Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balapan
Hai... Hai...
Sesampainya di garis start balapan, Mika menghentikan motor sport itu di samping Axel. Sungguh Axel sangat terkejut dengan tindakan bar-bar dari Mika. Bahkan saat Axel melihat kaki Mika yang berjinjit demi motornya seimbang. Axel sampai meringis pelan di balik helm full facenya. Membayangkan jika motor itu bisa saja jatuh karena Mika tak bisa menyeimbangkan motornya. Berani-beraninya remaja perempuan itu menggunakan motornya dengan tanpa rasa bersalahnya.
Mika malah terlihat santai dan berulangkali menggemborkan knalpot. Dia membuka kaca helmnya sambil melambaikan tangan dan mengedipkan sebelah matanya. Dalam beberapa jam saja, arena balapan itu sudah terasa aneh dan berbeda. Bahkan Axel merasakan ada sesuatu yang tak bisa dirinya jelaskan terjadi padanya. Rasa kesal, bingung, dan canggung menguasainya ketika harus berhadapan dengan Mika.
"Awas saja kalau motorku lecet, aku tendang kamu ke rawa-rawa." ucap Axel memperingatkan dengan ancamannya.
"Kenapa nggak ditendang ke kepalamu aja? Biar aku masuk dalam pikiranmu terus," ucap Mika dengan menggombali Axel. Hal itu membuat Axel mendelikkan matanya sinis.
"Anak kecil nggak boleh genit. Jijik," sindir Axel untuk menutupi kegugupannya akibat gombalan receh Mika.
"Genit atau nggak itu tergantung persepsi orang. Masa baru gitu aja dibilang genit. Wafer ya?" Mika menaikturunkan alisnya untuk menggoda Axel.
"Si..."
"Axel, jangan ngobrol terus. Fokus..." teriak Ega Racquel Akbar, ketua geng motor ZIGOZ. Tampaknya beberapa orang kesal juga kalau acara berjalan lambat, padahal waktu sudah larut malam.
Walaupun dalam balapan ini mereka adalah lawan, tapi tetap saja keselamatan satu sama lain diutamakan. Mereka akan saling mengingatkan satu sama lain tentang keselamatan. Ini bukan balapan liar saja, melainkan solidaritas antar geng. Mereka hanya memperebutkan hadiah yang disediakan, bukan untuk saling menjatuhkan. Mika yang melihat interaksi Ega dan Axel itu tersenyum misterius di balik helmnya.
"Diam, anak kecil. Aku lakban juga itu bibirmu biar nggak bisa bicara. Di sini orang-orang mau balapan bukan ajang debat," ucap Axel penuh peringatan dan diangguki kepala oleh Mika. Bahkan kini Mika langsung menutup kembali kaca helmnya dan tatapannya lurus ke depan kemudian berubah serius. Hal itu membuat suasana di sekitar Axel sedikit aneh.
"Ini bocah cepat amat perubahan sikapnya. Siapa dia sebenarnya? Kelihatan seperti bocah polos, tapi sekarang auranya berubah. Aku yakin ini bukan perempuan manja seperti cewek-cewek yang ingin dekat denganku," gumamnya sambil mencoba untuk kembali fokus.
Brumm... Brumm...
1... 2... 3...
Go...
Brummm....
"Mika, jangan cepat-cepat naik motornya. Aduh... Nanti kalau jatuh nggak bisa nahan motor itu. Orang sama motor saja beratnya lebih berat kendaraannya," teriak Reska yang tampak sangat khawatir dengan Mika. Apalagi melihat gaya Mika saat memacu kendaraan itu. Reska hanya bisa bergidik ngeri.
"Kayanya dia bukan perempuan biasa deh, Reska. Tatapan matanya saat melihat ke depan itu beda dari bocah polos lainnya. Apa dia sebenarnya preman yang menyamar jadi cewek polos?" ucap El dengan berbagai dugaannya.
"Mau dia cewek polos atau bukan, kita yang bawa Mika ke sini. Kalau ada apa-apa, mati kita nanti sama keluarganya. Walaupun kelihatannya santai, dia kayanya dari keluarga kaya. Pakaiannya aja branded semua gitu," ucap Reska tak peduli dengan Mika yang benar polos atau tidak. Dia memikirkan keselamatan Mika.
