Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
TUNG!
Tristan
Han, tolongin gue dong.
Gue nggak mau hidup dengan rasa bersalah.
Can you talk with Rei?
Bujukin dia, please!
Jangan apa-apain si Arnold.
(≥≤)
Please, Han.
Cuma lo harapan gue satu-satunya.
(〒〒)
Hana mengernyitkan kening. Perasaannya langsung nggak enak. Apa nih? Kok si Tristan sampai bilang nggak mau hidup dengan rasa bersalah? Bawa-bawa nama Arnold pula! Apa sih maksudnya? Hana bergumam dalam hatinya sendiri. Sampai acara membuat steak-nya terdistraksi atas pesan masuk dari Tristan.
Pelukan Reiga dari belakang, membuat Hana terperanjat, untung handphone masih digenggamnya kuat, tidak terlempar saking kagetnya. Pelukan itu pun membuat Reiga membaca pesan Tristan untuk Hana. Sorot matanya berubah.
"Rei, ngagetin tau!" omel Hana.
Reiga hanya mengulum senyum. Tidak ingin mengomentari permintaan Tristan yang terlalu jelas dipesannya. Ia memilih duduk di pantry. Menunggu sirloin steak buatan Hana yang dimasak penuh cinta untuknya matang. Itu lebih baik.
"Ini maksudnya Tristan apa ya? Kamu ... nggak melakukan apapun kan ke Arnold?" tuduh Hana curiga.
"Emangnya aku bisa melakukan apa sih, Han?" tanya Reiga balik dengan raut wajah datar yang tidak bisa diartikan Hana.
Reaksi yang makin mencurigakan buat Hana.
"Banyak. Kamu punya kemampuan itu, Reishard. Kemampuan menghancurkan orang tanpa ba bi bu lagi. Langsung sat set sat set," ujar Hana.
Reiga terkekeh dengan cara Hana menggambarkan privilege miliknya sebagai pemimpin Reishard Corporation.
"Aku nggak semenyeramkan itu kali," sahut Reiga.
Hana memasang wajah tidak setuju.
"Jelas-jelas kamu semenyeramkan itu! Masih nggak mau ngaku!" ujar Hana.
Tawa Reiga kembali terdengar. Hana menata seporsi steak buatannya lalu disajikannya dihadapan Reiga yang sumringah menerimanya. "Makasih, makanannya, Sayang," ucap Reiga lalu langsung menyantap steak yang ada dihadapannya.
"Sama-sama," balas Hana.
Reiga makan dengan khidmat. Hana memperhatikan Reiga tanpa berkedip. Bagai kucing liar yang duduk di dekat pengunjung warung pecel lele.
"Apa sih, Sayang? Mending tanya aja deh! Daripada kayak penampakan kuntilanak begitu," ledek Reiga.
"Dih! Sembarangan!" protes Hana. "Mana ada kuntilanak secantik aku!" tambah Hana.
"Banyak, Han," sahut Reiga tak perlu.
Reiga tersenyum kearah Hana yang sudah pucat mendengar sahutan jawaban isengnya itu.
"Kamu ngapain Arnold?" tanya Hana to the point.
Percuma juga main kucing-tikus sama Reiga. Apalagi layangan yang tarik-ulur. Dapat jawaban nggak, urat sabar putus, bisa jadi.
"Cuma kasih dia sedikit pelajaran kehidupan," jawab Reiga menyebalkan.
"Pelajaran kehidupan? Maksudnya? Yang jelas, Reiiii?" Hana geregetan.
"Aku cut off semua proyek MDB kalau masih ada nama dia," jawab Reiga santai.
Kedua mata Hana mencuat keluar saking kagetnya. Mulutnya membuka. Sinting sih! Semua proyek MDB kan ada namanya Arnold. Karena posisi Arnold tepat berada di bawah Pak Mano. Yang berarti ini bukan hanya kehancuran Arnold. Ini kehancuran mereka semua. Termasuk proyek dengan nama Hana didalamnya. Seberkuasa inikah yang namanya Reiga Reishard?
"Semua bakal baik-baik aja, asalkan Pak Mano meng-cut off Arnold," timpal Reiga atas pemikiran Hana.
Hana terpana. Sesantai itu Reiga mengucapnya. He said, asalkan meng-cut off Arnold dengan wajah datar tanpa empati. Bagai eksekutor hukuman mati.
Tanpa kasihan.
