NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:876
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah Di Tanah Para Jawara

​Perjalanan dari Ciampea menuju Indramayu terasa seperti pelarian menembus neraka bagi Ahmad Syihabudin. Ia tidak berani menggunakan bus umum dari terminal besar; ia berpindah-pindah angkutan pedesaan, menumpang truk pengangkut sayur, hingga menyewa ojek untuk melewati jalur-jalur tikus di kaki gunung. Pikirannya terus dihantui oleh moncong senjata gelap dan wajah kakek tua di hutan bambu.

​Ketika kakinya akhirnya menginjak halaman rumah panggung milik orang tua Risma di pelosok Indramayu, matahari sedang merayap turun, menyisakan langit berwarna merah darah. Ahmad tampak kacau; bajunya kotor terkena debu jalanan, rambutnya acak-acakan, dan wajahnya sepucat kain kafan.

​Risma yang sedang duduk di teras sembari menimang Jalaludin langsung berdiri dengan wajah terkejut bercampur geli.

​"Akang? Ya Allah, itu muka kenapa ditekuk begitu? Katanya seminggu lagi baru nyusul, baru juga dua hari sudah sampai sini. Nggak kuat ya jauh-jauh dari Neng?" goda Risma, tertawa kecil tanpa menyadari badai yang sedang dibawa suaminya.

"Mana tasnya cuma satu? Perasaan kayak orang habis dikejar hantu."

​Ahmad tidak membalas godaan itu. Ia hanya menatap Risma dengan mata berkaca-kaca, lalu pandangannya beralih pada Jalal yang tenang di gendongan. Ahmad menghela napas panjang, berusaha menstabilkan suaranya yang bergetar.

​"Neng... mana Abah? Akang perlu bicara. Penting pisan," bisik Ahmad parau.

​Risma menghentikan tawa kekehnya. Ia menyadari ada sesuatu yang sangat salah. "Abah ada di dalam, lagi bersihin parang. Ada apa, Kang? Akang sakit?"

​"Panggil Abah, Neng. Kita bicara di dalam. Sekarang."

​Di ruang tengah yang beralaskan tikar pandan, suasana mendadak menjadi sangat berat. Abah duduk bersila dengan tenang, namun matanya yang tajam mengunci sosok Ahmad. Risma duduk di samping Ahmad, mendekap Jalaludin erat-erat seolah instingnya mulai merasakan bahaya yang mendekat.

​Ahmad mulai bercerita. Ia menumpahkan semuanya—tentang perasaan gelisahnya di pasar, keputusannya untuk pulang, sepuluh orang berjas hitam yang mengepung rumah mereka dengan senjata api, hingga penyelamatan ajaib oleh kakek misterius di hutan bambu.

​"Rumah kita hancur, Neng," suara Ahmad pecah. "Mereka robek kasur si dede, mereka banting foto kita. Kalau bukan karena kakek itu, Akang mungkin sudah nggak ada di sini. Kakek itu bilang... mereka cari Jalal. Mereka mau bunuh anak kita."

​Risma menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya bergetar hebat hingga Jalaludin terbangun dan merintih kecil. "Bunuh? Tapi kenapa, Kang? Jalal masih bayi! Dia nggak punya musuh!"

​"Kakek itu bilang Jalal lahir seribu tahun sekali," lanjut Ahmad, menatap Abah dengan tatapan memohon. "Dia bilang Jalal punya tanggung jawab menyelamatkan dunia dari kegelapan. Bahwa darah yang mengalir di tubuh Jalal adalah darah yang dicari para penguasa kegelapan."

​Abah diam seribu bahasa. Ia mengambil napas panjang, menghisap dalam-dalam rokok lintingannya, lalu mengembuskannya perlahan hingga asap putih menutupi wajahnya yang keras.

​"Akhirnya hari ini datang juga," gumam Abah, suaranya terdengar seperti guntur di kejauhan.

​"Abah tahu sesuatu?" tanya Risma dengan suara gemetar.

​Abah menatap cucunya, Jalaludin, yang kelopak matanya tetap tertutup rapat namun tangannya bergerak seolah sedang menangkis sesuatu di udara.

​"Risma, Ahmad... keluarga kita bukan keluarga biasa. Dulu, leluhur kita adalah seorang pendekar besar yang berkelana dalam kegelapan. Orang-orang mengenalnya sebagai Si Buta Dari Gua Hantu. Dia melihat dengan hati, bertarung demi kebenaran yang seringkali tidak terlihat oleh mata telanjang."

