Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Sinar matahari Los Angeles yang keemasan menyelinap masuk melalui celah-celah gorden otomatis di apartemen penthouse Kensington.
Cahaya itu merayap pelan, membelai lantai marmer yang dingin hingga akhirnya jatuh tepat di atas ranjang king size yang luas. Suasana pagi itu begitu tenang, hanya terdengar suara sayup-sayup bising kendaraan dari kejauhan di bawah sana, kontras dengan keheningan yang menyelimuti kamar tersebut.
Di atas ranjang itu, dua manusia terbangun hampir secara bersamaan. Namun, pemandangan ini jauh dari adegan film romantis mana pun.
Tidak ada lengan yang melingkar di pinggang, tidak ada kepala yang bersandar di bahu, dan tidak ada napas yang saling bertemu di satu bantal.
Kensington terbangun di sisi kanan, tubuhnya telentang dengan mata menatap langit-langit, sementara Vera berada di sisi kiri, meringkuk di bawah selimut tebal dengan posisi yang cukup jauh—menyisakan ruang kosong yang lebar di antara mereka.
Vera mengerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang mulai meninggi. Ia menoleh ke samping, melihat Kensington yang sudah terjaga namun masih bergeming.
"Pukul berapa sekarang?" tanya Vera, suaranya serak khas bangun tidur.
"Hampir pukul delapan," sahut Kensington datar. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya. "Vivian dan Marco sepertinya sudah pulang saat kita tertidur di sofa tadi malam."
Vera ikut duduk, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Mengingat kejadian semalam, setelah makan malam yang hangat dan obrolan panjang tentang betapa konyolnya konsep "cinta sejati", mereka berdua akhirnya tertidur di depan televisi.
Entah siapa yang memindahkan siapa, atau mungkin mereka berjalan sendiri dalam keadaan setengah sadar, mereka berakhir di ranjang yang sama tanpa terjadi apa pun.
Benar-benar tidak ada apa-apa. Tidak ada pelukan, tidak ada ciuman selamat pagi, apalagi pembicaraan tentang apa status kita?.
Bagi mereka, frekuensi ini adalah anugerah. Kensington adalah pria yang muak dengan drama hubungan dan ngeri membayangkan sebuah pernikahan yang ia anggap sebagai penjara legal.
Di sisi lain, Vera adalah wanita yang memandang cinta sebagai gangguan logika yang merusak produktivitas intelektual.
Saat dua kutub yang sama-sama dingin ini bertemu, mereka tidak saling tolak-menolak, melainkan menciptakan ruang hampa yang nyaman.
"Kau tidak berniat pulang ke mansion West?" tanya Kensington sambil berdiri, memperlihatkan tato-tato di punggungnya yang kokoh saat ia meregangkan tubuh.
Vera mendengus pelan sambil menyandarkan kepalanya di kepala ranjang. "Mansion itu terasa seperti ruang interogasi bagiku sekarang. Ibuku tidak akan berhenti bertanya kapan aku akan berkencan dengan putra dari kolega bisnisnya, atau kapan aku akan mulai memikirkan gaun pengantin. Dia menganggap gelar hukumku hanyalah hiasan sebelum aku menjadi nyonya di rumah seorang pria kaya."
Kensington menoleh, memberikan seringai tipis. "Selamat datang di dunia para pelarian, Vera. Setidaknya di sini, tidak ada yang menanyakan kapan kau akan menikah."
"Itulah sebabnya aku di sini," balas Vera jujur. "Aku nyaman dengan ketidakterikatan ini. Kau tidak menuntut hatiku, dan aku tidak menuntut masa depanmu. Kita hanya dua orang yang bosan dengan ekspektasi dunia."
Seorang Catalonia Vera West, asisten dosen teladan yang dikenal sangat menjunjung tinggi etika dan formalitas, kini benar-benar melupakan segala citra sempurnanya. Ia tidak peduli bahwa ia berada di apartemen seorang pria berandal tanpa ikatan apa pun.
Hubungan mereka tidak butuh waktu lama untuk menjadi sedalam ini, karena mereka tidak memulainya dengan perasaan, melainkan dengan pemahaman.
Vera turun dari ranjang, berjalan menuju jendela besar dan menatap pemandangan kota. "Kadang aku berpikir, kenapa orang-orang begitu terobsesi untuk saling memiliki? Itu terdengar sangat melelahkan."
Kensington berjalan mendekat, berdiri di sampingnya namun tetap menjaga jarak profesional yang mereka sepakati secara tidak tertulis.
"Karena mereka takut sendirian, Vera. Mereka butuh seseorang untuk disalahkan atas kegagalan hidup mereka sendiri. Pernikahan hanyalah cara untuk memastikan ada orang yang terjebak bersamamu selamanya."
"Mengerikan," gumam Vera pelan.
"Sangat mengerikan," Kensington mengamini.
...💚💚💚💚💚💚💚💚💚...
Pagi itu berlanjut dengan suasana yang hangat namun tetap pragmatis. Mereka memasak sarapan bersama lagi—kali ini hanya roti panggang sederhana dan kopi hitam—tanpa ada sentuhan fisik yang disengaja.
Mereka berdiskusi tentang kasus-kasus hukum terbaru seolah-olah mereka sedang berada di perpustakaan kampus, padahal mereka hanya mengenakan pakaian santai di sebuah apartemen pribadi.
Etika akademis yang selama ini membelenggu Vera seolah menguap setiap kali ia berada di dekat Kensington. Ia tidak lagi merasa perlu menjaga sanggulnya tetap kaku atau bicaranya tetap formal. Di depan Kensington, ia bisa menjadi dirinya sendiri yang sinis, dingin, dan realistis.
Bagi dunia luar, mereka mungkin terlihat gila atau tidak bermoral. Namun bagi Kensington dan Vera, ini adalah bentuk kejujuran tertinggi. Mereka berteman lebih dalam daripada kekasih mana pun, karena mereka berbagi kebenaran pahit yang orang lain coba tutupi dengan mawar dan janji manis.
"Ayo berangkat," ajak Kensington setelah menghabiskan kopinya.
Vera mengangguk, meraih tasnya. Sebelum keluar pintu, ia menatap Kensington sejenak. "Terima kasih untuk perlindungannya semalam, Valerio. Dari ibuku, dan dari dunia yang berisik."
Kensington hanya membuka pintu apartemennya lebar-lebar. "Kapan pun kau butuh tempat untuk membenci dunia, kau tahu di mana harus menemukanku, Late Vera."
Mereka melangkah keluar menuju lift, kembali ke kampus dengan topeng mereka masing-masing—sang berandal dan sang asisten teladan—namun membawa rahasia yang sama di dalam kepala mereka: bahwa kebahagiaan sejati justru ditemukan saat mereka berhenti mencari cinta.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