"Bukan sampai di situ aja sih, aku menyingkirkan dia di setiap program yang mengikutsertakan Arnold Baskara Mahendra. Bahkan di event olahraga Niyo sekalipun," tambah Reiga sambil makan dengan tenang.
Hana kian melongo.
Hana memang suka karakter Lee Dong Wook yang memerankan malaikat maut di drama korea berjudul Goblin. Namun ia tidak menyangka bahwa faktanya, berpacaran dengan malaikat maut bakal semencekam ini.
"Reishard!" pekik Hana.
Ia sungguh kaget, Reiga punya kemampuan yang justru lebih berbahaya dan menyebalkan dari bisa membaca pikiran atau melihat masa depan.
Pantas Tristan bilang tidak ingin hidup dalam rasa bersalah. Karena itulah yang dirasakan Hana sekarang. Kehancuran Arnold, semua karir yang dibangun pria itu dari nol. Perjuangan yang dibanggakan pria itu, bahkan sering dijadikan inspirasi anak buahnya. Hancur tak bersisa di tangan Reiga dengan begitu mudahnya. Bagai meniup debu di atas telapak tangan. Dan semua itu, ada andil Hana didalamnya. Hana bertanggung jawab akan kehancuran itu.
"Biar dia nggak mengulangi kesalahan tololnya gangguin kamu," ujar Reiga santai lalu meraih gelas berisi air dingin yang disuguhkan Hana sesuai dengan permintaannya.
"It's not a big deal!"
"It's a big deal for me!" sahut Reiga.
"Reiiii..."
"Hannn..."
Reiga malah mengajak Hana main sahut-sahutan nama. Yang tentu saja makin membuat jengkel Hana.
"Nggak lucu!"
"Ini memang nggak lucu, Han. Makanya aku kasih dia pelajaran."
"Bukan cuma dia yang kamu kasih pelajaran, Rei! Apa yang kamu perbuat ini adalah kehancuran! Dan bukan hanya Arnold yang akan mendapat pelajarannya!!"
Hana gemas.
"Tinggal cut off nama dia, dan semua orang akan baik-baik aja."
"Ini terlalu gila, Reiga!"
"Dia atau aku yang lebih gila?"
"Ya kamu lah!" seru Hana.
Reiga memindai hati Hana sembari memandangi wajah gadis itu.
"Awas aja kalau kamu bilang aku masih cinta sama Arnold! Aku tonjok kamu!" sahut Hana dengan mimik wajah serius.
Tak kuat Reiga menahan tawa, atas kalimat barusan. How she can reads my mind? puji Reiga dalam kepalanya.
"Ih! Masih bisa ketawa di saat urgent kayak gini!" sebal Hana.
Reiga memasang wajah jahil.
"Malah senyam-senyum!" Hana kian sewot. "Ini masalah serius, Reishard!!!"
"Buat Arnold. Bukan buat aku," ujar Reiga dengan senyum yang membuat Hana ingin menoyor pacarnya itu.
"Tarik kembali perintah kamu itu, Rei!" seru Hana.
"Kalau aku nggak mau gimana?" jawab Reiga cuek.
"Reiga!" pekik Hana.
"Hana!" sahutnya dengan raut sok dikagetkan.
"Stop nggak!"
"Nggak mau."
"Reiiiiii..."
"Hannnnnn..."
"Bener aku tampar ya!"
"Kanan atau kiri nih. Bibir duluan juga boleh," timpal Reiga membuat Hana melongo saking takjubnya jawaban Reiga.
"Jangan jadi orang jahat!!"
"Apa melindungi orang yang aku cintai termasuk dalam kategori kejahatan?"
Hana terhenyak. Bingung membalas pertanyaan Reiga barusan.
"I know i'm right!" tukas Reiga senang dengan senyum lebar.
"Dih! Enggak gitu juga!!" sebal Hana.
"Sulit ya menerima kebenaran?"
"Dih! Enggak!!" tandas Hana.
Reiga tertawa.
"Pekerjaan ini tuh hidupnya Arnold, Reiiiiii! Bagaimana mungkin kamu sejahat itu memutus mimpi yang susah payah diwujudkannya selama ini!????" Hana gemas.
"Kamu juga hidup aku, Adrianne Hana.
Harusnya dia berpikir sampai kesana saat dengan beraninya dia menyentuh paksa kamu," Dengan wajah lempeng Reiga mengucapnya. Tenang. Tak beriak. Khas Reiga saat tetap keras kepala atas keputusannya.
