Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH TIGA
Rakha spontan menegakkan tubuhnya. Ia menoleh sedikit, mata mereka bertemu hanya beberapa inci saja. Tatapan Maharani gugup, sementara napas Rakha menjadi lebih berat dari biasanya. Kepalanya mendadak berdenyut nyeri, seolah ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya-perasaan yang selama ini ia tekan, menuntut untuk keluar.
"Nggak perlu," ucap Rakha akhirnya, suaranya terdengar serak tapi terkendali. "Tangan kamu terlalu berharga untuk cuci piring. Biar saya saja."
Ia memaksakan senyum kecil di bibirnya, mencoba menutupi kekacauan batinnya.
Maharani yang masih berdiri dekat menatapnya bingung, lalu tertawa kecil. "Baiklah," katanya, menyerah, tapi nada suaranya tetap lembut. "Padahal di apartemen saya biasa bersih-bersih sendiri."
Rakha menatap piring di tangannya, bukan Maharani, seolah sedang berusaha mengalihkan perhatian dari sesuatu yang lebih dalam. "Mungkin di apartemen kamu begitu," katanya pelan. "Tapi di sini, kamu klien saya. Dan selama kamu di rumah ini..." ia berhenti sejenak, menoleh padanya dengan tatapan tajam namun hangat, "...biar saya yang melayani kamu."
Ucapan itu sederhana, tapi entah kenapa membuat dada Maharani terasa sesak aneh. Ada sesuatu di cara Rakha mengatakannya-bukan sekadar formalitas antara pengacara dan klien, tapi sesuatu yang lebih pribadi.
Maharani mengangguk pelan, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Baiklah, Mas Rakha," ujarnya akhirnya, memilih untuk tidak memperpanjang ketegangan yang tiba-tiba memenuhi udara di antara mereka.
Rakha kembali menatap wastafel, menyalakan air, lalu mencuci piring dengan tenang. Tapi jauh di dalam dirinya, pikirannya tidak tenang sama sekali.
Rakha masih berdiri di depan wastafel, air mengalir pelan dari keran. Jemarinya yang panjang dan kokoh bergerak luwes mencuci piring-teratur, nyaris tanpa suara selain gemericik air. Punggungnya tegap, kontras dengan apron pink pastel yang masih melekat di tubuhnya.
Maharani, yang kini duduk kembali di stool bar, menatap punggung itu diam-diam. Ada sesuatu yang berbeda dari sosok pria itu pagi ini-lebih manusiawi, lebih hangat... tapi juga tetap dengan aura dominan yang sulit dijelaskan.
"Oh iya," suara Rakha memecah keheningan, tenang tapi tidak dingin. "Mungkin biar kamu nggak bosan di rumah, kamu bisa baca buku. Banyak buku dan novel di ruang kerja saya, di lantai dua. Pilih saja yang kamu mau."
Nada bicaranya ringan, tapi cara ia mengatakannya terdengar seperti tawaran istimewa, bukan sekadar izin.
Maharani langsung mengangkat wajahnya, matanya berbinar antusias. "Wah, kebetulan banget! Saya memang suka baca buku. Terima kasih ya, Mas."
Ia tersenyum, senyum yang tulus dan hangat, lalu menambahkan dengan nada ragu tapi manja, "Nanti saya ke sana, tapi... kalau bisa Mas yang anterin dulu. Saya agak segen kalau sendirian."
Rakha menoleh sedikit, menatap Maharani dengan tatapan yang sulit diartikan-antara geli, lembut, dan sedikit terpesona. Ujung bibirnya naik samar.
"Baik," ucapnya singkat. "Setelah ini, ya."
Maharani mengangguk cepat, senyum kecil tak lepas dari wajahnya. Ia menunduk lagi ke arah piring sarapannya, mencoba menutupi rona merah muda yang mulai merayap di pipinya. Entah kenapa, cara Rakha bicara-tenang, tapi tegas dan memikat-selalu membuat dadanya berdebar.
Rakha sendiri, saat kembali fokus pada cucian di tangannya, menyadari sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Ia jarang memberi izin orang lain menyentuh ruang pribadinya-terutama ruang kerja. Tapi untuk Maharani, ia justru menawarkan itu tanpa pikir panjang.
Sial, pikirnya dalam hati. Ada yang berubah.
Dan perubahan itu terasa semakin dalam setiap kali ia menatap wanita itu.