Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Perasaan yang berusaha di sembunyikan.
Baru saja Darren pergi meninggalkannya, Zinnia masih berdiri di tempat yang sama, dengan ekpresi kesal dan mengumpat dalam hati.
" Sialan !! Dasar cowok rese !! cowok brengsek !! Ngeselin !! " Umpatnya kasar kesal dalam hati sambil menginjak-injak aspal jalan.
Tiba-tiba dari arah depan terdengar suara riuh rendah. Sekelompok gadis berjalan mendekat dengan langkah tergesa-gesa, rata-rata seusia dengannya bahkan ada yang terlihat masih remaja, masih berseragam sekolah. Wajah mereka penuh antusias, mata mereka berbinar-binar seolah baru saja melihat hal terindah di dunia.
" Kita datang terlambat gak sih? "
" Iya nih Kak Rion sama Kak Darren kok belum kelihatan ya.. Padahal katanya mereka bakalan ada disini buat acara lelang. "
" Aku sudah tunggu dari tadi lho, semoga mereka belum pulang yah. "
" Harusnya kita bawa oleh-oleh gak sih? buat mereka berdua, biar kelihatan sweet gitu kayak gulali baru di angkat dari wajan. "
" Manis dan anget !! " Seru mereka serempak sambil tertawa di akhir. Entah apa yang lucu tapi yasudah lah.
Ternyata mereka semua datang dengan satu tujuan, yaitu bertemu Riondra Andreas Putra Rajasa dan juga Darren Pradikta Mahendra.
Desakan mereka makin kuat saat pintu gedung kembali terbuka. Para gadis itu langsung bergerak maju serentak, mendorong dan saling berebut tempat, tak peduli siapa saja yang ada di jalan mereka. Zinnia yang berdiri di tengah arus itu tak sempat menghindar, tubuhnya terdorong keras dari berbagai sisi, kakinya kehilangan pijakan dan nyaris jatuh tersungkur ke aspal.
Namun tepat saat tubuhnya mulai miring, sepasang tangan besar dan kuat menangkapnya dengan sigap. Dalam sekejap, Zinnia sudah terangkat melayang, didudukkan dengan nyaman dipelukan seseorang.
Rion berdiri tegak dihadapannya, wajahnya masih sedingin es, tapi gerakannya sangat cepat dan tepat. Para bodyguard yang ada di sampingnya langsung bergerak, sebagian membuka jalan, sebagian lagi berdiri membentuk pagar untuk menahan desakan para gadis penggemar itu agar tidak mendekat lagi.
" Kak Rion !! Ah ganteng banget dia kayak opah upin ipin eh sorry salah opah korea maksudnya.. " Teriak para gadis itu kala Rion datang menghampiri.
" Tapi siapa gadis yang dia bawa ya? "
" Entahlah.. Tapi dia cantik banget gak sih? "
" Mungkin pacarnya kali. "
" Mereka romantis banget ya.. gemesss deh. "
" Halah cantik segitu doang, palingan kak Rion tadi cuman kasihan aja karna dia hampir jatuh makannya langsung dia gendong. "
" Bisa jadi sih.. "
Mereka juga tampak berbisik soal kehadiran Zinnia yang langsung digendong Rion, ada yang gemas ada pula yang membenci. Maca-macam hal yang mereka obrolkan. Seperti karakter anime, yang bermacam-macam bentuk, lah ngaco.
Tapi Rion tak begitu perduli dengan kehadiran mereka, dan tanpa berkata apa-apa, Rion berjalan cepat membawa Zinnia masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu di depan, lalu menutup pintunya rapat-rapat memisahkan mereka dari keramaian dan kegaduhan di luar.
" Terimakasih.. " Ucap Zinnia pada Rion.
Tapi lelaki itu tak membalas sepatah kata pun. Dia hanya duduk diam di tempatnya, punggung tegak, wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun. Padahal di dalam hatinya, dia sedang berperang hebat dengan dirinya sendiri.
" Tenanglah Rion, dia hanya seorang gadis.. memang cantik tapi jangan berlebihan.. kau harus tetap tenang !! jaga wibawamu.. Jangan bodoh, jangan bertindah gegabah.. Rion tenanglah.. "
Dia terus mengulang kata-kata itu di dalam kepalanya, berusaha menekan semua getaran aneh yang muncul sejak tangannya menyentuh tubuh gadis itu, berusaha menyembunyikan fakta bahwa jantungnya kini berdegup jauh lebih cepat dari biasanya, berusaha keras agar tidak terlihat lemah di depan orang lain, terutama di depan Zinnia.
Sementara itu, Zinnia membetulkan posisi duduknya dan merapikan sedikit gaunnya yang sempat kusut karena desakan tadi. Dia melirik ke samping, menatap profil wajah Rion. Harus dia akui, lelaki ini memang sangat tampan, dengan rahang tegas, alis yang rapi, dan aura kekuasaan yang terpancar dari seluruh tubuhnya. Tak heran kalau sampai banyak gadis yang tergila-gila dan rela berebut hanya untuk sekedar melihatnya saja.
