Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Umpan yang Salah
Matahari pagi menyinari gedung perkantoran Grup Kusuma, namun suasana di ruang CEO terasa sekulkas musim dingin. Riana Kusuma duduk menatap layar laptopnya dengan mata berkantung. Semalaman ia tidak tidur. Angka sepuluh triliun rupiah di rekeningnya terasa seperti bom waktu, bukan anugerah.
Ia telah memerintahkan tim keuangannya untuk melacak asal muasal dana tersebut, namun hasilnya nihil. Sistem perbankan seolah membangun dinding besi di sekitar transaksi itu, mengklasifikasikannya sebagai "Rahasia Negara Tingkat VVIP".
Lidya, ibunya, mondar-mandir di ruangan itu sambil menggigiti kuku. "Riana, kita harus menggunakan uang itu hari ini juga! Kudengar Tiga Keluarga Besar mulai bergerak mengakuisisi sisa-sisa perusahaan Wijaya. Jika kita menyuntikkan dana itu ke proyek teluk, Kusuma akan menjadi keluarga nomor satu!"
"Ibu, hentikan!" bentak Riana, suaranya parau. "Apakah Ibu tidak menggunakan logika? Uang ini dikirim dalam lima menit setelah Arya menelepon. Arya, pria yang selama tiga tahun Ibu suruh mengepel lantai! Jika kita menyentuh uang ini tanpa izinnya, kita mungkin akan bernasib sama seperti Kevin Wijaya!"
Lidya mendengus, berusaha menutupi ketakutannya dengan arogansi palsu. "Omong kosong! Arya hanya kebetulan tahu seseorang di dalam sana! Mana mungkin gembel itu—"
Brak!
Pintu ruang CEO ditendang hingga engselnya lepas. Riana terlonjak dari kursinya.
Empat pria berjas hitam dengan postur tegap melangkah masuk. Di belakang mereka, seorang pria bule dengan bekas luka sayatan di leher—Viktor, kepala tentara bayaran pribadi Keluarga Lim—berjalan masuk dengan santai. Di tangannya, ia menyeret kepala petugas keamanan Grup Kusuma yang sudah babak belur dan tak sadarkan diri, lalu membuangnya ke karpet seperti karung beras.
"Apa-apaan ini?! Siapa kalian? Keamanan!" jerit Lidya histeris.
"Nyonya Lidya, diamlah, atau aku akan memotong lidahmu," ucap Viktor dengan aksen asing yang kental, nadanya sedingin baja. Matanya kemudian beralih pada Riana yang berdiri mematung. "Nona Riana Kusuma. Tuan Lim, Tuan Surya, dan Tuan Atmaja mengundang Anda untuk minum teh pagi ini di Klub Eksekutif Lotus. Kendaraan sudah disiapkan."
Otak Riana berputar cepat. Tiga Keluarga Besar? Mengapa raksasa-raksasa bisnis itu tiba-tiba mencarinya dengan cara sebrutal ini?
"Ini bukan undangan, ini penculikan," Riana berusaha mempertahankan ketenangannya, meskipun tangannya gemetar di bawah meja. "Aku tidak punya urusan bisnis dengan kalian. Keluar dari kantorku atau aku akan memanggil polisi!"
Viktor menyeringai kasar. Ia tidak membuang waktu berdebat. Dengan satu isyarat tangan, dua anak buahnya melesat maju, meraih kedua lengan Riana, dan memutar tubuhnya secara paksa.
"Lepaskan aku! Bajingan!" Riana meronta, namun tenaga pria-pria itu jauh di luar batas kemampuannya.
Lidya mencoba menolong, tetapi Viktor menampar wajah Lidya dengan punggung tangannya hingga wanita paruh baya itu terpental menghantam rak buku dan pingsan seketika.
"Polisi tidak memiliki yurisdiksi di wilayah Tuan Lim, Nona," bisik Viktor di dekat telinga Riana. "Bawa dia. Kita lihat apakah penguasa baru Dragon Corp akan membiarkan wanitanya menjerit."
Satu jam kemudian, di lantai seratus Menara Naga.
