Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Preman jalanan.
Langit tampak gelap namun sangat indah disaat bintang-bintang bermunculan tanpa tertutupi oleh awan, begitu juga suasana kota jakarta sinar lampu terlihat berkelipan dimalam hari.
"Kamu bukan mafia kan?"
"Kalian ngomong apa sih?" Bayu balik bertanya.
Ketiganya saling memandang satu sama lain, "kalo gitu... Kamu pasti putra pemilik restoran ini?" Kata April.
Bayu sedikit mengangkat Alisnya.
"Bukan-bukan, dia pasti putra salah satu orang terkaya di jakarta, kalau sekedar putra pemilik restoran ini, gak mungkin juga dapat minuman semahal ini", jelas Ratih menoleh kearah April lalu kearah Anita.
Anita melirik kearah Bayu.
"Udahlah... Ngapain dipikirkan, tadi kalian kan udah minum sekarang ini sebagai tambahan", jelas Bayu menatap mereka, "oh iya tadi siapa yang sedang ulang tahun?".
"Anita", jawab April setengah ragu.
Bayu membuka tutup botol kemudian menuang ke gelas dan menyerahkan pada Anita, "selamat ulang tahun".
"Udah... Aku tadi udah kebanyakan minum, lagi pula tadi kamu ngomong gadis gak baik mabuk ditempat umum kan," tolak Anita.
"Sebab kalian sudah terlanjur minum, aku anggap kalian suka minuman ini." Jawab payu sambil melipat kedua tangannya kedada.
"Ya... Kami suka siih.... Apa lagi minuman semahal ini", jawab April tersenyum.
Ratih dan Anita seketika melototi April.
"Ya udah.. semua sudah aku bayar, jadi aku pergi dulu", kata Bayu berdiri dari mejanya kemudian melangkah pergi.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah.
"Eh... Tunggu". Teriak Anita.
Bayu menghentikan langkahnya.
"Terimakasih ya... Kalau boleh tahu siapa namamu?" Lanjut Anita.
"Bayu, gak masalah", jawab Bayu tanpa menoleh dan melanjutkan langkahnya.
.........
"Boleh juga," kat Ratih sambil tersenyum.
"Apanya yang boleh?" Jawab April.
"Coba kalian pikir, dia kaya... Ada tiga wanita cantik yang sedang minum-minum, lalu ia memberikan minuman semahal ini dan pergi begitu saja, sepertinya dia memang lelaki baik", jelas Ratih.
"Iya juga sih... Dia bisa saja memanfaatkan momen ini untuk mengambil keuntungan dari kita". Jawab Anita sedikit berfikir.
"Kalau aku sih... Sangat rela walau dia mengambil keuntungan dariku... Tampan, tubuhnya kekar, kaya lagi, siapa sih cewek yang gak tergila-gila sama dia." Jelas April sambil memegang kedua pipinya.
"Kamu ini... Ngomong sembarangan aja" balas Anita.
"Udah-udah bahas yang lain aja". Kata Ratih.
"Tuang minuman.... Kapan lagi bisa minum minuman ini..." Potong April sambil meraih botol sampanye.
............
Di luar Udara mulai terasa dingin, Bayu melirik jam tangannya, pukul satu lebih dua menit, menandakan hari dan tanggal telah berganti.
ia membuka pintu mobil dan duduk di depan pintu kemudi.
"Tilulit..", ponselnya berdering dan Bayu segera mengangkat panggilan itu.
"Iya".
"Kamu suda sampai dijakarta?".
"Iya".
"Bagaimana, apakah sudah bisa menyesuaikan?".
"Masih dalam proses" jawab Bayu.
"Kakek hanya ingin mengingatkanmu, Satu jangan lupakan tugasmu, dua jangan jatuh cinta". Jelas bos Jamal.
"Aku mengerti kek", ucap Bayu yang kini tatapannya berubah tajam.
Panggilan itu pun terputus.
Sejenak Bayu masih duduk dikursi mobilnya.
Semua ingatan masalalu tiba-tiba muncul dengan sangat jelas, seolah kejadian pahit itu terjadi baru kemarin.
Ayah dan ibunya yang tiba-tiba ditemukan gantung diri tanpa motif yang jelas, namun polisi menyatakan bahwa kasusnya memang murni kasus bunuh diri. Media telah mencetak berita itu yang hingga sekarang ia masih menyimpannya meski koran itu telah usang termakan oleh waktu.
"Dua belas tahun telah berlalu, kalian kupastikan menerima konsekuensinya", gumamnya pelan, "kreeegh", genggaman tangannya semakin mengepal erat.
...........
Didalam ruang restoran mewah, tiga gadis masih meminum sampanye dan ketiganya kini benar-benar menjadi teler.
Dari ujung pintu terlihat para preman duduk di mejah sebelah, sesekali melirik kearah ketiga gadis itu.
"Kakak, sepertinya ada tiga bidadari yang turun dari kayangan sedang menikmati keindahan dunia, kita sangat beruntung malam ini", ucap salah satu anak buah preman itu.
Kesepuluh preman menatap liar kearah mereka bertiga, lidahnya menjilat bibirnya, ada juga yang menggigit bibir bawahnya sendiri.
Sedang disisi lain ketiga wanita itu sudah tak peduli dengan lingkungan disekelilingnya.
Sepuluh menit kemudian, minuman telah habis.
"Nit... Sepertinya ini sudah hampir pagi, ayo kita pulang" ucap Ratih dengan pandangan sayup dan badannya sudah tak kuat duduk tegap.
