Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Di dalam penthouse itu, waktu seolah kehilangan porosnya. Ruangan luas yang biasanya memancarkan kemewahan dingin itu kini hanya diterangi oleh sisa-sisa lampu kota yang menembus jendela kaca raksasa, memberikan semburat warna biru dan perak pada kulit Elowen yang pucat. Atmosfer di sana terasa begitu pekat, seolah oksigen telah digantikan oleh ketegangan yang nyaris meledak.
Ezzra mendorong pintu kamar utamanya dengan bahu. Dalam gerakan yang lambat namun pasti, ia menarik Elowen ke dalam dekapannya. Tidak ada kata-kata manis. Tidak ada rayuan. Hanya ada suara napas yang memburu dan detak jantung yang saling beradu melalui lapisan kain yang kian menipis. Ezzra berhenti sejenak; tangannya yang besar menangkup wajah Elowen, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang gelap dan penuh tuntutan.
"Kau yakin ingin melakukannya denganku, Elowen?" suara Ezzra rendah, hampir menyerupai geraman. "Bukan Jeff, bukan siapa pun. Hanya Aku."
Elowen tidak berkedip. Matanya yang berkaca-kaca mencerminkan kehampaan yang dalam. Ia mengangguk perlahan. Tangannya naik, jari-jarinya yang lentur merayap di balik tengkuk Ezzra, menarik kepala pria itu turun agar jarak di antara mereka hilang sepenuhnya.
"Lakukan, Ezzra. Hancurkan aku. Buat aku lupa siapa diriku," bisik Elowen parau.
Setiap gerakan setelah itu terasa seperti adegan film yang diputar dalam kecepatan lambat. Ezzra melepas pakaian Elowen dengan tangan yang sedikit bergetar—sesuatu yang sangat jarang terjadi pada pria yang biasanya begitu terkendali dalam kekacauan. Saat gaun merah itu akhirnya jatuh ke lantai seperti kelopak bunga yang layu, Elowen tampak seperti mahakarya yang rapuh di bawah cahaya bulan. Ia terlihat begitu indah, namun begitu hancur.
Ezzra membaringkan Elowen di atas ranjang king size berbalut seprai sutra hitam. Ia menyusul di atasnya, menyatukan tubuh mereka sementara bibirnya mencium leher Elowen dengan lembut namun menuntut.
Setiap sentuhan Ezzra terasa seperti api yang menjalar, membakar sisa-sisa ingatan Elowen tentang rasa sakit, tentang kakaknya, dan tentang dunia Valerio yang menyesakkan. Elowen memejamkan mata erat-erat; ia ingin merasakan sakit fisik yang nyata agar ia bisa menelan sesak di hatinya yang tak kunjung padam.
Namun, saat penyatuan itu akhirnya terjadi, segalanya seolah berhenti berdetak sejenak.
Ezzra tersentak. Ada hambatan kecil yang ia rasakan, sebuah kenyataan yang menghantam kesadarannya seperti gada besi. Ia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mata Elowen yang kini dipenuhi air mata karena rasa nyeri yang baru pertama kali ia rasakan dalam hidupnya.
Masih suci? batin Ezzra terguncang.
Pikirannya mendadak kalut. Bagaimana mungkin? Elowen sudah lama menjalin hubungan dengan Jeff, pria yang dianggap semua orang sebagai kekasih sempurna. Kenapa Elowen menjaganya begitu lama hanya untuk menyerahkannya pada pria sepertinya di malam yang penuh keputusasaan ini?
Ezzra mengecup kening Elowen dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan pada wanita mana pun di masa lalunya. Ada rasa bersalah yang menusuk ulu hatinya saat melihat Elowen meringis, namun di sudut gelap hatinya, muncul rasa bangga yang posesif.
Aku pria yang sangat beruntung, Jeff. Maafkan aku, brother... tapi dia milikku Mulai Malam ini, bisik Ezzra dalam hati saat ia kembali menenggelamkan dirinya dalam gairah yang kian memuncak, kali ini dengan tempo yang lebih pelan, seolah takut akan menghancurkan porselen berharga di bawahnya.
Malam itu berlangsung tanpa henti. Setiap gerakan Ezzra terasa lebih dalam, lebih menuntut pengakuan. Ia seolah ingin menandai setiap inci tubuh Elowen sebagai wilayah kekuasaannya. Dari pukul satu malam, hingga waktu seolah kehilangan maknanya di bawah selimut yang kini berantakan.
Pukul empat pagi. Cahaya fajar mulai mengintip tipis di cakrawala Los Angeles. Keringat membasahi tubuh mereka yang masih menyatu. Elowen merasakan lelah yang luar biasa hingga seluruh persendiannya terasa remuk, namun Ezzra seolah memiliki energi yang tak terbatas.
"Berhenti... kumohon," bisik Elowen parau. Suaranya hampir hilang, tenggelam di bantal sutra.
Ezzra berhenti sejenak, namun ia masih enggan melepaskan dekapannya. Ia menumpu tubuhnya dengan kedua lengan, menatap Elowen yang tampak sangat kacau namun memesona. "Kenapa?" tanya Ezzra, suaranya sangat rendah dan menggoda tepat di telinga Elowen.
