⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga
Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.
Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...
Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.
Dua pria, satu wanita.
Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Tinggal
Di tengah-tengah makan, Zyro tiba-tiba mengangkat wajahnya dan bertanya pada Valencia dengan nada penasaran namun serius.
"Valen... setelah nanti kita menikah, kamu ingin tinggal dimana? Apakah kau akan tinggal bergiliran? Misalnya dua hari di tempatku, lalu dua hari di tempat Ansel, begitu terus?" tanyanya.
Belum sempat Valencia menjawab, Ansel sudah lebih dulu menyahut dengan nada sedikit mengejek namun tetap lembut.
"Apakah otakmu itu tidak bisa berpikir yang lebih rasional dan masuk akal sedikit saja, Zyro? Dasar pemikiranmu itu sempit sekali," kata Ansel sambil menggelengkan kepalanya.
Valencia tersenyum melihat pertengkaran kecil mereka, lalu menoleh menatap Zyro dengan tatapan lembut namun tegas.
"Memang benar kata Ansel, Zyro. Aku juga tidak ingin seperti itu, aku tidak mau harus kesana-kemari berpindah-pindah tempat tinggal seperti orang yang tidak punya rumah tetap. Bisakah kita tinggal bersama saja? Bertiga di satu rumah yang sama? Bukankah itu jauh lebih baik dan menyenangkan?" usulnya tulus.
Ansel dan Zyro seketika berhenti mengunyah. Mereka mengangkat wajah dan menatap Valencia secara bersamaan dengan tatapan takjub dan senang. Sepertinya ide itu adalah hal terbaik yang pernah mereka dengar selama ini.
"Kalau begitu, biar aku yang mencarikan dan menyiapkan tempat tinggal yang cocok dan nyaman untuk kita ," ucap Ansel dengan cepat dan penuh semangat, seolah tidak mau kalah.
Valencia menatap Ansel dengan tatapan tajam namun bercanda. "Tepatnya kalian berdua, Ansel. Aku hanya ikut saja," candanya membuat mereka tertawa kecil.
Zyro yang merasa tersinggung sedikit oleh sikap Ansel yang seolah berkuasa itu langsung angkat bicara dengan nada tak terima.
"Hei, apa maksudmu seolah hanya kau yang mampu? Kau pikir aku ini miskin atau apa, Ansel? Hingga kau merasa hanya kaulah yang mampu membelikan rumah untuk istriku dan untuk kita semua?" seru Zyro dengan nada tinggi, wajahnya terlihat sedikit cemberut karena tersinggung.
Ansel terkikik melihat raut wajah Zyro yang terlihat lucu dan menggemaskan karena marah. Ia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Baiklah, baiklah... Jangan marah begitu. Kalau begitu, kita bagi dua. Semua biaya keperluan rumah itu nanti kita tanggung bersama-sama, dibagi rata antara aku dan kau. Bagaimana, setuju?" tawar Ansel dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Zyro tersenyum puas mendengarnya, lalu mengangguk mantap. "Itu baru adil," jawabnya tegas. Sementara Valencia hanya tersenyum bahagia melihat kedua pria yang dicintainya itu akhirnya sepakat dan bekerja sama demi kebahagiaan mereka bersama.
"Lusa kita cari saja tempatnya, ya," usul Ansel menutup pembicaraan mereka.
Setelah selesai makan, Valencia bangkit berdiri dari kursinya sambil merapikan sedikit pakaiannya. "Aku berangkat dulu ya, aku rasa aku sudah terlambat hari ini," katanya .
"Tidakkah kau mau menungguku sebentar? Kita bisa berangkat bersama, Valen," ucap Ansel dengan nada memohon, berusaha menahan langkah wanita itu.
Valencia menoleh sambil tersenyum tipis. "Kalau aku menunggumu lebih lama lagi, aku sudah akan sangat terlambat, Ansel. Maaf ya," jawabnya lembut namun tegas.
"Sudah, biar aku yang mengantarnya, Ansel," potong Zyro sambil ikut bangkit berdiri.
Ansel hanya menghela napas panjang lalu mengangguk pasrah. "Hm... baiklah. Hati-hati kalian," ucapnya.
Valencia mendekati Ansel untuk berpamitan. Ia menundukkan kepalanya sedikit lalu mencium punggung tangan Ansel dengan takzim sebagai tanda hormat dan kasih sayang. Namun tiba-tiba, Ansel menarik pinggang Valencia mendekat, lalu mencium bibir wanita itu dalam-dalam, bahkan sedikit menghisapnya dengan penuh rasa ingin memiliki seolah tidak ingin melepaskannya.