Lift VIP terbuka, dan Arya melangkah keluar. Penampilannya terlihat segar, namun auranya telah berubah secara fundamental. Jika kemarin ia terasa seperti danau yang dalam dan tenang, hari ini ia terasa seperti lautan tanpa dasar. Fluktuasi energi di sekitarnya begitu padat sehingga udara di dekatnya tampak sedikit beriak.
Thomas, yang telah menunggunya di depan lift, segera membungkuk sembilan puluh derajat. Manajer tua itu langsung menyadari perubahan mikroskopis pada Tuan Mudanya. Tekanan tanpa wujud itu menegaskan bahwa Arya telah mencapai tahap kultivasi yang sangat tinggi.
"Selamat atas terobosan Anda, Tuan Muda," ucap Thomas penuh khidmat.
"Ada laporan?" tanya Arya rasional, berjalan melewati lobi menuju ruang kerjanya.
Thomas mengikuti dari belakang dengan langkah tergesa-gesa, membuka tabletnya. "Tuan Muda, ada pergerakan irasional dari Tiga Keluarga Besar. Setengah jam yang lalu, tentara bayaran Keluarga Lim secara paksa membawa Nyonya Riana Kusuma dari kantornya. Mereka juga mengirimkan pesan terbuka berenkripsi ke server kita."
Langkah Arya terhenti. Ia memutar tubuhnya secara perlahan. Matanya, yang biasanya memancarkan ketidakpedulian yang mutlak, kini berkilat dengan cahaya dingin yang bisa membekukan darah.
"Mereka menculik Riana?"
"Benar, Tuan Muda. Pesan itu menyebutkan bahwa mereka ingin mengundang 'Pemilik Baru Dragon Corp' untuk bernegosiasi secara langsung di Klub Lotus mengenai pembagian wilayah Nusantara City. Mereka menggunakan Nyonya Riana sebagai sandera strategis, berasumsi bahwa ia memiliki nilai sentimental bagi Anda."
Arya mendengus pelan, sebuah suara tanpa humor yang menggema mengerikan di lorong sepi itu.
"Analisis yang sangat cacat," gumam Arya, matanya menatap lurus menembus dinding kaca kota. "Hubunganku dengan Riana telah selesai secara fungsional malam itu. Namun, dia masih berstatus sah sebagai istriku di atas kertas. Menyentuh sesuatu yang berada di bawah namaku adalah pelanggaran teritorial secara langsung."
Arya tidak marah karena emosi romantis yang meledak-ledak; ia marah karena arogansi musuhnya yang berani menguji otoritasnya dengan cara sekotor itu. Di dunia kultivasi, membiarkan provokasi seperti ini tanpa balasan setara dengan menunjukkan kelemahan fatal.
"Thomas. Tidak perlu negosiasi. Tidak perlu Pasukan Bayangan. Siapkan mobilnya. Aku akan ke Klub Lotus sekarang."
"Tuan Muda, Klub Lotus adalah benteng Keluarga Lim. Mereka menempatkan lebih dari seratus tentara bayaran bersenjata lengkap dan beberapa praktisi bela diri sewaan di sana," Thomas memperingatkan secara profesional.
"Seratus manusia fana berhadapan dengan praktisi Pembentuk Fondasi Qi?" Arya menyeringai dingin, memancarkan niat membunuh murni. "Itu bukan pertarungan, Thomas. Itu adalah eksekusi massal. Biarkan mereka melihat harga dari sebuah kebodohan."
Di ruang VIP bawah tanah Klub Lotus.
Ruangan itu luas, kedap suara, dan dijaga oleh belasan pria bersenjata laras panjang. Di tengah ruangan, Riana diikat ke sebuah kursi baja. Wajah cantiknya sedikit memar di bagian pipi, namun matanya tetap menatap tajam penuh perlawanan ke arah tiga pria paruh baya yang duduk santai di sofa seberangnya.
Tuan Lim menyesap cerutunya dengan tenang. "Nona Riana, aku akan bertanya sekali lagi. Apa hubunganmu dengan penguasa baru Dragon Corp? Mengapa mereka menyuntikkan sepuluh triliun ke rekeningmu tepat di malam kehancuran Grup Wijaya?"
