seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. BAYANG BAYANG DARI MASA LALU
Ayini, yang sedang menunggu suaminya dengan semangat di depan pintu, langsung merasakan aura yang berbeda.
"Mas Alvaro! Udah pulang? Ayini udah buatin jus jeruk lho, nggak pake luntur warna pink!" seru Ayini riang.
Alvaro hanya menatap Ayini sekilas, datar dan tanpa ekspresi. "Terima kasih. Letakkan saja di meja. Saya banyak urusan di kamar kerja," ucapnya dingin, lalu melangkah melewati Ayini begitu saja tanpa ada sapaan hangat atau senyum seperti malam sebelumnya.
Ayini terpaku. Senyumnya perlahan memudar. "Lho? Mas? Kok balik jadi kulkas lagi sih? Masih pagi lho, belum musim salju!" teriak Ayini kesal.
Namun, Alvaro sudah menutup pintu kamar kerjanya dengan rapat. Sepanjang hari itu, Alvaro benar-benar kembali ke mode "jalan tol" yang kaku.
Ia hanya bicara seperlunya saat makan, menjawab pertanyaan dengan satu atau dua kata, dan matanya selalu tertuju pada kitab atau layar laptopnya.
Hanya sekali, saat Ayini tidak sengaja tersandung ambang pintu, Alvaro refleks bergerak ingin menangkapnya dan sempat memberikan senyum tipis yang sangat singkat—begitu singkat sampai Ayini ragu apakah itu nyata atau hanya halusinasinya.
Namun setelah itu, wajah Alvaro kembali datar dan ia berbalik pergi.
"Astagfirullah alazim! Ini orang kenapa sih? Kemarin manis kayak martabak, sekarang hambar kayak kerupuk masuk angin!" gerutu Ayini sambil menendang kaki kursi.
Ketegangan itu berlangsung selama tiga hari. Ayini yang biasanya sabar (dalam versinya sendiri) kini mulai kehilangan kendali.
Jiwa "bar-bar" dari Muara Teweh yang selama ini ia coba jinakkan demi menjadi istri sholehah, kini meledak kembali karena merasa diabaikan.
"Oke, kalau Mas mau main kaku-kakuan, Ayini bakal bikin Mas nggak bisa napas!" batin Ayini penuh rencana jahat.
Malam itu, Alvaro sedang mencoba fokus membaca kitab di kamar mereka. Ayini masuk dengan langkah berisik.
Ia tidak lagi mengenakan gamis yang kalem, melainkan memakai kaos hitam bergambar motor balap (satu-satunya baju lama yang berhasil ia selundupkan ke Ndalem) dan ikat kepala dari kain perca.
Ayini mulai melakukan aksi "protes" dengan cara yang unik.
Ia memutar nasyid dengan volume yang cukup keras melalui ponselnya, lalu mulai melakukan gerakan push-up dan sit-up di tengah kamar, tepat di depan meja belajar Alvaro.
"Satu! Dua! Tiga! Aduh, capek banget ya hidup jadi istri bayangan!" teriak Ayini sengaja dikencangkan.
Alvaro mencoba mengabaikannya. Penanya terus bergerak, meski tangannya sedikit bergetar menahan emosi.
"Woi, Mas Kulkas! Liat nih! Istrinya lagi olahraga biar kuat kalau nanti ditalak gara-gara Mas lebih sayang sama kitab!" Ayini berdiri, lalu dengan sengaja ia melompat ke atas meja belajar Alvaro, duduk tepat di atas tumpukan berkas yang sedang dibaca suaminya.
Alvaro tersentak, ia meletakkan penanya dengan kasar. "Ayini! Turun! Ini berkas penting!"
"Nggak mau! Sebelum Mas jelasin kenapa Mas berubah jadi es batu lagi! Mas tau nggak? Mas itu jahat! Mas bikin Ayini ngerasa kayak pajangan doang di kamar ini!" Ayini berkacak pinggang, matanya berkaca-kaca, namun nada bicaranya tetap bar-bar.
"Apa karena surat cokelat itu? Ayini tau Mas dapet surat! Kevin yang kasih tahu!"
Alvaro terdiam.
Ia menatap Ayini yang kini berada tepat di depan wajahnya karena duduk di atas meja. Mata mereka bertemu.
Alvaro melihat kemarahan yang bercampur dengan rasa takut kehilangan di mata istrinya.
"Ayini, turunlah. Saya hanya ingin menjagamu," ucap Alvaro pelan, suaranya tetap dingin namun ada getaran kerapuhan.
"Menjaga dengan cara diemin Ayini? Itu namanya nyiksa, Mas! Ayini lebih milih Mas marah-marah daripada didiemin kayak gini!" Ayini tiba-tiba menarik kerah baju koko Alvaro, memaksa suaminya itu menatapnya lebih dekat.