Ckk...
Suara decakan kesal terdengar jelas dari mulut Zyro yang sudah tidak sabar menunggu.
"Ayo, Valen. Jangan berlama-lama lagi nanti makin terlambat," seru Zyro dengan nada cemburu yang disembunyikan, lalu ia berjalan lebih dulu masuk ke kamar untuk mengambil jaket kulitnya yang tersimpan di dalam koper.
Setelah mengambil jaket dan memakainya, Zyro segera kembali ke depan, lalu menggenggam tangan Valencia dengan erat dan mengajaknya segera berangkat meninggalkan apartemen.
Tak lama kemudian, mereka tiba di lobi kantor tempat Valencia bekerja. Zyro tetap setia mengantarnya masuk hingga ke dalam gedung.
"Selamat pagi, Bu Valen," sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka dengan sopan dan ramah.
"Pagi semuanya. Terima kasih," jawab Valencia ramah sambil tersenyum menyapai mereka satu per satu.
Zyro terus mengekor di belakang Valencia dengan santai dan tenang. Memang sudah menjadi hal yang biasa baginya untuk keluar masuk kantor ini kapan saja ia mau. Semua karyawan pun sudah sangat hafal dengannya, dan mereka semua tahu betul bahwa Zyro adalah kekasih hati sekaligus pendamping hidup wanita atasan mereka itu.
Sebelum masuk ke ruang kerjanya sendiri, Valencia terlebih dahulu melewati ruangan tempat Bilqis, sekretaris kepercayaannya, bekerja.
"Bu Valen... Akhirnya Ibu masuk kerja juga," sapa Bilqis dengan nada lega namun sedikit bercampur lelah saat melihat kedatangan atasannya. Ia langsung bangkit berdiri menyambut Valencia.
Valencia menatap wajah dan tubuh sekretarisnya itu lekat-lekat, lalu berkata dengan nada prihatin. "Kau terlihat sedikit kurus, Bilqis... Apa kau tidak makan dengan benar selama aku tidak ada?"
Bilqis mendengus pelan lalu menatap Valencia dengan tatapan tak percaya. "Hm... Apa Ibu pikir aku akan bertambah berat badan atau terlihat segar begadang setiap malam dan menangani sendiri semua tumpukan pekerjaan Ibu yang menumpuk setinggi gunung itu? Rasanya kepalaku mau pecah, Bu," jawabnya dengan nada mengeluh namun bercanda.
Valencia langsung terkikik mendengar keluhan sekretarisnya itu. Ia memang dikenal sebagai atasan yang sangat baik hati, ramah, dan begitu perhatian terhadap nasib serta kondisi bawahannya. Ia tidak pernah memandang mereka sebagai orang bawahan semata, melainkan sebagai keluarga dan sahabat sendiri.
"Maafkan aku ya, Bilqis... Terima kasih banyak sudah bekerja keras menggantikan tugasku selama ini. Nanti akan aku ganti lelah mu, sekarang biar aku yang menyelesaikan sisanya," ucap Valencia lembut sambil menepuk bahu gadis itu dengan rasa terima kasih yang mendalam.
Setelah masuk dan menutup pintu ruangan kerjanya, Zyro langsung menarik tangan Valencia mendekat, menatap wanita itu lekat-lekat dengan wajah serius namun lembut.
"Valen... kapan kita akan pergi ke rumah keluargamu? Aku ingin bertemu ayahmu, menyampaikan niatku, dan meminta restu beliau secepatnya," tanyanya dengan nada penuh harap.
Valencia terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum mengerti.
"Hm... besok kita akan kesana.," jawabnya lembut. Ia lalu teringat rencana mereka sebelumnya, dan buru-buru menambahkan, " rencana kita mencari rumah diundur dulu , nanti kita bicarakan dengan Ansel"
Zyro mengangguk setuju. "Baiklah, terserah padamu saja. Nanti malam kita bicarakan dengan Ansel supaya dia juga tahu dan sepakat," sahutnya tenang.
Setelah merasa semuanya jelas, Zyro melangkah mendekat ke Valencia.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu ya. bekerja dengan tenang. Oh iya, setelah dari sini aku akan langsung menuju basecamp, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan di sana," pamitnya. Tanpa menunggu jawaban, ia mendekat sejenak, mengecup kening Valencia dengan lembut, dan mencium bibir valencia lalu bergegas keluar dari ruangan itu.