NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Matahari pagi menembus jendela kaca lobi rumah sakit, memantul pada lantai porselen yang dingin. Aurora sudah berganti pakaian dengan hoodie kebesaran dan celana training longgar—pilihan praktis untuk membungkus kakinya yang dibalut gips ringan. Wajahnya masih sedikit pucat, namun binar keras kepalanya telah kembali. Sejak subuh, ia sudah merengek pada dokter dan perawat, menyatakan bahwa ia lebih baik mati bosan di rumah daripada harus menghabiskan satu malam lagi dengan bau obat-obatan yang menusuk.

"Kak, pelan-pelan dong! Ini kursi roda bukan mobil balap!" seru Haura, anak bungsu keluarga Widjaja, sambil mendorong kursi roda kakaknya dengan penuh semangat.

"Ya kamunya yang lelet, Dek! Aku udah mau hirup udara bebas, bukan udara AC rumah sakit yang isinya kuman semua," balas Aurora ketus, meski tangannya mencengkeram erat sandaran kursi roda saat melewati gundukan kecil.

"Dih, orang dibantuin malah galak. Pantesan Mas Langit hobi ngeblokir Kakak, habisnya Kakak kayak macan lepas," goda Haura sambil terkekeh.

"Haura! Diem nggak atau aku minta Papa potong uang jajan kamu?" ancam Aurora, walau dalam hati ia merasa tertusuk mendengar nama itu.

Begitu mereka keluar dari pintu lobi, udara segar Jakarta menyambut. Di area parkir khusus, SUV hitam milik keluarga sudah menunggu. Di sana berdiri Bintang yang tampak sigap, dan tentu saja, sosok yang membuat jantung Aurora mendadak berdegup tak karuan: Langit Ardiansyah.

Langit berdiri dalam posisi istirahat di samping pintu mobil. Ia mengenakan kemeja taktis hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitam langsung tertuju pada Aurora begitu kursi roda itu mendekat.

Aurora menatap pintu mobil yang tertutup, lalu mendesah pelan. Ia benci terlihat lemah, apalagi di depan pria yang baru saja menolaknya secara formal lewat telepon.

"Selamat pagi, Non Aurora. Senang melihat Anda sudah bisa pulang," sapa Bintang dengan senyum ramah.

"Pagi, Bin," jawab Aurora singkat. Ia melirik Langit, namun pria itu hanya memberikan anggukan kecil—sangat formal, sangat "ajudan".

"Ayo Kak, aku bantu berdiri," Haura mengunci rem kursi roda dan bersiap memapah kakaknya.

"Nggak usah, Dek. Aku bisa sendiri," tolak Aurora angkuh. Ia ingin menunjukkan pada Langit bahwa ia tidak butuh dikasihani.

Aurora bertumpu pada kedua tangan di sandaran kursi roda. Ia mencoba mengangkat tubuhnya, memfokuskan seluruh berat badan pada kaki kirinya yang sehat. Namun, saat ia mencoba menyeimbangkan diri, gips di kaki kanannya terasa sangat berat dan kaku.

"Aww... aduhh!"

Ringisan itu lolos begitu saja saat rasa nyeri tajam menusuk dari pergelangan kakinya naik ke pinggang. Tubuh Aurora limbung ke depan.

Set!

Sebelum tubuhnya menyentuh aspal, sepasang lengan yang kuat sudah melingkar di pinggangnya, menahan bobot tubuhnya dengan sangat mantap. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau sabun segar langsung menyerbu indra penciuman Aurora. Ia tahu persis siapa pemilik lengan ini tanpa harus mendongak.

Langit bergerak secepat kilat. Ia menyingkirkan tangan Haura yang panik dan langsung menopang Aurora.

"Sudah saya bilang, jangan memaksakan diri," suara Langit terdengar rendah, tepat di samping telinga Aurora. Ada nada kekhawatiran yang coba ia sembunyikan di balik otoritas suaranya.

"Lepasin, Mas. Aku bisa sendiri," bisik Aurora, suaranya bergetar antara marah dan malu.

"Jangan keras kepala dalam kondisi seperti ini, Non. Anda bisa jatuh lagi dan membuat gipsnya retak," Langit tidak melepaskan pegangannya. Ia justru menggeser posisinya agar Aurora bisa bersandar sepenuhnya pada tubuhnya yang bidang.

Haura hanya bisa melongo melihat interaksi itu. "Tuh kan, Kak! Udah dibilangin jangan sok jagoan. Mas Langit, tolongin deh, dia ini kalau nggak diginiin nggak bakal kapok."

Langit menatap pintu mobil yang masih tertutup. "Bintang, buka pintunya. Haura, tolong bawakan tas Non Aurora."

"Siap, Mas!" Haura segera menyambar tas Aurora.

