NovelToon NovelToon
Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Dokter / Menikah Karena Anak
Popularitas:70.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.

Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.

Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Pagi hari di kediaman keluarga Mahendra selalu terasa tenang dan mewah. Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang makan, memantulkan cahaya hangat pada interior rumah yang didominasi warna krem dan cokelat elegan.

Beberapa pelayan lalu-lalang menyiapkan sarapan pagi di meja makan panjang. Di lantai atas, pintu kamar terbuka.

Saga keluar dengan kemeja putih sederhana dan celana hitam santai. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi, membuat penampilannya terlihat rapi meski baru bangun tidur. Langkahnya menuruni tangga dengan tenang. Namun, baru beberapa anak tangga langkah Saga perlahan terhenti.

Tatapannya jatuh pada sosok perempuan cantik yang duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya.

Perempuan itu memiliki wajah manis khas wanita Asia Timur, dengan rambut hitam panjang yang ditata rapi dan penampilan elegan. Saat melihat Saga, wanita itu langsung tersenyum lebar.

Sementara Nyonya Tatih tampak jauh lebih antusias.

“Nah, itu dia!” serunya senang. “Saga, Clara datang buat nemuin kamu.”

Saga menatap ibunya sebentar sebelum kembali melihat wanita itu.

“Padahal dia baru mendarat dari Jepang tadi malam,” lanjut Nyonya Tatih penuh semangat. “Tapi pagi-pagi langsung ke sini.”

Wanita bernama Clara itu berdiri perlahan dari kursinya.

“Hai, Saga,” sapanya lembut.

Saga tersenyum tipis sopan.

“Hai Clara.”

Pria itu akhirnya melanjutkan langkah menuju meja makan. Ayahnya, Tuan Mahendra, hanya mengangguk kecil sambil tetap membaca koran pagi di tangannya.

“Duduk dulu,” ujar Nyonya Tatih. “Sarapan bareng.”

Saga menarik kursi dan duduk dengan tenang. Seorang pelayan segera menuangkan kopi ke cangkirnya.

Sementara Clara diam-diam memperhatikan Saga sejak tadi. Lima tahun berlalu, namun pria itu justru terlihat semakin dewasa dan berwibawa. Jauh berbeda dari Saga semasa SMA dulu.

“Kamu kelihatan capek,” ujar Clara pelan.

Saga mengangkat cangkir kopinya.

“Baru mulai kerja lagi di rumah sakit.”

“Om Mario cerita,” sahut Clara sambil tersenyum kecil. “Katanya dokter muda paling populer sekarang.”

Saga terkekeh kecil samar.

Namun, senyumnya tidak benar-benar sampai ke mata. Nyonya Tatih yang melihat interaksi mereka tampak senang sendiri.

“Clara ini hebat loh, Saga,” katanya bangga. “Dia baru selesai pendidikan di Jepang.”

“Selamat,” ucap Saga sopan.

“Terima kasih.” Hening sesaat menyelimuti meja makan.

Namun, Clara masih terus memperhatikan Saga diam-diam. Sebagai teman masa kecil keluarga Mahendra, Clara mengenal Saga cukup lama.

“Kamu lagi ada masalah?” tanya Clara hati-hati.

Saga sedikit terdiam sebelum menggeleng pelan.

“Nggak.”

Namun, jawabannya terlalu cepat untuk terdengar meyakinkan. Nyonya Tatih ikut menatap putranya.

“Iya, Mama juga merasa kamu murung sejak pulang ke Indonesia,” ujarnya pelan. “Apa kerjaan di rumah sakit terlalu capek?”

Saga terdiam beberapa detik.

Entah kenapa, wajah Sahira kembali muncul di pikirannya, lalu wajah Sahir. Dan pertanyaan yang sejak kemarin terus menghantuinya,

'Siapa sebenarnya ayah anak itu?'

Saga menundukkan pandangan sambil menggenggam sendoknya pelan.

“Cuma kurang tidur,” jawabnya singkat.

Namun, tanpa Saga sadari nama Sahira perlahan kembali membuka luka lama yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Suasana sarapan kembali berlangsung tenang.

Suara dentingan alat makan terdengar pelan memenuhi ruang makan mewah keluarga Mahendra. Namun, berbeda dengan Clara dan Nyonya Tatih yang tampak menikmati pagi itu, Saga justru terlihat lebih banyak diam. Pikirannya masih kacau dan itu membuat dirinya tidak benar-benar fokus pada percakapan di meja makan.

