"Suuut" lelaki itu membekap Garima dengan telapak tangan besarnya, mereka saat ini tengah berada gang kecil penuh dengan kupu - kupu malam yang dengan gamblang menjajahkan tubuhnya.
Tubuh Garima bergetar karena ketakutan, matanya menatap lelaki misterius didepannya itu dengan melotot "siapa dia ?, apa dia seorang penjahat ?" gumam Garima dalam hati.
"Tuhan tolong aku" jerit batin Garima kembali, tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang banyak membuat seluruh gang sempit dan kumuh itu menjadi ramai.
Para wanita yang sedang menjalankan pekerjaannya lari terbirit - birit karena kehadiran beberapa orang yang sedang mencari seseorang.
Lelaki itu mendorong tubuh Garima membuat rumah kecil milik Garima terbuka dan dia dengan sengaja mencium bibir Garima saat salah satu lelaki berambut gondrong memperhatikan mereka.
Garima terkejut dengan aksi lelaki didepanya itu hingga dia tidak bisa berkata apa - apa dan bingung akan melakukan apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukapena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Terngiang diotaknya
Seorang laki - laki tengah meneguk segelas air putih disebuah dapur mewah, dengan gelapnya malam dan mengandalkan cahaya rembulan yang menyinari jendela dapur tersebut tanpa lelaki itu sadari ada sepasang mata melihatnya sedari tadi.
Lampu dapur tiba - tiba menyala membuat lelaki tampan yang sedang memegang gelas terkejut bukan main "Loka kau kah itu ?" Loka melihat pada sumber suara dan benar saja didekat pintu penghubung dapur dengan ruang tengah rumahnya berdiri seorang wanita cantik walaupun usianya tidak mudah lagi.
Loka tersenyum kemudian mencuci gelas yang dia pakai dan segera menghampiri wanita yang telah melahirkannya "mama baik - baik saja ?" ucapnya sambil memeluk tubuh mamanya dengan lembut dan mencium kedua pipi wanita yang Loka panggil dengan sebutan mama.
"Akhirnya kau pulang juga, apa pekerjaanmu sudah selesai ?" Loka mengendikan bahu cuek, kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamar pribadi miliknya "belum, aku akan menetap selama beberapa bulan dikota ini karena ada pekerjaan" Sasmi menghela nafasnya mendengar jawaban dari anak lelaki kesayanganya itu.
"Lebih baik dulu tidak ku izinkan dia bekerja seperti ini, setiap hari bergelut dengan kejahatan dan bisa kapan saja terluka" gumam Sasmi dengan sedikit menyesal namun dia juga bangga jika anaknya berhasil mengungkap kejahatan dinegara tempat dia dilahirkan.
Loka merebahkan tubuh pada ranjang kingsize miliknya itu kemudian mulai mengangkat kedua tangan miliknya untuk ia gunakan sebagai bantalan "benar - benar wanita licik" gumam Loka dengan sedikit emosi.
Matanya menatap langit - langit kamar dengan diam, seketika kejadian yang baru saja dia alami kembali melintas diotaknya membuat Loka tersentak "siapa dia ?" gumam Loka dengan lirih, Loka masih mengingat warna mata dan bentuk alis wanita tersebut.
Loka kembali mengingat rasa bibir merah yang sangat manis membuatnya kembali bergairah "astaga sepertinya otakku sedang tidak berfungsi dengan baik" ucapnya dengan kesal, loka bangkit dari ranjang besar itu kemudian pergi masuk ke dalam kamar mandi.
"Sepertinya mandi dengan air dingin bisa membuat fikiranku kembali normal" ucapnya sembari membuka pintu kamar mandi, tidak berapa lama terdengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi.
Pintu kamar Loka terdengar terbuka dan betul saja ada seseorang yang masuk ke dalam kamar Loka, ibu Loka mendengar suara air yang jatuh kelantai kamar mandi menandakan anaknya itu sedang mandi.
Sasmi segera mengambilkan pakaian untuk Loka menyiapkannya diatas tempat tidur menunggu Loka selesai dengan ritual mandinya itu, tidak lama kemudian suara air berhenti dan benar saja Loka sudah membuka pintu kamar mandi yang menandakan acara mandinya sudah selesai.
Loka terkejut saat melihat mamanya tengah duduk diatas tempat tidur sambil tersenyum melihat dirinya "mama belum tidur ?" Sasmi menggeleng sambil tersenyum kemudian menyerahkan piyama yang sudah dia siapkan untuk anak bujangnya itu.
"Mama ingin bicara denganmu" Loka mengetahui arah pembicaraan mereka nanti "jika mama menyuruhku segera menikah lebih baik mama istirahat saja sekarang karena aku tidak minat membicarakan hal itu" Sasmi yang mendengar ucapan Loka seketika berkacak pinggang.
"Kau memang sangat meyebalkan seperti papamu" Loka hanya diam dan berkacak pinggang "adik - adikmu sudah memiliki pasangannya masing - masing dan bulan depan Yanuar juga akan menikah, Loka jangan buat mama menunggu cucu dari kamu terlalu lama" Loka menghela nafasnya dengan lelah.
Demi tuhan dia ingin beristirahat saat ini tetapi kenapa malah diajak argumentasi dimalam hari "ma biarkan adik - adikku menikah aku akan merestui mereka, lagipula pekerjaan Loka masih seperti ini jadi akan sangat kasihan nanti pada istri Loka jika sering Loka tinggal untuk tugas bukan ?" Sasmi menghela nafasnya dengan kesal.
"Lagi - lagi pekerjaan yang kau buat alasan untuk tidak segera menikah, Loka dengar mama bicara. ke dua adikmu sudah menikah dan sekarang adik bungsumu Yanuar juga akan menikah bulan depan" Loka memberi intruksi pada wanita yang sangat dia hormati itu untuk berhenti bicara.
kemudian dia berbalik badan untuk masuk ke dalam kamar mandi sembari membawa piyama yang telah ibunya siapkan "JANGAN MENGHINDARI MAMA, APA JANGAN - JANGAN YANG BIMA KATAKAN DUA BULAN YANG LALU ITU SUATU KEBENARAN ?" Loka mendengar suara mamanya sedikit meninggi membuat dia mulai mengingat tentang perkataan Bima pada ibunya itu.