Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Suasana hati Elsa akhirnya membaik. Dia mulai menyebutkan satu per satu makanan favoritnya dengan semangat.
Sementara Edward, mendengarkan tanpa menyela.
Begitu Elsa selesai mengatakannya, Vanessa memuji baju yang Elsa kenakan, berseru, "Baju Elsa hari ini keren banget, cocok banget dengan Elsa."
"Benaran, Tante?"
"Tentu saja," jawab Vanessa sambil tersenyum.
"Gimana sekolah hari ini? Elsa sudah kenalan dengan teman-teman di kelas?" lanjut Vanessa.
Obrolan mereka tampak menyenangkan. Edward sendiri jarang berbicara dan menikmati makan siangnya dengan tenang.
Pelayan yang tidak mengetahui kebenarannya mengira kalau keluarga mereka sangatlah harmonis dan menatap Vanessa dengan iri..
Pada saat yang bersamaan, Elsa melihat ada panggilan video dari Clara.
Panggilan itu adalah permintaan Elsa sendiri.
Namun sekarang, saat sedang asik mengobrol dengan Vanessa, dia tiba-tiba merasa enggan menutup teleponnya.
Pagi tadi, saat melihat Clara memeluk anak lain, dia memang merasa kesal.
Namun, kata-kata gurunya di sekolah terlintas di benaknya. Orang tua sangat sayang pada anaknya. Di mata seorang ibu, anaknya selalu menjadi yang teristimewa dan tak tergantikan.
Hal itu cukup untuk membuat hatinya kembali tenang.
Melihat panggilannya tak kunjung dijawab, Clara mulai khawatir dan menghubungi guru wali kelas.
Guru wali kelas kebetulan sedang berada di ruang istirahat murid. Mendengar alasan kenapa Clara menghubunginya, guru wali kelas pun tersenyum, berkata, "Elsa nggak kenapa-kenapa, Bu Clara. Dia sedang teleponan dengan ayahnya, juga ada tantenya-di sana. Gini aja, Bu. Aku beri tahu Elsa aja gimana? Nanti biar saya minta ...."
"Nggak perlu, Bu."
Sampai di sini, Clara paham. Elsa sedang melakukan panggilan video bersama Vanessa dan Edward.
Itu artinya, Vanessa dan Edward sedang makan siang bersama.
"Nggak apa-apa, Bu, biarkan saja. Jangan ganggu mereka," ujar Clara dengan lembut.
Telepon pun ditutup. Clara langsung mengirim Elsa sebuah pesan. Isinya tentu menanyakan sesuatu layaknya seorang ibu, seperti bagaimana harinya di sekolah, apa sudah punya teman baru, sudah makan apa belum.
Tak lupa juga mengingatkan untuk mendengarkan guru di kelas dan tidur siang dengan baik.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya Elsa membalas pesan Clara dengan pesan suara.
"Iya, Ma, aku ngerti. Aku bakal tidur siang nanti."
Pada sore harinya, setelah berinteraksi seharian dengan Hilda, dia menyadari satu hal. Hilda bukan hanya sosok yang ceria, tapi juga pandai bergaul dan kompeten dalam pekerjaan.
Waktu pun telah menunjukkan pukul enam lebih. Saat Clara hendak pulang, Hilda mendatanginya dengan maksud mentraktirnya makan karena sudah seharian membimbingnya.
"Itu sudah menjadi tugasku, Bu Hilda nggak perlu repot-repot," újar Clara menolak dengan halus.
Hilda masih ingin membujuknya, tapi ponsel Clara tiba-tiba berdering.
Panggilan dari Sinta, ibu mertua Clara.
Saat melihat nama mertuanya di layar ponselnya, Clara mengira dia salah lihat.
Sinta selalu memandang rendah dirinya sebagai menantu dan hampir tidak pernah meneleponnya. Selama bertahun-tahun, jumlah panggilan yang diterimanya dari mertua itu bisa dihitung dengan jari.
"Iya, Ma?" ucap Clara dengan sedikit keraguan mengangkat telepon.
"Belakangan ini, Dustin diam-diam ikut balapan mobil. Aku khawatir dia kenapa kenapa. Bentar lagi aku kirim alamatnya, pergi ke sana dan bawa dia pulang."
Tanpa ada basa-basi sedikitpun. Setelah memberikan perintah, dia langsung menutup teleponnya.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Clara.
Setelah membuka pesan tersebut, dia menyadari alamat yang Sinta kirim berada di sirkuit balap pinggiran kota.
"Maaf ya, aku masih ada urusan, harus pergi dulu, sampai jumpa," ucapnya pada Hilda.
Satu jam kemudian, Clara tiba di tujuan.
Sirkuit balap yang dia datangi terbilang sangat luas. Meski malam sudah larut, orang yang menonton terus berdatangan. Suasananya sungguh hingar bingar. Dia mencoba menghubungi Dustin tapi tak diangkat.
Terpaksa dia harus berkeliling mencarinya.
Setelah mencarinya selama dua puluh menit, akhirnya Clara menemukannya.
"Kakak? Kenapa Kakak di sini?" tanya Dustin dengan terkejut saat melihat kedatangan Clara.
Clara lantas menjelaskan tujuannya datang.