Sampai akhirnya,

“Sebenarnya ada hal penting yang mau Mama dan Papa bicarakan.”

Suara Nyonya Tatih membuat Saga mengangkat pandangannya pelan. Tuan Mahendra meletakkan korannya, lalu menatap putranya dengan wajah serius namun tenang.

“Apa?” tanya Saga singkat.

Nyonya Tatih tersenyum lebar.

“Mama dan Papa sudah bicara sama orang tua Clara.”

Clara yang duduk di samping tampak sedikit salah tingkah. Sementara Saga mulai merasa tidak nyaman.

“Kami berniat menjodohkan kalian.”

Suasana mendadak terasa hening. Tangan Saga yang sedang memegang cangkir kopi perlahan berhenti bergerak. Tatapannya langsung berubah dingin.

“Pertunangan kalian rencananya minggu depan,” lanjut Nyonya Tatih penuh semangat.

Saga perlahan menatap ibunya, tatapan pria itu tajam dan dingin. Jelas menunjukkan ketidaksukaan. Namun, Nyonya Tatih seolah tidak menyadarinya.

“Atau lebih tepatnya seminggu lagi,” tambahnya sambil tersenyum puas. Clara langsung menunduk malu-malu. Wajah cantiknya sedikit memerah mendengar hal itu. Sementara Saga justru terlihat semakin tidak nyaman.

“Aku nggak pernah bilang setuju,” ucapnya akhirnya datar.

Seketika suasana meja makan berubah sedikit tegang. Nyonya Tatih buru-buru tersenyum menenangkan.

“Makanya Mama bilang kalian bisa mulai dekat dulu.”

“Maksud Mama?” tanya Saga dingin.

“Kalian boleh saling kenal selama seminggu ini,” jawab Nyonya Tatih santai. “Nggak masalah kalau sekarang belum dekat.”

Clara tersenyum kecil sambil menunduk malu. Jelas sekali wanita itu tidak keberatan dengan rencana tersebut.

Bagaimanapun juga, sejak dulu Clara memang menyukai Saga. Bahkan, saat tinggal di Jepang untuk kuliah, ia masih sering menanyakan kabar pria itu pada orang tuanya. Tetapi, berbeda dengan Clara Saga justru merasakan sesak aneh di dadanya.

Entah kenapa, kata pertunangan terdengar begitu asing dan kosong untuknya. Dan yang lebih menyebalkan di saat seperti ini, wajah Sahira malah kembali muncul di pikirannya.

Saga langsung mengalihkan pandangannya.

“Aku sibuk kerja,” ucapnya singkat, seolah mencoba menghindari pembicaraan itu.

Nyonya Tatih terkekeh kecil.

“Justru karena sibuk kerja, kamu butuh pasangan.”

“Ma…”

“Saga,” potong Tuan Mahendra akhirnya bicara. Suaranya berat namun tenang. “Clara perempuan baik.”

Saga terdiam.

“Ayah dan Mama cuma mau yang terbaik buat kamu.”

Pria itu mengepalkan jemarinya pelan di bawah meja. Sejak dulu keluarganya memang selalu menginginkan pasangan yang setara untuknya. Perempuan dari keluarga baik-baik.

Saga langsung menghentikan pikirannya sendiri. Tatapannya perlahan kembali dingin.

“Aku berangkat dulu,” ujarnya akhirnya sambil berdiri dari kursi.

Nyonya Tatih langsung menghela napas.

“Sarapan kamu belum habis.”

“Aku telat.” Padahal jelas itu hanya alasan.

Saga meraih jas dokternya tanpa kembali menatap siapa pun.

Namun, sebelum pergi, Clara tiba-tiba berdiri.

“Aku bisa ikut ke rumah sakit?” tanyanya hati-hati.

Langkah Saga terhenti sebentar tatapan pria itu beralih pada Clara. Dan untuk sesaat yang terlintas di pikirannya justru bukan wanita di depannya.

Melainkan seorang wanita lain yang dulu selalu menunggunya sepulang sekolah sambil membawa senyum hangat dan aroma bunga di tangannya.

Saga terdiam beberapa detik setelah mendengar permintaan Clara. Tatapannya sempat beralih pada kedua orang tuanya yang jelas menunggu jawabannya. Nyonya Tatih bahkan sudah tersenyum penuh harap.

