Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 - Interogasi
"Siapa kau?"
Avara mengepalkan tangan, menguatkan tekad. Dia harus menjawab semua pertanyaan raja iblis jika masih mau hidup.
"Nama saya Avara Luna Manara." Avara meneguk ludah, "Your Majesty."
Raja iblis mengernyit sementara kegaduhan di sekeliling mereka mulai membumbung tinggi.
"Kau dengar? Dia punya nama dengan tiga kata!"
"Kau salah! Namanya Avara Lunamanara."
"Bukan, bodoh! Tapi Avara, Luna, Manara. Tiga kata!!"
Avara heran kenapa nama dengan tiga katanya bisa sedemikian ramai dibahas semua iblis. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mendapati tidak ada satu pun dari mereka yang tenang tanpa membahas nama lengkapnya. Apa itu ungkapan terkutuk di sini?
"Berani sekali kau punya tiga kata dalam namamu," seru si iblis penyeret. "Hanya anggota keluarga kerajaan manusia yang boleh memilikinya. Kau tidak mungkin salah satu dari mereka, kan?"
Avara mengerjap, kebingungan. Gadis itu belum selesai dengan keterkejutannya yang datang tanpa kemauan ke tempat asing itu, dan kini dia diberitahu bahwa dirinya terlalu lancang karena memiliki jenis nama yang hanya boleh dimiliki keluarga kerajaan. Avara menggeleng kuat-kuat.
"Dari mana kau berasal?" lanjut raja iblis.
Avara tidak yakin harus menjawab selugas apa untuk pertanyaan itu. Haruskah dia mengatakan nama dusun, RT RW, desa, kecamatan, dan kabupaten tempatnya tinggal?
Namun karena ini dunia iblis, mungkin lebih baik dia menjawab, "Indonesia."
Raja iblis masih mengernyit, dan tampaknya akan terus begitu. Agaknya dia mencoba mengenali nama negara asing itu dan mencari letaknya di seantero benua tempat kerajaan mereka berada, pun di benua lain, tapi nihil. Di mana itu Indonesia?
"Sepertinya saya berasal dari dunia yang berbeda, Your Majesty," aku Avara, memahami kebimbangan raja iblis. "Saya tidak berasal dari tempat manapun di sini. Negara saya tidak ada di dunia ini."
Raja iblis tercengang. Kegaduhan kembali membumbung hingga dia harus turun tangan meredam mereka. Tidak ada iblis yang tidak berkomentar soal keajaiban itu. Selama beratus-ratus tahun mereka hidup, tidak pernah ada seorang pun makhluk yang mengaku berasal dari dunia lain, entah dia manusia atau iblis.
"Buktikan kalau kau memang dari dunia lain!"
"Betul. Buktikan!!"
"Jangan-jangan kau hanya menipu kami!"
Raja iblis bergeming mendengar seruan-seruan yang semakin lama semakin nyaring itu. Dia mulai enggan meredakan sentimen para iblis lain. Sebagai gantinya dia bertanya, "Bagaimana kau bisa masuk ke sini?"
Avara mendapati iblis-iblis itu berangsur-angsur diam, meski masih ada di antara mereka yang mengomel dengan lirih. Dia cukup ragu saat menjawab, "Saya.. tidak tahu. Tiba-tiba saja saya sudah ada di ruang itu."
"Apa tujuanmu?"
Terhenyak, lidah Avara kelu. Untuk sebuah perjalanan yang tidak dia inginkan, apakah dirinya punya tujuan?
Maka Avara menyahut, "Saya tidak punya tujuan apapun, Your Majesty. Keberadaan saya di sini di luar keinginan saya sendiri."
Raja iblis menatapnya penuh selidik, tidak mau melepaskan sosok Avara sedetik pun dari pandangannya. "Apa yang sudah kau lakukan di ruang arsip?"
"Tidak adaー"
"Dia membuka-buka arsip kita, Your Majesty," seloroh si iblis penyeret.
Avara menganga. "Itu tidak benar! Saya memang sempat membuka satu buku, tapi saya tidak melakukan hal buruk apapun."
Lama, sang raja menatap Avara, menilai kebenaran hanya dari kata-kata orang asing yang baru ditemuinya. Matanya tajam dan dingin, dengan warna pupil kebiruan yang kelam, dia mengunci sosok kecil Avara agar tak kabur meski jelas tak mungkin. Gadis itu terlampau kaku untuk sekedar bergerak seinci dari tempatnya bersimpuh kini.
Raja iblis melirik si iblis penyeret, dan berkata, "Ambil buku arsip itu sekarang."
