NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Kelahiran Kembali dari Darah

​Waktu seakan kehilangan maknanya di dalam gua tanpa cahaya itu. Entah sudah berapa jam atau berapa hari berlalu sejak Lin Tian memulai tahap pertama Seni Pedang Sembilan Kematian.

​Di atas lantai batu yang dingin, tubuh pemuda itu tergeletak tak bergerak, diselimuti lapisan tebal kerak berwarna merah kehitaman—campuran dari darah kering, keringat, dan kotoran sumsum tulang yang dipaksa keluar oleh Niat Pedang murni milik Gu Chen.

​Krak... krak...

​Sebuah suara retakan pelan memecah keheningan. Lapisan kerak di lengan Lin Tian mulai retak dan berjatuhan, memperlihatkan kulit baru yang tidak lagi pucat dan rapuh, melainkan berwarna sedikit keperakan di bawah pendaran redup batu pendar.

​Lin Tian membuka matanya. Tidak ada lagi kekeruhan di sana; yang tersisa hanyalah tatapan sedingin mata pedang yang baru diasah. Ia perlahan bangkit dan duduk. Setiap kali persendiannya bergerak, terdengar suara gesekan halus yang anehnya menyerupai bunyi pedang yang ditarik dari sarungnya.

​"Sakitnya sudah hilang..." gumam Lin Tian serak. Ia menatap telapak tangannya sendiri.

​Dantiannya masih berupa lubang hitam yang hancur, tidak bisa menampung walau setetes pun energi Qi langit dan bumi. Namun, sebagai gantinya, ia bisa merasakan untaian energi yang tajam dan padat mengalir di dalam otot, pembuluh darah, dan sumsum tulangnya. Dagingnya telah menjadi cawan, dan Niat Pedang adalah airnya.

​Ia mengepalkan tinjunya dan meninjunya ke udara kosong.

​Wush! PAAT!

​Udara meledak dengan suara retakan keras. Gelombang kejut kecil tercipta hanya dari kekuatan fisik murni. Lin Tian terkesiap. Tanpa menggunakan setetes Qi pun, kekuatan pukulan ini setara dengan seorang kultivator tahap Pengumpulan Qi Tingkat 2!

​"Ini baru tahap awal Besi Penempa Daging... Sungguh seni terlarang yang mengerikan, namun ini adalah satu-satunya jalan bagiku," bisik Lin Tian sambil menatap kerangka Senior Gu Chen dengan penuh rasa hormat.

​Ia tahu, perjalanan ini masih sangat panjang. Kekuatannya saat ini tidak ada artinya di mata para tetua Sekte Awan Hijau, apalagi untuk menembus Tanah Suci dan menyelamatkan adiknya, Lin Xue. Ia harus menahan diri, menyembunyikan kekuatannya, dan menggunakan Tambang Batu Hitam ini sebagai tungku tempa pribadinya. Niat pedang di gua ini masih sangat berlimpah, cukup untuk menopang kultivasinya selama beberapa waktu ke depan.

​Lin Tian mengumpulkan sisa-sisa kain jubahnya yang robek, membersihkan diri seadanya, lalu menutupi lorong runtuh yang membawanya ke gua rahasia ini dengan tumpukan batu besar. Kekuatan fisiknya yang baru membuatnya bisa mengangkat bongkahan batu seberat ratusan kati dengan mudah.

​Setelah memastikan pintu masuknya tersembunyi sempurna, Lin Tian melangkah kembali ke terowongan tambang utama. Ia harus mengumpulkan kuota Batu Hitam sebelum matahari terbenam, atau Mandor Tie akan mulai curiga.

​Saat ia menyusuri lorong yang lembap dan dipenuhi miasma beracun, indranya yang kini jauh lebih tajam menangkap suara rintihan tertahan dan suara pukulan keras dari belokan di depan.

​Lin Tian mengintip dari balik bayangan. Di sana, seorang pria dewasa bertubuh kurus namun berotot kawat—salah satu budak veteran—sedang menginjak dada seorang remaja laki-laki yang meringkuk di tanah. Di samping mereka, keranjang bambu milik si remaja telah terguling, memuntahkan beberapa bongkah Batu Hitam.

​"Serahkan batu-batu itu, bocah cacat! Jika aku tidak memenuhi kuota hari ini, aku akan mati di luar barak!" bentak pria veteran itu, mengangkat beliungnya tinggi-tinggi, bersiap menghantamkannya ke kaki si remaja.

​Remaja itu batuk darah, namun tangannya masih berusaha melindungi sisa batu di dekatnya. Wajahnya dipenuhi debu hitam, tetapi kilat keras kepala di matanya terasa sangat familiar bagi Lin Tian.

​Lin Tian memicingkan mata. Lin Chen?