Hana terpana.
Antara ge-er karena Reiga menghargainya sampai sebegitunya, juga takjub dengan keras kepala CEO Reishard Corporation ini.
"Jangankan Arnold, Rei! Aku aja nggak menyangka kalau bakal punya pacar yang pegang buku death note begini," sahut Hana.
Pecah tawa Reiga mendengarnya.
"Jahat banget aku disamain sama Light Yagami," tukas Reiga cengengesan.
Hana mendesis sebal.
"Jadi apa?"
"Apanya yang apa?"
"Reiga!"
"Hana!"
"Aku tampar beneran loh!"
"Sini," ucap Reiga.
Hana kehilangan kata-kata. Ia menghela napas agak kuat. Memasang raut wajah dengan tujuan yang jelas. Untuk membuat Reiga mengikuti maunya. Reiga tahu itu. Dan perlahan es dalam kutub hatinya yang maha dingin itu perlahan tapi pasti sedang mencair.
"Don't look at me with that look, Han," ucap Reiga tidak ingin mengubah keputusannya.
"What kind of look?"
Hana mulai melancarkan serangannya. Reiga menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, egonya kalah pada seorang manusia yang hanya menggunakan amunisi berupa wajah memelas dan rengekkan dalam hati. Hana pintar banget ya. Luar-dalam, ia menggunakan hati dan ekspresinya untuk memanipulasi Reiga.
"Tuh! Mulai memanfaatkan kemampuan aku buat diri sendiri kan?" protes Reiga yang sudah tidak tahan akan sikap Hana yang merengek dalam hati.
"I do everything to stop you making a mistake," ucap Hana tengil.
"Melindungi kamu itu bukan kesalahan, Hana," balas Reiga menaikkan tensi dan menajamkan tatapannya.
"Reiiiiii ." desah Hana memohon.
"Udah dibilang, jangan liatin aku begitu," protes Reiga.
Tatapan Hana hanya akan makin menggilas ego-nya. Hana dengan tengilnya berjalan menghampiri Reiga. Berdiri di depan Reiga yang tengah duduk di kursi berputar, pantry dapurnya.
Hana menangkup wajah Reiga dengan kedua tangannya.
"Just say yes to me," mohon Hana.
Reiga menggelengkan kepalanya dengan muka menyebalkan.
lagi. "Mas Ayang " Hana melancarkan serangan
Mereka kembali saling bertatapan.
"Yaudah iya. Kamu menang Adrianne Hana," ucap Reiga kalah.
Pria itu menyerah. Atas cinta yang melemahkan jiwa raganya. Hana sontak berwajah sumringah. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar sampai lesung pipinya terlihat. Sesenang itu hatinya.
"I hate you, Han," tukas Reiga.
"Cieee... Mencoba menyalahi takdir ya?" balas Hana dengan wajah jahil.
Reiga berdecak namun tersenyum lebar mendengar ledekan itu. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hana. "Tahu gini aku nggak usah pulang," cetus Reiga yang benci akan kekalahan. Namun konyolnya tidak secuil pun ia merasa kesal mengiyakan mau Hana. Ah, inikah yang dimaksud Papa hilang logika?
Tawa Hana berderai.
"Then you will miss this chance if you're not coming home, Reishard," ucap Hana memeluk leher Reiga lalu mencium bibir Reiga sepenuh jiwanya.
Bibir yang tidak akan pernah bisa ditolak Reiga.
Sihir yang tidak pernah bisa dilawannya. "Lemah banget aku sama kamu," keluh Reiga di sela ciuman mereka.
Hana terkekeh.
"Pertanda bagus kan?"
Reiga ikut tertawa.
"Lain kali akan aku buat kamu ngerayu aku dulu sampai badmood, baru aku bilang iya," ujar Reiga.
"Boleh," ucap Hana tak takut.
"Kompetitif banget sih, Astaga!" ledek Reiga.
"Harus kalau sama kamu," timpal Hana lalu memeluk Reiga lagi.
Aku buatin bubur di panci.
Bisa kamu angetin dulu kalau mau makan.
Well, nggak seenak masakan Hana.
Tapi masih bisa dimakan kok.
Soal kerjaan kamu...
Aku akan coba bicara sama Reiga
Atau Hana.
Istirahat yang cukup.
Biar nggak demam lagi.
Lana.
