Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.
Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.
Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.
Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.
Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.
"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."
Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.
Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?
Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: JARING RACUN DAN CAHAYA EMAS
Beberapa hari setelah insiden di pasar malam, nama Mo Fei semakin bergema di seluruh penjuru Chang An. Bukan hanya sebagai pendekar misterius, tapi kini ia dianggap sebagai pelindung tak resmi yang membuat para penjahat gemetar ketakutan.
Namun, ketenaran itu ibarat pisau bermata dua. Semakin bersinar cahaya, semakin gelap dan panjang bayangan yang tertinggal di belakangnya.
Di sebuah hutan kecil di pinggiran kota, tempat yang sepi dan gelap, Mo Fei sedang duduk bersila di atas sebuah batu datar. Ia sedang melakukan meditasi untuk memulihkan tenaga dalamnya.
Di sampingnya, Lian Er duduk dengan rapi, mencoba meniru posisi duduk Mo Fei, meskipun seringkali tidak tahan dan ingin bergerak-gerak.
"Hei Mo Fei..." bisik Lian Er pelan agar tidak mengganggu konsentrasi.
"Mm?" jawab Mo Fei tanpa membuka mata.
"Kau itu... tidak pernah takut mati kah? Maksudku, setiap hari kau lawan orang-orang jahat yang kuat-kuat itu. Apa tidak pernah terlintas di pikiranmu, bagaimana kalau suatu hari nanti kau kalah dan..."
Mo Fei perlahan membuka matanya, menatap lembut ke arah gadis itu. Senyumnya hangat dan menenangkan.
"Manusia pasti mati, Putri. Bedanya hanya kapan dan caranya bagaimana. Kalau aku mati karena melindungi orang yang aku sayangi atau membela kebenaran... itu kematian yang paling mulia dan indah."
Ia lalu mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah jarum emas yang berkilau di bawah sinar rembulan.
"Lagi pula... selama jarum ini masih ada di tanganku, dan selama mataku masih bisa melihat... mustahil ada orang yang bisa membunuhku. Aku janji, aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu."
Lian Er terdiam, jantungnya berdegup kencang mendengar janji itu. Wajahnya memerah hangat, lalu ia buru-buru memalingkan wajah agar tidak dilihat Mo Fei.
"Alah... Basi sekali omongannya! Siapa juga yang minta dilindungi terus sih!" gerutunya sok kesal, tapi tangannya diam-diam meremas ujung bajunya karena bahagia.
Mo Fei terkekeh pelan melihat tingkahnya yang lucu. "Ya sudah, kalau begitu latihan lagi yuk. Hari ini aku mau ajarin cara mendeteksi musuh dari jauh pakai indra pendengaran."
"Oke bos!"
Namun, baru saja mereka hendak memulai latihan...
WUSSSSS!!!
Tiba-tiba dari arah semak-semak yang gelap, meluncurlah ribuan benang-benang tipis yang sangat kuat dan lengket! Benang-benang itu datang dari segala arah, begitu cepat dan rapat bagaikan jaring laba-laba raksasa!
"AWAS!!" teriak Mo Fei.
TING! TING! TING!
Mo Fei dengan sigap menembakkan jarum-jarumnya, memotong benang-benang itu sebelum sempat menyentuh mereka. Tapi serangan itu tidak berhenti.
Dari pepohonan tinggi, turunlah lima orang pria aneh yang mengenakan pakaian hitam dengan corak seperti kulit ular. Wajah mereka pucat pasi, dan di tangan mereka memegang alat pemintal benang yang aneh.
"Hahaha... Akhirnya ketemu juga kau, Tuan Penyelamat!" seru salah satu dari mereka dengan suara mendesis seperti ular.
"Kami dari Pasukan Ular Beracun! Dulu kau sudah menghina Tuan Muda kami, sekarang saatnya kalian membayar dengan nyawa!"
"Dan lihat benang ini! Benang ini sudah direndam racun mematikan selama sepuluh tahun! Kalau tergores sedikit saja... darahmu akan mengering dalam hitungan detik!"
Lian Er mundur selangkah, wajahnya pucat. "Jahat sekali mereka! Benang itu licin dan tipis, susah dipotong!"
"Tenang saja. Apapun bentuknya, bagi jarum emasku... semuanya sama saja," jawab Mo Fei dingin.
"Serang!! Jangan biarkan mereka bergerak!"
Lima orang itu bergerak serentak. Mereka melompat ke atas pohon, bersembunyi di balik dedaunan, dan melepaskan hujan benang racun tanpa henti!
Suasana di hutan itu seketika berubah menjadi tempat yang mengerikan. Di mana-mana terlihat kilatan benang-benang mematikan yang bergerak secepat kilat.
TRANG! TRANG! SYUT! SYUT!
Mo Fei bergerak bagaikan angin. Tubuhnya berputar indah, kedua tangannya bekerja secepat kilat. Setiap kali ada benang yang datang, selalu ada jarum emas yang datang lebih cepat memotongnya atau menabraknya menjauh.
