Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
duren
Dua minggu sudah berlalu sejak kriteria gila Rania menyebar lebih cepat dari gosip artis selingkuh. Dua minggu yang cukup lama untuk membuat orang-orang sedikit lupa, sedikit bosan, dan sedikit pindah ke topik lain yang lebih segar. Seperti harga cabai yang naik turun kayak roller coaster, atau tetangga depan yang kucingnya hilang lalu ditemukan lagi di atas pohon.
Rania sendiri sudah mulai tenang. Bukan tenang-tenang aman, tapi tenang kayak air sungai yang kelihatan dangkal padahal ada buaya di dalamnya. Magangnya berjalan mulus. Mila dan Bang Didi sudah jadi teman curhat yang asyik walau Bang Didi lebih sering curhat soal utang motor daripada mendengarkan curhat Rania.
Bahkan Pak Heru yang killer itu sekarang sedikit melunak setelah Rania berhasil belikan kopi hitam tanpa gula tiga hari berturut-turut tanpa salah. Tiga hari itu rekor magang sebelumnya cuma bertahan satu hari sebelum ditendang keluar ruangan sambil nangis.
Pagi ini, Minggu cerah. Matahari menyapa kayak ibu-ibu kompleks yang terlalu ramai di pagi buta menyengat, tidak bisa dihindari, dan bikin keringat bercucuran meskipun cuma duduk diam. Awan-awannya tipis kayak kapas yang diuber angin, bertebaran di langit biru pucat.
Burung pipit beterbangan di atas pagar. Rumput tetangga sudah dipotong rapi, baunya semerbak campur bensin dari mesin pemotong rumput yang masih bersuara ngeng-ngeng-ngeng dari kejauhan.
Tidak ada tanda-tanda bencana. Tidak ada firasat buruk, tidak ada suara guntur atau gempa atau alarm kebakaran.
Rania masih di kamar masih enak-enakan rebahan kayak singa laut yang malas berenang. Tubuhnya membentuk huruf S di kasur lipat yang kempes di bagian tengah bekas duduk Naufal yang gak pernah bisa duduk manis. Kipas angin di pojokan berputar lambat kayak lagi pusing sendiri, dengan suara kreek... kreek... kreek yang membuat Rania hampir terlelap lagi.
Krucukkkkk...
Bukan krucuk biasa. Ini krucuk tingkat dewa. Krucuk yang berbunyi kayak panggilan perang dari suku lapar. Rania menepuk perutnya.
"Sabarlah, kau pemilikmu lagi menikmati masa libur jangan teriak-teriak."
Tapi perutnya tidak dengar, perutnya terus meronta.
Lalu...
Swoosh!
Aroma durian menyelinap masuk lewat celah pintu kamar, wanginya keras, brutal gak kenal ampun. Kayak petugas ronda yang teriak pakai toa di tengah malam, "HOOO... SATUAN KEAMANAN LINGKUNGAN.... BUKA PINTU...!"
Rania mengendus. Hidungnya bergerak-gerak kayak kelinci yang baru sadar ada wortel di depan mata.
"Wah, ibu beli durian," gumamnya sambil duduk dengan gerakan yang tidak biasa cepet, kayak ada yang nyetrum pantatnya.
Matanya melek penuh air liurnya mulai ngumpul di sudut mulut. Dia turun dari kasur kaki telanjangnya menapaki lantai keramik dingin yang terasa kayak es batu di telapak kaki. Dia melangkah gontai ah, tidak, bukan gontai. Kali ini dia melangkah cepat secepat kilat. Kayak pelari maraton yang lihat garis finish ada buffet gratis.
Rania melewati lorong sempit dengan lampu temaram yang satu bolanya udah mati sejak tiga bulan lalu. Bau dapur mulai terasa ada sisa rendang dari kemarin, ada bawang goreng yang ditumis ibu buat taburan, tapi semua kalah sama aroma durian yang perkasa itu.
Dia sampai di ruang makan.
Meja kayu jati yang sudah mengelap karena umur itu sekarang dipenuhi durian besar-besar. Kuning mengkilap dagingnya montok kayak pipi bayi yang lucu. Kulitnya berduri tajam kayak hati yang baru saja diinjak-injak mantan pacar. Di piring besar, beberapa biji durian sudah terbuka, siap santap. Nampan plastik di sampingnya penuh dengan kulit dan biji.
Ibu sedang sibuk membuka durian lain, jarinya lincah kayak pesulap yang lagi main kartu. Bapak sudah duduk di kursi sambil mengunyah pelan-pelan. Naufal... Hah, Naufal lagi asyik scroll HP sambil menyuap durian ke mulut dengan lahap kayak orang puasa baru buka.
Rania menjulurkan tangan. Jari-jarinya nyaris nyentuh daging kuning lembut yang berkilap kena cahaya matahari pagi yang masuk lewat jendela.
TEPIS!
Seperti petir di siang bolong seperti bola voli yang dismash keras ke muka. Tangan Rania didorong ke samping dengan kekuatan yang tidak terduga. Kuatnya kayak dihantam palu godam versi mini.