Arnold tersenyum dengan bibir pucatnya. Di tengah kesialan beruntun serta kiamat yang diciptakan Reiga untuknya. Tuhan masih begitu baik hati mengirimkan Lana. Arnold pikir mereka tidak akan bercakap-cakap lagi. Tapi Lana bahkan memasak untuknya.
Dering handphone miliknya membuatnya berjalan gontai menuju meja makan. Ia meraihnya.
Pak Mano. Apalagi sekarang?
"Iya, Pak?"
"We're so lucky, Nold!" seru Pak Mano senang.
"...?"
"Entah keajaiban dari mana, tapi Reiga berubah pikiran. Semua projek kita aman. Dengan tetap nama kamu di setiap credit tittle-nya! Besok saya tunggu untuk meeting dengan Me TV ya, Nold!"
Pak Mano terdengar begitu senang. Maka berarti ini jelas bukan prank.
Arnold tertegun. Kok bisa?
Apa yang membuat Reiga berubah pikiran?
*
"Juni ya," sapa Reiga pada Juni yang otomatis kikuk disapa dengan senyum menawan begitu.
Mereka berdua tengah menunggu Hana berganti baju karena gadis itu ngotot mau ikut mengantar Reiga ke airport.
"Iya. Kan waktu itu udah kenalan," ujar Juni canggung.
Tak tahan melihat wajah tampan Reiga, senyam-senyum di depan mukanya.
"Ada yang mau saya omongin sama kamu, Jun.
Urusan serius sih. Tapi kalau bisa, jangan sampai Hana tahu," ucap Reiga membuat Juni sontak langsung berpikir macam-macam dikepalanya.
Reiga tersenyum mendengar pikiran Juni.
Asisten pacarnya ini tulus pada Hana. Juga jujur.
Baguslah! Setidaknya Hana punya orang yang bisa dipercaya.
"Ngomong apa ya?" tanya Juni sudah memasang raut wajah serius.
Reiga tersenyum lalu mulai membuka obrolan penting yang ingin disampaikannya sebelum kembali ke New York.
TOK! TOK!
Reiga mengetuk pintu alphard Hana yang sudah terparkir di depan terminal 3 keberangkatan internasional. Juni dan Hana kaget loh, Reiga bisa punya akses parkir di sini. Padahal aturannya hanya boleh menurunkan penumpang.
Hana membuka jendela kacanya. "Hai, Sayang," sapa Reiga.
"Hai," sapa balik Hana dengan senyum sumringah.
Reiga mengelus kepala belakang Hana.
"Kamu di mobil aja ya, nggak usah turun.
Banyak wartawan. Nggak tahu tuh di sana ada artis siapa, yang jelas rame. Ada kamu bisa tambah pecah nanti," ucap Reiga setengah bercanda.
Menghibur dirinya sendiri yang tidak ingin meninggalkan Hana.
Hana memasang wajah tidak setuju, namun apa daya. Reiga benar. Juni pun sudah mewanti-wantinya untuk tidak turun dari mobil. Sekarang ia menyesal tidak semobil dengan Reiga sepanjang perjalanan ke bandara tadi.
"Aku tiga hari lagi pulang kok," ucap Reiga membaca pikiran gamang Hana.
"Langsung kosongin jadwal, tiga hari temenin aku promo film loh!" Hana mengingatkan janji Reiga.
Bibir pria itu tersenyum.
"Iyain nggak nih?"
Hana melotot.
"Kamu udah iya loh, Rei, tadi di rumah aku!" sebal Hana.
Reiga terkekeh.
"Iya, Sayang," ucap Reiga lalu mengecup kepala Hana.
Mereka saling bertatapan. Reiga meraih Hana dalam sebuah pelukan ribet karena melalui jendela mobil.
"Nggak boleh memilah-milah apa yang aku harus tahu dan nggak ya, Han. Let me know everything. Karena di lain waktu mungkin aku nggak akan sebaik ini," ucap Reiga.
"Iyaaa," ucap Hana.
Pelukan mereka merenggang. Berganti dengan saling menatap.
"Seberat ini ya tinggalin kamu," gumam Reiga seraya mengelus pipi kiri Hana.
"Sesedih ini ya ditinggalin kamu," balas Hana.
Reiga terkekeh.
Perhatian pria itu, teralih kearah Juni yang sejak tadi jadi nyamuk. Menontoni dua sejoli yang tengah kasmaran.
