Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: DAMAI BUKAN BERARTI BERHENTI
"Jadi... itu saja kah akhirnya, Eyang?" tanya Raga sambil memandang lembah desa yang mulai terang benderang di bawah kaki mereka.
Mereka bertiga masih duduk di atas batu besar di puncak gunung, menikmati sisa kedamaian setelah badai besar berlalu. Tubuh mereka lelah, luka-luka mulai kering dan perih, tapi hati mereka ringan sekali.
Eyang Sastro tersenyum sambil membersihkan debu di tongkatnya.
"Katakanlah... ini adalah akhir dari satu babak yang panjang, Nak. Tapi hidup ini buku tebal yang masih banyak halaman kosongnya."
"Maksud Eyang?" Raga sedikit bingung.
"Kau sudah bebas dari ikatan batin, kau sudah berdamai dengan penguasa gunung, desa sudah aman. Itu semua benar. Tapi ingat... kekuatan yang kau miliki sekarang, ilmu yang kau dapat, dan hubungan yang kau bangun dengan dunia lain... itu tidak hilang begitu saja."
Eyang Sastro menatap tajam ke arah Raga.
"Justru... sekaranglah waktunya yang sesungguhnya. Selama ini kau bertarung hanya untuk bertahan hidup dan mempertahankan hak. Mulai sekarang... kau akan bertarung untuk menjaga keseimbangan."
Mbah Joyo yang sedang mengunyah roti kaget. "Loh? Masih ada tarung-tarungnya lagi toh Eyang? Kan sudah damai?"
"Damai itu rapuh, Kek. Seperti kaca. Kalau tidak dijaga, bisa pecah kapan saja," jawab Eyang Sastro. "Dunia itu luas, Kek. Bukan cuma Kanjeng Raden dan Nyi Blorong yang ada di dunia ini. Masih banyak makhluk lain, masih banyak kekuatan lain yang mungkin tidak suka dengan kesepakatan damai kita tadi malam."
Tiba-tiba...
Srrtttt...
Angin berubah arah. Aroma wangi kemenyan dan bunga tadi perlahan berganti menjadi bau asap kendal dan bau logam panas yang aneh.
Dari arah timur, di mana langit masih gelap dan tertutup awan hitam pekat, terlihat sepasang mata merah lain yang mengintai. Bukan mata Kanjeng Raden. Mata ini lebih dingin, lebih licik, dan penuh dendam.
"Hhhmm... manis sekali perdamaian ini..."
Sebuah suara serak dan berat terdengar dari balik kabut. Tidak datang dari tanah, tapi melayang di udara.
"Sayang sekali... aku tidak diundang. Dan aku... tidak suka kedamaian."
WUSSS!!!
Seketika, tiga sosok misterius muncul melayang di hadapan mereka.
- Sosok pertama bertubuh kurus kering, kulitnya hitam legam, matanya menyala kuning, tangannya memegang sabit besar. Itu Ki Jurig Maut, pembawa pesan kematian.
- Sosok kedua wanita tua mengerikan, hidungnya panjang, giginya tinggal satu, rambutnya acak-acakan. Itu Nyi Roro Kidul versi gunung atau Leak pengundang bencana.
- Dan sosok yang paling tengah... sosok tinggi besar tapi badannya kurus seperti kerangka, mengenakan jubah ungu gelap, dan wajahnya tertutup topeng besi yang menyeringai menyeramkan.
Eyang Sastro langsung berdiri tegak, wajahnya berubah serius sekali. Tangannya mencengkeram tongkat kuat-kuat.
"Kalian... siapa?!" bentak Eyang Sastro.
Sosok bertopeng itu tertawa. "Hahahaha... Lupa ya Sastro? Dulu kita pernah perang di Banyuwangi dulu? Atau kau terlalu sibuk main sama raja lokal sini?"
Eyang Sastro terbelalak. "Jangan-jangan... kalian dari Paguyuban Segoro Putih?! Pasukan pembantai yang diburu para leluhur?!"
"Benar!" seru sosok itu. "Kami datang bukan buat damai. Kami datang buat ambil Batu Meteor dan Naga Emas yang tadi dikasih Kanjeng Raden itu! Itu benda langit, cocoknya sama kami! Kalian manusia biasa tidak pantas memegangnya!"
