Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Meja Makan yang Dingin
Sinar matahari pagi menembus jendela besar mansion Jacob, menyinari lantai marmer yang mengkilap. Vanya menuruni anak tangga dengan langkah ragu. Rambutnya tertata rapi, namun lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa sepenuhnya ditutupi oleh riasan tipis. Saat mencapai ruang makan, suara tawa ringan terdengar.
Vanya melihat Bara sedang duduk santai, tampaknya sedang menggoda Bella hingga adik bungsu Devan itu tertawa geli. Suasana itu sempat terasa hangat, sampai kehadiran Vanya disadari oleh semua orang.
"Maaf Bu, aku telat," ucap Vanya pelan sambil menundukkan kepala saat mendekati meja makan yang sudah dihadiri lengkap oleh keluarga besar Jacob.
Olivia Jacob melirik jam tangannya yang bertahtakan berlian. "Tidak apa-apa untuk hari pertama. Tapi besok jam enam kau sudah harus ada di meja makan," ucapnya tanpa ekspresi, suaranya sedingin es. "Menantu keluarga ini harus punya kedisiplinan tinggi."
"Devan mana?" tanya Davit Jacob dengan suara berat sambil melipat koran paginya. Matanya yang tajam menatap kursi kosong di samping Vanya.
Vanya meremas ujung bajunya di bawah meja, mencoba mengendalikan getaran di suaranya. "Devan... masih tidur, mungkin capek, Pa."
Bara yang duduk tepat di seberang Vanya menghentikan aktivitas makannya. Ia tahu persis bahwa sepupunya itu bahkan tidak pulang ke rumah semalam. Ia menatap Vanya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan peringatan. Namun, Bara tetap diam, membiarkan kebohongan kecil itu lewat demi ketenangan meja makan.
"Ya sudah, cepat makan," perintah Davit pendek.
Olivia menatap Vanya lagi. "Nanti jam delapan ikut Ibu ke tempat arisan. Aku ingin kau tahu apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana cara bersikap sebagai menantu keluarga Jacob di depan publik."
Tepat pukul delapan pagi, mobil mewah keluarga Jacob berhenti di lobi Hotel Golden. Vanya keluar didampingi oleh Rose, kakak iparnya. Sepanjang perjalanan, Vanya merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini bukan sekadar arisan, melainkan ajang pameran di mana ia akan kembali menjadi pusat perhatian.
"Kak Rose," bisik Vanya saat mereka berjalan menuju ballroom privat, "apa yang harus kulakukan di dalam nanti?"
Rose menoleh sekilas, wajahnya tampak datar tanpa minat untuk membantu lebih jauh. "Diam saja. Ikuti semua kata ibu mertua. Jangan melakukan apa pun tanpa perintahnya jika kau tidak mau mempermalukan dirimu sendiri lagi."
Vanya menelan ludah, berusaha mencerna nasihat yang terasa seperti ancaman itu. "Oh, baiklah."
Ia melangkah masuk mengikuti Olivia dan Rose, bersiap untuk kembali mengenakan topeng sebagai "istri pajangan" yang sempurna, sementara hatinya masih bertanya-tapa di mana suaminya berada saat
Vanya melangkah masuk ke dalam ballroom privat Hotel Golden dengan punggung tegak, mengikuti irama langkah kaki Olivia yang penuh otoritas. Ruangan itu sudah dipenuhi oleh wanita-wanita dari kalangan elit yang mengenakan pakaian desainer terbaru. Aroma parfum mahal bercampur dengan aroma teh premium memenuhi udara.
Begitu Olivia masuk, semua mata tertuju pada mereka. Bisik-bisik mulai terdengar, dan Vanya tahu betul apa yang mereka bicarakan: skandal memuakkan di pesta pernikahannya semalam.
"Ah, Olivia! Ini dia menantu barumu?" tanya seorang wanita dengan kalung mutiara besar yang tampak sangat antusias. Matanya menatap Vanya dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang menilai kualitas barang di etalase.
"Iya, Jeng Ratna. Ini Vanya Benjamin," jawab Olivia dengan senyum formal yang sangat terlatih. Ia merangkul bahu Vanya, sebuah gestur yang tampak hangat di mata orang lain, namun terasa seperti cengkeraman peringatan bagi Vanya. "Dia masih perlu banyak belajar, tapi tentu saja, dia adalah pilihan terbaik untuk Devan."
Vanya hanya bisa tersenyum kaku dan mengangguk sopan setiap kali diperkenalkan. Ia merasa seperti boneka yang sedang dipamerkan. Selama tiga jam, ia hanya berdiri diam di belakang Olivia, sesekali menuangkan teh atau mengambilkan kudapan sesuai instruksi mata mertuanya. Ia tidak diperbolehkan bicara kecuali jika ditanya, dan jawaban yang ia berikan pun harus sesingkat mungkin agar tidak salah ucap.