Elowen melirik jam digital di atas nakas. Angka merah menunjukkan pukul 04:00.
"Sudah pukul empat pagi, Ezzra... Aku harus pulang," ucap Elowen. Ia mencoba bergeser untuk bangkit, namun tangan Ezzra yang kekar kembali melingkar di pinggangnya, menariknya kembali hingga punggung Elowen membentur dada bidang pria itu.
"Nanggung, El. Aku baru saja ingin mulai lagi," bisik Ezzra nakal, bibirnya mulai menelusuri bahu Elowen yang terbuka, meninggalkan jejak-jejak kemerahan baru.
Mata Elowen membelalak. Ia mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. "Kau gila? Hari ini aku ada kelas pagi pukul delapan. Aku harus mandi, berganti pakaian, dan menyusun kembali kewarasanku!"
"Kelas bisa menunggu. Aku tidak," jawab Ezzra tanpa dosa.
"Menyingkir dariku, Ezzra Velasquez!" Elowen mendorong dada Ezzra dengan sisa tenaganya. "Ini hanya satu malam. Jangan berpikir kau bisa mengendalikan hidupku atau jadwal kuliahku."
Ezzra tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat menyebalkan namun entah mengapa membuat perut Elowen bergejolak aneh. Ezzra akhirnya melepaskan kungkungannya, membiarkan Elowen bangkit. Dengan gerakan canggung akibat rasa nyeri yang masih tersisa, Elowen memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
Ia tidak menoleh lagi saat berjalan menuju kamar mandi. Ia menyalakan pancuran air dingin, membiarkan air mengguyur tubuhnya untuk menghapus aroma Ezzra, namun ia sadar, ia tidak akan pernah bisa menghapus memori tentang apa yang terjadi semalam. Saat ia keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya, ia menemukan Ezzra sudah berdiri di dekat jendela, hanya mengenakan celana dalam pendek, memamerkan otot pundaknya di bawah cahaya fajar.
"Kau Tau Aku tidak memakai pengaman semalam," ucap Ezzra tiba-tiba, suaranya serak khas bangun tidur. "Dan kuharap kau bisa mengantisipasinya sendiri, Nona Valerio."
Elowen terdiam sejenak, tangannya meremas handuk. "Aku tahu apa yang harus kulakukan," jawabnya kaku.
Ezzra melangkah mendekat, mengunci pergerakan Elowen di depan meja rias. Ia menyelipkan helaian rambut hitam Elowen yang basah ke belakang telinga. "Bagaimana dengan kekasihmu, Jeff?" tanya Ezzra, matanya berkilat menantang. "Apa dia tahu kekasihnya baru saja menyerahkan segalanya pada seorang berandal sepertiku?"
"Tutup mulutmu!" desis Elowen tajam.
Tepat saat itu, ponsel Elowen yang tergeletak di dalam tas di atas meja rias bergetar hebat. Nama yang muncul di layar membuat jantung Elowen seolah berhenti berdetak: Jeff Feel-Lizzie.
Elowen mematung. Ezzra melirik ke arah ponsel itu, lalu kembali menatap mata Elowen dengan senyum kemenangan yang menjengkelkan.
"Jawablah," bisik Ezzra tepat di telinganya. "Katakan padanya kau sedang sibuk... merajut masa depanmu."
Elowen merasakan dadanya sesak. Dengan tangan gemetar, ia mendorong Ezzra dan meraih ponselnya. Ia segera berpakaian dengan terburu-buru, mengabaikan tatapan intens Ezzra.
"Jangan pernah hubungi aku lagi, Ezzra. Anggap malam ini tidak pernah terjadi," ucap Elowen dingin saat ia sudah mencapai pintu keluar.
"Kita lihat saja nanti, El," sahut Ezzra dari kejauhan, masih berbaring santai di ranjangnya. "Sekali kau masuk ke dalam api, kau tidak akan pernah bisa kembali ke es yang dingin."
Elowen keluar dari penthouse itu, berlari menuju lift dengan jantung yang berdegup tak keruan. Di dalam lift yang sepi, ia akhirnya menekan tombol hijau.
"Halo, Jeff?" suara Elowen bergetar hebat, ia mencoba mengatur napasnya.
"Kau di mana, Sayang? Aku sudah di depan apartemen mu membawa sarapan favoritmu," suara Jeff terdengar begitu tulus dan penuh kasih sayang melalui speaker.
Suara itu terasa seperti belati yang menyengat ulu hati Elowen dengan rasa bersalah yang luar biasa. Ia memejamkan mata, bersandar pada dinding lift yang dingin.
"Aku... aku baru saja selesai Jalan pagi, Jeff. Dan Aku sedang Di mansion. Badanku sedang tidak enak. Berikan saja bekalnya pada penjaga lobi, aku akan langsung ke kampus nanti," ucap Elowen, sebuah kebohongan besar yang ia ucapkan dengan bibir yang baru saja dikecup pria lain.
Setelah menutup telepon, Elowen tahu, mulai detik ini, hidupnya telah berubah menjadi labirin kebohongan yang mematikan. Dan Ezzra Velasquez adalah labirin yang sengaja ia pilih untuk menghancurkan dirinya sendiri.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...