Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabrakan Gelato dan Takdir yang Salah Alamat
Matahari di atas langit Roma siang itu seolah sedang memamerkan kekuatannya. Aspal jalanan yang kuno memantulkan panas yang cukup untuk membuat otak siapa pun mendidih, namun hal itu tidak berlaku bagi Bianca. Gadis asal Jakarta yang sedang melakukan perjalanan "nekat hemat" ke Italia ini justru merasa dunia adalah taman bermainnya. Dengan balutan daster motif bunga matahari berwarna kuning mencolok yang ia beli di pasar malam—yang ia klaim sebagai gaya high-fashion Bohemian—Bianca melenggang riang.
Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah cone besar berisi tiga tumpuk gelato rasa pistachio, stracciatella, dan limone. "Gusti... ini baru namanya hidup," gumamnya dalam bahasa Indonesia, mengabaikan tatapan heran orang-orang Italia yang lewat. "Di Jakarta, harga es krim begini sudah bisa buat bayar cicilan motor sebulan, di sini cuma sepuluh Euro. Makanlah kau Bianca, sebelum lambungmu protes!"
Bianca tidak sadar bahwa di ujung jalan, sebuah iring-iringan mobil hitam legam bermerek Maserati sedang berhenti tepat di depan sebuah katedral tua yang nampak angker namun elegan. Pintu mobil terbuka, dan keluarlah sosok pria yang seolah baru saja melangkah keluar dari sampul majalah pria paling eksklusif di dunia.
Lorenzo De Luca. Nama itu cukup untuk membuat polisi di seluruh Eropa berkeringat dingin. Dia adalah sulung dari tiga kembar De Luca, penguasa sindikat mafia yang mengontrol jalur perdagangan dari Sisilia hingga Milan. Lorenzo memiliki rahang yang begitu tegas hingga bisa digunakan untuk mematahkan kayu jati, dan matanya biru sedingin es kutub. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kayu kecil berisi artefak kuno berbentuk mata dari emas murni yang baru saja ia "amankan" dari seorang kolektor saingan.
"Pastikan area bersih," perintah Lorenzo singkat dengan suara bariton yang berat. "Veloce! (Cepat!)"
Namun, semesta nampaknya sedang ingin melucu.
Bianca, yang terlalu asyik menjilat lelehan gelato pistachio yang mulai menetes ke jempolnya, tidak memperhatikan trotoar yang tidak rata. Kakinya yang hanya beralas sandal jepit seharga dua puluh ribu rupiah tersangkut pada celah batu jalanan.
"Waduh—EH, COPOT! COPOT!"
Bianca kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung ke depan seperti nangka jatuh. Secara bersamaan, Lorenzo baru saja melangkah keluar dari bayangan pintu mobil.
Sreet! BRAKK!
Tabrakan itu tidak terelakkan. Bianca menghantam dada bidang Lorenzo dengan kekuatan penuh. Tapi masalah utamanya bukan sekadar tabrakan fisik. Dua tumpuk besar gelato hijau dan putih itu mendarat dengan sangat akurat dan estetik tepat di atas dasi sutra dan jas custom-made seharga tiga puluh ribu Euro milik Lorenzo. Belum cukup sampai di situ, dahi Bianca menghantam kotak kayu yang dipegang Lorenzo, membuat tutupnya terbuka dan artefak emas itu terjepit tepat di antara kening mereka.
"Cazzo!" teriah Lorenzo, umpatan bahasa Italia itu meluncur otomatis. Matanya melotot menatap noda hijau lengket yang merusak penampilan sempurnanya. "Che cosa hai fatto, stupida donna?!" (Apa yang kau lakukan, wanita bodoh?!)
Bianca, yang masih dalam posisi menempel di dada Lorenzo karena pusing, mendongak. Bukannya takut, sifat "semprul" aslinya malah keluar. "Aduh, Mas Ganteng... jangan marah-marah dong. Itu gelatoku mahal lho, saya yang rugi sebenernya. Mas kan cuma kotor, saya kehilangan asupan gizi ini!"
