NovelToon NovelToon
Antara Pagar Dan Detak Jantung

Antara Pagar Dan Detak Jantung

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dalgichigo

Varendra Malik Atmadja, seorang arsitek muda yang tampan, ramah, dan sangat telaten, baru saja pindah ke Blok C-17. Sebagai penganut paham "tetangga adalah saudara", Malik bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh penghuni kompleks.

Namun, rencananya membentur tembok tinggi setinggi pagar Blok C-18.

Di sanalah tinggal Vanya Ayudia Paramitha, seorang Game Developer yang lebih suka berinteraksi dengan baris kode daripada manusia. Baginya, ketenangan adalah segalanya, dan tetangga baru yang terlalu ramah seperti Malik adalah gangguan sinyal bagi kedamaian hidupnya.

Awalnya, Malik hanya berniat memberikan camilan sebagai tanda perkenalan. Tapi, setiap sapaan Malik dibalas dengan debuman pintu, dan setiap perhatiannya dianggap sebagai gangguan oleh Ayu.

Lalu, bagaimana jika sebuah paket yang salah alamat dan aroma masakan dari dapur Malik perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Ayu? Bisakah Malik merancang fondasi cinta di hati gadis yang bahkan enggan membuka pintu rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dalgichigo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PDKT ga Mudah

Pukul tujuh pagi di depan gerbang Kompleks Griya Visual. Bima sudah gagah di atas motor besar hitamnya. Rompi taktis terpasang rapi, wajahnya kaku seolah sedang bersiap menggerebek sarang penyamun, padahal dia cuma mau berangkat apel pagi.

Telolet!

Suara klakson sepeda listrik yang imut memecah konsentrasi Bima. Hani meluncur cantik dengan dress bunga-bunga, rambutnya yang harum aroma melati berkibar tertiup angin. Di keranjang sepedanya, ada sebuah buket kecil berisi bunga matahari dan selipan secangkir kopi hangat.

"Pagi, Pak Polisi! Mau dinas atau mau perang? Serius amat mukanya," sapa Hani dengan senyum manis yang sanggup melunturkan aspal jalanan.

Bima hanya melirik jam di pergelangan tangannya. "Pagi. Saya sudah telat lima menit, Han."

"Eh, sebentar! Ini ada amunisi buat Kapten Jatanras tersayang," Hani menyodorkan kopi dan buket mungil itu. "Biar di kantor nggak galak-galak amat sama tahanan. Kasihan mereka kalau liat muka kamu yang kayak belum gajian sepuluh tahun itu."

Bima menatap buket itu datar. "Han, saya mau ke kantor polisi, bukan mau ikut karnaval. Bunga begini mau saya taruh mana? Di atas meja interogasi?"

"Ya nggak apa-apa, biar tersangka kalau liat bunga matahari ini langsung tobat dan ngaku!" balas Hani ceria, tidak terpengaruh sedikit pun oleh nada dingin Bima.

Bima menghela napas, akhirnya meraih kopi itu tapi meninggalkan bunganya. "Kopinya saya terima. Bunganya kamu simpan saja. Makasih."

Tanpa kata pamit lebih lanjut, Bima memacu motornya, meninggalkan debu tipis dan aroma bensin. Hani? Dia malah makin lebar tersenyum sambil memeluk buketnya sendiri.

"Duh, makin cuek makin bikin penasaran," gumam Hani puas.

Malam harinya, di teras rumah Hani yang asri, Jisel menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya itu sibuk mencatat sesuatu di buku agenda bermotif bunga.

"Han, kamu nggak capek apa digituin terus sama Bima?" tanya Jisel sambil merapikan katalog pamerannya. "Bima itu tipe pria yang kalau ada bom meledak di depan mata, dia bakal cek dulu itu bom merek apa sebelum mikirin keselamatan diri sendiri. Dia itu kaku, Han."

Hani terkekeh, tangannya lincah menyusun strategi. "Jisel sayang, justru karena dia kaku, makanya butuh orang kayak aku buat melunakkan. Lagian, aku nggak ngejar sembarangan ya. Aku tahu di balik rompi antipeluru itu, dia cuma pria yang butuh perhatian."