"NAUFAL! LO APAAN SIH?!"
Mata Rania melotot wajahnya merah padam. Bukan karena malu, tapi karena kesal. Gila. Emosi. Levelnya udah kayak bensin yang disulut korek api.
Naufal berdiri di sampingnya dengan senyum lebar. Senyum yang terlalu manis. Senyum yang bikin Rania ingin nyomot sendok dan lempar ke arah adiknya. Naufal tersenyum kayak bulan purnama yang kemasukan setan indah tapi mengerikan.
"Itu bukan buat lo, Mbak," ucapnya pelan. Pelan tapi mantap kayak hakim yang ngasih vonis mati.
"Lah terus buat siapa? Kok di meja?"
"Itu cadangan buat berjaga-jaga. Jaga-jaga kalau tamunya gak doyan durian."
Rania mengerutkan kening. "Tamu? Ada tamu?"
"Iya," Naufal mengangguk.
"Teman gue, udah gue bilang main ke sini."
"Terus durian gue mana?"
"Yang buat lo ada di teras."
Rania menoleh ke arah pintu teras yang sedikit terbuka. Tirai tipisnya bergerak-gerak ditiup angin. Samar-samar dia lihat ada orang di luar. Bapak ada di teras, sama seseorang yang tidak dikenalnya.
Rania curiga, kecurigaan ini tiba-tiba muncul kayak jamur di musim hujan. Tapi perutnya sudah berbunyi lagi. Krucukkk... tambah keras. Kayak panggilan alam yang tidak bisa ditawar. Kakinya pun melangkah ke pintu teras.
Begitu Rania sampai di ambang pintu teras, kakinya berhenti. Mengeras, membeku iayak tiba-tiba kena lem super, lalu disemprot nitrogen cair, lalu dibekukan lagi di frezzer selama seratus tahun.
Bukan karena dingin. Bukan karena takut angin. Tapi karena... dia ada di sana. Di teras rumahnya di kursi bambu yang biasa dipakai bapak baca koran. Di samping ayahnya yang sedang tersenyum-senyum ramah duduk seorang pria.
Pria itu tinggi bukan tinggi biasa. Tinggi kayak tiang bendera di upacara hari Senin. Tingginya bikin Rania harus mendongak sedikit walau jaraknya masih tiga meter. Bahunya kekar bukan kekar kayak binaragawan yang serem, tapi kekar kayak atlet renang yang badannya proporsional. Kekar yang bikin kemeja polonya terlihat pas banget di badan, gak kekecilan, gak kebesaran.
Pria itu tampan bukan tampan kayak artis Korea yang putih bersih dan rambut klimis. Tapi tampan alami. Tampan yang bikin orang lihat dua kali. Hidungnya mancung sedikit. Rahangnya tegas. Matanya teduh kayak langit setelah hujan. Dan bibirnya... ah jangan lihat bibir, Rania!
Pria itu wangi, wangi mahal kayak parfum yang dijual di toko yang gak ada label harga. Wangi kayu-kayuan campur citrus. Wanginya menusuk hidung Rania meski jaraknya masih beberapa meter. Wangi yang bikin Rania sadar bahwa dia sendiri masih pakai daster lusuh bau ketek dan belum mandi pagi.
Pria yang ada di teras rumahnya sekarang, duduk bareng ayahnya, ngobrol santai kayak udah kenal bertahun-tahun!
"Ya Allah, ini mimpi apa apaan? Ini realitas atau cuma halusinasi karena terlalu lama gak makan durian?"
Rapia terpak, neku kayak patung lilin di museum Madame Tussaud, versi murah yang gak laku-laku.
Tangan dan kakinya kayak diikat tali Rapunzel. Kepalanya kosong otaknya macet kayak laptop yang kebanyakan buka tab Chrome.
Lalu...
Sssst... Sssst...
Suara bisikan dari belakang samar hangat.
Nafas Naufal di kuping Rania.
"Itu duren spesial buat lu, Mbak makan tuh duren... 18 cm."
Rania tidak bergerak tidak berkedib tidak bernapas. Bahkan jantungnya sepertinya berhenti sejenak. Seluruh sistem dalam tubuhnya berhenti bekerja. Kayak HP kehabisan baterai di tengah-tengah nonton film seru. Kayak lampu padam saat lagi asyik masak mie instan. Kayak motor mogok di tengah jalan tol.
Bum!
Pikiran pertamanya: "Gue mau habisin nyawa Naufal. Sekarang. Tidak usah ditunda-tunda."
Pikiran keduanya: "Kenapa dia seganteng itu? Gila banget sih, gue jadi lupa kalau gue lagi marah."
Pikiran ketiganya: "Jangan-jangan dia tahu soal kriteriaku? Jangan-jangan dia sengaja datang karena tahu?"
Pikiran keempat: "GUE MAU HABISIN NYAWA NAUFAL DENGAN CARA YANG PALING SADIS!
Pikiran kelima: "Tapi Alfino ganteng sih."