NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Makan malam sudah lama berakhir, tetapi suasana hangatnya belum benar-benar pergi dari rumah Sonya. Udara malam di taman belakang terasa lebih lembut, ditemani cahaya lampu taman yang redup dan suara serangga yang sesekali terdengar dari kejauhan.

Di sana, Sonya dan Nindi duduk santai di kursi taman. Di meja kecil di depan mereka, potongan buah tersaji rapi, menjadi pelengkap obrolan ringan yang sesekali diselingi tawa kecil. Sementara itu, tidak jauh dari mereka, Clay dan Peter duduk di gazebo kayu yang sedikit lebih gelap, terpisah cukup jauh untuk membuat percakapan mereka terdengar lebih pribadi.

Untuk beberapa menit, hanya ada keheningan yang tidak canggung.

Sampai Peter berbicara.

“Aku tahu kamu mulai tertarik pada Nindi.”

Suara itu tidak keras. Tidak memaksa. Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka berubah.

Clay tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap ke depan, ke arah taman yang diterangi lampu-lampu kecil, lalu menghembuskan napas pelan.

“Aku paling benci kalau kamu mulai sok tahu,” jawabnya datar.

Peter tersenyum tipis, tapi kali ini tidak ada kehangatan seperti biasanya.

“Aku kenal kamu, Clay.”

“Sok tahu.”

“Bukan sok tahu,” balas Peter tenang. “Tapi dari cara kamu melihat Nindi, semuanya sudah jelas.”

Kalimat itu membuat Clay akhirnya menoleh.

Tatapannya sedikit mengeras, tapi masih terkendali.

“Harusnya kamu jadi dukun saja sekalian.”

Peter tidak tertawa. Ia justru menatap Clay lebih lama dari biasanya. “Dan kamu tidak boleh punya perasaan padanya.”

Hening.

Kata itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Clay mengangkat alis pelan. “Kupikir kamu akan memaksaku mengaku. Ternyata kamu malah melarang.”

“Aku memang melarangmu.” Nada Peter kali ini berubah. Lebih serius. Lebih berat.

Clay tersenyum miring kecil.

“Kenapa? Apa urusanmu?”

“Karena Nindi sudah kuanggap seperti adikku sendiri.”

Jawaban itu membuat Clay berhenti sejenak.

Peter melanjutkan, suaranya lebih pelan tapi tegas.

“Dia orang penting bagi Sonya. Aku tidak akan tinggal diam kalau dia sampai terluka.”

Untuk pertama kalinya, Clay tidak langsung menyahut.

Tapi senyum tipis masih ada di wajahnya.

“Terdengar tulus,” gumam Clay. “Tidak seperti biasanya.”

“Aku serius, Clay.”

Kali ini Peter menatap langsung ke matanya.

Dan itu cukup untuk membuat senyum di wajah Clay perlahan menghilang.

“Kalau aku bilang aku serius juga?” tanya Clay akhirnya.

Peter tidak langsung menjawab.

Ada jeda panjang.

Lalu, dengan suara yang lebih rendah dari sebelumnya, ia berkata:

“Kamu belum bisa.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti larangan biasa.

Lebih seperti keputusan yang sudah dipikirkan lama.

Clay menatapnya lama.

Lebih lama dari seharusnya.

“Apa maksudmu tidak bisa?” suaranya mulai lebih dingin.

Peter menghela napas pelan.

“Nindi akan pulang tiga bulan lagi. Setelah itu dia tidak akan kembali ke sini.”

“Aku sudah tahu.”

“Kalau kamu tahu, harusnya kamu mengerti.”

“Tidak ada yang perlu aku mengerti.”

Nada Clay mulai turun, lebih tajam, lebih tertahan.

Peter menatapnya tanpa mundur.

“Ini bukan hanya soal waktu, Clay.”

“Lalu apa?”

“Ini soal kamu.”

Hening kembali turun.

Clay menatap Peter lebih dalam.

