NovelToon NovelToon
DIBALIK NAMA DAN SKANDAL

DIBALIK NAMA DAN SKANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: Nanda Amalia

Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Hal Tersembunyi di Balik Ketakutan

Elora tidak pernah menyangka bahwa rasa takut bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar perasaan ingin menjauh. Jika sebelumnya ia hanya ingin aman, sekarang ia justru harus memilih bagaimana caranya tetap bertahan tanpa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Kamar hotel yang seharusnya menjadi tempat paling netral kini terasa seperti ruang yang menyimpan terlalu banyak hal yang tidak bisa ia katakan dengan bebas, terutama sejak ia tahu bahwa bukan hanya seseorang di luar sana yang mengawasinya, tapi juga seseorang di dalam ruangan ini yang tanpa sadar mulai mengatur setiap langkahnya.

Kotak itu masih berada di atas meja, tertutup setengah, seolah menjadi pengingat bahwa ada sesuatu yang belum sepenuhnya terbuka. Elora berdiri tidak jauh dari sana, menatapnya tanpa benar-benar berani mendekat lagi. Ia tahu apa yang ada di dalamnya, ia tahu setiap detail dari foto-foto itu, bahkan tanpa harus melihatnya lagi. Tapi yang lebih ia sadari adalah fakta bahwa tidak semua dari isi kotak itu sudah ia tunjukkan.

Ada yang ia simpan.

Dan ia melakukannya dengan sadar.

Ketika Arshaka masuk ke dalam kamar dengan langkah yang lebih tegas dari biasanya, Elora sudah menyiapkan dirinya untuk terlihat biasa. Bukan tenang, karena ia tahu itu tidak mungkin, tapi cukup terkendali untuk tidak memancing pertanyaan yang lebih dalam. Ia tidak ingin Arshaka melihat semua hal yang ia lihat, tidak karena ia tidak percaya, tapi karena ia tahu bagaimana pria itu akan bereaksi jika mengetahui semuanya.

Dan reaksi itu bukan sesuatu yang bisa ia kendalikan.

“Apa itu”

Suara Arshaka terdengar rendah saat tatapannya langsung jatuh ke arah meja. Elora tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mendorong kotak itu sedikit ke arahnya, memberi akses tanpa benar-benar menyerahkan semuanya. Gerakannya terlihat sederhana, tapi ada satu detail kecil yang ia jaga—beberapa foto tetap berada di bawah tangannya, tertutup sebagian, tidak cukup jelas untuk langsung terlihat.

Arshaka membuka kotak itu tanpa ragu. Satu per satu foto terlihat, dan dalam diam yang tidak panjang tapi terasa berat, suasana di ruangan itu berubah. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada reaksi berlebihan, tapi perubahan kecil di ekspresinya cukup untuk membuat Elora tahu bahwa ini sudah melampaui batas yang bisa dianggap wajar.

“Dia semakin dekat”

Kalimat itu keluar pelan, tapi cukup untuk membuat dada Elora terasa lebih sesak. Ia hanya mengangguk, menjaga wajahnya tetap netral, seolah apa yang ia lihat tidak lebih dari apa yang sudah Arshaka pahami. Padahal di dalam kepalanya, ada satu gambar yang terus muncul—foto yang tidak ia keluarkan, yang diambil dari jarak lebih dekat, dengan sudut yang tidak mungkin kebetulan.

Dan tulisan di baliknya.

Aku tahu kapan kamu sendirian

Kalimat itu tidak ia ucapkan.

Tidak ia tunjukkan.

Tidak ia bagi.

Karena ia tahu, begitu Arshaka melihatnya, semuanya akan berubah lebih cepat dari yang ia siap hadapi.

“Aku nggak ngerti dia bisa dapetin semua ini dari mana”

Elora akhirnya berbicara, memilih kalimat yang paling aman, yang tetap jujur tanpa membuka semua yang ia sembunyikan. Suaranya cukup stabil, meskipun jari-jarinya masih terasa dingin.

Arshaka tidak langsung menjawab. Ia masih menatap foto-foto itu, seperti sedang menyusun sesuatu yang lebih besar dari sekadar potongan gambar. Ketika akhirnya ia bicara, nadanya tetap sama—tenang, tapi dengan arah yang jelas.

“Ini bukan orang yang asal ikut Dia nunggu Dia tahu kapan harus dekat”

Setiap kata yang ia ucapkan hanya membuat apa yang Elora rasakan semakin nyata. Karena apa yang ia sembunyikan justru menguatkan semua itu. Orang ini bukan hanya melihat. Ia memahami. Ia memilih waktu.

Dan itu yang paling berbahaya.