Dustin mengangkat tangannya bersumpah, "Kak, malam ini debut dewi impianku, Vivi, pebałap mobil wanita nomor satu se-Asia setelah kembali ke Marola. Aku nggak boleh melewatkannya, Kak. Aku janji langsung pulang setelah nonton balapannya. Aku nggak akan macam-macam, Kak. Jadi, mending Kakak pulang dulu aja, nggak perlu khawatirin aku!"
"Tapi..."
Belum sempat Clara menyelesaikan ucapannya, sorakan riuh menggema dari kerumunan memanggil nama " Vivi".
"Dewi impianku sudah mau keluar?!"
Mendengar suara yang menggema di arena sirkuit mobil, Dustin langsung melupakan Clara. Dia berteriak kegirangan mengikuti orang di sekelilingnya. Dia juga membawa teleskop untuk menatap garis start nan jauh di sana.
Wajah Dustin memancarkan aura penuh semangat seperti layaknya fans berat. "Sejak kapan kamu suka balap mobil?" tanya Clara sedikit terkejut setelah melihat kefanatikan Dustin.
Meski jarang berinteraksi dengan Dustin, dia tahu betul kalau sebelumnya Dustin tidak tertarik dengan dunia balap mobil.
"Dulu aku memang nggak suka balap mobil, Kak. Itu sebelum bertemu dengan dewi impianku! Kakak tahu nggak, betapa cantik dan kerennya dia! Begitu melihatnya, Kakak pasti ngerti kenapa aku jatuh cinta pada dunia balap mobil! Aku yakin, Kakak pasti juga akan menyukainya! Gimanapun, dewi impianku itu luar biasa, cantik sempurna, semua orang pasti suka sama dia!" ucap Dustin.
Tepat pada saat ini, sosok Vivi akhirnya muncul di sirkuit balap.
Dustin kembali berteriak heboh dan lupa dengan keberadaan Clara di sana.
Clara masih belum makan malam.
Suasana di arena balap sangat riuh bergemuruh, percuma juga mereka mengobrol. Saat melihat betapa gilanya Dustin menyukai dan mengagumi Vivi, Clara lantas memutuskan untuk menemaninya menonton hingga selesai baru membawanya pulang. Toh, Dustin juga tidak benar-benar berada dalam sirkuit balapan.
Beberapa saat kemudian, Dustin memberikan teleskopnya pada Clara dengan semangat menggebu, berkata, "Kak, cepat Kakak lihat dewi impianku! Nomor mobil 38! Yang pakai racing suit warna merah! Dia terlihat seksi dan liar banget!"
Sedari awal, Clara memang tidak tertarik dengan dunia balap mobil. Tapi dia malah dipaksa untuk melihat, jadi dia pun mengalah dan mengambil teleskop itu.
Dia mengarahkan teleskop sesuai arahan Dustin dan langsung tertegun saat melihatnya.
Vanessa.
Ternyata Vivi adalah Vanessa.
Sebelumnya, Clara memang sempat meridengar kalau Vanessa mahir dalaın berbagai olahraga ekstrem. Namun, dia tak tahu kalau Vanessa juga seorang pembalap mobil andal yang digandrungi banyak orang.
Saat ini, Vanessa mengenakan racing suit berwarna merah tua ketat yang semakin menonjolkan tubuh ramping dan lekukan indah tubuhnya. Aura yang terpancar dari dirinya begitu kuat, seksi, elegan, liar dan menggoda.
Sosoknya begitu menawan membuat orang sulit mengalihkan pandangan.
Clara menyesuaikan fokus teleskop dan tanpa sengaja melihat ke arah tribun di seberang. Terlihat sosok Edward di sana.
Pria itu menatap Vanessa tanpa berkedip, seolah terhipnotis dengan kecantikan wanita itu.
Clara semakin menggenggam erat teleskop yang ada di tangannya.
Balap mobil akan segera dimulai.
Dustin tampak cemas meminta teleskopnya dikembalikan.
Namun Clara, masih terpaku pada sosok Edward.
Sebenarnya, selain Edward, putri mereka, Elsa, dan beberapa teman dekat Edward juga ada di sana.
Tak perlu diberitahu pun, kehadiran mereka tentu untuk mendukung Vanessa.
Beberapa mobil bergerak dengan kecepatan penuh dan segera menghilang dari pandangan, hingga membuat penonton bersorak kegirangan.
Dustin mengangkat teleskopnya, lalu buru-buru menyerahkannya lagi pada Clara. "Kak, buruan lihat! Dewi impianku benar-benar gila bawa mobilnya, secepat itu tapi masih stabil! Keren banget, Kak, buruan lihat!!!" seru Dustin pada Clara.
Clara kembali mengambil teleskop itu dan mengarahkannya pada Vanessa. Tak lama kemudian, terlihat Vanessa melakukan manuver berbahaya dalam hitungan detik, menyalip lawan di tikungan dengan presisi yang luar biasa.
Penonton tertegun sejenak sebelum akhirnya meledak dalam sorakan kekaguman.
Sebelumnya, Clara bukanlah penggemar balap mobil.
Namun saat ini, dia dibuat terpukau oleh nyali Vanessa di lintasan balap.
Dia tidak bergeming untuk waktu yang lana.
Tiba-tiba kepalanya terbersit sesuatu. Pantas saja Edward begitu terobsesi pada Vanessa.