Lorenzo tertegun. Baru kali ini ada manusia yang berani menjawabnya, apalagi dalam kondisi tubuh berlumuran es krim. Namun, sebelum ia bisa memanggil pengawalnya untuk "membereskan" gadis aneh ini, sebuah fenomena aneh terjadi.
Artefak emas yang terjepit di antara dahi mereka tiba-tiba memancarkan cahaya biru elektrik yang menyilaukan. Udara di sekitar mereka mendadak menjadi statis, membuat rambut-rambut halus di lengan berdiri.
"Woi! Mas! Kok jidat saya rasa kesetrum?!" teriak Bianca panik. Tangannya mencoba melepas diri, tapi seolah ada magnet raksasa yang mengunci mereka berdua.
"Maledizione! Apa yang terjadi dengan artefak ini?!" Lorenzo berusaha menarik kotak itu, tapi tarikan energi itu justru semakin kuat.
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar di dalam kepala mereka masing-masing. Pandangan Bianca berputar, dunianya seolah dibalikkan 180 derajat. Ia merasa organ tubuhnya seperti dikocok dalam blender, lalu ditarik melalui lubang sedotan yang sangat sempit.
ZAP!
Keheningan total mengikuti.
Bianca mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah... sepatunya terasa sangat sempit. Bukan, bukan sempit, tapi kakinya terasa jauh lebih besar. Ia juga merasa pandangannya menjadi jauh lebih tinggi dari biasanya. Dan yang paling aneh, berat di bagian dadanya mendadak hilang.
"Lho? Kok adem?" gumam Bianca. Ia meraba dadanya. Rata. Sangat rata. Keras seperti papan gilesan di kontrakan. "LHO?! GUNUNG SAYA MANA?! KOK JADI RATA BEGINI?!"
Ia melihat ke bawah. Tangannya bukan lagi tangan mungil yang sering ia gunakan untuk memegang pulpen, melainkan tangan besar dengan urat-urat menonjol dan tato naga yang melingkar dari pergelangan hingga masuk ke balik lengan baju. Ia mengenakan jas mewah yang tadi ia kotori dengan gelato.
"Eh... ini kan tangan Mas Ganteng tadi?" Bianca meraba wajahnya. Ada jambang kasar yang tumbuh di dagunya. "Mampus... saya jadi Mas-mas Mafia?!"
Di depannya, sosok wanita dengan daster bunga matahari—yang seharusnya adalah tubuhnya sendiri—sedang terduduk di aspal dengan wajah yang luar biasa pucat. Wanita itu (atau sebenarnya jiwa Lorenzo) meraba-raba rambut panjangnya dengan ekspresi jijik yang tak terlukiskan.
"Dio mio... Kenapa aku punya poni lempar dan bau matahari?!" teriak "Bianca" dengan suara melengking yang keluar dari pita suara wanita, namun dengan intonasi yang sangat kasar.
Bianca (dalam tubuh Lorenzo) mematung sesaat, lalu sifat aslinya kembali muncul. Ia mendekati kaca spion mobil Maserati yang mengkilap. Ia menatap pantulan dirinya: seorang pria Italia paling tampan yang pernah ia lihat, namun dengan ekspresi melongo khas orang yang baru bangun tidur siang.
"Wah... kalau begini sih, saya tidak jadi rugi-rugi amat," bisik Bianca sambil membetulkan letak jas Lorenzo. Ia mencoba berpose keren, memberikan wink pada bayangannya sendiri. "Ternyata saya kalau jadi cowok, gantengnya kelewatan ya. Bisa jadi rebutan satu kecamatan ini."
"Zitto! Tutup mulutmu, wanita gila!" bentak Lorenzo yang berada dalam tubuh dasteran Bianca. Ia berusaha berdiri, tapi sandalnya yang tipis membuatnya terpeleset lagi. "Stronza! Bagaimana mungkin jiwaku masuk ke dalam tubuh yang lemah dan memakai pakaian yang sangat tidak selera ini?!"
