NovelToon NovelToon
Gadis Manja Vs Pria Urakan

Gadis Manja Vs Pria Urakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy / Romantis / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.

Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.

Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.

Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.

Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.

Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.

Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3. ajakan camping

"Maya, aku cuma mau nganterin kamu pulang. Itu aja," kata Chris dengan suara yang berusaha tetap tenang.

Chris menghirup dalam-dalam udara malam di hidungnya. Mencoba meredam kekesalan. Padahal dia hanya ingin menjemput dan mengantar Maya pulang, tapi rempongnya seorang Maya sampai seperti ini. Chris langsung saja mengambil kembali jaket miliknya dari tangan Maya.

Chris akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia mengungkapkan frustrasinya. "Honey, ini sudah malam. Aku nggak mau saat kita sampai, pintu pagar rumah mu sudah terkunci. Terus ayah mu marah dan menolak membukakan pintunya untuk sang putri bungsunya yang cantik, cerewet, dan super manja ini. Lalu kamu nangis-nangis sampai matamu bengkak seperti tersengat tawon, terus kamu malah nyalahin aku sampai pagi," jelas Chris panjang lebar sambil mengikatkan jaketnya di pinggang Maya. Beruntung Maya tidak lagi protes terhadapnya. Dan hanya diam saja dengan perlakuan Chris.

Chris kembali memakai helmnya dan naik ke atas motor. "Ayo naik."

Maya masih berdiri di tempatnya dengan bimbang. Ia melirik ke arah jalan, lalu melihat sebuah taksi mendekat. Tanpa berpikir panjang, Maya mengangkat tangannya, berniat menghentikannya.

Namun sebelum taksi itu sempat menepi, Chris yang menyadari hal itu dengan sigap menarik pergelangan tangan Maya. "Oh, jadi gini? Kamu mau kabur?"

Maya tersentak, menoleh ke arah Chris dengan ekspresi kaget bercampur jengkel. "Lepasin, Chris! Aku bisa pulang sendiri!" serunya, berusaha menarik tangannya.

Chris tidak langsung melepasnya, tapi genggamannya juga tidak terlalu kuat. "Maya, kamu serius? Aku udah jauh-jauh buat jemput kamu loh, honey." Matanya menatap tajam, jelas menunjukkan bahwa ia benar-benar kesal.

Maya menggigit bibirnya, menatap Chris lalu ke arah taksi yang kini melaju pergi karena tidak ada penumpang yang naik. Ia mendengus, lalu menarik tangannya dengan kasar. "Baiklah. Aku ikut denganmu," gumamnya, akhirnya mengalah dan berjalan mendekat menuju motornya lagi, meski wajahnya masih penuh kekesalan.

Chris menurunkan standar motor dan menoleh ke arah Maya yang masih berdiri di sampingnya dengan ekspresi ragu.

"Kenapa belum naik?" tanyanya, menaikkan satu alis.

Maya menghela napas pelan, lalu menunjuk rok selutut yang ia kenakan. "Motor kamu ini tinggi, beda sama motor matic. Susah naiknya," ujarnya dengan kesal. Dan ia membayangkan harus memegang tangan Chris sebagai pegangan untuknya saat ia akan naik.

Chris tersenyum kecil, lalu tanpa banyak bicara, ia turun dari motor dan berdiri di samping Maya. "Sini, aku bantu," katanya sambil meraih pergelangan tangannya dengan lembut.

Maya sempat terkejut, tetapi sebelum sempat protes, Chris sudah sedikit membungkuk, meletakkan satu tangan di punggung bawahnya untuk menahan agar ia bisa naik dengan lebih mudah. "Pegang pundak ku kalau perlu," tambahnya.

Dengan sedikit enggan dan pipi yang mulai menghangat, Maya akhirnya menurut. Ia meletakkan satu tangan di bahu Chris untuk keseimbangan, lalu dengan hati-hati mengangkat kakinya dan duduk menyamping di boncengan.

"Pelan-pelan aja," gumam Chris, memastikan Maya duduk dengan nyaman sebelum kembali ke posisi semula dan menyalakan mesin motor.

Maya menyesuaikan posisi duduknya. "Jangan ngebut, ya," ujarnya setengah mengancam.

"Iya.. iya.. sudah?"

"Sudah!" seru Maya, dengan wajah yang masih tertekuk.