​Abah menjeda, wajahnya mengeras. "Tapi, setiap ada cahaya yang agung, akan selalu ada bayangan yang mengintai. Musuh abadi dari garis keturunan kita adalah mereka yang memuja Mata Malaikat—kekuatan kegelapan yang lahir dari ambisi dan darah manusia yang haus kekuasaan. Legenda mengatakan, suatu saat nanti, keduanya akan lahir kembali di waktu yang sama untuk menyelesaikan pertarungan yang belum usai."

​"Maksud Abah... Jalal adalah titisan Si Buta?" tanya Ahmad, tenggorokannya terasa kering.

​"Dan di luar sana, musuhnya juga sudah lahir," sahut Abah. "Mereka yang menyerang rumahmu di Ciampea hanyalah pion kecil. Kekuatan aslinya ada di kota besar, di tempat di mana uang dan darah menjadi satu. Jalaludin tidak buta karena cacat, Ahmad. Dia buta agar matanya tidak terdistraksi oleh tipu daya dunia. Dia sedang mempersiapkan diri untuk melihat dimensi yang lebih luas."

​Risma menangis, memeluk Jalal semakin kencang. "Aku nggak peduli soal legenda, Bah! Aku cuma ingin Jalal hidup normal!"

​"Normal bukan lagi pilihan bagi kita, Neng," potong Abah tegas. "Mulai malam ini, rumah ini adalah benteng. Ahmad, kamu harus belajar. Risma, kamu harus kuat. Kita akan melatih Jalal di bawah radar dunia. Jangan biarkan siapapun tahu keberadaannya di sini."

​Di luar rumah, kegelapan malam Indramayu terasa lebih pekat dari biasanya. Suara jangkrik yang tadinya riuh mendadak bungkam. Angin laut yang membawa bau garam berhembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon mangga di halaman rumah Abah.

​Di bawah bayangan pohon besar yang menghadap langsung ke arah teras, dua sosok pria berdiri diam. Mereka tidak mengenakan jas seperti tim sebelumnya, melainkan pakaian hitam yang pas di tubuh, menyatu sempurna dengan bayang-bayang malam. Mereka adalah dua pembunuh bayaran yang dikirim secara rahasia oleh Wijaya Aksara.

​Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah teropong kecil pengintai malam. Ia mengarahkan lensa itu ke arah jendela ruang tengah yang masih menyisakan sedikit cahaya lampu minyak.

​"Target teridentifikasi," bisiknya ke alat komunikasi kecil di kerahnya. "Bayi itu ada di sana, bersama ayah dan kakeknya. Sepertinya mereka baru saja menyelesaikan pembicaraan serius."

​"Tunggu aba-aba," jawab suara di seberang. "Ingat perintah Tuan Wijaya. Jangan gunakan senjata api. Buat ini terlihat seperti perampokan berdarah. Ambil kepala bayinya, sisanya jangan ada yang dibiarkan hidup."

​Pria itu menurunkan teropongnya, mengeluarkan sebilah pisau panjang yang permukaannya hitam dop agar tidak memantulkan cahaya. Temannya melakukan hal yang sama, bergerak dengan langkah yang sangat ringan, mendekati tiang-tiang rumah panggung dengan niat membunuh yang murni.

​Mereka tidak menyadari bahwa di dalam rumah, Abah tiba-tiba berhenti bicara. Telinga sang mantan jawara itu bergerak sedikit, menangkap getaran frekuensi yang tidak wajar di atas tanah halamannya.

​"Ahmad, ambil parang di balik pintu," bisik Abah, suaranya sangat rendah hingga nyaris tak terdengar. "Risma, bawa Jalal ke kolong dapur, masuk ke lubang persembunyian."

​"Ada apa, Bah?" tanya Ahmad dengan jantung yang kembali berpacu.

​"Tamu tak diundang sudah sampai," jawab Abah sembari berdiri perlahan, otot-otot tuanya tampak mengeras. "Malam ini, kita akan buktikan bahwa tanah Indramayu bukan tempat yang ramah bagi anjing-anjing Jakarta."

​Di bawah cahaya rembulan yang tertutup awan, dua pembunuh itu mulai menaiki tangga kayu, tidak tahu bahwa mereka sedang melangkah masuk ke dalam mulut harimau yang sudah lama menunggu.

​Takdir antara Mata Malaikat dan Titisan Si Buta kini resmi berpindah ke tanah pesisir, memulai babak baru dalam pertarungan tiga dimensi yang akan mengubah sejarah dunia persilatan untuk selamanya. Di dalam persembunyiannya, Jalaludin kecil menggerakkan jemarinya, seolah-olah sedang menarik sebuah benang takdir yang akan menyeret semua orang ke dalam pusaran maut.

​Satu detik kemudian, kesunyian malam itu pecah oleh suara dentingan logam yang beradu. Darah pertama siap untuk tumpah.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!