NovelToon NovelToon
Sistem Kenaikan Surgawi; Jalan Kultivasi Melintasi Multiverse

Sistem Kenaikan Surgawi; Jalan Kultivasi Melintasi Multiverse

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nameless Monarch

ig: @namemonarch

Di sebuah multiverse di mana para penguasa mengandalkan insting dan amarah, Ye Chen mendominasi dengan kalkulasi dingin. Ia adalah sosok yang memanipulasi keadaan dari balik layar, memandang konflik dunia layaknya bidak catur di papan raksasa.

​"Kultivasi hanyalah proses penyempurnaan sirkulasi energi. Dan takdir? Itu hanyalah sekumpulan data yang belum dikendalikan oleh tangan yang tepat."

​Inilah awal dari perjalanan lintas jagat raya. Sebuah jalan di mana hukum langit akan tunduk di bawah kendali seorang analis sistem yang memulai langkahnya dari titik terendah untuk mencapai puncak tertinggi multiverse.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameless Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 — Resonansi Qi Spiritual

Malam beringsut turun menyelimuti Hutan Kabut Purba, menggantikan sisa-sisa cahaya matahari dengan kegelapan pekat yang mematikan. Namun, di bawah siraman cahaya bulan sabit yang pucat, sesosok bayangan melesat menembus barisan pepohonan dengan kecepatan dan keheningan yang menentang hukum fisika dasar.

Ye Chen bergerak layaknya hantu sejati. Sejak teknik Jejak Bayangan Hantu miliknya dinaikkan ke Tingkat Kemahiran Menengah melalui fitur Analisis Cacat Teknik, efisiensi pergerakannya telah mencapai titik optimal. Ia tidak lagi membuang tenaga untuk menahan momentum; ia sepenuhnya menyatu dengan gaya gravitasi. Hanya dalam waktu belasan menit, ia telah kembali tiba di lembah bertebing curam, tempat di mana anomali kabut pendaran biru itu berada.

Lembah itu masih sunyi senyap sejak ia membantai Ular Sisik Tembaga pagi tadi. Udara malam di tempat ini terasa jauh lebih dingin, seolah suhunya turun hingga nyaris membekukan embun di ujung dedaunan. Namun, melalui Persepsi Spiritual barunya, Ye Chen tahu bahwa rasa dingin itu bukanlah suhu iklim biasa, melainkan kepadatan partikel energi alam yang terkumpul dan mendominasi ruang fisik di sekitarnya.

Ye Chen berjalan ke tengah lembah dan melompat ringan ke atas batu datar raksasa yang menjadi pusat anomali tersebut. Ia duduk bersila, mengatur postur punggungnya agar tegak lurus sempurna, memastikan jalur tulang belakangnya tidak memiliki hambatan.

"Sistem, cari kepadatan energi di radius sepuluh meter dari posisiku saat ini. Berikan parameter angka absolut agar aku bisa menyesuaikan ritme pernapasan," perintah Ye Chen di dalam benaknya.

Selama hampir dua bulan ini, melalui akumulasi kerja kerasnya terhadap latihan, ia menyentuh tahap Puncak Alam Penempaan Tubuh. Itulah alasannya kenapa ia meminta sistem untuk mencarikan tempat yang penuh dengan energi Qi Spiritual. Dengan harapan dapat membuka Persepsi Spiritualnya.

[Melakukan pemindaian lingkungan... Konsentrasi partikel Qi di titik ini mencapai 340% lebih padat dibandingkan rata-rata regional pinggiran benua.]

[Evaluasi Lingkungan: Kondisi sangat optimal untuk membentuk energi Qi Spiritual pertama Tuan Rumah.]

Mendapat konfirmasi matematis tersebut, Ye Chen menutup matanya. Ia kembali mematikan visual fananya dan beralih sepenuhnya pada Persepsi Spiritual. Dalam sekejap, dunia gelap di balik kelopak matanya berubah menjadi lautan pendaran cahaya biru mikroskopis yang melayang-layang dengan ritme acak.

Itu adalah Qi murni alam semesta. Energi liar yang tidak terikat, tidak memiliki tuan, namun menyimpan potensi daya hancur dan daya cipta yang tak terbatas.

"Langkah pertama adalah asimilasi," batin Ye Chen dengan tenang. "Menurut teori Seni Pernapasan Bintang Hampa, aku tidak boleh memaksa menarik energi ini ke dalam tubuh. Aku harus membuat ruang hampanya terlebih dahulu, lalu membiarkan tekanan energi dari luar masuk mengisi kekosongan tersebut secara alami."

