NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Tinggal di Rumah Suami

"Lo kenapa senyum-senyum sendiri?"

Zahra langsung memasang muka datar. "Gue nggak senyum."

"Zah." Suara Sinta di telepon tidak percaya. "Gue kenal lo dari SMA. Gue tau bedanya suara lo yang biasa sama suara lo yang lagi nahan senyum."

"Lo kebanyakan imajinasi."

"Lo baru nyebut nama dia tiga kali dalam lima menit."

Zahra membuka mulut. Menutupnya. Menatap langit-langit kamar baca yang sekarang sudah jadi tempat favoritnya.

"Gue cuma cerita," kata Zahra defensif.

"Iya. Cerita tentang dia. Tiga kali. Lima menit." Sinta jedain. "Zahra Aldiva Hendra, jangan sampe lo jatuh cinta sama suami lo sendiri sebelum kalian—."

"Gue nggak jatuh cinta."

"Gue nggak bilang lo jatuh cinta. Gue bilang jangan sampe."

Zahra menutup telepon dengan alasan baterai mau habis padahal masih delapan puluh persen.

.

.

.

Dua hari setelahnya, Rafandra berubah. Bukan drastis. Tapi ada sesuatu yang bergeser seperti termostat yang tadinya di angka biasa tiba-tiba diturunkan beberapa derajat.

Dimulai dari pagi itu. Zahra turun ke dapur jam tujuh, mau mulai ngerjain skripsi dan butuh kopi dulu sebelum otaknya bisa diajak kerja sama. Mbak Reni belum datang. Dapur sepi.

Yang tidak sepi, Rafandra masih ada. Biasanya jam segini dia sudah pergi. Tapi pagi itu dia masih di meja makan, laptop terbuka, telepon di telinga, bicara cepat dengan suara yang rendah.

Zahra masuk pelan, langsung ke mesin kopi. Rafandra melirik sekilas lalu kembali ke laptopnya. Zahra membuat kopi, duduk di island counter, buka laptopnya sendiri.

Sampai Rafandra menutup teleponnya dan tanpa mendongak berkata:

"Jangan pakai ruang baca hari ini."

Zahra menoleh. "Hah?"

"Ada yang perlu aku kerjakan di sana." Masih tidak mendongak. "Pakai ruang tamu atau kamarmu."

Bukan minta tolong. Bukan "kalau bisa." Hanya pernyataan datar dan final.

Zahra menatap punggung laptopnya sebentar. "Oke," jawabnya pelan.

Rafandra tidak merespons. Jarinya sudah kembali mengetik.

Zahra pindah ke ruang tamu dan menghabiskan dua jam bergulat dengan bab tiga skripsinya yang tidak mau kooperatif. Tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.

Rafandra tidak salah rumah ini rumahnya, dia berhak pakai ruang apapun. Tapi caranya bilang tanpa tanya, tanpa "boleh nggak", hanya instruksi itu yang mengganjal.

"Ini yang orang maksud waktu bilang dia dominan."

Bukan marah. Bukan takut. Lebih ke diingatkan bahwa di rumah ini ada hierarki yang tidak pernah diucapkan tapi selalu ada.

.

.

.

Makan siang, Rafandra tidak muncul. Mbak Reni bilang Bapak minta makan di studio saja. Zahra makan sendirian di meja panjang itu dengan lauk yang terlalu banyak untuk satu orang.

Sore harinya Zahra ke dapur untuk bikin teh dan hampir menabrak Rafandra yang berdiri di depan kulkas.

Tapi yang Zahra lihat bukan Rafandra yang biasa. Lelah. Bukan lelah yang ditutupi ketegasan. Ini lelah yang kelihatan di garis matanya yang lebih dalam, di bahunya yang tidak setegak biasanya. Dia menutup pintu kulkas dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya, menuang air putih, meminumnya berdiri sambil menatap ke luar jendela dengan tatapan yang tidak fokus ke mana-mana.

Zahra berdiri di ambang dapur. Rafandra belum menyadarinya.

"Mundur atau masuk?" Kakinya memilih masuk.

"Om udah makan siang?" tanyanya.

Rafandra menoleh. Matanya langsung kembali ke posisi default.

"Sudah."

"Masih ada ayam goreng kalau mau."

"Tidak perlu."

Zahra mengangguk, menyalakan ketel. Hening sebentar.

"Om ada masalah hari ini?" tanyanya tanpa menoleh.

"Kenapa?"

"Kelihatan capek."

"Urusan kantor."

"Yang bikin Om minta gue nggak pakai ruang baca tadi?"

"Ada konferensi video yang perlu privasi," jawabnya. Bukan meminta maaf. Tapi penjelasan dan dari Rafandra, penjelasan sudah berarti lebih dari yang dia sadari.

Zahra mengaduk tehnya.

"Lain kali bilang aja, Om." Dia menatapnya sebentar.

"Nggak harus langsung instruksi gitu. Gue bukan karyawan Om." Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang direncanakan.

Zahra sudah bersiap untuk dingin yang lebih dalam. Untuk ekspresi yang menutup rapat. Tapi Rafandra diam. Lama.

"Kamu benar," katanya akhirnya.

Zahra menatapnya.

"Itu kebiasaan yang sulit diubah." Nadanya bukan membela diri lebih ke mengakui. "Tapi kamu benar."

Zahra tidak tahu harus merespons apa. Karena dia tidak menyangka Rafandra akan bilang itu.

.

.

.

.

Makan malam lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena marah tapi karena keduanya sedang mencerna percakapan tadi dengan caranya masing-masing.

Di tengah makan, Rafandra berbicara tanpa mendongak. "Besok ada acara. Malam. Kamu perlu hadir."

"Acara apa?"

"Gala dinner. Relasi bisnis." Rafandra menatapnya. "Sebagai istri, kehadiranmu akan diperhatikan."

'Sebagai istri.' Dua kata yang mengingatkan Zahra bahwa di luar rumah ini, ada dunia yang melihat mereka sebagai pasangan.

"Gue harus pakai apa?"

"Formal. Gelap lebih baik." Rafandra kembali ke makanannya. "Aku minta tim dikirimkan besok pagi."

"Tim?"

"Stylist. MUA."

Zahra menatapnya. Lalu meja. Lalu menatapnya lagi.

" Dia udah atur semua itu tanpa tanya gue dulu."

"Om." Dijaga sebaik mungkin. "Lain kali, tanya dulu sebelum atur sesuatu yang menyangkut gue. Gue mungkin punya preferensi sendiri."

Sendok Rafandra berhenti sedetik. Lalu dia meletakkannya. Menatap Zahra dengan tatapan yang untuk pertama kali terasa seperti benar-benar melihat, bukan hanya mengamati.

"Kamu punya preferensi untuk besok malam?" tanyanya.

"Belum tau. Tapi setidaknya gue mau dikasih kesempatan buat punya preferensi."

Hening tiga detik.

"Baik," kata Rafandra. Singkat. Tapi bukan penolakan melainkan penerimaan dari seseorang yang tidak terbiasa menerimanya.

Zahra mengangguk. Melanjutkan makannya.

Di dalam dadanya ada sesuatu yang berdegup lebih kencang dari seharusnya bukan karena takut. Tapi karena dia baru saja mendorong balik.

Dan Rafandra tidak roboh. Dia menerima.

"Mungkin," pikir Zahra, "pria ini lebih bisa diajak bicara dari yang gue kira."

"Atau mungkin gue yang terlalu cepat mengambil kesimpulan."

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!