Raga segera bangun, mencabut kerisnya kembali. "Jangan mimpi! Ini hak kami!"
"Berani kau anak kecil?! Kalau Kanjeng Raden tadi masih mau main adat, kami tidak mau tahu! Kami pakai kekerasan! SERBU!!!"
Tapi belum sempat mereka menyerang...
BRAAAAKK!!!
Dari langit turun sebuah tombak raksasa yang menghantam tanah tepat di antara kedua belah pihak! Getarannya sangat kuat!
Dan suara auman Kanjeng Raden bergema marah!
"AUUUUUUMMMMM!!! BERANI KALIAN MENGAWUR DI WILAYAHKU!!!"
Ternyata Kanjeng Raden dan Nyi Blorong belum pergi jauh! Mereka masih mengawasi dari balik kabut!
Sang Raja muncul dengan aura membara, berdiri di samping Raga dan Eyang Sastro!
"DENGAR KALIAN SETAN-SSETAN TAK TAU DIRI! ORANG-ORGA INI SEKARANG ADALAH TAMU KEHORMATANKU! SIAPA YANG SENTUH MEREKA SEJARI KAKI... BERARTI MENANTANG AKU SELURUHNYA!!!" teriak Kanjeng Raden galak.
Sosok-sosok misterius itu tampak ragu dan takut. Mereka berani melawan Eyang Sastro, tapi melawan Kanjeng Raden yang sedang marah besar? Itu bunuh diri.
"Hhh... untung ada rajanya..." geram sosok bertopeng itu. "Tapi ingat ini belum selesai Sastro... Raga... Perdamaian ini tidak akan bertahan lama! Dunia hitam sedang berubah! Segera bersiap! Karena Perang Besar antar alam sebentar lagi akan pecah! Dan kalian... sudah terlanjur masuk terlalu dalam!"
WUSSS!!!
Mereka menghilang menjadi asap ungu yang bau menyengat.
Suasana kembali hening, tapi kali ini ketegangan belum hilang sepenuhnya.
Kanjeng Raden menoleh ke arah Raga dan Eyang Sastro. Wajahnya tidak lagi marah, tapi sangat serius.
"Mereka benar..." kata Sang Raja pelan. "Angin perang sudah mulai bertiup dari utara. Ada kekuatan gelap baru yang bangkit. Mereka tidak peduli adat, tidak peduli hormat-menghormati. Mereka hanya mau menghancurkan segalanya."
"Berarti... kami tidak bisa santai dulu ya, Kanjeng?" tanya Raga.
Sang Raja mengangguk. "Kanjeng Noto dulu membuat perjanjian bukan cuma soal jodoh. Dia juga menitipkan Kunci Gerbang Dunia di desa kalian. Kalau kunci itu jatuh ke tangan yang salah... dunia manusia dan dunia kami akan hancur bercampur jadi satu."
Mata Raga membelalak. "Kunci Gerbang? Di mana itu Kanjeng?"
"Itu ada di dalam dirimu, Raga. Dan di kitab yang kau bawa."
Eyang Sastro menghela napas panjang lalu menepuk punggung Raga.
"Gimana Nak? Masih kuat lanjut? Ternyata misi kita baru saja dimulai beneran. Sekarang kita bukan cuma tim kecil, kita punya sekutu raja gaib, tapi musuhnya juga makin kelas berat!"
Raga menatap kerisnya, menatap Naga Emas di tangannya, lalu menatap Kanjeng Raden dan Eyang Sastro.
Ia tersenyum, kali ini senyum penuh semangat petualang.
"Siap Eyang! Siap Kanjeng! Kalau memang takdirnya begitu... kita hadapi saja! Aku tidak lari lagi!"
"Bagus!" seru Eyang Sastro.
"Besok... kita tidak pulang ke desa dulu. Kita balik ke Gua Penggung. Aku ajarkan kau ilmu Buka Gerbang Dunia dan cara membaca isi Kitab Lontar yang halamannya masih tersegel!"
"Siap!"
Malam yang panjang itu belum benar-benar berakhir. Petualangan Raga menaklukkan takdirnya... baru saja membuka babak yang jauh lebih seru dan lebih berbahaya!