Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 30 : SIDANG MAUT DI PARIS DAN AROMA TERASI
Gedung Palais de Justice berdiri kokoh di Île de la Cité, jantung kota Paris. Arsitektur Gotik dan baroknya yang megah seolah-olah memberikan beban sejarah yang berat bagi siapa saja yang melintasi lorong-lorongnya. Pagi itu, udara Paris terasa lebih menggigit dari biasanya, namun ketegangan yang dibawa oleh rombongan keluarga Arkatama jauh lebih dingin.
Devan Arkatama melangkah masuk dengan setelan jas hitam custom-made dari wol Italia terbaik. Langkah kakinya mantap, mencerminkan otoritas seorang CEO yang tidak akan membiarkan imperiumnya runtuh oleh fitnah. Di sampingnya, Anya Clarissa tampil memukau dengan setelan blazer sutra berwarna putih gading dan celana panjang senada. Wajahnya yang tenang menyembunyikan badai kekhawatiran yang sejak semalam menghantuinya.
Di belakang mereka, Mama Sarah (Nyonya Sarah Arkatama) berjalan dengan langkah cepat, mengenakan jubah bulu palsu berwarna merah marun dan tas jinjing besar yang ia peluk erat seolah-olah berisi dokumen negara paling rahasia di dunia.
Pemeriksaan keamanan di pengadilan Prancis adalah salah satu yang paling ketat di dunia. Petugas berseragam biru tua dengan wajah tanpa ekspresi berdiri di depan mesin pemindai sinar-X.
"Nyonya, mohon letakkan tas Anda di baki," ucap petugas dalam bahasa Prancis yang diterjemahkan secara otomatis oleh asisten pribadi Devan.
Mama Sarah meletakkan tasnya dengan ragu. Saat tas itu melewati mesin, monitor menunjukkan objek-objek organik berbentuk bulat dan botol-botol kecil yang tampak mencurigakan. Petugas itu mengernyitkan dahi dan meminta Mama Sarah menepi.
"Apa ini, Nyonya? Bahan kimia? Obat-obatan terlarang?" tanya petugas itu sambil membuka tas Mama Sarah.
Ia mengeluarkan sebuah toples plastik yang dibungkus plastik bening berlapis-lapis dan diikat karet gelang dengan sangat kuat. Karena penasaran dan curiga itu adalah bahan peledak atau zat berbahaya, petugas tersebut membuka ikatannya dan membuka tutup toplesnya sedikit.
BOOM!
Aroma terasi bakar yang sangat pekat, tajam, dan "eksotis" langsung meledak keluar dari toples tersebut, memenuhi area lobi pengadilan yang biasanya berbau wangi parfum Chanel dan pembersih lantai mahal.
"Ugh! Mon Dieu! Qu'est-ce que c'est?! POISON?!" (Ya Tuhan! Apa ini?! Racun?!) teriak petugas itu sambil menutup hidungnya dengan kasar dan hampir jatuh terjengkang. Petugas keamanan lainnya segera berkerumun, beberapa bahkan meletakkan tangan di gagang senjata mereka, mengira ada serangan gas air mata organik.
"Lho?! Kok rasis sama bau terasi?!" seru Mama Sarah dengan nada tidak terima. "Mister, ini sambal terasi! Original Indonesian spicy sauce! Very good for heart, very good for brain! Bikin nafsu makan naik!"
Mama Sarah malah mencoba menyodorkan toples itu ke arah hidung petugas yang sedang megap-megap. "Coba cium lagi, Mister! Ini terasi pilihan dari Udang Cirebon! Mahal ini!"
Anya segera berlari mendekat dengan wajah semerah kepiting rebus. "Ma! Ya ampun, Ma! Tutup lagi! Ini pengadilan, bukan dapur Bi Inah!"
Anya terpaksa meminta maaf berulang kali kepada otoritas keamanan. Akibatnya, "amunisi" Mama Sarah harus disita di loker khusus bahan berbahaya selama persidangan berlangsung, meninggalkan jejak aroma yang membuat setiap orang yang lewat di lobi tersebut bersin-bersin selama satu jam ke depan.
Di dalam ruang sidang nomor 4 yang megah dengan dinding berlapis kayu ek tua, suasana mendadak sunyi saat Hakim Jean-Pierre masuk ke ruangan. Valerie sudah duduk di kursi terdakwa dengan pengawalan dua petugas polisi Prancis. Ia tampak pucat namun tetap menatap Anya dengan kebencian yang tak disembunyikan.
Pengacara investor Prancis, Monsieur Dubois, memulai serangan. "Tuan Hakim, klien kami mengalami kerugian empat puluh juta Euro karena kelalaian logistik yang dilakukan oleh Arkatama Shipping Lines. Mereka mengirimkan material konstruksi yang salah dan menyebabkan proyek pembangunan pusat perbelanjaan di Marseille terbengkalai."
Devan berdiri, suaranya tenang namun mengandung getaran kekuasaan yang luar biasa. "Tuan Hakim, kami tidak pernah mengirimkan material yang salah. Kami memiliki manifes digital yang asli."
"Manifes itu bisa dipalsukan, Monsieur Arkatama!" sela Monsieur Dubois.
Tiba-tiba, Anya berdiri dari bangku saksi ahli. Ia membuka laptopnya dan menyambungkannya ke layar raksasa pengadilan. Sebagai arsitek lanskap, Anya memiliki akses ke data topografi dan citra satelit lingkungan tingkat tinggi.