“Aku nggak suka kamu sendirian di sini”

Kalimat itu datang lagi, lebih tegas dari sebelumnya, seperti keputusan yang tidak lagi bisa ditunda. Elora menoleh, mencoba menahan sesuatu yang mulai muncul di dalam dirinya—bukan hanya takut, tapi juga perasaan bahwa ruangnya semakin menyempit.

“Aku di kamar aja”

Jawabannya cepat, sederhana, dan cukup untuk menghindari pembicaraan lebih jauh.

“Itu nggak cukup”

Dan di titik itu, Elora tahu percakapan ini tidak akan berhenti hanya dengan jawaban biasa. Ia menarik napas pelan, mencoba menahan dirinya untuk tidak langsung bereaksi, tapi ada sesuatu yang mulai menekan dari dalam.

“Aku nggak bisa terus kayak gini”

Kalimat itu keluar lebih jujur dari yang ia rencanakan. Bukan sepenuhnya tentang Arshaka, tapi tentang semua yang terjadi sejak semalam. Tentang rasa takut yang belum hilang, dan tentang perasaan bahwa ia perlahan kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.

Arshaka menatapnya lebih lama.

“Kalau itu yang bikin kamu tetap aman aku nggak peduli”

Jawaban itu tidak keras, tapi cukup untuk menghentikan semua argumen yang mungkin ingin ia keluarkan. Dan untuk beberapa detik, Elora hanya diam. Karena ia tahu, jika ia mendorong lebih jauh, ia bisa saja mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia tarik kembali.

Termasuk apa yang ia sembunyikan.

Ia memilih diam.

Dan Arshaka membaca itu sebagai sesuatu yang lain.

Sementara itu, di luar gedung hotel, seseorang berdiri cukup jauh untuk tidak menarik perhatian, tapi cukup dekat untuk melihat apa yang ia butuhkan. Alven Arkana tidak terburu-buru. Ia tidak pernah bekerja dengan tergesa-gesa. Semua yang ia lakukan selalu berdasarkan waktu yang ia pilih sendiri, bukan karena keadaan.

Di tangannya, kamera kecil itu tetap aktif. Layar menampilkan gambar yang baru saja ia ambil, memperbesar detail wajah yang begitu ia kenal, membaca ekspresi yang bahkan orang lain mungkin tidak akan sadari.

Elora.

Ia mengamati lebih lama dari yang diperlukan, seolah setiap detik tambahan memberinya sesuatu yang lebih. Senyum tipis muncul di wajahnya, bukan karena puas, tapi karena ia melihat sesuatu yang ia tunggu sejak awal.

Ketakutan.

“Masih belum cerita semuanya ya”

gumamnya pelan

Ia tahu.

Bukan karena ia mendengar.

Tapi karena ia memperhatikan.

Dan selama Elora masih menyimpan sesuatu, selama ada bagian yang tidak ia bagikan, itu berarti masih ada celah. Celah yang bisa ia masuki tanpa perlu memaksa.

Tangannya bergerak mengambil ponsel. Pesan baru diketik dengan tenang, tanpa ragu, tanpa terburu-buru.

Sementara itu di dalam kamar, ponsel Elora kembali bergetar.

Satu notifikasi.

Dan entah kenapa, sebelum ia melihatnya, ia sudah tahu siapa yang mengirim.

Tangannya terasa lebih berat saat ia membuka layar. Dan ketika pesan itu muncul, tubuhnya langsung menegang.

—Kamu nggak cerita ke dia ya

Napasnya tertahan.

—Bagus Aku lebih suka kita berdua aja yang tahu

Elora tidak bergerak.

Tidak bicara.

Tidak bernapas dengan normal.

Karena di titik itu—

ia tidak hanya merasa diawasi

Ia merasa dipahami

Dan itu jauh lebih menakutkan

Arshaka yang berdiri tidak jauh darinya menyadari perubahan kecil itu. Cara Elora diam lebih lama dari sebelumnya, cara tangannya sedikit mengencang saat memegang ponsel, dan cara napasnya yang tidak lagi stabil seperti beberapa menit yang lalu.

“Ada apa”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi cukup untuk membuat Elora kembali ke satu pilihan yang sama.

Mengatakan semuanya

atau

menyimpannya lebih dalam

Dan untuk kedua kalinya hari itu

ia memilih diam

“Nggak apa apa”

jawabnya pelan tanpa menatap langsung

Sebuah kebohongan kecil

Tapi cukup untuk mengubah segalanya

Karena di saat yang sama

Arshaka mulai menyadari satu hal

bahwa bukan hanya ada seseorang di luar sana yang mendekat

tapi juga ada sesuatu di antara mereka

yang perlahan mulai tersembunyi

Dan sejak saat itu

ini bukan lagi hanya tentang ancaman

tapi juga tentang kepercayaan

yang mulai retak tanpa suara

Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌

See you di bab selanjutnya...

1
T28J
hadiir kk 👍
T28J
aw.. aw.. aw👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!