membuat Rifana secara refleks waspada akan segalanya '..Apalagi' Dia merasa sudah cukup untuk semuanya.
Mentalnya masih kelelahan, namun hal sekecil apapun tak dapat dianggap remeh, terutama dengan di dunia ini.
Dia mengendap ke lantai dua untuk mengintip, lebih baik berhati-hati daripada jatuh kedalam pelukan kematian.
Melangkah melewati lantai kayu yang berderak, Rifana sampai ke jendela yang diselimuti oleh tirai gelap.
Ini dipasang olehnya tepat beberapa menit setelah bangun dari tidurnya, demi keselamatan ekstra Rifana harus melakukan segala hal yang bisa dia lakukan.
Dengan hati hati dia menarik terbuka tirai, hendak menciptakan lubang intip yang sempurna.
Namun, sebelum dia menempatkan matanya untuk mengintip. Tubuhnya bergidik tanpa daya, saat cahaya merah mengalir masuk kedalam ruangan.
Bau menyengat aneh yang asing, merembes masuk menembus lubang hidung Rifana. Menurunkan suhu ke titik yang lebih rendah.
Dengan gerakan yang kaku layaknya boneka drama yang dimainkan dalam teater, Rifana menarik tirai terbuka lebih jauh dan.
Semburan cahaya merah membanjiri tubuhnya dengan cepat, mata Rifana berkedut perlahan menyaksikan adegan itu.
Pandangannya beralih ke langit di luar, yang saat ini.
Menjadi lebih kacau.
Retakan-retakan di langit terbuka lebar bagaikan luka yang dirobek kembali, melalui sobekannya semburat partikel kemerahan mengalir turun dari cakrawala memenuhi dunia di sekitarnya.
'A..' Rifana terpaku dalam kesunyian, partikel merah terus merembes masuk dan dengan perlahan terurai menjadi sesuatu yang kebih kecil.
Hingga pada akhirnya berintegrasi sepenuhnya dengan lingkungan.
Langitnya..
Berdarah.