"Perhatian dalam bentuk buket bunga di pagi hari?" celetuk Vino yang baru lewat mau pulang ke rumahnya. "Bah! Kutengok si Bima itu lebih butuh kopi hitam pekat daripada bunga matahari kau itu, Kak Jani! Pening kepalanya liat warna kuning-kuning pagi hari."

"Berisik kamu, Vino! Fotoin tuh progres pembangunan Malik sana, jangan ngurusin asmara aku!" balas Hani sambil tertawa.

Tak lama, motor Bima terdengar memasuki komplek. Hani langsung berdiri. Dia tidak mendekat, dia hanya berdiri di pagar rumahnya, melambaikan tangan dengan semangat saat lampu motor Bima menyorot ke arahnya.

Bima hanya mengangguk singkat lewat helmnya gerakan yang sangat minimalis lalu masuk ke rumahnya sendiri di Blok A.

Adit yang lagi nongkrong di depan rumah Malik cuma bisa menepuk jidat. "Mbak Jani, beneran dah, lu pantang menyerah bener. Padahal Bang Bima udah kayak patung pancoran, kagak goyang-goyang."

"Halah, Dit. Patung aja kalau kena hujan tiap hari bisa terkikis, apalagi hati Pak Polisi," sahut Hani mantap.

Di dalam rumahnya yang sepi, Bima melepas rompi taktisnya. Ia mengeluarkan kopi pemberian Hani tadi pagi yang sudah kosong dari dalam tasnya. Ia menatap botol plastik itu sejenak, lalu meletakkannya di tempat sampah dengan perlahan—bukan dilempar.

Bima berjalan ke jendela, melihat ke arah rumah Hani yang masih terang benderang dengan tawa warga komplek di terasnya.

"Berisik," gumam Bima datar. Namun, anehnya, pria itu tidak segera menutup gordennya. Ia berdiri di sana beberapa detik lebih lama, memperhatikan sosok wanita bergaun bunga-bunga yang sedang tertawa lebar di bawah lampu taman, sebelum akhirnya kembali ke meja kerjanya yang dipenuhi berkas kasus kriminal.

Bagi Bima, pekerjaan adalah prioritas. Tapi bagi Hani, memenangkan hati Bima adalah misi seumur hidup yang tidak boleh gagal

Di Komplek, kalau kamu dengar suara musik jedag-jedug yang dibarengi teriakan cempreng minta ampun, itu tandanya Adit sedang berulah di wilayah kekuasaan Ara.

Dinamika mereka adalah definisi nyata dari "Jangan menilai buku dari sampulnya." Adit punya wajah tampan yang sebenarnya bisa menjadikannya idola baru di komplek, tapi kelakuannya yang begajulan dan gaya "jamet" dengan kaos singlet, menghancurkan citra kerennya seketika.

Sebaliknya, Ara punya wajah baby face yang imut sekali. Orang asing mungkin mengira dia adalah gadis lembut yang hobi memelihara kelinci. Padahal, Ara adalah singa betina yang kalau sudah pegang konsol musik, bisa bikin semua orang ciut.

"Araaaa! Ayu lah (Ayolah), sekali ini doang! Bikinin musik buat koreografi baru gue, temanya 'Cinta di Pinggir Empang'. Gue butuh yang ada suara sulingnya tapi beat-nya EDM!"

Adit nangkring di kursi putar studio Ara, memutar-mutar badannya sampai pusing sendiri. Singlet hitamnya sudah basah keringat habis latihan dance, tapi semangatnya buat mengganggu Ara masih di level maksimal.

Ara tidak menoleh. Matanya fokus ke monitor, jemarinya sibuk mengatur equalizer. "Adit, keluar. Gue lagi mixing lagu buat klien penting. Proyek 'Empang' lo itu nggak masuk skala prioritas gue."

"Dih, galak bener sih si Neng. Padahal mukanya imut kayak marmut," ledek Adit. Karena merasa diabaikan, tangan jahil Adit mulai beraksi. Dia mulai menekan-nekan tombol di midi controller Ara secara acak.