Ye Chen mulai mengatur napasnya. Tiga detik menarik napas, satu detik menahan, lalu menghembuskannya hingga paru-parunya benar-benar kosong dari oksigen fana. Ia terus mengulangi siklus itu, memelankan detak jantungnya hingga nyaris tak terdengar. Ia menjadikan tubuh fananya sebagai sebuah wadah kosong yang haus akan pengisi.

Perlahan, partikel-partikel cahaya biru yang melayang di sekitarnya mulai bereaksi. Mereka seperti tertarik oleh medan magnet yang tiba-tiba aktif di dalam tubuh Ye Chen. Satu per satu, partikel Qi itu menembus pori-pori kulitnya dan masuk ke dalam jaringan ototnya.

Sensasi pertama yang dirasakan Ye Chen bukanlah kehangatan atau kenyamanan, melainkan rasa sakit yang luar biasa tajam.

Partikel Qi alam itu terasa seperti jutaan jarum mikroskopis yang menyala dan dipaksa masuk mengalir ke dalam pembuluh darahnya. Tubuh biologis fananya menolak intrusi energi asing tersebut. Otot-ototnya mengejang, dan keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahinya.

[Peringatan Sistem: Tekanan pada jaringan meridian fana Tuan Rumah mencapai 85%. Integritas pembuluh darah mulai terganggu. Risiko ruptur internal terdeteksi.]

[Disarankan untuk menurunkan laju penyerapan energi liar sebesar 40%.]

Bagi praktisi bela diri biasa, peringatan ini adalah tanda untuk segera berhenti dan meminum pil penenang sebelum tubuh mereka hancur. Namun, Ye Chen adalah seorang analis yang memahami batas elastisitas sebuah material.

"Kalkulasi ditolak," respon Ye Chen di dalam kepalanya, menggertakkan rahangnya menahan rasa sakit yang membakar. "Batas kerusakan fatal ada di angka 100%. Tahan laju penyerapan di angka 90% kapasitas. Aku butuh tekanan hidrolik energi ini untuk memperlebar jalur sirkuit meridianku secara paksa. Jika aku menurunkannya, meridianku akan kembali menyempit dan gagal beradaptasi."

Mengabaikan alarm peringatan, Ye Chen terus mempertahankan ritme pernapasannya. Ia menggunakan otak kirinya untuk membimbing aliran energi liar yang membakar itu. Ia membayangkan tubuhnya sebagai sebuah papan sirkuit, dan Qi yang masuk adalah aliran listrik bertegangan tinggi.

Jika listrik itu dibiarkan liar, sirkuitnya akan terbakar atau meledak. Maka dari itu, ia memfokuskan tekadnya untuk menciptakan kabel virtual dari kesadarannya, memaksa arus partikel biru itu bergerak mengikuti satu jalur pasti: turun melewati dada, menyusuri tulang belakang, dan berkumpul di titik Dantian yang terletak dua inci di bawah pusarnya.

Setiap kali partikel Qi itu berhasil melewati jalur meridiannya, Ye Chen bisa merasakan kotoran biologis tingkat seluler di dalam tubuhnya ikut terdorong keluar bersama keringat, menyisakan jalur yang lebih lebar dan kuat.

Satu jam berlalu. Tubuh Ye Chen kini sepenuhnya diselimuti oleh pendaran aura biru yang samar. Udara di sekitarnya berputar membentuk pusaran angin kecil, menyedot kabut lembah ke arahnya. Di dalam Dantiannya, partikel-partikel Qi yang liar itu mulai bertabrakan dan saling mengompresi satu sama lain akibat tekanan ekstrem yang ia pertahankan.

"Sekarang... kompresi absolut," batin Ye Chen memberikan perintah final pada dirinya sendiri.

Ia menghentikan tarikan napasnya secara mendadak. Semua energi yang telah terkumpul di area pusarnya ditekan dari segala arah menggunakan kekuatan tekad spiritualnya. Partikel-partikel gas biru yang awalnya bergerak acak itu dipaksa memadat, berputar mengelilingi satu titik pusat gravitasi, dan akhirnya merosot menyatu menjadi sebuah pusaran energi cair yang stabil.

Bum*!*

Sebuah letupan energi tak kasat mata meledak dari dalam tubuh Ye Chen, menciptakan gelombang kejut yang menyapu debu dan dedaunan kering di radius sepuluh meter dari batu datar tempatnya duduk.

Rasa sakit yang membakar tadi seketika lenyap tak berbekas. Sebagai gantinya, perasaan sejuk, ringan, dan kekuatan yang benar-benar asing mengalir mulus ke seluruh penjuru tubuhnya hanya dengan sekelebat pikiran.

