Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Perpustakaan pusat Universitas Los Angeles biasanya merupakan zona hening yang sakral, namun siang itu, di sudut paling tersembunyi di balik jajaran rak buku hukum kuno, sebuah pemandangan ganjil sedang berlangsung.
Marco, yang baru saja kembali dari rak buku referensi, berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka.
Di depannya, pada sebuah meja kayu besar yang penuh dengan tumpukan jurnal, Kensington Valerio dan Catalonia Vera West sedang duduk berhadapan.
Bukan, mereka tidak sedang bertengkar. Mereka juga tidak sedang saling melempar tatapan benci.
"Jadi, kau benar-benar menghabiskan enam jam hanya untuk memilih jenis cerutu yang cocok dengan suasana hati setelah kalah taruhan balap liar?" Vera bertanya, suaranya pelan namun nada bicaranya mengandung ketertarikan yang nyata.
Ia menopang dagu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memainkan pulpen mahalnya.
Kensington terkekeh, suara tawa rendah yang jarang terdengar oleh siapa pun kecuali orang-orang terdekatnya.
"Itu masalah prinsip, Vera. Jika kau ingin merusak paru-parumu, kau harus melakukannya dengan kualitas terbaik. Lagipula, kekalahan itu perlu dirayakan dengan sedikit kemewahan untuk menutupi rasa malu."
"Logika yang sangat berandal," sahut Vera dengan senyum tipis yang tulus. "Tapi aku bisa menghargai komitmenmu pada kualitas itu."
Marco menggelengkan kepalanya berkali-kali. Hanya dalam hitungan Jam, atmosfer di antara dua manusia ini berubah total.
Sejak pertemuan tak terduga di lapangan golf kemarin, Kensington dan Vera seolah-olah menemukan frekuensi radio yang sama di tengah gelombang yang kacau.
Mereka tidak lagi seperti anjing dan kucing; mereka lebih seperti dua penjahat intelektual yang baru saja menyadari bahwa mereka memiliki musuh yang sama: norma sosial dan hubungan romantis yang klise.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari terakhir, pertemuan mereka menjadi rutinitas yang lucu.
Di kantin, jika Vera tidak menemukan kursi, ia tidak lagi bertanya formal, melainkan langsung menggeser nampan Kensington.
Di kelas, mereka sering tertangkap basah sedang bertukar pesan di secarik kertas—bukan soal materi kuliah, tapi soal kritik sinis terhadap gaya berpakaian mahasiswa lain atau teori-teori gila tentang bagaimana dunia seharusnya diatur tanpa pernikahan.
Mereka sekarang akrab, namun dengan cara yang unik. Tidak ada rayuan, tidak ada gombalan. Obrolan mereka adalah campuran antara debat hukum tingkat tinggi dan diskusi tentang kehidupan gelap Kensington yang biasanya ia tutup rapat.
"Kenapa kau menatap mereka seperti sedang melihat alien?" tanya Olla, teman Vera, yang baru saja menghampiri Marco.
"Karena mereka memang alien, Olla," bisik Marco.
"Tiga hari lalu, mereka hampir saling bunuh di tempat parkir. Sekarang? Lihat itu, Si Late Vera sedang mendengarkan cerita Ken tentang berapa banyak botol whiskey yang dia habiskan saat menjadi orang gila tiga tahun lalu, dan dia tidak terlihat jijik sama sekali. Dia malah... bertanya soal mereknya?"
Di meja itu, Vera memang sedang mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia menemukan kenyamanan yang aneh pada diri Kensington.
Pengakuan Kensington di lapangan golf tentang ketidakpercayaannya pada pernikahan telah menghancurkan tembok pertahanan Vera.
Bagi Vera, menemukan seseorang yang memiliki pandangan sinis yang sama terhadap institusi keluarga adalah sebuah keajaiban.
"Kensington," panggil Vera dengan nada yang lebih santai. "Aku penasaran. Bagaimana kau menghabiskan waktu di kampus ini? Maksudku, berapa lama kau sebenarnya sudah mendekam di gedung tua ini?"