"Tuan Hakim, mohon perhatikan data geologi lahan yang menjadi lokasi proyek tersebut," ucap Anya dengan suara jernih. "Saya telah membedah lapisan tanah melalui citra inframerah satelit minggu lalu. Proyek itu gagal bukan karena logistik, tetapi karena lahan tersebut adalah bekas tempat pembuangan limbah industri yang ditutupi secara ilegal sepuluh tahun lalu. Investor mitra Nona Valerie tahu hal ini, dan mereka sengaja merusak material konstruksi kami agar bisa mengklaim asuransi lingkungan dan menyalahkan suami saya sebagai kambing hitam."
Anya menunjukkan grafik kimia tanah yang menunjukkan kadar merkuri tinggi. "Ini bukan kegagalan bisnis, ini adalah kejahatan lingkungan internasional yang direncanakan secara sistematis."
Seluruh ruangan gempar. Hakim Jean-Pierre mulai memeriksa dokumen yang diberikan Anya dengan sangat teliti. Valerie yang menyadari posisinya terpojok, mulai gemetar hebat. Ia menatap ke arah pintu keluar, mencari celah.
Saat hakim sedang berkonsultasi dengan asistennya, Valerie tiba-tiba bangkit dari kursinya. Ia berhasil melepaskan tangannya dari penjagaan petugas yang sedang lengah memperhatikan layar. Dari balik saku jaketnya yang tebal, ia mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening—asam sulfat pekat yang ia dapatkan lewat selundupan di tahanan kota.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, Devan, maka tidak ada wanita penanam pohon yang boleh memilikimu!" teriak Valerie histeris.
Ia berlari menuju meja Devan dengan gerakan nekat. Namun, Anya yang sejak kecil terbiasa waspada di lokasi konstruksi yang berbahaya, memiliki refleks yang jauh lebih cepat dari siapapun di ruangan itu. Anya tidak berteriak; ia justru bertindak.
Anya melompat dari kursinya, melakukan gerakan slide di atas lantai marmer yang licin, dan tepat sebelum Valerie mencapai Devan, Anya melakukan tendangan rendah yang menyapu kaki Valerie.
BRAKK!
Valerie jatuh tersungkur. Botol asam itu terlempar ke arah lantai kosong di dekat kursi hakim, pecah berkeping-keping dan mengeluarkan asap putih yang mendesis saat memakan permukaan marmer.
Valerie mencoba bangkit dan menyerang Anya dengan kuku-kukunya, namun Anya menangkap pergelangan tangan Valerie, memutarnya dengan teknik kuncian yang pernah diajarkan Devan saat mereka di Bali, dan menekan tubuh Valerie ke lantai.
"Cukup, Valerie! Kamu sudah kalah!" desis Anya tepat di telinga Valerie.
Petugas keamanan segera mengepung mereka dan meringkus Valerie dengan lebih ketat. Devan yang sempat terpaku langsung berlari menghampiri Anya, mengangkat tubuh istrinya dan memeriksa setiap inci wajah serta tangan Anya.
"Anya! Kamu gila?! Kamu bisa terluka!" Devan berteriak, suaranya dipenuhi ketakutan yang mendalam sekaligus kekaguman.
"Aku seorang arsitek, Devan. Aku tahu kapan sebuah struktur akan runtuh, dan aku melihatnya di mata Valerie sejak tadi," jawab Anya sambil mencoba mengatur napasnya.
Hakim Jean-Pierre mengetuk palu berkali-kali dengan wajah merah padam. "Penghinaan terhadap pengadilan! Nona Valerie, Anda akan langsung dipindahkan ke penjara keamanan maksimum Fleury-Mérogis atas percobaan pembunuhan dan sabotase hukum! Persidangan ditutup dengan kemenangan mutlak bagi pihak Arkatama!"
Di luar gedung pengadilan, di bawah rintik hujan Paris yang romantis, Devan memeluk Anya dengan sangat erat di depan kerumunan media internasional.
"Terima kasih, Anya. Kamu baru saja menyelamatkan bukan cuma perusahaanku, tapi hidupku," bisik Devan.
Mama Sarah mendekat, masih merengut karena sambalnya disita. "Hebat ya menantu Mama! Tadi tendangannya kayak pemain bola profesional! Tapi Devan, kamu harus ganti rugi sambal Mama yang disita itu, harganya nggak seberapa, tapi bikinnya pakai keringat!"
Papa Arkatama yang menyaksikan lewat video call hanya tertawa bangga. "Selamat, anak-anakku. Kalian telah membuktikan bahwa kebenaran tidak bisa dibeli."
Namun, di tengah kebahagiaan itu, ponsel Devan bergetar hebat. Sebuah panggilan dari Bi Inah di Jakarta.
"Tuan Devan... Nyonya Anya... cepat pulang! Om Bram dan Rico... mereka membawa segerombolan preman dan membakar butik Mama Clarissa! Mereka bilang kalau Tuan menang di Paris, mereka akan meratakan Jakarta!"
Anya lemas, ia hampir jatuh jika Devan tidak menopangnya. Kebahagiaan mereka di Paris seketika berubah menjadi bara api.
"Kita pulang sekarang, Devan," ucap Anya dengan mata yang berkilat marah. "Jika mereka mau bermain dengan api, kita akan pastikan mereka yang akan terbakar habis."
Pekerjaan Devan sebagai CEO dan Anya sebagai arsitek kini benar-benar akan diuji dalam medan perang yang sesungguhnya di tanah air. Antara cinta, harta, dan nyawa keluarga.