NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehamilan yang Aneh

...Jangan terlalu serius menjalani hidup, karena Tuhan bersabda, "Hidup, hanyalah sendau gurau belaka"...

​Rumah kayu berukuran sedang di pinggiran Ciampea itu mendadak terasa lebih sempit bagi Ahmad Syihabudin. Pria bertubuh tegap dengan tinggi 178 cm itu tampak menyeka keringat yang membasahi dahi tingginya. Wajahnya yang memiliki garis keturunan Arab—hidung mancung dengan rahang tegas—seharusnya terlihat gagah. Namun, sore itu, Ahmad hanya tampak seperti seorang pria yang sedang memikul beban seluruh gunung di Jawa Barat di pundaknya.

​Penyebabnya sederhana: Rismawati, istrinya.

​Risma adalah perempuan Sunda asli kelahiran Indramayu yang biasanya kalem. Namun, semenjak hamil anak pertama mereka, perilakunya berubah seratus delapan puluh derajat. Ahmad menatap istrinya yang bertubuh mungil, hanya 158 cm, dengan perut yang mulai membuncit.

​"Astagfirullah, Risma! Eta naon deui? Turun, Neng, turun!" teriak Ahmad histeris.

​Rismawati tidak menyahut. Ia sedang berdiri di atas meja makan kayu yang goyang, melakukan kuda-kuda rendah dengan tangan kanan lurus ke depan dan tangan kiri menekuk di dada. Napasnya teratur, matanya terpejam, persis seperti pendekar yang sedang menyerap energi alam.

​"Astagfirumullah, Kang Ahmad, berisik pisan!" balas Risma tanpa membuka mata. "Ini si dede bayinya minta dilatih. Katanya kalau tidak pasang kuda-kuda sekarang, nanti pas lahir tulang punggungnya lembek."

​Ahmad memijat pangkal hidungnya. "Dede bayi mana bisa ngomong begitu, Neng? Ya ampun, ini baru bulan ketiga. Bukannya ngidam mangga muda atau bakso, malah ngidam jurus monyet melempar buah. Bahaya kalau kamu jatuh!"

​"Istri Akang ini keturunan jawara! Jangan hariwang begitu," cetus Risma sembari melompat turun dari meja dengan lincah.

​Ahmad hampir saja copot jantung melihat kelenturan istrinya. Padahal bobot Risma sudah naik menjadi 58 kg, tapi gerakannya seolah tidak terbebani oleh gravitasi. Itulah keanehan pertama. Tiga bulan pertama kehamilan Risma diisi dengan permintaan yang tidak masuk akal bagi seorang calon ibu: latihan silat setiap subuh dan sore.

​Memasuki bulan keempat hingga keenam, situasi bukannya membaik, malah semakin menguras kantong dan tenaga Ahmad. Ahmad yang bekerja serabutan harus memutar otak setiap hari karena permintaan baru sang istri.

​Setiap pulang ke rumah, Ahmad harus membawa satu benda wajib: Novel Kho Ping Hoo.

​"Kang, mana Pedang Kayu Harum? Sudah ada?" tagih Risma bahkan sebelum Ahmad sempat melepas sepatu di teras.

​"Ini ada, Neng. Tapi judulnya Suling Emas. Yang Pedang Kayu Harum stoknya habis di pasar," jawab Ahmad lemas.

​Risma cemberut, bibirnya mengerucut menggemaskan tapi sekaligus mengerikan bagi Ahmad. "Ah, si Akang mah teu baleg! Masa judulnya beda? Si dede di dalam perut sudah menunggu kelanjutan cerita pendekar sakti. Kalau dia kecewa, nanti lahirnya cemberut gimana?"

​"Neng, dengerin dulu. Akang sudah keliling sampai ke Bogor kota. Penjualnya saja sampai hafal muka Akang yang mirip orang Yaman ini. Katanya, 'Mas, buat apa beli novel silat tiap hari? Mau buka perpustakaan?'"

​Risma tidak peduli. Ia menyambar novel tipis itu, duduk bersila di lantai, dan langsung tenggelam dalam bacaan. Sejak saat itu, Ahmad merasa dirinya bukan lagi seorang suami, melainkan asisten pribadi seorang kutu buku yang terobsesi dengan dunia persilatan.

​Ruang tamu mereka kini penuh dengan tumpukan buku tua yang baunya khas kertas usang. Ahmad sering menemukan istrinya tertawa sendiri, menangis saat pendekar idolanya kalah, atau yang paling parah, mencoba mempraktikkan jurus yang baru dibacanya.

​"Kang Ahmad, coba sini," panggil Risma suatu malam.

​Ahmad yang sedang menghitung sisa uang belanja mendekat. "Ada apa, Neng?"

​"Di buku ini bilang, kalau mau tenaga dalam kuat, harus sering-sering makan sate kambing tapi lemaknya jangan dimakan. Tolong belikan di depan gang, ya? Sepuluh tusuk saja, tapi dagingnya harus yang jantan."

​Ahmad melongo. "Sate kambing jantan? Mana Akang tahu itu kambingnya jantan atau betina, Risma? Emangnya Akang harus nanya dulu ke tukang satenya, 'Bang, ini kambingnya punya KTP laki-laki nggak?'"