Sementara Clara berdiri dengan wajah tenang meski sorot matanya tampak antusias.

Saga menarik napas pelan.

Ia tahu tidak mungkin menolak secara langsung di depan orang tuanya sekarang. Akhirnya pria itu mengangguk tipis.

“Terserah.”

Meski jawabannya terdengar datar, itu sudah cukup membuat wajah Clara langsung berbinar senang.

“Serius?” tanyanya memastikan.

Saga hanya mengangguk kecil sambil merapikan jam tangannya.

Clara langsung tersenyum lebar.

“Kalau begitu aku ikut,”

Nyonya Tatih tampak sangat puas melihat respons putranya.

“Nah, begitu dong,” ujarnya senang. “Kalian memang harus banyak menghabiskan waktu bersama.”

Saga memilih diam.

Ia meraih kunci mobil di atas meja tanpa banyak bicara lagi. Sementara Clara buru-buru mengambil tas kecilnya.

“Aunty, Om, kami pergi dulu ya,” pamit Clara sopan sambil tersenyum manis pada kedua orang tua Saga.

Nyonya Tatih langsung mengangguk bahagia.

“Hati-hati di jalan.”

“Jangan lupa makan siang bareng,” tambahnya penuh semangat.

Clara terkekeh malu-malu.

“Iya, Aunty.”

Tuan Mahendra hanya mengangguk kecil sambil kembali membuka korannya. Sementara Saga sudah lebih dulu berjalan keluar rumah dengan langkah tenang.

Clara segera menyusulnya.

Begitu keluar dari rumah besar keluarga Mahendra, Clara diam-diam melirik Saga yang berjalan di sampingnya.

Pria itu benar-benar tampan. Tinggi, rapi, dan memiliki aura tenang yang membuat siapa pun mudah tertarik. Namun, ada satu hal yang Clara sadari sejak tadi tatapan Saga terlihat kosong. Seolah pikirannya sedang dipenuhi sesuatu yang berat.

“Kamu benar-benar nggak keberatan aku ikut?” tanya Clara hati-hati saat mereka sampai di dekat mobil.

Saga membuka pintu mobilnya.

“Nggak.” Jawaban singkat lagi Clara mencoba memakluminya. Ia tahu Saga memang bukan tipe pria yang banyak bicara.

“Kalau aku ganggu bilang aja,” ucap Clara sambil tersenyum kecil.

Saga akhirnya menoleh sekilas.

“Kamu nggak ganggu.”

Meski terdengar datar, tetap saja kalimat itu membuat Clara sedikit lega. Mereka masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian kendaraan itu melaju meninggalkan rumah keluarga Mahendra.

Di sepanjang perjalanan, Clara beberapa kali mencoba membuka percakapan.

Sampai akhirnya saat mobil berhenti di lampu merah, tanpa sadar pandangan Saga tertuju pada sebuah toko bunga kecil di pinggir jalan. Hingga akhirnya mata Clara tertuju pada sebuah toko bunga kecil di pinggir jalan.

Toko itu sederhana, namun terlihat hangat dengan deretan bunga warna-warni di depan pintunya.

“Saga,” panggil Clara pelan.

“Hm?”

“Bisa berhenti sebentar?”

Saga melirik sekilas.

“Kenapa?”

“Aku mau beli bunga.”

Jantung Saga langsung berdetak tak nyaman. Entah kenapa, firasat buruk tiba-tiba muncul begitu saja. Tatapannya jatuh pada toko bunga itu beberapa detik lebih lama. Jangan-jangan namun ia cepat menepis pikirannya sendiri. Tidak mungkin mana mungkin kebetulan seperti itu terjadi. Lagipula belum tentu Sahira sedang ada di sana.

“Sebentar aja,” ujar Clara lagi sambil tersenyum kecil.

Saga akhirnya menghela napas pelan lalu mengangguk.

“Iya.”

Mobil perlahan menepi tepat di depan toko bunga tersebut namun baru saja kendaraan itu berhenti, pintu toko tiba-tiba terbuka.

Seorang anak kecil berlari keluar dengan langkah tergesa sambil tertawa keras.

“Ibu jangan!”

Saga langsung mengenali suara itu. Anak kecil itu berlari kecil ke arah depan toko sambil membawa botol obat di tangannya.

Sementara dari belakang, Sahira mengejarnya dengan wajah kewalahan.