[Proses Kompresi Energi selesai dengan tingkat efisiensi 98%.]

[Energi Qi Spiritual telah tercipta secara permanen di Dantian Tuan Rumah.]

[Selamat! Tuan Rumah berhasil menembus batasan fana dan menginjakkan kaki di: Alam Kondensasi Qi (Tahap Awal).]

Ye Chen membuka matanya. Tidak ada lagi napas yang memburu atau otot yang mengejang. Ia tampak sangat tenang, seolah letupan energi barusan hanyalah embusan angin lalu. Ia mengangkat tangan kanannya dan menatap telapak tangannya.

Dengan satu niatan sederhana, sebuah lapisan tipis energi berwarna biru samar muncul menyelimuti jari-jarinya. Itu bukan lagi otot yang digerakkan oleh kalori, melainkan wujud manifestasi fisik dari Qi.

[Pembaruan Parameter Status: Energi Qi kini dapat dialirkan secara bebas ke seluruh meridian untuk memperkuat serangan fisik, kecepatan, atau pertahanan.]

[Estimasi daya ledak gabungan (Otot + Qi): Setara dengan 5.000 jin.]

"Lima ribu jin," gumam Ye Chen. "Kekuatanku berlipat ganda hanya dengan menembus satu tahap kecil. Peningkatan kekuatan di dunia ini tidak berjalan secara penjumlahan, melainkan perkalian eksponensial. Pantas saja seorang kultivator memandang manusia fana layaknya serangga."

Ia mengeluarkan Belati Malam Tanpa Suara dari antarmuka sistemnya. Ia mengalirkan secercah Qi ke dalam gagang senjata tersebut. Bilah hitam yang awalnya hanya artefak fana biasa itu kini bergetar pelan, mengeluarkan dengungan mematikan saat dilapisi oleh energi spiritual. Ye Chen mengayunkan belati itu ke arah sebuah batu karang seukuran kerbau di sampingnya tanpa menggunakan banyak tenaga.

*Srak!*

Batu padat itu terbelah menjadi dua dengan potongan yang semulus kaca. Tidak ada suara benturan kasar, hanya ketajaman murni yang diperkuat oleh Qi yang berhasil menembus kepadatan material benda tersebut.

"Sirkulasi yang sangat efisien," evaluasi Ye Chen, sangat puas dengan hasil upgrade tubuhnya malam ini.

"Dengan ini, Ruang Simulasi Mental di Toko Sistem juga sudah resmi terbuka. Aku memiliki landasan yang cukup untuk memulai fase riset selanjutnya."

Ye Chen menatap langit malam Hutan Kabut Purba. Ia telah berada di desa pinggiran ini selama lebih dari satu bulan penuh. Ia telah mengumpulkan fondasi, meretas sistem pemahamannya sendiri, dan kini resmi menjadi seorang kultivator. Semua parameter yang ia butuhkan di "zona tutorial" ini telah terpenuhi seratus persen.

Besok pagi, ia akan kembali ke Desa Kayu Hitam untuk terakhir kalinya. Sudah saatnya ia meninggalkan ekosistem kecil yang damai ini dan melangkah menuju Kota Daun Gugur, tempat di mana markas organisasi Serikat Gagak Hitam berada. Medan perburuan sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Adrian Ahmad
monoton kurang menarik
ada usul tidak jelas
Harman Loke
lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutt teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssssss author
Naevys
Wow, penulisan, dan pemilihan kata kata nya...
Nameless Monarch: Masih pemula bang, sama sekali gak ada wow nya:)
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
punya penulisan yang bagus, dan cerita yang mudah di ikuti. enak untuk di baca /CoolGuy/
Manusia Ikan 🫪: 😋hump
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
hmmmm masih tidak terbiasa dengan fantasi timur😅
Manusia Ikan 🫪
bagus nih, ruang simulasi mental
Manusia Ikan 🫪
sebagai mahasiswa arsitektur, aku pengen punya skill yang berhubungan dengan membangun ini😹
Manusia Ikan 🫪
hemmmm
Manusia Ikan 🫪
wah jarang jarang tuh ada sistem toko
Manusia Ikan 🫪
kenapa cerita fantasi timur, sangat mudah untuk mendapatkan kekuatan😅
Manusia Ikan 🫪: kwkawkoa masuk akal😹
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
bukan bumi kan!
Manusia Ikan 🫪
apakah ini urutan kekuatannya?
Manusia Ikan 🫪
😅mmmmm bro langsung tahu cara makenya?
Manusia Ikan 🫪: wkaowkaokwoa tapi lebih bagus kayak gini, dari pada gk tahu apa apa😹
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
yeeeeeey aku yang like pertama😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!