"Mas Langit, aku bilang lepasin! Aku nggak mau dibantu sama orang yang hobi blokir nomor orang lain!" Aurora mencoba memberontak, namun gerakan kecilnya justru memicu rasa sakit yang lebih hebat. "Sshh... aduh..."

Langit menghela napas panjang. Ia menatap Aurora dari balik kacamata hitamnya. "Bicara soal blokir itu urusan nanti. Sekarang, prioritas saya adalah memasukkan Anda ke mobil dengan aman. Paham?"

Tanpa menunggu persetujuan, Langit merengkuh tubuh Aurora lebih erat. Ia menempatkan satu tangannya di bawah lutut Aurora dan satu lagi di punggungnya.

"Eh! Mas! Mau ngapain?!"

"Protokol darurat," jawab Langit singkat sebelum mengangkat Aurora dalam gendongan bridal style.

Aurora terpekik kecil, tangannya secara refleks melingkar di leher Langit agar tidak jatuh. Wajah mereka sangat dekat. Aurora bisa melihat rahang Langit yang mengeras, seolah pria itu sedang menahan sesuatu yang hebat di dalam dirinya.

"Mas... Mas jahat banget," bisik Aurora lirih saat mereka hanya berjarak beberapa senti. "Kenapa Mas ke sini kalau cuma mau bersikap kaku lagi?"

Langit tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju pintu mobil yang sudah dibuka lebar oleh Bintang. Ia menundukkan kepalanya agar kepala Aurora tidak terbentur pinggiran pintu mobil, lalu dengan sangat hati-hati mendudukkan Aurora di kursi tengah yang luas.

Setelah posisi Aurora nyaman, Langit tidak langsung menarik diri. Ia berlutut di lantai mobil, mengatur bantal di bawah kaki Aurora yang digips agar posisinya lebih tinggi.

"Nanti di rumah, jangan banyak bergerak. Biarkan Bi Ijah atau Haura yang membantu," ucap Langit tanpa menatap mata Aurora.

"Mas bakal anter aku sampai kamar?" tanya Aurora dengan nada menantang.

Langit terdiam sejenak, lalu ia berdiri dan menatap Aurora dengan tatapan datar yang menyebalkan itu lagi. "Tugas saya hanya sampai mengantar Anda pulang dengan selamat ke rumah, Non. Selebihnya adalah urusan domestik keluarga."

"Robot," gumam Aurora sambil membuang muka ke arah jendela. "Bener-bener robot."

Langit menutup pintu mobil dengan lembut. Ia berjalan memutar dan duduk di kursi depan di samping Bintang yang memegang kemudi.

Selama perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sangat kaku. Haura asyik memainkan ponselnya, sementara Aurora terus menatap ke luar jendela dengan mata berkaca-kaca. Di depan, Langit juga tidak bersuara, matanya terpaku pada jalanan, namun sesekali ia melirik melalui kaca spion tengah untuk memastikan Aurora tidak merasa kesakitan.

"Mas Bintang, mampir beli asinan dulu dong di depan. Kak Aurora dari tadi malem ngidam katanya," sletuk Haura tiba-tiba.

"Nggak usah, Bin. Langsung pulang aja," potong Aurora ketus.

"Tapi Kak, lo kan tadi—"

"Aku bilang pulang ya pulang!" suara Aurora meninggi, efek rasa sakit dan kesal yang memuncak.

Bintang melirik ke arah Langit, meminta instruksi. Langit hanya memberikan anggukan kecil. "Langsung ke kediaman. Non Aurora butuh istirahat total."

Aurora mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Ia benci betapa Langit masih bisa mengendalikan situasi bahkan tanpa bicara banyak. Ia benci betapa ia masih merasa sangat aman dalam gendongan pria itu tadi, padahal hatinya masih terluka karena penolakan kemarin.

"Tunggu aja, Mas Langit," batin Aurora sambil menatap punggung tegap di depannya. "Gips ini mungkin bikin aku nggak bisa lari, tapi ini bakal jadi alasan aku buat terus nempel sama kamu. Kita liat siapa yang bakal menyerah sama protokol duluan."

Mobil pun terus melaju menembus kemacetan Jakarta, membawa sang primadona yang terluka dan sang ajudan yang kian terkunci dalam tembok kastanya sendiri. Bagi Aurora, perjalanan pulang ini bukan akhir dari drama rumah sakit, melainkan babak baru untuk menjerat kembali hati Langit Ardiansyah.

1
Rita Rita
sabar ya Ra,,, cinta seorang bapak itu beda, bapak mu mungkin belajar dari kasus si Sahroni dan teman temannya dulu sebagai anggota DPR 🤭🤣
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣
aurora gitu dechhhh
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣🤣🤣
penyelamatttt
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!