Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Tamu Dari Masa Lalu Dan Sinyal Perang Perempuan
Pagi itu, kedamaian di Paviliun Mawar terusik oleh suara terompet gading yang menggema dari gerbang luar istana. Suaranya panjang dan melengking, menandakan kedatangan tamu agung dari kerajaan tetangga.
Alesia yang sedang asyik melatih kelenturan jari-jarinya—setelah insiden menghantam cermin tempo hari—langsung menoleh ke arah jendela.
"Ly, itu suara apaan? Ada sirkus masuk kota ya?" tanya Alesia sambil mengelap keringat di lehernya dengan handuk kecil.
Lily masuk dengan tergesa-gesa, wajahnya tampak cemas. Ia membungkuk sangat dalam, bahkan lebih dalam dari biasanya. "Mohon ampun, Yang Mulia Permaisuri. Itu adalah rompongan dari Kerajaan Valerius. Putri Seraphina telah tiba di ibu kota."
"Putri Sera-siapa? Namanya kayak merek sabun cuci muka," celetuk Alesia santai.
"Putri Seraphina, Yang Mulia," Lily memperbaiki posisinya, suaranya merendah seolah takut dinding paviliun ikut mendengar. "Beliau adalah putri dari sekutu terkuat Orizon. Dan... mohon maafkan kelancangan hamba, tapi di masa lalu, sebelum Baginda Raja menikahi Yang Mulia Alessia, Putri Seraphina adalah tunangan yang dipilihkan oleh Ibu Suri untuk Baginda."
Alesia yang tadinya mau minum teh, langsung tersedak. "Uhuk! Apa lu bilang? Mantan tunangan?"
"Benar, Gusti. Kabarnya, Putri Seraphina datang untuk 'menghibur' Ibu Suri yang sedang berduka karena hancurnya pusaka kuil. Namun, semua orang di istana tahu bahwa maksud kedatangannya adalah untuk melihat posisi Anda."
Alesia menyeringai, sebuah seringai yang membuat Lily bergidik. "Oh, jadi ada pelakor kelas internasional mau mampir? Menarik nih. Gue baru aja mau pemanasan lagi."
Dua jam kemudian, di taman tengah istana yang dipenuhi bunga lili putih—bunga kesukaan Ibu Suri—sebuah jamuan teh mewah telah disiapkan. Ibu Suri Beatrice duduk dengan senyum yang akhirnya kembali mengembang, di sampingnya duduk seorang wanita cantik dengan rambut pirang keemasan yang tertata sempurna dan gaun sutra biru muda yang sangat elegan.
Alesia melangkah masuk ke area taman dengan langkah yang sengaja dibuat mantap. Ia tidak memakai gaun yang terlalu ribet, hanya pakaian sutra yang pas di badan agar ia mudah bergerak, lengkap dengan Golok Seliwa yang terikat manis di pinggang kirinya.
"Ah, ini dia Permaisuri kita," ucap Ibu Suri dengan nada sarkastik yang kental. "Alessia, perkenalkan, ini Putri Seraphina dari Valerius. Dia baru saja tiba untuk menemani masa-masa sulitku."
Putri Seraphina berdiri, melakukan gerakan hormat yang sangat sempurna, hampir terlihat seperti tarian. "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Permaisuri Alessia. Saya banyak mendengar cerita tentang... 'perubahan' Anda yang luar biasa."
Suara Seraphina lembut seperti sutra, tapi matanya menatap Alesia dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang meremehkan.
"Iya, salam kenal juga, Mbak Sera," sahut Alesia, langsung duduk di kursi kosong tanpa menunggu dipersilakan. Ia mengambil sepotong kue kecil dan langsung melahapnya. "Katanya mau nemenin Ibu Suri? Baik bener ya, padahal jauh-jauh dari kerajaan sebelah. Kagak mabuk perjalanan, Mbak?"
Seraphina tersenyum tipis, duduk kembali dengan sangat anggun. "Demi kenyamanan Yang Mulia Ibu Suri dan kenangan lama saya di istana ini, jarak bukan masalah. Bagaimanapun, saya pernah menganggap tempat ini sebagai calon rumah saya sendiri."
Ciaat, serangan pertama langsung ke ulu hati, batin Alesia.
"Rumah ya? Sayang banget ya, Mbak, pintunya udah diganti kunci baru, jadi kunci lama Mbak Sera udah kagak laku lagi di sini," balas Alesia sambil nyengir lebar.
Ibu Suri berdehem keras. "Jaga bicaramu, Alessia. Seraphina adalah tamu terhormat. Dia juga membawa kabar bahwa pasukan Valerius siap membantu Orizon di perbatasan jika diperlukan. Dia sangat memahami beban Magnus sebagai Raja."
"Oh, soal beban Bang Magnus mah kaga usah khawatir, Bu," Alesia menepuk-nepuk goloknya. "Gue yang bakal urus. Mbak Sera mending fokus aja jaga kulit biar kaga item kena matahari Orizon."
Tepat saat itu, Magnus melangkah masuk ke taman. Ia masih mengenakan pakaian formalnya. Begitu melihat Seraphina, langkahnya melambat sebentar, namun matanya langsung mencari keberadaan Alesia.
"Magnus!" Seraphina berdiri, matanya berbinar setidaknya terlihat tulus. Ia melangkah mendekati Magnus dan secara alami memegang lengan sang Raja. "Lama tidak bertemu. Kau terlihat jauh lebih gagah daripada terakhir kali kita bertemu di pesta perbatasan."
Alesia yang melihat pemandangan itu merasa ada uap panas yang keluar dari telinganya. Wah, tangan! Itu tangan minta di-smackdown ya?
