Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Sekte Daging Berakar dan Tiga Bidak Catur
Malam itu, aku duduk di ruang bawah tanahku, menatap tiga benda mati yang tergeletak berdampingan di atas meja kayuku. Sekeping koin emas berlogo badut dari Loki Familia, sebuah nota hangus berlambang palu dari Hephaestus, dan kelopak mawar perak yang memantulkan cahaya redup, tanda mata dari Sang Dewi Kecantikan, Freya.
Ketiga faksi raksasa Orario kini menodongkan senjata mereka ke kepalaku, masing-masing dengan tuntutan yang berbeda.
Jika aku ingin selamat, aku tidak bisa membiarkan mereka terus fokus pada sosok Anonym. Aku harus memberi mereka musuh bersama. Sebuah bayangan ancaman yang begitu mengerikan, hingga Finn, Tsubaki, dan Freya tanpa sadar akan mengarahkan pandangan mereka menjauh dariku dan menatap ke arah yang sama: sisa-sisa Evilus, faksi gelap penyembah kejahatan di Orario yang belakangan ini mulai berani bergerak lagi.
Aku akan menggunakan fiksiku untuk menanamkan doktrin ketakutan ke dalam benak para pimpinan Orario. Aku akan memperkenalkan adaptasi dari Disciples of Sanctus Medicus—Sekte Pemuja Keabadian.
Pena buluku menyentuh perkamen, dan aku mulai merangkai kepingan konflik baru untuk jilid ketiga.
"Kehancuran Kuintet Awan Tinggi bukanlah akhir dari kutukan Pohon Keabadian, melainkan awal dari wabah yang lebih sunyi. Di sudut-sudut gelap kota, sekelompok manusia yang putus asa akan kematian dan penyakit mulai memuja sisa-sisa darah Shuhu. Mereka menamakan diri mereka 'Murid Keabadian'."
"Mereka menolak senjata tempaan, menganggap besi dan baja sebagai alat kaum fana yang lemah. Sebaliknya, mereka meminum getah beracun dari Dungeon, membiarkan tubuh mereka bermutasi. Tulang mereka menembus kulit menjadi pedang bergerigi, dan daging mereka merajut kembali setiap kali terkoyak. Namun, harga dari keabadian itu adalah hilangnya kemanusiaan dan keindahan batin mereka. Wujud mereka berubah menjadi gumpalan daging berakar yang menjijikkan, sebuah penghinaan mutlak terhadap estetika dan keindahan ciptaan para Dewa."
Aku tersenyum tipis melihat paragraf ini.
Kalimat menolak senjata tempaan adalah surat jaminan untuk Tsubaki. Ini akan memastikan Hephaestus Familia tahu bahwa sekte ini bukanlah kelompok pandai besi gelap, melainkan monster biologis. Pasar senjata Orario tidak akan terpengaruh.
Sedangkan deskripsi wujud yang menjijikkan dan penghinaan terhadap keindahan adalah kail khusus untuk Freya. Sang Dewi Kecantikan sangat memuja jiwa yang bersinar dan wujud yang elegan. Membaca eksistensi makhluk yang merusak konsep keindahan akan membangkitkan rasa jijik dan kemarahannya. Jika Freya mencium aroma makhluk seperti ini—atau faksi Evilus yang mencoba menirunya—di Orario, ia akan mengerahkan pasukannya untuk membumihanguskan mereka tanpa ampun.
Kini, saatnya memberi makan Finn Deimne sang Braver.
"Menghadapi pasukan Murid Keabadian yang tidak takut mati dan bergerak tanpa formasi, barisan pertahanan standar adalah bunuh diri. Pasukan yang kacau akan menghancurkan kedisiplinan phalanx. >
"Di sinilah Jing Yuan, sang Divine Foresight, menunjukkan kengerian taktiknya. Ia tidak menyuruh pasukannya bertahan. Ia menggunakan taktik 'Bulan Sabit Cekung'. Ia sengaja membuka celah di tengah barisannya, membiarkan monster-monster abadi itu merangsek masuk dengan liar ke dalam 'perut' pasukannya."