Dut! Tet! Tot!

Suara sumbang itu meledak lewat speaker studio. Ara tersentak, hampir saja ia salah menekan tombol delete pada proyeknya.

"ADITYA! Tangan lo bisa diem nggak?!" bentak Ara, badannya yang mungil langsung berbalik, matanya melotot tajam. Kalau pandangan bisa membunuh, Adit sudah jadi perkedel saat itu juga.

"Hehe, abisnya lu kacangin gue mulu. Gue mohon nih, Ra... gue bakal traktir lu seblak paling pedas se-kecamatan selama seminggu kalau lu mau buatin musiknya," rengek Adit sambil memasang wajah memelas yang justru terlihat menyebalkan bagi Ara.

"Gue nggak butuh seblak! Gue butuh ketenangan!" Ara berdiri, mencoba mendorong tubuh bongsor Adit keluar dari ruangan kedap suara itu.

"Nggak mau! Sebelum di-oke-in, gue tetep di sini!" Adit malah tiduran di lantai studio, kakinya yang panjang menghalangi pintu.

Seringkali, Adit sengaja mengacak-acak susunan kabel Ara atau menyembunyikan flashdisk kerjanya hanya supaya Ara mau bicara padanya, meskipun isinya cuma makian. Adit tahu, Ara itu terlalu serius dengan pekerjaannya sebagai produser sampai-sampai sering lupa makan dan jarang sosialisasi dengan warga lain.

Setelah drama kejar-kejaran di dalam studio, Ara akhirnya terduduk lemas di kursinya. Dia menghela napas panjang melihat kabel-kabelnya yang sedikit berantakan karena ulah Adit.

"Lu tuh kenapa sih, Dit? Kenapa nggak minta tolong Genta aja? Dia kan juga musisi," tanya Ara, suaranya mulai melunak karena capek.

Adit yang tadinya lagi asik mainin tutup botol, mendadak diam. Dia duduk tegak di lantai, menatap Ara dengan tatapan yang sedikit lebih serius dari biasanya.

"Genta suaranya bagus, tapi dia nggak punya 'rasa' yang sama kayak lu, Ra. Lu tuh kalau bikin musik... nadanya kayak punya jiwa. Gue butuh jiwa itu buat gerakan gue," ucap Adit jujur.

Ara tertegun. Jarang-jarang si jamet komplek ini bicara filosofis. Ada semburat merah tipis di pipi baby face-nya yang untungnya tertutup remang lampu studio.

"Yaudah, kirim draft koreografinya ke email gue. Nanti gue liat kalau ada waktu," gumam Ara sambil kembali menghadap monitor, pura-pura sibuk padahal jantungnya sedikit berdisko.

"SERIUS?! ASYIK! Makasih Ara sayang! Emang dah, produser paling cantik sedunia!"

Adit langsung lompat kegirangan dan tanpa permisi mengacak-acak rambut Ara sebelum lari keluar studio karena takut dilempar sepatu.

Ara memegang kepalanya yang berantakan, mendengus jengkel tapi sudut bibirnya tidak bisa berbohong. Ada senyum kecil di sana. Diam diam Ara memikirkan pengerjaan musik yang dipinta Adit “ini hasilnya harus bagus” Ara tersadar kalau dia mempedulikan apa yang di inginkan adit.

"Dasar jamet nggak tahu aturan," bisik Ara pelan.

Di luar, Adit lari sambil lompat-lompat girang menuju rumah Malik. "Woy Malik! Gue dapet lampu hijau dari Ara! Malam ini gue traktir lu nasi uduk!" teriaknya, membuat warga Blok C geleng-geleng kepala melihat kelakuan si koreografer begajulan itu.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dalgichigo: siaapp💪
total 1 replies
Jumi Saddah
👍👍👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹
Dalgichigo: 🫰🏻🫰🏻🫰🏻
total 1 replies
Juli Idyawati
menarik ceritanya
Dalgichigo: Makasihh Kak Juli <3, jangan lupa lanjutin baca ya, karena ceritanya bakal makin menarik nihh
balas
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!