"Heh, jaga mulut ya! Itu daster limited edition pasar Tanah Abang!" balas Bianca, lupa bahwa ia sekarang berbicara dengan suara berat yang sangat berwibawa.
Di saat itulah, dua pria lain keluar dari mobil di belakang. Mereka adalah Valerio dan Dante, dua kembar lainnya yang memiliki wajah identik dengan Lorenzo. Valerio, si gila senjata, memegang pistolnya dengan waspada, sementara Dante, si otak dingin, menatap mereka dengan dahi berkerut.
"Lorenzo? Apa yang terjadi? Kenapa kau malah bicara dengan gadis aneh itu?" tanya Dante sambil mendekat.
Bianca menoleh. Matanya berbinar melihat dua pria tampan lainnya yang mirip dengan tubuhnya sekarang. "Eh, ada kembarannya lagi! Halo, Mas-mas ganteng! Kenalin, saya Lore... eh, maksudnya, saya lagi... latihan akting! Iya, akting!"
Valerio menurunkan senjatanya sejenak, menatap "Lorenzo" dengan tatapan tidak percaya. "Latihan akting? Sejak kapan kau suka drama, Kak? Dan kenapa kau tersenyum seperti orang yang habis menang undian sabun colek?"
Lorenzo (dalam tubuh Bianca) berteriak histeris, "Valerio! Dante! Ini aku, Lorenzo! Singkirkan pria ini—maksudku, singkirkan tubuhku dari gadis ini! Argh! Bingung!"
Dante menatap gadis berdaster itu dengan dingin. "Nona, jika kau mencoba melakukan trik sulap murahan atau penipuan, aku akan memastikan kau berakhir di dasar laut Mediterania sebelum matahari terbenam."
Bianca yang berada dalam tubuh Lorenzo langsung merangkul pundak Dante dan Valerio sekaligus. Tenaga Lorenzo yang besar membuat kedua adiknya itu hampir tercekik. "Aduh, adik-adikku sayang... jangan galak-galak sama Mbak-mbak itu. Dia lagi... dia lagi sakit tipes, makanya halusinasi. Yuk, mending kita masuk mobil dulu, saya mau coba nyetir mobil mahal ini!"
"Sakit tipes?" gumam Valerio bingung. "Dan sejak kapan kau memanggil kami 'adik sayang'?"
Kekacauan itu mencapai puncaknya ketika orang-orang mulai berkumpul untuk melihat kejadian aneh tersebut. Lorenzo, sang raja mafia yang ditakuti, kini harus pasrah ditarik-tarik oleh "dirinya sendiri" masuk ke dalam mobil, sementara Bianca di dalam tubuh Lorenzo sibuk melambai-lambaikan tangan ke arah turis lain layaknya Miss Universe.
"Dunia memang sudah gila," bisik Dante sambil mengikuti mereka masuk ke mobil, merasakan ada sesuatu yang sangat, sangat salah dengan kakaknya hari ini.
Sementara itu, di dalam mobil, Bianca sibuk mengagumi interior kulit mewah Maserati tersebut. "Mas Lorenzo, kalau boleh jujur, badanmu ini enak banget buat dipakai duduk. Empuk. Tapi satu pertanyaanku... kamu biasanya pakai parfum merk apa? Kok baunya kayak bau duit ya?"
Lorenzo (dalam tubuh daster) hanya bisa menutup wajahnya dengan tangan kecil Bianca yang kini miliknya. "Aku bersumpah demi leluhur De Luca, aku akan membunuhmu setelah ini, Bianca."
"Eits, jangan gitu! Kalau tubuhku mati, kamu mau selamanya pakai daster bunga matahari ini?"
Lorenzo terdiam. Sebuah ancaman yang lebih menakutkan daripada perang antar klan mafia baru saja nyata di depan matanya: Menjadi gadis semprul asal Indonesia selamanya.
Benvenuti al manicomio. Selamat datang di rumah sakit jiwa bernama takdir.