"Aku sudah bilang, aku tidak tahu!" Riana menggertakkan giginya. "Pria di Dragon Corp itu... aku bahkan belum pernah melihat wajahnya!"
Tuan Surya tertawa mengejek. "Tidak tahu? Jangan bermain-main dengan kami, jalang kecil. Perusahaan sebesar Dragon Corp tidak memberikan sepuluh triliun karena amal. Entah kau adalah simpanannya, atau kau adalah pionnya."
Tuan Atmaja melirik jam tangan rolex-nya. "Sudah tiga puluh menit sejak pesan dikirim. Jika bajingan dari Dragon Corp itu tidak muncul, potong satu jari Nona Riana setiap lima menit dan kirimkan fotonya ke markas mereka."
Viktor, sang tentara bayaran, mencabut belati tempur dari sarungnya dan berjalan mendekati Riana. Riana memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang karena teror yang nyata. Dalam keputusasaan absolut ini, entah mengapa bayangan punggung Arya saat pria itu berjalan pergi dari rumahnya malam itu terlintas di benaknya.
Apakah kau benar-benar pergi, Arya? batinnya menjerit.
Viktor mencengkeram tangan Riana dengan kasar dan menempelkan mata pisau yang dingin ke jari telunjuknya. "Sayang sekali, jari yang lentik ini harus—"
BUMMM!
Sebuah ledakan memekakkan telinga mengguncang seluruh bangunan. Bukan ledakan dari C4 atau granat, melainkan suara pintu baja tebal seberat lima ton di depan ruangan itu yang hancur berkeping-keping seolah ditabrak kereta api berkecepatan tinggi.
Debu tebal dan serpihan beton beterbangan memenuhi ruangan. Para penjaga bersenjata langsung mengangkat senapan mereka, mengarah ke kabut debu di ambang pintu.
Tuan Lim, Surya, dan Atmaja terlonjak berdiri dari sofa mereka, cerutu jatuh dari sela-sela jari mereka.
Dari balik debu yang perlahan menipis, terdengar suara langkah kaki yang teratur. Setiap ketukan pantofel di lantai beton terdengar seperti palu godam yang menghantam jantung setiap orang di ruangan itu.
Sebuah siluet pria dengan setelan jas biru malam melangkah masuk. Tangan kirinya berada di dalam saku celana, sementara tangan kanannya menggenggam leher seorang penjaga raksasa yang sudah tak bernyawa, lalu membuangnya ke samping dengan acuh tak acuh.
"Kalian mencariku?" suara Arya datar, dingin, dan menembus gendang telinga seperti jarum es.
Mata Riana membelalak hingga batas maksimal. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia menatap sosok yang berdiri di ambang pintu dengan ketidakpercayaan yang mengguncang seluruh realitasnya.
"Arya...?" bisik Riana gemetar.
Tuan Lim mengerutkan kening. "Arya? Maksudmu... menantu sampah Keluarga Kusuma? Apa lelucon ini?! Di mana bos Dragon Corp yang sebenarnya?!"
Arya tidak menjawab pertanyaan bodoh itu. Matanya menyapu ruangan, mendata ancaman secara taktis, sebelum akhirnya terpaku pada bilah belati di tangan Viktor yang masih menempel di jari Riana.
"Kau menodongkan senjata tajam pada wanita yang masih menyandang namaku," ucap Arya pelan, namun seluruh ruangan terasa mengalami penurunan suhu secara drastis.
Arya mengangkat tangan kanannya, mengarahkan telapak tangannya ke arah Viktor yang berada sepuluh meter darinya.
Tanpa ada gerakan proyektil, tanpa ada suara tembakan.
CRAT!
Lengan kanan Viktor, beserta belati yang dipegangnya, tiba-tiba meledak menjadi kabut darah dan serpihan tulang di udara kosong. Proyeksi Qi Eksternal.
Jeritan memilukan Viktor seketika memecah keheningan Klub Lotus, menandai dimulainya hitungan mundur menuju neraka bagi Tiga Keluarga Besar.