Saat berada di tikungan, dengan beraninya Mika menyalip motor milik Ega. Sedangkan Ega yang terkejut, hampir saja motornya oleng. Beruntung dia bisa menyeimbangkan kendaraan dan gerakannya. Ternyata perempuan yang tadi dianggapnya hanya main-main saja, punya skill luar biasa. Bahkan Axel yang berada di belakang Ega juga begitu takjub. Mika berulangkali menyalip anggota geng motor lainnya. Kebetulan balapan ini diikuti 8 orang dari empat geng motor. Ditambah Mika, menjadi 9 orang yang mengikuti.
Ternyata dia ingin balapan beneran, aku kira cuma main-main.
Baik lah, ini saatnya kita serius.
Axel... Axel...
Mika...
Semangat, Mika... Kalau menang, duitnya bisa buat beli ucapan pedas tetangga.
Ngawur banget, Res.
Brummm...
Cittt....
Mika...
***
"Mama kok belum tidur?" tanya Angga yang saat itu terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
Saat sampai dapur, terlihat Janice sedang duduk melamun. Bahkan Janice tak menyadari kedatangan Angga. Jika dilihat, Janice tampak terus menghela nafasnya berulangkali. Seakan ada beban berat yang tengah dipikulnya. Walaupun Angga masih kecil, tapi dia tahu bahwa keluarganya sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu kenapa di sini malam-malam, Angga?" tanya Janice yang balik bertanya pada Angga. Bukan malah menjawab pertanyaan anak bungsunya itu.
"Mau ambil minum, Ma."
"Mama kenapa?" tanya Angga lagi
"Mama sedang memikirkan Kakakmu," jawab Janice sambil menghela nafasnya pelan.
"Ada apa dengan Kak Mika? Bukannya dia sudah terlihat santai dan ceria seperti waktu Oma masih ada," ucap Angga dengan tatapan bingungnya.
"Kakakmu itu jalan pikirannya tidak ada yang bisa menebaknya, Angga. Dia itu misterius. Dia pintar menyembunyikan perasaannya," ucap Janice dengan yakin.
Walaupun terlihat ceria, tapi Janice tidak percaya itu. Dia mengenal Mika yang pintar sekali menyembunyikan perasaannya. Apalagi Mika adalah sosok orang yang tertutup ketika ada masalah. Mika ini mirip Ronand saat menyelesaikan masalah. Lebih memilih untuk mencoba mencari cara menyelesaikan masalahnya sendiri. Ternyata Janice merasakan apa yang dirasakan oleh Julian. Dia merasa bahwa dirinya tak bisa berbuat banyak untuk keluarga karena anaknya sudah bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Benar juga sih, Ma. Nanti coba Angga cari tahu," ucap Angga menenangkan Janice agar tidak terlalu kepikiran.
"Mama banyak istirahat, jangan begadang dan terlalu memikirkan hal begini. Nanti kalau sampai sakit, Angga sedih dan Papa jadi bingung." lanjutnya sambil mengusap lembut lengan Mamanya.
"Iya. Terimakasih sudah mau mendengar curhatan Mama,"
"Besok Kakekmu mengajak kita makan malam. Kamu bisa kan temani Mama?" tanya Janice pada Angga dengan tatapan penuh harap.
"Jika mengajak Mika, udah pasti dia tidak akan mau. Kalau pun mau, pasti akan ada keributan di sana." lanjutnya.
Angga tampak menimbang keputusannya. Sebenarnya ia malas untuk ke rumah Kakeknya itu. Apalagi di sana pasti ada saja sindiran atau ucapan pedas yang dilayangkan kepada Mamanya. Sebenarnya Janice itu berani saja menghadapi mertuanya, tapi dia tak ingin dianggap tidak sopan. Apalagi mertuanya itu mempunyai penyakit jantung, sama dengan Opa dan Omanya.
Angga akan temani Mama,
Tapi jangan salahkan Angga kalau Angga bakalan melindungi Mama dari orang-orang julid,
Terutama Nenek tuh yang mulutnya nggak ada saringannya sama sekali,
Iya. Terserah kamu. Lagian Mama kali ini juga nggak mau mengalah sama Om dan Tantemu yang parasit itu,
Kita lawan keluarga itu dengan tegas, Ma.
Hahahaha...
.BER AKSI👏👏👏👏👏👏👏❤️❤️❤️
tq thor🙏😍
lanjuttttt💪😄