Pukul sebelas siang, saat acara hampir selesai, ponsel Vanya di dalam tas kecilnya bergetar berkali-kali. Ia melirik sekilas saat Olivia sedang sibuk berbincang. Ada pesan dari Sesilia, sekretaris pribadinya.
“Nona, Tuan Devan baru saja terlihat meninggalkan apartemen Nona Viona. Media sudah mulai mencium keberadaannya. Apa Anda ingin saya mengatur pengalihan?”
Vanya mematikan layar ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menoleh ke arah Rose yang duduk di sampingnya, sedang asyik memoles lipstik. Rose hanya melirik ponsel Vanya dengan tatapan mencibir, seolah berkata, 'Sudah kubilang, kan?'
Sementara itu, di sebuah kafe tersembunyi tak jauh dari Hotel Golden, Bara Jacob duduk sendirian dengan secangkir kopi hitam yang sudah dingin. Matanya tertuju pada tablet di depannya, memantau pergerakan saham dan berita terkini. Saat ia melihat foto buram Devan yang masuk ke dalam mobil di depan gedung apartemen Viona, ia mendesis pelan.
"Bodoh," gumam Bara. Ia menutup tabletnya dan segera berdiri. Ia tahu, jika Devan tidak segera ditarik pulang, posisi Vanya di meja makan malam nanti akan semakin mengerikan di bawah amukan Davit.
Bara segera melajukan mobilnya menuju Hotel Golden. Entah mengapa, ada dorongan dalam dirinya untuk menjemput Vanya sebelum wanita itu harus menghadapi badai sendirian.
Di lobi hotel, Vanya baru saja keluar bersama Olivia dan Rose. Wajah Vanya tampak pucat pasi. Saat mereka sedang menunggu mobil keluarga Jacob datang, segerombolan wartawan tiba-tiba muncul dari balik pilar hotel, langsung menyerbu mereka dengan kamera dan pertanyaan yang menyerang.
"Nyonya Vanya, benarkah Tuan Devan menghabiskan malam pertama di apartemen Viona Damian?"
"Nyonya Olivia, bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak ini setelah skandal semalam?"
Vanya terpaku. Ia merasa dunianya berputar. Kilatan lampu kamera membuatnya buta sesaat. Olivia tampak sangat marah, namun ia tetap berusaha menjaga wibawa di depan publik. Rose justru sengaja mundur satu langkah, membiarkan Vanya menjadi "perisai" bagi mereka berdua.
Tepat saat seorang wartawan hampir menyodorkan mikrofon ke wajah Vanya, sebuah tangan besar menarik bahu Vanya dan melindunginya di balik dada yang bidang.
"Cukup. Acara keluarga ini bersifat pribadi," suara berat itu terdengar sangat tenang namun penuh intimidasi.
Vanya mendongak dan menemukan Bara sudah berdiri di depannya. Pria itu menatap para wartawan dengan tatapan yang sangat dingin, membuat mereka segan untuk maju lebih dekat. Bara kemudian menoleh ke arah Olivia.
"Biar aku yang membawa Vanya pulang, Bibi. Mobil kalian sudah siap di pintu samping untuk menghindari keramaian ini," ucap Bara tanpa menunggu persetujuan.
Bara menuntun Vanya menuju mobil Sedan hitamnya yang terparkir tak jauh dari sana. Begitu pintu mobil tertutup, kesunyian menyelimuti mereka. Vanya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, bahunya mulai gemetar.
"Kenapa kau menolongku?" bisik Vanya tanpa menoleh.
Bara menyalakan mesin mobil, namun ia tidak langsung menjalankan kendaraan itu. Ia menatap lurus ke depan. "Karena di keluarga ini, hanya aku yang tahu rasanya dianggap sebagai orang asing di rumah sendiri. Berhenti menangis, Vanya. Kau harus menyiapkan dirimu. Devan sudah kembali ke mansion, dan pamanku sedang menunggunya dengan kemarahan besar."
Vanya menoleh, menatap profil samping wajah Bara yang tajam. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa di tengah badai yang menghancurkan hidupnya, ada satu jangkar yang bisa ia pegang—meskipun jangkar itu berasal dari keluarga yang paling ia takuti.
"Terima kasih, Bara," ucap Vanya tulus.
Bara hanya mengangguk pelan dan mulai menjalankan mobilnya. Perjalanan pulang ke mansion Jacob terasa sangat panjang, seolah mereka sedang menuju medan perang yang sebenarnya. Vanya tahu, setelah ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia bukan lagi sekadar istri pajangan ia kini berada di tengah pusaran kekuasaan yang bisa menelannya hidup-hidup.