"Begitu musuh masuk ke titik buta dan terkepung di tiga sisi, Jing Yuan menutup formasi belakang. Ia tidak menggunakan serangan fisik yang bisa disembuhkan oleh musuh, melainkan memerintahkan rotasi penyihir api (Mage) secara beruntun. Api tidak menebas; api membakar sel hingga menjadi abu. Serangan area terkonsentrasi di ruang tertutup itu mengubah formasi Bulan Sabit menjadi tungku pembakaran raksasa, mengkremasi keabadian musuh sebelum mereka sempat beregenerasi."
Aku meletakkan penaku dengan napas memburu. Taktik kantong kosong atau jebakan bulan sabit adalah salah satu strategi peperangan asimetris yang paling mematikan jika dieksekusi dengan timing yang tepat. Finn akan langsung memahami potensi manuver ini untuk menjebak gerombolan monster lantai menengah Dungeon yang sering menyerang tanpa pola.
Seminggu kemudian, setelah naskah itu didistribusikan melalui jaringan bar The Rusty Coin, efek domino dari tulisanku mulai terlihat di permukaan Orario.
Siang itu, saat aku sedang membeli roti di alun-alun kota, aku melihat pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding.
Sepasukan penuh Loki Familia, dipimpin langsung oleh Finn Deimne dan Riveria, berbaris keluar kota menuju pintu masuk Dungeon. Namun, yang membuat gempar penduduk kota bukanlah ekspedisi mereka, melainkan kelompok yang berjalan dalam jarak aman di belakang mereka.
Itu adalah Ottar sang Raja, Level 7 dari Freya Familia, memimpin para Bringar (saudara kembar dari ras Prum) dengan wajah sedingin es.
Kedua Familia yang biasanya saling bersaing sengit itu kini bergerak ke arah yang sama.
"Kau dengar rumornya?" bisik seorang pedagang roti padaku, wajahnya pucat. "Loki Familia menemukan sebuah laboratorium rahasia milik Evilus di lantai 18. Kabarnya, orang-orang berjubah hitam itu sedang mencoba bereksperimen menggabungkan tubuh mereka dengan tanaman Dungeon penyerap darah."
Aku terdiam, menggigit bibirku kuat-kuat agar ekspresiku tidak goyah.
Guild dan Familia besar telah membaca naskahku. Dan alih-alih mengejarku, paranoid mereka mengambil alih. Mereka berasumsi bahwa Anonym menuliskan taktik dan deskripsi sekte itu karena Anonym mengetahui rencana rahasia faksi Evilus di dunia nyata. Freya yang jijik dengan prospek monster daging, dan Finn yang waspada terhadap taktik bunuh diri massal, langsung bertindak proaktif.
Mereka menjadikan fiksiku sebagai buku ramalan militer.
Aku melangkah menjauh dari keramaian, berjalan menyusuri gang dengan detak jantung yang memekakkan telinga. Aku berhasil. Aku menggeser papan catur itu. Dengan menempatkan ancaman fiktif yang kebetulan menyerupai eksperimen gelap Evilus, aku telah mengarahkan tombak para Dewa menjauh dari leherku.
Namun, saat aku membuka pintu rumah sewaku dan masuk ke dalam, hawa dingin yang tak wajar menyapaku.
Di atas meja kerjaku, tepat di samping tumpukan perkamen kosong, tergeletak sebuah benda asing yang tidak pernah kuletakkan di sana.
Sebuah topeng kayu berwarna putih pucat. Topeng polos tanpa ukiran hidung atau mulut, hanya memiliki satu lubang mata berbentuk bulan sabit. Itu bukanlah topeng milik Loki, Hephaestus, ataupun Freya. Itu adalah topeng pembunuh bayaran tingkat tinggi dari faksi dunia bawah Orario.
Di bawah topeng itu, terdapat selembar kertas yang robek kasar, ditulis dengan tinta merah yang berbau amis darah.
"Taktik Bulan Sabit-mu menewaskan dua puluh saudara kami di lantai 18 hari ini, Pencerita. Kau tahu terlalu banyak. Kami akan menemuimu saat matahari terbenam."
Napas tercekat di tenggorokanku. Aku berniat membuat umpan palsu untuk memanipulasi para pahlawan Orario. Tapi aku lupa satu hal krusial: Evilus ternyata benar-benar ada, dan mereka baru saja mengira aku adalah mata-mata super yang membocorkan operasi rahasia mereka kepada Guild.
Permainan bertahan hidupku baru saja naik ke tingkat neraka