​"Halah, loba omong! Pergi sana, jangan sampai si dede bayi nendang-nendang karena lapar!"

​Ahmad hanya bisa mengelus dada. Pertaruhan hidupnya saat ini adalah menjaga agar istrinya tetap waras, atau setidaknya, menjaga agar dirinya sendiri tidak ikut gila.

​Namun, keruwetan Ahmad mencapai puncaknya saat usia kehamilan Risma menginjak bulan ketujuh. Perut Risma sudah benar-benar besar, menonjol di balik daster batiknya. Namun, karena terlalu banyak membaca novel Kho Ping Hoo, imajinasi Risma melampaui batas kewajaran manusia hamil pada umumnya.

​Siang itu, udara Ciampea sedang terik-teriknya. Ahmad baru saja selesai mandi ketika ia mendengar suara brukk keras dari arah halaman belakang.

​"Risma!" Ahmad berlari kencang hanya dengan menggunakan sarung yang hampir melorot.

​Di halaman belakang, di bawah pohon nangka, ia melihat pemandangan yang membuat dunianya seolah berhenti berputar. Istrinya sedang berdiri tegak, membelakangi pohon, sambil mengatur napas.

​"Neng! Kamu kenapa? Jatuh?"

​Risma menoleh dengan wajah berseri-seri, pipinya kemerahan. "Kang! Akang lihat tidak tadi? Aku berhasil!"

​"Berhasil apa?"

​"Tadi itu, di novel yang Akang beli kemarin, si Pendekar Baju Putih melarikan diri dengan salto ke belakang waktu dikepung musuh. Tadi aku coba, dan ternyata bisa!"

​Mata Ahmad hampir keluar dari kelopaknya. "Kamu... salto? Dengan perut sebesar itu? Salto ke belakang?"

​"Iya! Rasanya enteng pisan, Kang. Seperti ada angin yang mendorong punggungku. Si dede juga kayaknya senang, dia tadi ikut muter di dalam," ucap Risma tanpa beban, tangannya mengelus perutnya yang besar.

​Ahmad terduduk lemas di akar pohon nangka. Ia menatap istrinya dengan tatapan nanar. "Neng, tolong... Akang mohon. Ingat, kamu itu lagi hamil. Bukan lagi ikut audisi pemain sirkus atau pendaftaran prajurit Pajajaran. Kalau kamu kenapa-kenapa, Akang harus bilang apa sama mertua di Indramayu?"

​"Aduh, Akang mah pauran teuing jadi orang. Kita ini sedang mendidik calon pendekar besar. Bayi ini beda, Kang. Aku bisa merasakannya. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam sini, seperti ada api tapi dingin."

​Ahmad tidak lagi mendengarkan penjelasan mistis istrinya. Ia mulai merasa bahwa kehamilan ini bukan sekadar proses biologis biasa. Ada unsur drama keluarga yang bercampur dengan fantasi yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang wanita hamil tua bisa salto tanpa cedera?

​"Sudah, mulai hari ini, novel-novel itu Akang sita!" tegas Ahmad sembari berdiri.

​"Eh, jangan! Teu meunang! Itu sumber ilmuku!" Risma memprotes.

​"Tidak ada tapi-tapi! Kamu istirahat saja. Makan yang benar, baca doa, jangan baca jurus!"

​Malamnya, Ahmad tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar sambil mendengarkan dengkur halus Risma di sampingnya. Ia memikirkan bagaimana nasib masa depan keluarganya. Bayi ini, yang belum lahir saja sudah membuat ibunya bisa salto dan kecanduan silat, akan jadi seperti apa nantinya?

​Ahmad menghela napas panjang. Ia teringat cerita istrinya bahwa di darahnya mengalir keturunan Si Buta Dari Gua Hantu. Dulu, Ahmad menganggap itu hanya bualan atau legenda keluarga untuk gagah-gagahan. Tapi melihat keajaiban—atau lebih tepatnya keanehan—selama sembilan bulan ini, Ahmad mulai percaya.

​Ia merasa sedang berada dalam sebuah pertaruhan besar. Di satu sisi, ia ingin anaknya lahir normal dan sehat. Di sisi lain, ia merasa ada kekuatan besar yang sedang mengincar keluarganya.

​"Ya Allah," bisik Ahmad dalam gelap. "Kalau memang anak ini adalah titisan pendekar, tolong kuatkan punggungku untuk mengurusnya. Dan tolong, jangan biarkan Risma salto lagi besok pagi."

​Tanpa Ahmad sadari, di luar rumah, angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Pohon-pohon besar di sekitar Ciampea merunduk, seolah memberi hormat pada sesuatu yang sedang bersiap untuk hadir ke dunia. Sebuah energi besar sedang berkumpul, menunggu saat yang tepat untuk meledak dalam tangisan pertama seorang bayi yang akan mengubah sejarah persilatan tiga dimensi.

​Ahmad memejamkan mata, tidak tahu bahwa besok akan menjadi hari yang lebih ruwet dari hari ini.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!