Setelah menarik napas sebentar, Zinnia menoleh penuh sopan, suaranya lembut dan terdengar manis di telinga.
" Maaf.. bisakah kita bicara. "
Satu kalimat sederhana itu, tapi bagi Rion terdengar seperti mantra sihir yang kuat. Tanpa sadar seluruh otot tubuhnya menegang, rasanya dia rela melakukan apa saja, mengatakan apa saja asalkan gadis itu mau bicara terus padanya. Tapi harga dirinya terlalu tinggi, wibawanya yang sudah dibangun bertahun-tahun tak mau dia rusak hanya karena perasaan konyol ini. Dia menelan ludah, memaksakan diri tetap terlihat dingin dan tak peduli.
" Silahkan.. " balasnya singkat.
" Soal kalung Ruby itu.. bagaimana jika.. "
Belum sempat Zinnia menyelesaikan kalimatnya, suara Rion langsung memotong tegas.
" Tidak akan aku berikan !! "
Zinnia mengerutkan dahi, sedikit kesal.
" Tapi kenapa? kamu takut aku tidak bisa membayar ? "
Rion menggeleng pelan, tatapannya tetap lurus ke depan, tak mau menatap mata gadis itu, tidak ingin kehilangan kendali sepenuhnya.
" Aku tidak perduli soal uang. Kalung Ruby itu adalah hadiah untuk ulang tahun ibuku. " Jelas Rion tetap mencoba tenang dan acuh.
Seketika rasa kesal di hati Zinnia berubah jadi paham. Dia tahu betul arti sebuah barang yang diberikan untuk orang terkasih, itu bukan soal harga atau nilai jualnya lagi, tapi soal kenangan dan perasaan. Dia tak mungkin memaksa orang untuk melepaskan barang hanya karna keegoisannya sendiri. Meski kecewa karna tidak bisa memiliki barang yang dia inginkan, tapi dia juga tak bisa memaksa.
" Baik aku paham, aku permisi keluar dulu.. Maaf sudah tidak sopan dengan meminta barang itu. "
Zinnia bergerak hendak membuka pintu dan turun, tapi tepat saat tangannya menyentuh pegangan pintu, tangan Rion bergerak cepat menangkap dan menahan pergelangan tangannya. Sentuhan itu hangat dan kuat, membuat napas Zinnia tercekat sejenak.
" Duduklah, aku antar sampai ke depan. Setidaknya disana kamu aman. " Ucapnya pada Zinnia.
Zinnia tak menjawab sepatah kata pun. Dia hanya menarik kembali tangannya perlahan, lalu kembali duduk tegak dengan wajah cemberut. Jelas sekali dia sedang marah dan kesal. Hari ini adalah hari terburuk dalam hidupnya! Dua barang yang dia incar, jatuh ke tangan orang lain, bahkan kedua orang itu menolaknya mentah-mentah.
Selama hidupnya, baru kali ini dia merasa sulit dalam mendapatkan apa yang dia inginkan, dan baru kali ini kemauannya tak dihargai orang lain.
Mobil pun akhirnya bergerak meninggalkan area gedung, melaju pelan melewati jalanan kota yang mulai ramai. Zinnia masih dalam suasana hati buruk, matanya menatap keluar jendela, enggan sedikitpun menoleh ke arah lelaki yang duduk di sampingnya itu.
Namun tak berapa lama, tiba-tiba terdengar suara BRAK! pelan. Ban mobil menabrak sesuatu yang tergeletak di jalan, entah itu batu besar atau lubang yang tak terlihat pengemudi, membuat seluruh badan mobil terguncang keras seketika.
Karena tak ada persiapan, tubuh Zinnia langsung terseret ke samping, jatuh tepat ke arah Rion. Refleks seketika membuat Rion merentangkan tangannya, menangkap tubuh gadis itu dengan erat, tangannya secara otomatis melingkar dan mencengkeram pinggang ramping Zinnia menahannya agar tidak jatuh.
Wajah Zinnia nyaris menempel di dada bidang Rion, napasnya terasa hangat menembus kain jas lelaki itu. Sentuhan di pinggangnya terasa begitu kuat, begitu hangat, membuat seluruh kulitnya merinding dan jantungnya berdegup kencang seolah mau lepas dari rongga dada. Wajahnya seketika memerah sampai ke telinga, malu setengah mati karena posisi mereka yang sekarang terlihat begitu dekat dan... intim.
Dia segera berusaha mendorong tubuh Rion dan menarik diri menjauh, berusaha keras menyembunyikan rasa malu dan getaran aneh yang baru saja dia rasakan, berusaha terlihat biasa saja seolah tidak ada apa-apa.
Sedangkan Rion dengan cepat merapikan dasinya, dan mencoba untuk tetap tenang sambil sedikit batuk, padahal gak lagi flu.
***