Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32: Sandera dalam Jaringan
Suasana di ruang tamu rumah kami berubah mencekam. Pesan ancaman di ponsel Kak Hazel seolah membekukan udara di sekitar kami. Kak Hazel, yang tadi malam masih ingin menghancurkan wajah Lukas, kini justru menggenggam kunci mobilnya dengan tangan gemetar karena cemas.
"Rea, tetap di sini. Kunci semua pintu!" perintah Kak Hazel. Suaranya tidak lagi penuh amarah, tapi penuh otoritas pelindung.
"Tidak, Kak! Aku ikut!" seruku sambil mengambil jaket. "Lukas dalam bahaya. Aku harus tahu dia di mana!"
Kami tidak punya waktu untuk berdebat. Kami meluncur membelah kemacetan Jakarta menuju hotel tempat Lukas menginap. Di sepanjang jalan, aku terus mencoba menghubungi nomor Lukas. Hasilnya nihil.
Namun, saat kami hampir sampai, ponselku bergetar. Sebuah panggilan dari nomor luar negeri—Hangzhou.
"Halo? Rea?" Itu suara asisten teknis Lukas di China, suaranya terdengar panik. "Sistem pusat kita di-hacked total. Tapi ada yang aneh, penyerangnya meninggalkan jejak digital yang mengarah ke lokasi fisik di Jakarta. Mereka tidak mencuri data, mereka mencari lokasi GPS real-time milik Pak Lukas!"
Jantungku berdegup kencang. "Mereka sudah menemukannya? Di mana dia sekarang?"
"Sinyal terakhirnya ada di lantai basement hotel. Rea, tolong, panggil keamanan!"
Begitu mobil Kak Hazel berhenti di depan lobi hotel, aku langsung melompat keluar bahkan sebelum mesin mati. Kami berlari menuju lift, tapi lift terkunci secara otomatis—semua sistem digital hotel tampaknya telah diambil alih.
"Tangga darurat!" teriak Kak Hazel.
Kami berlari menuruni tangga menuju basement P3. Suasana di bawah sana sangat sunyi, hanya ada dengung mesin ventilasi dan deretan mobil mewah yang membisu. Di ujung lorong dekat pilar beton besar, aku melihat mobil hitam Lukas. Pintunya terbuka lebar.
"Luq!" teriakku.
Aku melihatnya. Lukas sedang berlutut di lantai beton, napasnya tersengal. Di depannya berdiri dua pria berjaket gelap, dan salah satunya memegang sebuah perangkat elektronik yang terus berkedip merah—alat pelacak frekuensi tinggi. Di sudut lain, Elena berdiri dengan wajah pucat, tampak gemetar memegang ponselnya.
"Elena?" aku tertegun. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku... aku tidak bermaksud seperti ini, Rea!" Elena terisak. "Aku hanya ingin memberikan pelajaran pada Lukas karena sudah mempermalukanku semalam. Aku menghubungi pesaing bisnisnya di China untuk memberikan info lokasinya... tapi aku tidak tahu mereka akan mengirim orang-orang ini!"
Salah satu pria berjaket gelap itu mengeluarkan sebuah alat setrum listrik.
"Lukas Arkan, berikan kunci enkripsi utama Arkan-Predictive sekarang, atau kita selesaikan ini dengan cara kasar."
Lukas mengangkat wajahnya. Bibirnya yang sudah pecah karena pukulan Kak Hazel semalam kini berdarah lagi. Namun, matanya tetap tajam. "Kunci itu tidak ada padaku. Kunci itu ada di tempat yang tidak akan pernah bisa kalian sentuh."
"Jangan bohong!" Pria itu maju, hendak menghantamkan alat setrum itu ke leher Lukas.
"Berhenti!" Kak Hazel muncul dari balik pilar, memegang kunci roda yang diambilnya dari bagasi mobil. "Lepaskan dia!"
Kedua pria itu menoleh. Salah satunya tertawa meremehkan. "Lihat ini, ada pahlawan kesiangan."
Dalam hitungan detik, perkelahian pecah. Kak Hazel, dengan kemarahan yang tertahan sejak semalam, menerjang pria pertama. Meskipun pria itu terlatih, Kak Hazel memiliki kekuatan kasar dari tahun-tahun bekerja di bengkel. Sementara itu, aku berlari menghampiri Lukas.
"Luq! Kamu tidak apa-apa?" aku memegang bahunya.