"Baiklah... Ayo kita pulang", jawab Anita meraih lengan April yang kepalanya ia taruh di meja.
Ketiganya pun berjalan keluar restoran dengan sempoyongan, tertatih-tatih saling menjaga agar tidak roboh.
Para preman jalanan diam-diam mengikuti dari belakang.
"Kakak, waktunya beraksi" ucap salah satu preman.
Sekelompok preman langsung berlari mencegat ketiganya. "Nona mau kemana?" Tanya bos preman.
"Mau cari taxi, mau pulang", jawab Ratih.
"Jam segini udah jarang taxi lewat, bagaimana kita antar saja, itu mobil kami", kata bos preman sambil menunjuk ke mobil Van hitam.
"Gak usah, kami bisa pulang sendiri", tegas Anita masih setengah teler.
Bos itu melirik anak buahnya, memberi kode agar cepat membawa mereka.
Ketiganya langsung diseret paksa menuju kearah mobil Van hitam mereka.
"Tolong...tolong..", teriak mereka bersamaan dan tak beraturan.
........
Bayu dari dalam mobil mendengar teriakan itu.
........
"Ayo cepat masuk, diwilayah ini aku penguasanya, percuma saja kalian teriak" ucap bos preman itu tersenyum sinis.
"Kalian, jika ingin bersenang-senang jangan melupakan aku", ucap Bayu yang tiba-tiba berdiri berada di belakang mereka, tanpa suara dan terdeteksi.
Bos preman itu menoleh diikuti semua anak buahnya yang berjumlah sepuluh orang, "ikut.. memangnya kau siapa?", kata bos preman mengangkat sudut bibirnya dan menyipitkan matanya.
"Jika demikian, kamu tak layak membawa mereka", jawab Bayu berdiri santai dengan memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya.
"Dasar bocah, kamu belum tahu siapa aku?", teriak bos preman itu.
"Pantas saja", jawab Bayu.
"Apa?" Tanya bos preman itu melirik anak buahnya
"Kamu sudah pikun, nama sendiri pun lupa Mala bertanya". Jelas Bayu singkat sambil tersenyum.
"Bocah, berhenti bersikap sombong dan sok pahlawan, kami salah satu cabang naga jalanan, jika kamu menyinggung kami, kamu akan menanggung resikonya", jelas bos preman itu.
"Hei... Kalian, mau ikut aku atau ikut mereka?", tanya Bayu pada ketiga gadis itu tak peduli apa yang telah dikatakan bos preman.
"Kami ikut kamu tampan", jawab April lugas dan teler.
"Hai, hai, kamu cari mati bocah!!! ", teriak bos preman itu, "Serang.....!!!!".
Bayu semakin tersenyum kemudian sudut bibirnya setengah terangkat.
Sembilan orang maju secara bersamaan.
Pukulan hampir mendarat diwajah Bayu, namun kaki telah mendahului menendang ke perut lawan, membuat Ian terlempar mundur.
Tiga pukulan dari kepalan tangan melayang
Kearah kepala, dada dan perut,.
Namun tetap saja semua pukulan itu berhenti saat kaki Bayu mendarat lebih dulu kearah perut dan lutut mereka yang membuat terjatuh seketika ke jalanan aspal.
Tak berhenti di situ saja emapat telah terjatuh, kini tinggal lima anak buah yang tersisa, Bayu bergerak cepat mendahului serangan tinju menghantam wajah dan rahang keduanya roboh, lalu sikut menghantam dada uluh hati pecah.
Tinggal dua anak buah tersisa, Bayu menyelesaikan dengan hantaman tinju kedua tangan kearah jantung keduanya, "buuk".. suara itu keras dan singkat membuat mata mereka melotot, mati tanpa sempat berkata.
Udara terasa berat walau angin malam sesekali melintas pelan, tak ada kesejukan ataupun kedinginan di wajah bos preman itu, kini yang ada hanyalah kegelisahan dan keringat mulai mengucur dari kepala jatuh melewati pipi.
Kejadian itu hanya butuh dua menit mereka semua sudah tumbang tergeletak di tanah.
"Siapa kamu?", kata bos preman itu dengan tubuh bergetar.
"Aku hanya ingin bersenang-senang dengan mereka" ucap Bayu sambil tersenyum menatap tanpa berkedip.
"Silakan ambil kakak.... Aku tak berani mengganggu, aku minta maaf... Ampuni aku", ucap bos preman itu memohon dan tiba-tiba berlutut.
"Anak baik", ucap Bayu berjalan pelan menghampiri bos preman itu, "berdirilah, gak baik sebagai bos berlutut didepan musuh" ucapnya sambil tersenyum.
Bos preman itu segera berdiri, "terimakasih kakak, aku angkan selalu ingat kebaikan kakak dan akan jadi bawahan kakak, hehe.." jawab bos preman itu tertawa canggung dan sangat legah.
"Cplaak..cplaak..!!!" Tamparan terus menerus diterima oleh bos preman membuat pipinya membengkak dan kembali terjatuh.
"Aku gak butuh bawahan, cepat pergi sebelum aku berubah pikiran" kata Bayu santai dan datar menatap tajam kearah bos preman itu.
Bos preman itu pun lari menuju mobilnya, segera masuk dan tancap gas meninggalkan semua anak buahnya yang terkapar tanpa kesadaran.
Bayu tanpa bicara membawa ketiga gadis itu masuk kedalam mobilnya, lalu menancap gas meninggalkan lokasi.
.....
Bersambung.