"Jun, titip Hana ya. Jangan lupa pesan-pesan saya," ujar Reiga bagai tengah bicara dengan Dimas.
Kening Hana mengerut. Ia menatap Juni dan Reiga bergantian.
"Siap, Pak," jawab Juni.
Reiga tersenyum.
"Pak???" heran Hana.
Juni cuma nyengir.
Reiga melongok jam tangan yang dipakainya.
Sudah waktunya berpisah.
"Aku pergi ya, Sayang. I'll be miss you like hell," ucap Reiga seraya mengelus kepala Hana. Menatapnya penuh sayang. Perasaan tidak rela itu kian menyergap Hana.
"Jun, saya pamit," ucap Reiga ramah pada asisten Hana.
Juni tersenyum. "Hati-hati, Pak. Save flight!"
"Bye," ucap Reiga sekali lagi sambil menatap Hana, lalu setelahnya ia mengecup kening Hana lama.
"I love you, Adrianne Hana," ucap Reiga pelan.
"I love you too, Reiga Reishard," balas Hana sepenuh hatinya.
Sebelum akhirnya Reiga berjalan masuk ke dalam bandara. Berbalik, memunggungi Hana yang tengah menatapnya dengan perasaan campur aduk. Sesak yang menyeruak, menyelubungi dada Hana. Reiga yang semakin menjauh. Hana terpekur diam sendiri.
Perasaan yang mendesak itu melahirkan sebuah ide gila yang tak bisa Hana tolak. Hana ingin ke sana. Berjalan di samping Reiga. Mengantarkan pria itu paling tidak sampai boarding pass. Hana ingin melepas kepergian Reiga dengan sebuah pelukan paripurna. Atau sekedar menggelayuti tubuh tegap berotot Reiga selama yang ia bisa.
"Jun, sori ya, pasti abis ini lu bakal repot," ujar Hana lugas
"Ha? Maksudnya?"
Juni bingung. Bukannya mendapat jawaban, Juni malah dikejutkan dengan sikap Hana. Bos-nya itu turun dari mobil.
"Han!? Hana!?" panggil Juni namun Hana memilih mengacuhkannya. Juni sontak ikutan turun dari mobil mengejar Hana.
Sementara Hana fokus mengejar Reiga. Masa bodo dengan wartawan yang mengerubung di sebelah sana. Yang mungkin nantinya akan menyadari keberadaannya. Masa bodo juga kalau adegan ala film AADC yang diputuskannya ini akan menjadi headline berita besok pagi.
Hana hanya ingin menggenggam tangan Reiga dengan benar dan memeluk pria itu dengan erat seperti pasangan normal lainnya.
"Rei," panggil Hana membuat Reiga yang tengah berjalan dengan tiga bodyguardnya menoleh ke belakang, dan berhenti.
"Han?" kagetnya.
Hana semakin mempercepat langkahnya kearah Reiga. Dengan senyum cemerlang di wajah gadis itu.
Reiga terpaku.
"She runs to you, Rei. Orang pertama yang melakukannya. Saat semua orang biasanya meninggalkan lo sendirian,"gumam Reiga sendiri.
Bibir Reiga tersenyum sendiri. Perasaan haru yang melandanya tanpa aba-aba. Apa ini rasanya dicintai? Reiga berujar sendiri.
"Hey, kok tur ..."
Hana sudah memeluknya erat.
Ah, Adrianne Hana, hati Reiga meleleh hanya karena pelukan sederhana ini. Reiga membalas pelukan Hana. Juni yang melihatnya dari belakang juga ikut tersenyum.
Mereka saling tersenyum.
"Apa sih senyum-senyum kayak gitu?" Reiga jadi salah tingkah sendiri.
Hana tak menjawab, gadis itu malah meraih tangan kiri Reiga, tanpa ragu bergelayut manja, tanpa takut semua orang akan membicarakan mereka nantinya. Dengan berani berkata dalam hatinya, meski Hana tahu mungkin Reiga akan membacanya. Lalu dirinya akan malu setengah mati. Hana tidak peduli. Tapi Hana tetap ingin dan akan mengatakannya.
"Ayah..."
"Kalau sekarang Ayah lagi lihat Hana di sana. Hana cuma mau bilang, kayaknya Hana udah ketemu sama laki-laki yang memenuhi syarat dasar Ayah deh. Jadi, Ayah nggak perlu cemas lagi."