Kensington menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit perpustakaan sejenak. "Aku seharusnya lulus Tiga tahun lalu. Tapi, kau tahu sendiri, dunia luar terlalu menakutkan bagi orang yang merasa tangannya berdarah. Aku menghabiskan waktu dengan berpindah-pindah bar, masuk kelas hanya untuk tidur di barisan belakang, dan sesekali memprovokasi dosen agar aku diberi hukuman."
"Kenapa harus provokasi?"
"Karena dengan begitu, aku punya alasan untuk tetap berada di sini lebih lama," jawab Kensington jujur. "Jika aku lulus, aku harus menghadapi Felix Valerio dan takhta perusahaan yang terasa seperti peti mati bagiku."
Vera mengangguk pelan. "Aku mengerti. Kampus ini adalah perlindunganmu. Bagiku, kampus ini adalah panggung kekuasaanku karena aku tidak ingin pulang ke rumah di mana ibuku terus membicarakan tentang gaun pengantin dan daftar bujangan kaya di Los Angeles."
Kensington menatap Vera, matanya yang perak tampak lebih lembut. "Jadi, asisten teladan ini juga sedang melarikan diri?"
"Kita semua pelarian, Kensington. Hanya saja cara berpakaianku lebih rapi darimu," canda Vera.
Tawa kecil kembali pecah di antara mereka. Marco, yang masih memperhatikan dari jauh, merasa dunia benar-benar sedang berputar terbalik.
Kensington yang biasanya dingin dan tidak tersentuh, kini bisa berbicara terbuka tentang masa lalunya yang kelam kepada seorang wanita yang dulunya ia sebut "visual Palsu".
Vera pun sama. Keformalannya mulai luntur jika sedang bersama Kensington. Ia tidak lagi peduli jika sanggulnya sedikit berantakan atau jika ia harus duduk di kantin bersama seorang pria yang aromanya adalah campuran antara rokok dan parfum mahal.
"Kau tahu, Kensington," ucap Vera sambil merapikan jurnal-jurnalnya. "Aku baru menyadari bahwa berdiskusi dengan seorang berandal jauh lebih menarik daripada mendengarkan presentasi riset di ruang Lexington. Kau punya sudut pandang yang... jujur."
"Kejujuran adalah satu-satunya hal yang tersisa saat kau sudah kehilangan segalanya, Vera," sahut Kensington.
...****************...
Pertemuan-pertemuan tidak sengaja itu kini menjadi momen yang mereka nantikan. Entah di perpustakaan, kantin, atau koridor kelas, frekuensi lucu dan kocak di antara mereka terus mengalir.
Mereka tidak berteman dalam arti tradisional; mereka berteman dalam kerahasiaan pemikiran yang sama.
Saat bel perpustakaan berbunyi menandakan waktu tutup, Kensington berdiri dan membantu Vera membereskan bukunya—sebuah gerakan refleks yang bukan lagi karena kasihan seperti kejadian noda di rok tempo hari, melainkan karena rasa hormat pada seorang teman yang memiliki jiwa yang sama-sama retak.
"Besok di kantin?" tanya Vera sambil menyampirkan tasnya.
"Hanya jika kau tidak memesan salad buah yang membosankan itu lagi," jawab Kensington dengan seringai.
Vera memutar matanya, tertawa kecil, lalu melangkah pergi.
Kensington menatap punggungnya sejenak, merasakan sebuah debaran aneh yang ia coba abaikan. Ia tidak percaya pada hubungan, begitu juga Vera.
Namun, di antara dua orang yang menolak cinta, sebuah ikatan yang lebih kuat dari sekadar perasaan mulai terbentuk di bawah atap Universitas Los Angeles.
Marco mendekati Kensington setelah Vera menghilang. "Ken, katakan padaku, apa kau sudah dicuci otak oleh Anak dekan itu?"
Kensington hanya menepuk bahu Marco dan berjalan pergi. "Bukan cuci otak, Marco. Ini hanya soal... menemukan radio yang tepat di frekuensi yang sama."
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