Magnus dengan halus menarik lengannya dari genggaman Seraphina, lalu berjalan mendekat ke arah Alesia. "Seraphina. Selamat datang di Orizon. Aku harap perjalananmu tidak melelahkan."
"Tentu tidak, jika sambutannya sehangat ini," lirih Seraphina sambil melirik Alesia dengan tatapan menang.
Magnus duduk di samping Alesia, tangannya secara otomatis merangkul pinggang istrinya. "Kau sudah berkenalan dengan Permaisuriku, Seraphina?"
"Sudah, Magnus. Permaisurimu... sangat unik. Saya tidak menyangka seleramu berubah begitu drastis," ucap Seraphina dengan nada yang menyiratkan bahwa Alesia "kurang berkelas".
Alesia mendengus, ia menyandarkan kepalanya di bahu Magnus dengan sengaja. "Iya dong, unik. Bang Magnus bosen sama yang kaku-kaku kayak manekin toko baju, makanya dia nyari yang bisa bikin hidupnya lebih berwarna. Ya kan, Bang?"
Magnus terkekeh pelan, ia mencubit pipi Alesia dengan gemas—sebuah pemandangan yang membuat Ibu Suri hampir menjatuhkan cangkir tehnya. "Benar. Aku tidak pernah merasa sehidup ini sebelumnya."
Wajah Seraphina mengeras sesaat, namun ia segera menguasai diri. "Begitukah? Omong-omong, Magnus, aku membawakanmu hadiah. Sebuah busur panah dari kayu hitam Valerius. Aku ingat kau sangat menyukai memanah saat kita kecil dulu. Bagaimana kalau besok pagi kita berlatih di lapangan utama? Seperti dulu?"
Magnus tampak ragu, ia melirik Alesia.
"Boleh banget!" sahut Alesia tiba-tiba, membuat semua orang menoleh padanya. "Gue juga pengen liat gimana cara orang kerajaan sebelah manah. Siapa tahu gue bisa belajar cara memanah hati orang yang udah jadi milik orang lain, biar kaga salah sasaran gitu."
Seraphina menipiskan bibirnya. "Tentu, Permaisuri. Jika Anda memiliki nyali untuk ikut serta."
"Nyali mah gue stoknya banyak, Mbak. Di Depok, nyali dijual kiloan," balas Alesia santai.
Sore harinya, setelah jamuan teh yang penuh "ranjau" itu selesai, Alesia kembali ke kamarnya diikuti oleh Lily yang tampak sangat khawatir.
"Gusti Permaisuri, hamba mohon berhati-hatilah besok," bisik Lily sambil menyiapkan air membasuh tangan. "Putri Seraphina adalah pemanah terbaik di kerajaannya. Dia sengaja menantang Anda agar Anda terlihat memalukan di depan seluruh prajurit dan Baginda Raja."
Alesia mencopot ikatan rambutnya, membiarkan rambut hitamnya terurai. "Gue tahu, Ly. Keliatan banget kok dari matanya yang licik itu. Dia mau pamer skill biar Magnus mikir: 'Duh, kenapa dulu gue nikah sama cewek kasar ini ya, padahal ada Putri Sera yang pinter manah'. Gitu kan?"
"Kira-kira begitu, Yang Mulia," sahut Lily sedih.
Alesia berjalan menuju pojok ruangan, mengambil busur kayu miliknya sendiri. Ia mengelusnya pelan. "Tenang aja, Ly. Dia mungkin jago manah sasaran diem. Tapi dia belum tahu kalau gue sering manah tikus pake karet gelang di dapur pas kecil. Prinsipnya sama, yang penting fokus!"
Tiba-tiba, pintu terbuka. Magnus masuk dengan wajah yang tampak lelah. Ia langsung duduk di depan Alesia dan menarik napas panjang.
"Kau tidak perlu melakukan itu besok, Alessia," ucap Magnus. "Aku tahu Seraphina sengaja ingin memojokkanmu."
Alesia menatap Magnus dengan tangan di pinggang. "Kenapa? Lu takut gue malu? Atau lu takut mantan tunangan lu itu kalah terus nangis di depan lu?"
Magnus bangkit, memegang kedua tangan Alesia. "Aku tidak peduli apakah dia menang atau kalah. Aku hanya tidak ingin kau merasa tertekan karena harus bersaing dengannya. Bagiku, kau sudah memenangkan segalanya sejak pertama kali kau berani menatap mataku tanpa rasa takut."
Alesia terdiam sejenak, hatinya meleleh. Tapi jiwa jawaranya tidak membiarkannya menyerah begitu saja. "Bang, denger ya. Kalau gue diem aja, dia bakal makin ngelunjak. Dia bakal mikir bisa ngatur-ngatur lu lagi lewat bantuan militernya. Gue mau tunjukin ke dia, kalau Permaisuri Orizon yang sekarang kaga bisa diremehkan."
Alesia menempelkan keningnya ke dada Magnus. "Lu percaya kan sama gue?"
Magnus memeluk Alesia erat, mencium puncak kepalanya. "Aku selalu percaya padamu, Siti dari Depok."
Alesia tersentak, lalu tertawa kecil dalam pelukan Magnus. "Buset, lu makin lancar aja nyebut nama asli gue, Bang. Ya udah, sekarang bantu gue latihan dikit napa. Pegangan busur ini kok rada beda sama karet gelang ya?"
Magnus tertawa renyah, sebuah suara yang jarang didengar oleh siapa pun kecuali Alesia. Malam itu, di bawah temaram lampu paviliun, sang Raja dengan sabar melatih permaisurinya, mempersiapkan "senjata" untuk perang esok pagi.
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii