Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 9
Ansel mendengarkan dengan seksama penjelasan dari papanya, ia jadi mengerti sekarang, kenapa tadi di meja makan ada beberapa orang asing yang sama sekali tidak ia kenali, rupanya itu adalah teman ayahnya yang dulu sempat kuliah bareng di Jerman, dan kini temannya itu menetap di Jerman dan menikah dengan perempuan Jerman, pantas saja anaknya terlihat sedikit blasteran walaupun wajahnya lebih banyak mengikuti gen sang ayah yang asli warga Indonesia, hanya matanya saja yang mirip dengan ibunya, coklat terang.
“Tapi sebenarnya mereka di sini bukan hanya ingin berkunjung, tapi juga ingin mengenal kamu lebih dalam lagi,” ucap sang ayah kepada Ansel.
Ansel mengerutkan dahinya bingung, "maksudnya apa, yah?”
Sang ayah kembali menghela napas dan menatap ke arah temannya sesaat sebelum kembali menatap Ansel dengan serius.
“Paman Angga menginginkan kamu menjadi menantunya, jadi paman dan sekeluarga datang ke sini untuk bertemu dengan kamu secara langsung sekalian memperkenalkan kamu dengan putrinya,”
Ansel bengong. Lebih banyak terkejutnya. Apa katanya tadi? Paman Angga menginginkan dirinya menjadi menantunya? Hey, dia saja sama sekali tidak kenal dengan mereka, apalagi dengan putrinya.
“Bagaimana Ansel kamu setuju, kan?” tanya sang bunda menatap putra bungsunya itu.
Ansel diam, ia masih memikirkan semuanya, ia tidak bisa secara lugas mengatakan tidak atau ya, karena ini juga berkaitan dengan masa depannya, bukan itu maksudnya, Ansel harus berfikir secara matang, karena pernikahan yang diinginkan teman ayahnya itu menyangkut dirinya dan juga masa depannya, pernikahan bukanlah hal yang harus di permainkan, itu artinya jika ia menyetujui untuk menikahi gadis blasteran Jerman itu, ia harus siap dengan segala konsekuensi di masa mendatang. Bukankah begitu?
“Sebenarnya paman Angga bukan menginginkan kamu, paman Angga awalnya ingin menjodohkan putrinya dengan kakakmu, tapi kakakmu keburu menikah dan malah kembali ke jerman dan menetap dengan istrinya di sana, satu-satunya anak ayah yang belum menikah hanya kamu, jadi ayah menawarkan kamu untuk menjodohkan kamu dengan putrinya,”
Ansel semakin bengong. Jadi awalnya itu Paman Angga akan menjodohkannya dengan kakaknya, tapi karena kakaknya telah menikah duluan, ayahnya menawarkan dirinya untuk putri temannya itu. Ayahnya memang benar-benar, ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Mulut Ansel tertutup, ia tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjawab ketersediannya dirinya menikah dengan putri dari teman ayahnya ini. Secara finansial, Ansel memang sudah cukup, secara umur pun, Ansel memang sudah siap menikah, tapi entah kenapa hatinya sama sekali tidak siap dengan perjodohan tiba-tiba ini, seperti ada yang mengganjalnya, dan Ansel tidak tahu apa yang membuat hatinya terasa berat menerima perjodohan itu.
“Kalau Ansel belum siap sekarang, mungkin Ansel dan Bella bisa berkenalan terlebih dahulu, biar dekat dulu, saling memahami dan juga saling mengenal, tidak perlu buru-buru, kalian masih ada waktu untuk saling mengenal satu sama lain,” ucap paman Angga memecah keheningan di ruang tengah itu.
“Benar itu, kalian bisa saling mengenal dulu, tidak perlu buru-buru,” ucap sang bunda menanggapi usulan paman Angga.
“Tapi masalah paling besarnya adalah, Ansel tidak bisa berbahasa Jerman bagaimana bisa Ansel dan Bella bisa saling mengenal jika Ansel tidak mengerti bahasa Jerman,” ucap Andini, kakak pertama Ansel yang sampai sekarang masih belum di berikan kepercayaan mendapatkan seorang anak, padahal sudah berumur tiga puluh tahun.
“Bella pun sama kan tidak bisa berbahasa Indonesia?” tanya Andini menatap paman Angga yang di beri anggukan oleh Angga.
Semua orang langsung menepuk jidatnya masing-masing, melupakan fakta yang satu itu.
***
“Pak guru kemana saja, Cwen mencari pak guru loh tadi pagi, tapi tidak ada, kata mama pak guru masih ada urusan di luar, memangnya pak guru ada urusan apa di luar? Menyiram tanaman rumah sakit atau apa?” tanya Cwen menatap Ansel dengan tatapan polosnya.
Ansel tertawa dengan pertanyaan yang di lontarkan Cwen siang ini, pikirannya tentang perjodohan yang hampir membuat kepalanya pecah itu sedikit terhibur dengan pertanyaan polos Cwen.
“memangnya urusan diluar hanya menyiram tanaman saja, ada banyak loh, bukan hanya menyiram tanaman saja,” canda Ansel menanggapi pertanyaan polos Cwen.
“Memangnya apa lagi urusan di luar selain menyiram tanaman, kalau membereskan rumah kan bukan urusan di luar, tapi urusan di dalam?”
Yang itu sukses membuat Ansel tertawa, gadis berambut pirang itu sukses membuat Ansel melupakan masalahnya di dalam rumah.
“Oh iya, cwen sudah makan siang belum, pak guru membawakan makanan untuk Cwen loh,” tanya Ansel mengalihkan pembicaraan saat melihat Jenia terbangun dari tidurnya.
Mendengar kata makanan, kedua mata Cwen langsung terbuka lebar, “wah, makanan apa yang pak guru bawa, Cwen suka semua makanan,”
Ansel tertawa dan mengusap lembut rambut pirang Cwen yang terurai, lalu ia memberikan dua kantong kresek kepada Cwen yang langsung di terima baik oleh gadis itu.
“Terima kasih pak guru,” ucap Cwen senang, ia langsung berlari ke arah sofa dan menaruh kresek itu di tas meja untuk melihat makanan apa yang di beli oleh sang guru untuk dirinya,
“Padahal pak Ansel tidak perlu repot-repot ke sini lagi, aku bisa menjaga diri, masih ada perawat juga yang rutin melihatku di sini, Cwen juga sudah bisa membantu hal yang tidak bisa aku lakukan,” ucap Jenia kepada Ansel.
Ansel tersenyum kecil, “tidak apa-apa, kebetulan saya juga sedang kosong, hari ini sekolah di liburkan karena ada pembetulan gedung sebelah kiri yang atapnya rusak, sampai air yang harusnya terbuang malah tertampung dan membuat gedung di bawahnya terkena imbas karena rooftop yang roboh,” ucap Ansel.
Jenia mengangguk, pikirannya kembali melayang ketika sang guru putrinya mengucapkan kata sekolah. Cwen bersekolah di sekolahan yang cukup bergengsi yang dimana biaya sekolah perbulannya tidaklah murah, jika dulu, ayahnya Cwen yang membayarnya, lalu sekarang siapa? Ia bahkan tidak memiliki pekerjaan untuk menyambung kehidupan mereka, dan dirinya malah terbaring sakit, Jenia menghela napas mengingat itu, rasanya sangat menyesakkan memikirkan bagaimana kelanjutan kehidupan dirinya dan juga Cwen kedepannya.
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?” tanya Ansel melihat Jenia yang terus-terusan mengerutkan dahinya seperti sedang memikirkan hal yang sangat berat, bahkan beberapa kali menghela napas.
Jenia menoleh dan memaksakan tersenyum, rasanya ia tidak mungkin meminta bantuan lagi kepada laki-laki di depannya ini, ia sudah banyak sekali merepotkan.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa tidak enak Karena sudah banyak sekali merepotkan pak guru,”
Ansel mengangguk, lalu duduk di kursi yang ada di sebelah brangkar Jenia membuat Jenia sedikit terkejut karena untuk pertama kalinya Ansel berani duduk di dekat tempatnya berbaring, biasnaya ia hanya akan berdiri dan sedikit menjaga jarak, akan menghampiri juga jika dirinya sedang membutuhkan sesuatu.
“Ada yang sedang menganggu pikiranmu?” tanya Ansel menatap Jenia.
Dan untuk pertama kalinya, Ansel berbicara sangat santai kepada ibu dari muridnya itu, tidak formal seperti biasanya, bahkan terkesan seperti berbicara kepada teman seumurannya.
Dan itu membuat perasaan Jenia sedikit berbeda.
seru ceritanya