Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Sorotan yang Tak Lagi Sama
Elora tidak langsung masuk ke dalam mobil setelah mereka melewati kerumunan itu.
Ia masih berdiri beberapa detik di trotoar, meskipun Arshaka sudah membuka pintu dan menunggu. Bukan karena ia ingin melawan, bukan juga karena ia tidak mau pergi, tapi karena sesuatu di dalam dirinya masih belum selesai menerima apa yang baru saja terjadi. Dunia di belakangnya masih berisik—kamera, suara orang-orang yang memanggil namanya, pertanyaan yang saling tumpang tindih—tapi anehnya semua itu terasa seperti berada di ruang yang berbeda sekarang.
Yang tersisa hanya satu hal yang lebih jelas dari semuanya.
Genggaman tangan Arshaka yang belum dilepaskan.
Saat mobil akhirnya melaju, keheningan kembali turun di antara mereka, tapi kali ini tidak terasa netral seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang tidak diucapkan tapi sama-sama mereka sadari. Elora duduk di kursinya dengan pandangan ke luar jendela, sementara Arshaka tetap tenang seperti biasa, tapi tangannya tidak kembali ke posisi awal. Seolah tanpa sadar, ada batas kecil yang sudah dilewati tanpa mereka setujui.
Elora menarik napas pelan sebelum akhirnya berbicara.
“Kamu tadi tidak ragu sama sekali,” katanya pelan, masih menatap luar.
Arshaka tidak langsung menjawab. Mobil terus melaju melewati lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu, menciptakan pantulan cahaya yang bergerak di kaca jendela.
“Kalau aku ragu,” jawabnya akhirnya, “kita akan terlihat lemah.”
Elora tersenyum kecil, tapi kali ini tidak ada kehangatan di dalamnya. “Jadi semuanya harus selalu terlihat kuat?”
Arshaka menoleh sekilas. “Di dunia kita sekarang, iya.”
Kata kita itu menggantung lebih lama dari seharusnya.
Dan Elora menangkapnya.
Malam itu, mereka kembali ke hotel lebih lambat dari biasanya. Namun suasananya sudah berbeda sejak mereka turun dari mobil. Tidak ada lagi kerumunan media di depan, tapi Elora tahu itu bukan berarti semuanya sudah selesai. Dunia tidak berhenti hanya karena satu momen selesai direkam.
Di dalam lift, keheningan kembali muncul.
Tapi Elora tidak lagi merasa perlu mengisi itu dengan kata-kata.
Ia hanya berdiri di sana, sesekali melirik pantulan Arshaka di cermin lift, mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia minta untuk dipahami.
Arshaka tetap seperti biasa.
Tapi kali ini, Elora merasa ada sesuatu yang lebih dekat dari sebelumnya.
Saat pintu kamar terbuka, Elora langsung masuk lebih dulu. Ia melepas sepatu pelan, lalu berdiri di tengah ruangan tanpa langsung duduk. Arshaka masuk beberapa detik setelahnya, menutup pintu di belakang dengan gerakan yang sama seperti biasanya—tenang, terkontrol, tidak tergesa.
Namun kali ini, tidak ada langkah langsung menuju meja atau dokumen.
Arshaka justru berhenti.
Di dekat pintu.
Dan untuk pertama kalinya, Elora menyadari bahwa pria itu tidak langsung “keluar dari peran” seperti biasanya.
“Aku harus keluar sebentar,” kata Arshaka akhirnya.
Elora menoleh. “Sekarang?”
Arshaka mengangguk. “Ada yang harus diselesaikan.”
Nada suaranya tidak menjelaskan lebih jauh, tapi juga tidak terdengar seperti alasan yang bisa diperdebatkan.
Elora mengangguk pelan. “Oke.”
Tapi sebelum Arshaka benar-benar pergi, langkahnya berhenti sejenak.
Seolah ada sesuatu yang hampir diucapkan.
Namun akhirnya tidak.
Dan pintu itu tertutup.
Elora berdiri sendirian di kamar itu lebih lama dari yang ia sadari.
Biasanya, keheningan seperti ini tidak terasa aneh. Tapi malam ini berbeda. Ada sesuatu yang terasa tertinggal, bukan di ruangan, tapi di pikirannya sendiri. Cara Arshaka berhenti sejenak sebelum pergi. Cara pria itu tidak langsung menghindari kontak mata. Hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan, sekarang justru terasa terlalu jelas.
Elora duduk di tepi ranjang, lalu menghela napas panjang.
“Kenapa sekarang jadi terasa berbeda…” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri.
Di sisi lain kota, Arshaka tidak langsung menuju tempat yang ia katakan.
Mobilnya berhenti di gedung lain, lebih sepi, lebih jauh dari pusat keramaian. Ia turun tanpa banyak kata, masuk ke dalam dengan langkah yang sama seperti biasanya—terkontrol, pasti, seolah tidak ada yang bisa mengganggu pikirannya.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang tidak biasa.
Di dalam ruang rapat kecil itu, seorang pria sudah menunggu.
“Skandalnya berkembang lebih cepat dari yang kita prediksi,” kata orang itu tanpa basa-basi.
Arshaka tidak langsung duduk. “Aku tahu.”
“Nama Elora Kirana akan terus diseret kalau ini tidak dihentikan.”
Arshaka diam sejenak.
Bukan diam karena tidak tahu.
Tapi karena sedang memutuskan sesuatu.
“Biarkan,” jawabnya akhirnya.
Pria itu mengerutkan kening. “Biarkan?”
Arshaka menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang lebih tajam di dalam tatapannya.
“Mulai sekarang,” katanya pelan, “aku yang atur narasinya.”
Sementara itu, Elora di hotel tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana.
Ia hanya melihat ponselnya lagi, dan lagi.
Berita masih belum berhenti.
Tapi yang membuatnya berhenti men-scroll bukan lagi judul-judul skandal itu.
Melainkan satu hal kecil yang baru ia sadari.
Nama Arshaka Bhumisvara mulai ikut disebut lebih sering dalam ceritanya.
Bukan lagi sekadar CEO yang “terlibat”.
Tapi seseorang yang memilih untuk tetap berada di dalam badai yang seharusnya bisa ia tinggalkan sejak awal.
Elora menatap layar itu lama.
Lalu tanpa sadar, ia berbisik pelan,
“Harusnya kamu tidak sejauh ini masuk ke hidupku…”
Tapi bahkan saat mengucapkannya,
ia sendiri tidak yakin apakah ia benar-benar ingin Arshaka menjauh.
⸻
Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌
See you di bab selanjutnya...