Maka iblis itu segera berderap melaksanakan titah. Suara langkah kakinya membahana di tengah ruang luar biasa luas dengan iblis-iblis yang sekarang memilih diam. Avara tidak bisa berkutik di tengah kesunyian aneh itu, dan terutama di antara pandangan sang raja yang seolah mengunci pergerakannya. Dia melalui detik demi detik yang terasa begitu lambat, yang terasa mencengkeram dadanya erat.
Sejatinya, hanya membutuhkan tidak kurang dari semenit bagi si iblis untuk kembali dengan buku arsip yang tadinya dibaca oleh Avara. Dia segera bersimpuh demi mempersembahkan buku itu pada sang raja, yang menerimanya tanpa banyak bicara dan membuka halaman-halamannya pun tanpa cakap apa-apa. Keringat dingin Avara menetes semakin deras selama raja iblis melakukan pengecekan.
Jantungnya lebih bertalu-talu saat tahu-tahu buku itu dilempar ke hadapannya, menghasilkan bunyi debum keras. Avara berusaha merangsek mundur sebelum raja iblis berucap, "Perlihatkan padaku, apa yang sudah kau baca."
Avara mendongak untuk meyakinkan diri, lalu meraih buku itu dengan tangan yang tak kalah dingin. Dia tidak mengangkat atau memindah buku itu sesenti pun, membiarkannya apa adanya di tanah. Avara hanya membuka dan membolak-balikkan halamannya yang ternyata sudah cukup lusuh. Dia mencari satu halaman yang pertama kali dia baca tadi, tapi hanya Bulan Pisces yang menjadi petunjuk. Sementara banyak disebutkan Bulan Pisces di halaman-halaman lain yang tersebar di seluruh buku.
Gerakan Avara mendadak berhenti. Ada yang mengganggu pikirannya saat memerhatikan sekilas halaman demi halaman yang tersusun dalam buku itu. Sebuah kekacauan data.
"Apakah buku ini awalnya disusun dari laporan atau catatan?" Avara mendongak. "Bukan asli berupa buku lalu ditulisi?"
Si iblis penyeret takut-takut ikut mendongak menatap rajanya, yang mengalihkan pandangan kepada salah satu iblis di kerumunan di belakang punggungnya. "Oriole," panggilnya.
Oriole, seorang iblis yang bertubuh ramping mendekat dan sedikit menunduk untuk mengenali buku yang dimaksud Avara. Tanpa banyak ucap, dia lantas mengangguk membenarkan.
Raja iblis memandang buku itu sekilas sebelum memberi perintah, "Lepaskan halaman-halaman buku itu."
Oriole yang jelas menerima perintah itu sempat ragu, tapi dia segera melaksanakannya sebelum sang raja kesal apalagi murka. Dengan sedikit goyangan jari-jari tangan kanannya, buku itu tanggal menjadi berlembar-lembar kertas dan sampulnya, meninggalkan pula Avara yang melongo sebab baru pertama kali menjumpai sihir yang benar-benar sihir selama hidupnya. Sayangnya dia tidak memiliki cukup waktu untuk terpana sebab setelah mendapati buku itu selesai dilepas, si gadis segera meraihnya sebagaimana dia memperoleh deadline seperti saat masih di kantor dulu.
Dengan cekatan, Avara menyusun kembali kertas-kertas itu sambil bergumam, "Tahun 368 Bulan Scorpio, Tahun 365 Bulan Cancer.. Tahun 366 Bulan Scorpio.. Seharusnya urutannya tidak seperti ini." Cepat, Avara mengurutkan kumpulan kertas itu sesuai pengetahuan yang dia miliki. "Capricorn, Aquarius, Pisces, Aries, Taurus.."
"Kau," iblis penyeret itu tercekat. "Bagaimana kau tahu nama-nama bulan di sini jika kau memang dari dunia lain?"
"Ini pengetahuan umum di duniaku," balas Avara tanpa mengalihkan pandangan. "Your Majesty, penjilidan buku memang bagus, tapi jika isinya masih carut-marut maka tetap saja tidak ada baiknya."
Raja iblis bergeming meski banyak bawahannya memprotes tindakan Avara yang dinilai tak sopan pada orang dengan pangkat tertinggi di sana. Dia lebih memperhatikan si gadis bekerja dalam diamnya.
Oriole menjadi satu-satunya iblis yang menyadari bahwa untuk pertama kalinya, sang raja tidak menginterupsi apapun yang dia nilai tidak layak untuk menjadi perhatian.
"Selesai," ujar Avara sambil merapikan tumpukan kertas-kertas di tangannya. Wajah leganya seketika berubah pucat saat dia kembali menyadari tempatnya kini berada. "Saya keblabasan..."
Raja iblis melihatnya dengan mata yang masih sama dinginnya.