​Ingatan lama perlahan muncul. Lin Chen adalah sepupu jauh dari cabang keluarga Lin yang miskin. Berbeda dengan Lin Tian yang berhasil masuk ke Sekte Awan Hijau sebagai Murid Luar, Lin Chen hanyalah pelayan sekte. Setahun yang lalu, Lin Chen dituduh mencuri pil spiritual milik seorang Tetua dan dibuang ke Tambang Batu Hitam. Tidak heran ia terlihat sangat kurus dan nyaris seperti mayat hidup; racun miasma telah menggerogotinya selama setahun penuh.

​Melihat beliung itu meluncur turun menuju kaki Lin Chen, mata Lin Tian berkilat dingin. Tubuhnya melesat maju seperti bayangan hantu.

​BAM!

​Sebelum beliung itu menyentuh Lin Chen, tangan Lin Tian telah mencengkeram gagang kayunya dengan erat. Pria veteran itu terbelalak, berusaha menarik senjatanya, namun gagang beliung itu terasa seolah tertanam di dalam bongkahan besi padat. Tak bergeming sedikit pun.

​"Kau..." pria itu mendongak, menatap wajah dingin Lin Tian. "Anak baru! Jangan ikut campur urusan—"

​KRAK!

​Lin Tian meremas tangannya. Gagang beliung yang terbuat dari kayu ulin keras itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kayu di dalam genggamannya.

​Mata pria veteran itu nyaris melompat keluar dari rongganya. Menghancurkan kayu ulin tebal hanya dengan cengkeraman tangan kosong? Tanpa fluktuasi Qi? Monster macam apa ini?!

​"Pergi," kata Lin Tian, suaranya datar namun membawa tekanan berat yang membuat dada pria itu sesak.

​Tanpa membuang waktu, pria itu melepaskan sisa gagang beliungnya, berbalik, dan lari terbirit-birit menghilang ke dalam kegelapan terowongan.

​Lin Tian menghela napas, menetralkan niat membunuh yang sempat melonjak di darahnya, lalu berjongkok. Ia mengulurkan tangan dan menarik Lin Chen hingga duduk.

​Lin Chen terbatuk hebat, memegangi dadanya yang memar. Saat ia mendongak dan menatap wajah penolongnya, matanya terbelalak tak percaya.

​"Kakak... Kakak Tian? Kenapa kau bisa ada di tempat neraka ini?!" suara Lin Chen serak dan bergetar. Pandangannya turun ke arah perut Lin Tian yang dibalut kain bernoda darah kering. "Dantianmu... mereka menghancurkannya?"

​"Ceritanya panjang, Chen," sahut Lin Tian tenang. Ia memunguti bongkahan Batu Hitam yang berserakan dan memasukkannya kembali ke keranjang bambu milik Lin Chen. "Mulai sekarang, kita bertahan hidup bersama di dasar lubang ini."

​Lin Chen menundukkan wajahnya, air mata bercampur debu hitam mengalir di pipinya yang cekung. "Tidak ada harapan di sini, Kak Tian. Miasma ini... meridianku sudah tertutup sepenuhnya. Aku bahkan tidak kuat mengayunkan beliung lebih dari sepuluh kali sehari. Aku hanya menjadi beban."

​Lin Tian menatap adik sepupunya itu dalam-dalam. Di dunia kultivasi yang kejam ini, ikatan darah adalah hal yang langka dan rapuh, namun Lin Tian tahu betul rasa sakit kehilangan keluarga. Ia tidak akan membiarkan Lin Chen mati membusuk di sini, persis seperti ia menolak membiarkan Lin Xue berakhir menjadi kuali kultivasi di Tanah Suci.

​"Duduklah. Serahkan urusan batu kepadaku," ucap Lin Tian tegas. Ia mengambil beliung karatan miliknya sendiri.

​Lin Tian berjalan ke arah dinding batu terdekat. Ia menarik napas dalam-dalam. Otot-otot di lengannya menegang, memancarkan kilau keperakan samar di bawah debu. Ia mengayunkan beliung itu bukan dengan teknik, melainkan dengan kebrutalan murni yang didukung oleh otot tempaan Niat Pedang.

​DUAAR!

​Batu tambang yang terkenal luar biasa keras itu hancur berantakan dalam satu ayunan, meruntuhkan setengah dinding terowongan dan memunculkan lusinan bongkahan Batu Hitam berkualitas tinggi.

​Mulut Lin Chen ternganga lebar. Bahkan Mandor Tie yang berada di Pengumpulan Qi Tingkat 5 tidak bisa menghancurkan batu tambang sebrutal itu!

​"Kak... Kak Tian, kekuatan fisik apa ini...?"

​Lin Tian menoleh ke belakang, menyeka keringat di dahinya, dan memberikan senyum tipis yang memendam tekad ribuan tahun.

​"Ini adalah kekuatan orang cacat yang menolak untuk mati, Chen. Ayo, kumpulkan batunya. Sebentar lagi matahari terbenam. Kita harus memberikan 'salam' yang pantas untuk Mandor Tie."

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!