"ADRIANNE HANA! ITU ADRIANNE HANAAAAA???" teriak salah seorang wartawan.
Sontak semua wartawan menatap kearah yang ditunjuk.
Juni mendekat kearah Hana. Bersamaan para wartawan yang langsung adu jalan cepat dan sudah menghujani adegan Hana bergelayut manja pada Reiga Reishard dengan blitz kamera mereka. Sebisa mungkin tidak akan kehilangan momen langka ini.
"Gimana nih? Jadi ketahuan?" gumam Reiga sambil tersenyum.
"Aku memang nggak mau menyembunyikan kamu, Reishard," sahut Hana membuat Reiga kembali terpana.
"Tahu nggak, Han? Kamu selalu menunjukkan sama aku, keputusan tanpa keraguan, tanpa takut, meski pernah gagal, meski nggak bisa lihat masa depan, meski nggak bisa baca hati dan pikiran orang. Kamu selalu berani, tanpa prasangka.
Bagaimana mungkin hati aku yang menyedihkan ini nggak jatuh hati sama pribadi kamu yang luar biasa ini, Han?"
Senyum kesenangan Reiga terbentuk sendiri.
"Pak Reiga, sudah waktunya, Pak," ucap salah seorang bodyguard.
Reiga meraih tangan Hana di lengan kirinya. Bibirnya tersenyum. Kedua mata Hana membulat. Wajahnya menyunggingkan senyum. Reiga menggenggam tangan kanan Hana. Begitu erat. Kuat. Namun terasa lembut di hati keduanya.
"Siap, Bu Hana?" tanya Reiga. Lalu, mengecup tangan Hana yang digenggamnya. "Setelah ini kamu nggak bisa kemana-mana lagi?" tambah Reiga membicarakan keputusan Hana turun dari mobil.
Hana tersenyum makin lebar.
"Aku selalu di sini, Rei. Nggak akan pernah kemana-mana," ucap Hana yakin.
Genggaman mereka mengerat. Reiga yang kehilangan kemampuan berkata. Memandangi Hana dalam khidmatnya sendiri. Persis seperti saat bertemu Hana pertama kali. Pikiran Hana selalu setenang dan secandu ini.
"Papaaaaaaaaa."
Suara balita menyeruak dalam pikiran Reiga. Membuatnya tertegun. Sebuah potongan senyum tercetak jelas dalam pikirannya. Senyum yang mirip dengan punya Hana. Kedua kaki kecil yang berlari menghampiri seorang pria.
"Hai, Champ," balas pria itu.
Reiga mengenali suara yang jelas-jelas miliknya itu. Dua tangan mungil yang memeluk lehernya erat begitu ia menangkap tubuh kecil itu dan langsung digendongnya.
"Arkel kangen."
"Papa juga. Mami gimana? Kangen juga nggak sama Papa?"
Balita laki-laki itu ber-giggle. Sungguh lucu dan menggemaskan.
"Of course yes," jawab balita yang menamai dirinya Arkel.
"Berarti udah nggak marah ya."
"Arkel sayang Papa," ucap Balita laki-laki itu lagi.
"Papa juga sayang Arkel. My champ."
Mereka berpelukan erat.
Reiga makin terpaku. Ia baru saja mendapat penglihatan masa depan yang samar. Bagai televisi jaman dulu yang hanya berwarna hitam putih cenderung abu-abu. Namun ia bisa memastikan dengan jelas, pria yang tersenyum lebar, tengah menggendong si balita yang senyumnya mirip Hana itu adalah dirinya.
Genggaman erat tangan Hana. Para bodyguard yang sudah menghalau wartawan yang sudah mengerubungi mereka. Belasan blitz kamera yang menyilaukan kornea matanya. Reiga tersadar.
"Kok bengong? Ayo! Aku anterin sampai boarding pass ...." ucap Hana sambil tersenyum. ". Mas Ayang," tambah Hana dengan binar diujung matanya.
Reiga balas tersenyum dan membiarkan dirinya ditarik Hana dengan penuh semangat tanpa ragu di tengah badai blitz yang menyertai langkah mereka menuju boarding pass. Di antara lautan pertanyaan yang mengiringi mereka dengan berisik.
"Aku nggak tahu yang tadi itu maksudnya apa, Han. Tapi boleh nggak kalau aku ingin mempercayainya? Percaya bahwa kali ini cinta nggak akan menghabisi aku lagi dengan kenyataan yang menyakitkan?"