Chris terkekeh. "Pegangan yang kuat," katanya sambil meletakkan tangan Maya diatas perutnya sebelum akhirnya mulai melaju pelan di jalanan.

"Ish!" Maya mencubit perut Chris dengan kesal karena masih saja mencari kesempatan untuk pegang-pegang.

...****************...

Akhirnya setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai di depan kediaman keluarga Maya. Maya merasa tubuhnya pegal luar biasa. Duduk di boncengan motor sport milik Chris ternyata jauh dari kata nyaman. Joknya yang kecil dan keras membuat punggungnya terasa kaku, sementara posisi duduk yang agak tinggi memaksanya menjaga keseimbangan lebih dari biasanya.

Selama perjalanan Maya terus menggerutu pelan, ia terus mencoba mengubah posisi duduknya, tetapi tidak banyak membantu. Kakinya mulai kesemutan, dan tangannya yang sejak tadi bertahan tanpa pegangan mulai terasa lelah. Angin malam yang kencang semakin menambah ketidaknyamanannya.

Maya menghela napas panjang, semakin membenci motor Ninja ini. Chris memang sudah menyebalkan sejak tadi, tapi sekarang motornya juga ikut masuk daftar hal yang Maya benci. Jika saja perjalanannya masih lama, ia mungkin benar-benar akan memaksa Chris berhenti di pinggir jalan agar bisa meluruskan kakinya.

Begitu suara mesin motor berhenti, Maya langsung turun tanpa banyak bicara. Tubuhnya masih terasa pegal, dan suasana hatinya belum membaik. Tanpa menoleh ke arah Chris, ia berjalan menuju gerbang rumahnya dengan langkah cepat.

Namun, sebelum ia bisa membuka pintu gerbang dan masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan embel-embel manis apapun kepadanya, Chris dengan sigap meraih pergelangan tangannya, menghentikannya.

"Eh, nggak ada ucapan terima kasih buat aku, nih?"

Maya mendengus, "Makasih."

"Ketus amat sih, Honey," sindir Chris masih dengan mengusung senyum manis di wajahnya yang oriental.

"Udah malam dan aku ngantuk!" kata Maya.

Chris melihat jam di pergelangan tangannya, "Belum juga jam sepuluh."

"Aku nggak bisa tidur malam," sahut Maya masih memasang wajah kesal bercampur lelah. Chris mengangguk sebagai bentuk bahwa ia paham.

Maya memang bukan tipe orang yang bisa begadang. Begitu malam semakin larut, tubuhnya mulai kehilangan tenaga, dan pikirannya sulit berkonsentrasi. Matanya cepat terasa berat, kepalanya sering pusing, dan jika terlalu sering tidur larut, daya tahan tubuhnya langsung menurun.

Itulah kenapa ia sering merasa drop. Rasa lelah yang menumpuk membuatnya mudah sakit, entah itu demam, flu, atau sekadar badan yang terasa lemas sepanjang hari. Bahkan di siang hari pun, jika tidurnya kurang, ia jadi mudah tersinggung, sensitif, dan kehilangan semangat untuk melakukan apa pun.

Karena itu, Maya selalu berusaha tidur lebih awal. Tapi sayangnya, tidak semua orang di sekitarnya mengerti. Terkadang, ada saja situasi yang membuatnya harus tetap terjaga lebih lama dari seharusnya dan malam ini adalah salah satunya.

"Besok lusa klub FC mau ngadain camping. Kamu mau ikut?" ajak Chris yang masih enggan melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Maya.

"Camping? Kemana?"

"Gunung api purba nglanggeran. Selama lima hari. Gimana?"

"Nggak ah. Aku kan nggak ikutan klub," tolak Maya.

"Ayolah, Honey. Cuma lima hari, aku jamin kamu nggak akan bosen disana. Disana kita bisa liat sunrise paling indah di Yogya. Mau ya.." rayu Chris.

"Kok kamu maksa sih? Aku kan nggak mau."

"Aku nggak maksa kamu. Tapi selama lima hari ini, aku mungkin nggak akan bisa nemenin kamu jalan, bahkan nggak bisa antar jemput kamu. Jadi, apa salahnya kalau aku ngajak kamu camping," jelas Chris sambil mengangkat bahunya santai.

"Gimana? Kamu nggak akan lihat aku selama lima hari. Mau ya.. hm.." lanjut Chris lagi, kali ini tangan satunya bergerak mengusap lembut pinggang Maya.

"Ish!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!