"Rea... pergi dari sini! Ini jebakan!" Lukas berusaha berdiri, tapi dia tampak lemas—tampaknya mereka sudah sempat memukulnya sebelum kami datang.
Pria kedua bergerak cepat ke arah kami. Dia menarik lenganku dengan kasar, menjadikanku Sandera. "Berhenti melawan, atau gadis ini yang jadi korban!"
Kak Hazel dan Lukas membeku. Pria itu menempelkan alat setrum tepat di dekat leherku. Aku bisa merasakan hawa dingin dari logam itu.
"Jangan sentuh dia," suara Lukas berubah menjadi sangat rendah dan dingin. Itu adalah suara yang belum pernah kudengar sebelumnya—bahkan lebih dingin dari citra CEO-nya. "Jika ada satu goresan saja di kulitnya, aku bersumpah tidak ada satu pun dari kalian yang akan keluar dari sini dengan selamat."
"Berikan kodenya, Lukas!" teriak pria itu.
Lukas perlahan merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna perak. "Ini kodenya. Ambil, dan lepaskan dia."
Saat pria itu lengah dan hendak mengambil flashdisk tersebut, Lukas melakukan gerakan yang sangat cepat. Dia menendang lutut pria itu, lalu menarikku ke pelukannya. Di saat yang sama, Kak Hazel menghantamkan kunci roda ke punggung pria tersebut sampai jatuh tersungkur.
Suara sirine polisi mulai terdengar menggema di basement. Tampaknya pihak hotel akhirnya berhasil memulihkan sistem keamanan dan memanggil bantuan. Kedua pria itu menyadari situasi sudah tidak terkendali dan mencoba melarikan diri menuju mobil mereka, meninggalkan Elena yang jatuh terduduk sambil menangis.
Lukas tidak mengejar mereka. Dia justru memelukku sangat erat, membenamkan wajahnya di bahuku. Tubuhnya gemetar. "Maafkan aku, Rea... Maafkan aku sudah membawamu ke dalam kekacauan ini."
Aku membalas pelukannya, menghirup aroma parfumnya yang kini bercampur dengan bau debu dan keringat. "Aku aman, Luq. Kita semua aman."
Kak Hazel berdiri beberapa langkah dari kami, napasnya memburu. Dia membuang kunci rodanya ke lantai beton dengan dentang yang keras. Dia menatap Lukas cukup lama. Kemarahan semalam seolah luntur, digantikan oleh kesadaran baru.
"Luqman," panggil Kak Hazel.
Lukas melepaskan pelukannya dan berdiri tegak menghadap Hazel. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Terima kasih, Zel. Kamu benar... aku membawa bahaya bagi Rea. Jika kamu ingin aku pergi sekarang, aku akan pergi."
Hazel berjalan mendekat, lalu tiba-tiba dia menepuk bahu Lukas dengan tangan yang masih gemetar. "Aku masih marah padamu soal Rea. Sangat marah. Tapi melihatmu tadi siap menyerahkan segalanya demi dia... aku sadar kamu memang sudah gila."
Hazel menarik napas panjang. "Jangan pergi. Kalau kamu pergi sekarang, mereka akan lebih mudah memburumu. Kita selesaikan ini bersama. Sebagai sahabat. Seperti dulu di bengkel dan di kafe."
Lukas menatap Hazel dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mengangguk pelan.
"Terima kasih, Zel." ucapnya
Kami bertiga berdiri di sana, di tengah basement yang dingin, saat polisi mulai berdatangan. Episode 32 ini berakhir bukan dengan kemenangan besar, tapi dengan rekonsiliasi yang lahir dari bahaya. Lukas Arkan mungkin seorang CEO jenius, tapi di mata Hazel, dia kembali menjadi Luqman—si tukang bengkel keras kepala yang akan melakukan apa saja demi orang-orang yang dicintainya.
Namun, di sudut kegelapan, Elena menatap kami dengan tatapan penuh kebencian dan penyesalan. Dia tahu, perbuatannya malam ini tidak hanya menghancurkan reputasinya, tapi juga telah memperkuat ikatan antara aku, Lukas, dan Hazel yang sebelumnya sempat retak.
"Ini belum berakhir," bisikku pada diri sendiri saat melihat polisi memborgol salah satu penyerang yang tertangkap. Perjalanan menuju episode 80 baru saja dimulai, dan musuh kami kini bukan lagi sekadar masa lalu, melainkan dunia nyata yang kejam.