“Sahir! Jangan lari!”

“Sahel ndak mau minum obat!” teriak Sahir cadel sambil terkekeh geli.

“Kalau nggak minum nanti demam lagi!”

“Ndak mau! Pait!”

Pemandangan sederhana itu membuat Saga langsung terpaku di balik setir. Untuk sesaat, dunia di sekitarnya terasa sunyi. Tatapannya hanya tertuju pada Sahira dan Sahir. Pada cara wanita itu mengejar anaknya, pada tawa kecil Sahir. Dan pada kenyataan bahwa mereka terlihat seperti keluarga kecil yang hangat meski tanpa dirinya.

Sementara Clara yang menyadari perubahan ekspresi Saga perlahan ikut menatap ke arah toko bunga. Dia langsung mengenali Sahira.

“Oh…” gumamnya pelan.

Tatapan Clara kembali pada Saga sebelum akhirnya berkata lirih,

“Nggak nyangka ya…”

Saga tetap diam.

“Dia sekarang udah punya anak sama orang lain,” lanjut Clara hati-hati. “Padahal dulu kalian dekat banget.”

Rahang Saga perlahan mengeras namun ia tetap tidak menjawab. Tatapannya masih terpaku pada Sahira. Saga akhirnya membuka pintu mobil lalu turun. Clara ikut menyusul di belakangnya.

Sementara itu, Sahir yang masih berlari kecil tiba-tiba berhenti. Matanya membulat saat melihat seseorang berdiri di area parkir toko.

“Doktel tampan!” Suara nyaring itu membuat Sahira langsung menoleh cepat. Dan saat pandangannya bertemu dengan Saga tubuhnya langsung membeku di tempat.

Sementara Sahir justru tersenyum lebar dan berlari kecil menuju pria itu tanpa ragu sedikit pun.

1
lalah rodilah
semoga sahiraa dan sahir selamat dari orang orang yang mau berbuat jahat..kasihan udah 5 tahun menderita
lalah rodilah
jahat banget si ulat berbulu clara../Doge/
Naufal Affiq
bagus tuan cerai istri mu yang gak berguna itu,alasan banyak banget jadi orangtua.dan satu lagi tilong jaga cucu dan anak menantumu,karena clara lagi mencari mereka
Lilis Yuanita
semoga revano msh d situ mlindungi mreka
Nar Sih
semoga rencana clara ngk berhasil
Ita rahmawati
berarti saga blm tau ya kalo yg ngasih obat MLM itu Clara SM Aldi,,dn Revano blm cerita kah 🤦
mama
tuan Mahendra tolong lindungan sahir dan sahira dri Clara,semoga aj bodyguard atau anak buah tuan Mahendra yg ngawasi gerak gerik clara, atau setidak buat ngilndungi sahir dan sahira..clara orgny nekat bgt soalnya 🤣
dyah EkaPratiwi
semoga saga bisa melindungi Shir n sahira
TiWi
Jangan buat Sahira dan Sahir menderita karena Clara ya Thor.
Lianty Itha Olivia
bilang aja kmu Aldy ke papamu atau telp saga kmu bilang KLO Clara mau berusaha ngehancurin hidupmu dg Sahira
Oma Gavin
kenapa saga ngga peka terkait obsesi clara terhadap dirinya padahal gerak gerik nya sudah terbaca apa saking goblok usaha sampai oon
ardiana dili
lanjut
Tri Handayani
lama"obsesi clara bisa membuat dirinya jadi gila dan semoga rencananya gagal semua y thorrr
K16e K16e
lanjut kk
neny
bagus cerita nya,,merelakan orang yg kita cintai sukses emng perlu pengorbanan,,disini pengorbanan sahira sangat besar buat saga
neny
semoga ya kak,,kasihan sahir,,anak itu butuh ayah nya,,jng sampe rencana clara berhasil memisahkan mereka,,aq baca nya sesak banget di dada😭😭
TiWi
Clara terobsesi, itu bukan cinta.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.
TiWi
Clara berbahaya, dia bisa nyuruh orang buat celakain Sahira dan Sahir.....ayo Aldi jujur sama dokter Mario, terus kasih tau Saga biar waspada
Nar Sih
😭😭😭sahir ya yg gk mau ditinggal ayah nya ,sabar sahira dan sahir pasti ayah saga cpt balik lgi
Lilik24
gak tau aja si saga lagi ditunggu sama ulat bulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!