Namun, musuh-musuh ini ternyata ahli dalam bertarung jarak jauh dan gerilya. Mereka terus berpindah tempat, membuat Mo Fei kesulitan menemukan posisi asli mereka.
"Hahaha! Coba tangkap kami kalau bisa! Kau hanya bisa bertahan! Lama-lama tenagamu akan habis juga!" ejek salah satu dari mereka.
Mo Fei menghela napas panjang. Wajahnya yang tadi santai kini berubah menjadi sangat serius.
"Kalian benar. Bertahan itu membosankan. Sudah waktunya... aku menyerang!"
Tiba-tiba Mo Fei menutup matanya rapat-rapat!
"Heh? Gila ya? Tutup mata saat bertarung?!" para penyerang itu bingung.
Lian Er juga kaget. "Mo Fei! Apa yang kau lakukan?!"
"Aku tidak butuh mata untuk melihat kalian," suara Mo Fei bergema tenang. "Aku bisa mendengar desisan angin yang kalian buat. Aku bisa merasakan getaran tanah di bawah kakiku."
Ia berdiri tegak, seluruh tubuhnya rileks seolah tidak ada tulang.
"TEKNIK RAHASIA: MATA BATIN SERIBU JARUM!"
WIBBB!!!
Tiba-tiba, ratusan jarum emas muncul berputar mengelilingi tubuh Mo Fei. Cahayanya begitu terang hingga menerangi seluruh hutan yang gelap itu seperti siang hari!
"Ini... ini apa?!" para penjahat itu mulai ketakutan merasakan tekanan maut yang luar biasa.
"Kalian suka main sembunyi-sembunyi kan?" ucap Mo Fei dingin. "Kalau begitu... terimalah ini!"
SYUUUUUUUTTTT!!!
Mo Fei mengibaskan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan dengan gerakan memutar.
Bukan puluhan, bukan ratusan, tapi ribuan jarum emas melesat keluar bagaikan hujan emas yang mematikan!
Jarum-jarum itu tidak ditembakkan sembarangan. Mereka terbagi menjadi ribuan arah, menembus semak belukar, menembus celah-celah pohon, menutupi setiap inci ruang di hutan itu!
Tidak ada tempat untuk bersembunyi! Tidak ada jalan untuk lari!
AKH! AKH! AKH!
Jeritan kesakitan terdengar bertubi-tubi dari atas pohon dan balik semak-semak. Satu per satu para penjahat itu robohur tertancap jarum di tangan dan kaki mereka, membuat mereka tidak bisa lagi memegang senjata.
Hanya dalam hitungan detik, serangan benang yang mencekam itu berhenti total.
Hening.
Hanya tersisa suara napas memburu dan kilatan cahaya emas yang perlahan meredup.
Mo Fei membuka matanya kembali, lalu perlahan menurunkan tangannya. Ribuan jarum itu kembali berputar dan masuk kembali ke dalam lengan bajunya dengan patuh, bersih dan siap pakai lagi.
Ia melangkah mendekati para penjahat yang kini sudah tergeletak kesakitan dan ketakutan.
"Mainan selesai," ucap Mo Fei singkat. "Sekarang bilang... siapa lagi yang menyuruh kalian datang selain Sekte Ular Hijau? Jawab jujur atau jarum berikutnya akan menancap di leher kalian."
Para penjahat itu gemetar hebat, mata mereka penuh ketakutan melihat dewa maut berbaju putih di depan mereka.
"Ka... kami tidak tahu! Kami hanya disewa! Tapi... tapi kami dengar ada kabar buruk!" salah satu dari mereka berteriak panik.
"Kabar apa?" tanya Mo Fei tajam.
"Di Ibu Kota... akan diadakan Pertemuan Besar Para Pendekar! Dan di sana... ada seseorang yang mengaku bisa mengalahkan ilmu jarummu! Dia orang dari Istana Kematian! Dia mencari kepalamu, Mo Fei!!"
Mata Mo Fei menyipit mendengar nama itu. Istana Kematian...
"Terima kasih informasinya," ucap Mo Fei lalu menjentikkan jarinya.
Ting!
Satu jarum lagi menancap, membuat mereka semua langsung pingsan tak sadarkan diri.
Lian Er berlari menghampiri Mo Fei, wajahnya cemas.
"Mo Fei... Istana Kematian itu apa? Itu tempat yang menakutkan ya?"
Mo Fei menatap ke arah kota Chang An yang gemerlapan di kejauhan. Angin malam berhembus kencang menerpa wajahnya.
"Istana Kematian adalah organisasi gelap terbesar di dunia persilatan, Putri. Mereka tidak memihak siapa pun, mereka hanya membunuh demi uang dan kekuasaan."
Ia mengepal tangannya kuat-kuat.
"Dan kalau mereka sudah mengincarku... berarti pertarungan sesungguhnya... baru saja akan dimulai."