“Dia tidak selevel denganmu.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Pelan.

Tapi cukup keras untuk mengubah udara di antara mereka.

Clay diam.

Tidak bergerak.

Tidak langsung bereaksi.

Hanya menatap Peter, seolah mencoba memastikan ia tidak salah dengar.

Lalu perlahan, ia tertawa kecil.

Bukan tawa yang hangat.

Lebih seperti sesuatu yang ditahan terlalu lama.

“Tidak selevel?” ulang Clay pelan. “Atas dasar apa kamu menilai itu?”

Peter tidak bergeser.

“Dia gadis baik-baik.”

Clay mendecih pelan.

“Dan aku bukan?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi maksudmu jelas.”

Peter menghela napas.

“Aku tidak lebih baik darimu,” katanya jujur. “Tapi aku tahu batas.”

Kalimat itu justru membuat Clay berhenti lebih lama.

Tangannya yang tadi santai kini mengepal perlahan di bawah meja.

“Jadi kamu merasa punya hak untuk mengatur siapa yang boleh dekat dengannya?”

“Bukan mengatur.”

“Lalu apa?”

“Melindungi.”

Clay tertawa kecil lagi, kali ini lebih dingin.

“Lucu.”

Peter menatapnya.

“Aku tidak sedang bercanda.”

“Tidak ada yang sedang bercanda di sini,” balas Clay pelan.

Suasana berubah semakin berat.

Angin malam yang tadi terasa lembut kini seperti ikut menekan ruang di antara mereka.

Peter akhirnya bersandar sedikit ke kursi.

“Jangan membuat semuanya jadi rumit. Untukmu dan untuk Nindi."

Clay mengernyit.

“Aku tahu kamu, kamu juga akan selalu seperti ini,” lanjut Peter. “Kalau kamu mulai tertarik pada seseorang, kamu tidak pernah setengah-setengah.”

Kalimat itu membuat Clay diam lagi. Untuk sesaat, tidak ada jawaban.

Hanya suara daun yang bergesekan tertiup angin.

Peter melanjutkan, lebih pelan. “Aku sudah pernah melihatnya sebelumnya.”

Clay menatapnya tajam.

“Dan aku tidak ingin kamu mengulang hal yang sama lagi. Terutama itu ke Nindi."

Sunyi.

Peter berdiri perlahan.

“Sudah cukup.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan Clay sendirian di gazebo.

Clay tidak bergerak.

Matanya mengikuti Peter yang berjalan menjauh, kembali ke arah Sonya dan Nindi.

Di kejauhan, terdengar suara tawa ringan.

Kontras.

Terlalu kontras dengan apa yang baru saja terjadi.

Di sisi taman lain, suasana justru jauh lebih ringan.

Nindi sedang duduk bersama Sonya, tersenyum sambil melihat layar ponselnya yang sedang melakukan video call.

“IBUUUU!” suara Nindi terdengar cerah.

“Hayyy, Nindi!” suara seorang wanita di layar terdengar penuh semangat.

Peter yang baru datang langsung ikut masuk ke frame.

“Hallo, Ibu Nindi!”

“Wah Peter, kamu masih hidup rupanya di sana?”

Semua tertawa.

Sonya ikut menyapa dengan hangat, dan suasana berubah menjadi sangat cair, hampir seperti tidak ada ketegangan sebelumnya.

Tawa kecil terus terdengar.

Namun di belakang mereka, di kejauhan taman…

Clay berdiri diam.

Matanya tertuju pada Nindi.

Gadis itu tersenyum.

Terlalu mudah.

Terlalu alami.

Dan untuk pertama kalinya malam ini, Clay tidak benar-benar tahu apa yang ia rasakan.

Bukan marah.

Bukan juga tenang.

Hanya sesuatu yang mengendap.

Pelan.

Tapi mulai menetap.

Dan dari jauh, Peter yang kembali meliriknya…

tersenyum kecil.

Namun kali ini, senyum itu tidak sepenuhnya hangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!