Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Melahap Niat Pedang Surga dan Guncangan Papan Peringkat
Guncangan Papan Peringkat
Ribuan bilah pedang Qi memancarkan cahaya perak yang menyilaukan, melesat bagaikan badai meteor yang mengamuk di dalam mulut Lembah Pedang Patah. Bagi kultivator biasa, Formasi Sembilan Istana Pemotong Jiwa ini adalah penggilingan daging mutlak.
Namun, Lin Tian berjalan menembus badai itu dengan postur tegak dan langkah yang teratur. Setiap kali bilah pedang energi itu menghantam kulitnya, tidak ada darah yang memercik. Sebaliknya, terdengar suara dengungan rendah saat energi perak itu ditarik masuk secara paksa ke dalam pori-porinya.
Rasa sakitnya luar biasa, seolah jutaan semut api sedang menggerogoti meridiannya. Namun, ekspresi Lin Tian tetap datar. Rasionalitasnya mengunci segala respons emosional terhadap rasa sakit.
"Kepadatan niat pedang ini sangat murni," analisa Lin Tian secara internal. Dantiannya kini telah berubah menjadi pusaran raksasa. Embrio Pedang abu-abu di pusat Dantiannya berputar dengan rakus, menelan setiap tetes esensi perak yang disalurkan oleh Tubuh Pedang Kekacauan.
Seiring dengan langkahnya yang semakin mendekati altar, intensitas serangan formasi semakin beringas. Pakaian abu-abunya robek di berbagai tempat, namun kulit di baliknya justru memancarkan kilau logam abu-abu yang semakin solid. Formasi pembunuh ini secara tidak langsung menuntaskan proses penempaan fisik tubuhnya ke tingkat yang baru.
Ketika Lin Tian akhirnya berdiri tepat di depan altar batu, formasi di sekelilingnya tiba-tiba berhenti menyerang. Seluruh sisa energi dari Formasi Sembilan Istana telah ia sedot hingga kering tanpa sisa.
Di atas altar, pedang perak tingkat Surga yang patah ujungnya itu bergetar hebat. Meskipun hanya sebuah artefak yang rusak, ia memiliki sisa-sisa kesadaran (spirit) senjata tingkat tinggi. Merasakan energi Kekacauan dari Lin Tian yang mengancam akan melahapnya, pedang itu memancarkan aura penolakan yang sangat tajam, mencoba merobek indra spiritual Lin Tian.
"Sebuah senjata diciptakan untuk digunakan, bukan untuk disembah," ucap Lin Tian dingin. "Arogansimu sebagai artefak tingkat Surga tidak memiliki nilai di hadapan hukum Kekacauan. Tunduk, atau musnah."
Lin Tian mengulurkan tangan kanannya dan langsung mencengkeram gagang pedang perak tersebut.
BZZZT!
Gelombang kejut energi meledak, menciptakan kawah selebar sepuluh meter di sekeliling altar. Pedang itu meronta, mengirimkan tusukan niat pedang yang membakar telapak tangan Lin Tian hingga mengeluarkan asap.
Namun, Lin Tian tidak melepaskan cengkeramannya. Ia meledakkan seluruh Qi Kekacauan dari Dantiannya, mengalirkan energi abu-abu itu menuruni lengannya dan langsung menginvasi inti struktur pedang tersebut.
Bentrokan antara dua energi absolut terjadi, namun hierarki alam semesta tidak bisa dibohongi. Esensi Kekacauan yang merupakan akar dari segala elemen dengan cepat mendominasi dan meluruhkan perlawanan pedang Surga itu.
Hanya dalam waktu beberapa detik, cahaya perak dari pedang itu meredup drastis.
"Telan," perintah Lin Tian.
Aliran energi murni yang luar biasa masif dan kuno mengalir deras dari gagang pedang menuju meridian Lin Tian. Ini bukanlah energi alam biasa, melainkan hukum pedang yang telah ditempa oleh master kuno.
Di tangannya, fisik pedang logam perak itu perlahan berubah warna menjadi abu-abu kusam, lalu melapuk menjadi karat, dan akhirnya hancur menjadi serpihan debu yang tertiup angin lembah. Esensi aslinya telah sepenuhnya berpindah ke dalam tubuh Lin Tian.
BUM!
Ledakan energi terdengar dari dalam tubuh Lin Tian. Kultivasinya yang berada di Pendirian Yayasan Tingkat 5 puncak merobek dinding pembatas layaknya kertas tipis.
Krak! Pendirian Yayasan Tingkat 6!
Krak! Pendirian Yayasan Tingkat 7!
Krak! Pendirian Yayasan Tingkat 8!
Lonjakan energi itu sangat buas, mengancam untuk terus mendorongnya hingga ke Tingkat 9. Namun, logika Lin Tian seketika mengambil alih.
"Menerobos terlalu cepat dengan energi eksternal akan membuat fondasi Dantian menjadi tidak stabil. Kompresi adalah kunci kekuatan absolut."
Ia menggertakkan gigi, menggunakan tekad besinya untuk menghentikan laju kultivasinya secara paksa. Ia memadatkan sisa energi pedang Surga itu ke dalam Embrio Pedangnya, membuat embrio tersebut kini tampak seukuran pedang belati kecil yang memancarkan cahaya abu-abu keperakan. Fluktuasi kultivasinya akhirnya stabil di puncak Tahap Pendirian Yayasan Tingkat 8.
Lin Tian menghela napas panjang, mengembuskan uap keruh yang langsung memotong batu di depannya. Di Tingkat 8, kecepatan, kekuatan fisik, dan kapasitas Qi-nya telah berlipat ganda. Kini, bahkan tanpa trik atau formasi, ia memiliki kepastian seratus persen untuk membunuh ahli Inti Emas tingkat awal secara frontal.
Ia menengadah, melihat langit dimensi saku yang perlahan mulai memunculkan retakan cahaya biru.
"Tiga hari hampir berakhir. Formasi spasial akan segera menarik semua peserta keluar," kalkulasi Lin Tian. Ia menggunakan kembali teknik modifikasi aura, menekan fluktuasi Qi-nya dari Tingkat 8 kembali ke ilusi Tingkat 3 atau 4 yang terlihat lebih wajar namun tidak terlalu lemah.
Ia berbalik meninggalkan altar yang kini kosong, melangkah keluar lembah dengan tenang menuju titik evakuasi.
Sementara itu, di alun-alun utara Kota Gerbang Besi.
Puluhan tetua Akademi Bintang Surgawi berjubah emas duduk di paviliun pengawas. Di tengah alun-alun, sebuah monumen batu giok raksasa memproyeksikan daftar peringkat sementara berdasarkan fluktuasi poin dari token peserta di dalam reruntuhan.
Ribuan warga kota dan perwakilan dari berbagai faksi kekaisaran berkumpul, menantikan hasil dari generasi jenius tahun ini. Peringkat akademi adalah indikator peta kekuatan politik di Ibukota.
Tetua Kepala yang memimpin ujian, Tetua Jin, membelai janggut putihnya sambil mengamati monumen. "Tahun ini cukup kompetitif. Peringkat kedua hingga kelima berkisar di angka lima ratus hingga tujuh ratus poin. Mengumpulkan inti siluman di reruntuhan bukanlah hal mudah."
Namun, mata semua orang di alun-alun, termasuk para tetua, tidak tertuju pada peringkat kedua, melainkan pada baris paling atas yang bersinar dengan warna merah darah.
Peringkat 1: Anonim (Token 4021) - 14.500 Poin.
Angka itu begitu tidak masuk akal sehingga menyebabkan keheningan massal selama berjam-jam. 14.500 poin setara dengan membantai seratus empat puluh lima siluman Tingkat 3, atau membunuh setengah dari seluruh peserta ujian dan mengambil poin mereka.
"Tetua Jin... apakah artefak pemantau kita mengalami kerusakan?" seorang diakon bertanya dengan keringat dingin. "Angka itu... secara matematis mustahil dicapai oleh seorang pemuda dalam tiga hari."
"Batu giok ini terhubung langsung dengan formasi leluhur. Tidak ada kerusakan," jawab Tetua Jin dengan wajah tegang. "Ini berarti ada seseorang di dalam sana yang telah melakukan pembantaian skala penuh, atau menemukan anomali poin yang luar biasa besar."
Di area penonton VIP, beberapa perwakilan dari klan bangsawan besar Ibukota tampak gelisah.
"Di mana nama Pangeran Ketiga Huangpu Ye? Dan Xue Ren? Mengapa nama mereka berubah menjadi warna abu-abu di bagian bawah daftar?" seorang utusan dari Klan Xue bertanya dengan nada panik.
Di monumen giok, nama-nama yang berubah warna menjadi abu-abu menandakan bahwa token kehidupan mereka telah terputus dari dunia fisik. Dengan kata lain: mereka telah tewas.
"Mustahil! Aliansi Darah Emas terdiri dari jenius Tingkat 7 ke atas! Siapa di dalam sana yang bisa membunuh mereka semua?!" Utusan Klan Huangpu menggebrak meja hingga hancur, menolak mempercayai akal sehat yang terpampang di depan mata.
Tepat pada saat ketegangan mencapai puncaknya, Gerbang Transmisi Spasial di tengah alun-alun bergemuruh hebat. Pusaran biru terbuka lebar.
Waktu tiga hari telah habis. Para peserta yang selamat mulai dimuntahkan keluar dari portal.
Dari sepuluh ribu pendaftar, hanya sekitar dua ribu yang kembali. Sebagian besar dari mereka tampak compang-camping, terluka parah, dan wajah mereka dipenuhi trauma psikologis. Saat mereka melangkah keluar, banyak dari mereka yang langsung jatuh berlutut, mencium tanah berbatu di luar reruntuhan seolah baru saja lolos dari neraka.
Tetua Jin melayang ke udara. "Ujian telah selesai! Semua peserta, baris dan tunjukkan token kalian!"
Utusan dari Klan Huangpu dan Klan Xue segera melesat ke depan kerumunan peserta yang selamat. "Di mana Pangeran Ketiga?! Siapa yang melihat Aliansi Darah Emas?!"
Seorang kultivator pengembara yang berhasil selamat—salah satu tawanan yang ditinggalkan Lin Tian di lembah—gemetar hebat mendengar pertanyaan itu. Mengingat kembali pemandangan di Lembah Pedang Patah membuat wajahnya seputih kertas.
"M-Mati... Semuanya mati..." gumam kultivator itu, memeluk dirinya sendiri dengan tatapan kosong. "Aliansi Darah Emas... penjaga elit... Xue Ren... Pangeran Huangpu... Semuanya dibantai..."
"Oleh siapa?! Siluman tingkat raja?!" raung utusan Klan Huangpu, mencengkeram kerah pemuda itu.
"Bukan... bukan siluman..." pemuda itu menelan ludah, suaranya nyaris berbisik. "Hanya satu orang... Seorang iblis berjubah abu-abu. Dia membantai dua puluh ahli dalam waktu kurang dari satu batang dupa, tanpa satu pun emosi. Dia merobek naga emas Pangeran Huangpu hanya dengan kepalan tangan kosong..."
Bisikan itu menyebar seperti api di padang rumput kering. Berita tentang pembantaian jenius-jenius tertinggi Ibukota oleh satu individu tanpa nama seketika memicu gelombang kejut yang mengguncang seluruh alun-alun.
Di tengah kekacauan, kepanikan, dan teriakan para bangsawan yang menuntut keadilan, Lin Tian melangkah keluar dari portal spasial dengan tenang.
Jubah abu-abunya yang sempat robek telah ia ganti dengan jubah pengembara baru dari cincin rampasannya. Wajahnya bersih, posturnya rileks. Fluktuasi energinya menyatu sempurna dengan kerumunan kultivator menengah. Tidak ada satu pun tatapan yang tertuju padanya; ia terlihat terlalu biasa, terlalu tenang untuk dicurigai sebagai algojo berdarah dingin yang baru saja menghapus satu generasi jenius kekaisaran.
Lin Tian menatap monumen giok raksasa yang menampilkan skor absolutnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah utusan bangsawan yang sedang mengamuk. Sebuah senyum tipis dan rasional terukir di wajahnya.
Batu loncatan pertamanya di Benua Tengah telah kokoh.