NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Keretakan di Balik Kertas Kontrak

Sinar mentari Minggu pagi menyusup perlahan melalui celah tirai beludru yang menjuntai di jendela-jendela besar mansion Wijaya. Cahaya keemasan itu menari-nari di atas lantai pualam, menciptakan nuansa hangat yang seharusnya menjadi pertanda bagi sang pemilik rumah untuk melepas penat.

Di luar sana, embun masih membasahi dedaunan di taman, dan kicauan burung terdengar bersahutan, menawarkan ketenangan di akhir pekan.

Namun, bagi seorang Renard Wijaya, kata libur atau akhir pekan rasanya tidak pernah tercetak dalam kamus hidupnya. Ketenangan adalah sebuah kemewahan yang tak bisa ia beli, bahkan dengan seluruh harta kekayaannya.

Baru pukul enam pagi, tatkala sebagian besar penghuni rumah masih terlelap atau sekadar bermalas-malasan, pria bertubuh tegap itu sudah mengurung diri di dalam ruang kerja pribadinya di lantai dua.

Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu kontras dengan cerahnya pagi di luar. Meja kerja berbahan kayu mahoni yang biasanya tertata sangat rapi, kini tampak penuh sesak oleh tumpukan map dan dokumen fisik.

Sementara itu, layar laptop di hadapannya terus menyala, memancarkan cahaya kebiruan yang memantul di kacamata bacanya, menampilkan grafik saham yang bergerak fluktuatif tanpa henti.

Dahi Renard berkerut sangat dalam, membentuk lipatan tegas di antara kedua alisnya.

Sebuah audit mendadak dan agresif dari dewan pengawas perusahaan benar-benar menghancurkan seluruh rencananya. Niat awalnya untuk mengambil cuti dan beristirahat total selama dua minggu demi menemani masa kunjungan dan pemulihan ibunya, kini hancur lebur berkeping-keping.

Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, matanya memerah karena kurang tidur, dan pundaknya terasa sekaku batu karang.

Tok. Tok.

Suara ketukan pintu yang sangat pelan namun ritmis tiba-tiba membuyarkan konsentrasi tingkat tingginya. Renard baru saja hendak meneriakkan penolakan—mengira itu adalah salah satu pelayan—ketika kenop pintu perlahan diputar.

Arumi melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna gelap itu.

Di kedua tangannya, ia membawa sebuah nampan kecil beralaskan kain bersih. Di atas nampan tersebut, tersaji segelas kopi hitam panas yang asapnya masih mengepulkan aroma pekat, bersanding dengan sepiring porselen berisi potongan buah segar yang tertata rapi.

Penampilan istrinya pagi itu sungguh berbeda.

Arumi hanya mengenakan pakaian rumah yang sangat sederhana—sebuah kaus katun longgar berwarna pastel dan celana training yang nyaman. Rambut hitam panjangnya diikat asal ke atas, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang putih bersih tanpa riasan.

Penampilan yang kasual dan santai itu membuatnya tampak jauh lebih muda, sangat kontras dengan aura Renard yang kaku, berat, dan dipenuhi beban dunia korporat.

"Kata Bi Sumi, Anda belum makan apa pun sejak bangun tidur, bahkan sejak tadi malam," ujar Arumi dengan nada suara yang begitu tenang.

Ia melangkah mendekati meja kerja yang berantakan itu, lalu dengan hati-hati meletakkan nampan bawaannya di satu-satunya sudut meja yang masih kosong dari tumpukan kertas.

Renard menghentikan ketukan jemarinya di atas keyboard.

Ia melirik sekilas ke arah kopi hitam yang mengepul itu, lalu beralih menatap Arumi.

Dengan gerakan refleks yang kaku, pria itu buru-buru menutup layar laptop-nya hingga berbunyi klik, berusaha menyembunyikan kekacauan data finansial yang sedang ia hadapi dari pandangan istrinya.

"Aku tidak menyuruhmu membawakan apa pun ke sini, Arumi," balas Renard dengan nada suara baritonnya yang ketus.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangan di depan dada sebagai bentuk pertahanan. "Pekerjaanku sedang sangat menumpuk. Aku benar-benar tidak punya waktu luang untuk diganggu oleh hal-hal sepele."

Namun, Arumi sama sekali tidak beranjak dari posisinya.

Alih-alih merasa terintimidasi oleh penolakan dingin sang CEO, perempuan itu justru menarik sebuah kursi kayu berukir yang berada tepat di seberang meja kerja Renard, lalu duduk di sana dengan santai.

Sambil menopang dagu dengan kedua belah tangannya, ia menatap lurus ke dalam manik mata suaminya dengan pandangan yang teduh dan penuh selidik.

"Anda tidak bisa membohongi saya, Tuan," ucap Arumi lembut, suaranya mengalun seperti melodi yang menenangkan di tengah kacaunya pikiran Renard.

"Anda terlihat sangat lelah. Kantung mata Anda menggelap, dan saya bisa melihat bahu Anda menegang sejak tadi malam saat Anda mengurung diri di sini. Apa ada masalah besar di perusahaan? Kalau Anda butuh seseorang untuk sekadar mendengar keluh kesah, saya bisa menjadi pendengar yang baik. Anggap saja ini sesi tanpa embel-embel kontrak, status, atau investasi."

Renard mendengus sinis, memalingkan wajahnya dan memutar kursinya sedikit menjauh dari tatapan Arumi yang seolah mampu menelanjangi jiwanya. "Sejak kapan kamu merasa berhak menjadi penasihat pribadiku? Biar kuingatkan, tugas utamamu di dalam kontrak kertas itu hanya untuk menjaga citra di depan publik dan keluargaku, bukan untuk mencampuri urusan bisnisku yang tidak kamu mengerti."

Mendengar penolakan sarkastis itu, Arumi justru tertawa tipis.

Tawanya renyah, bergema pelan di dinding ruang kerja yang kaku. "Oh, benarkah begitu aturan mainnya?" balas Arumi cerdas, menaikkan sebelah alisnya.

"Kalau begitu, mari kita gunakan logika Anda. Apakah menjaga kesehatan dari 'investasi' ini juga termasuk ke dalam tugas saya? Karena coba Anda pikirkan, kalau Anda sampai jatuh sakit, tumbang akibat kurang tidur dan stres berlebihan, bukankah itu justru akan menghancurkan seluruh rencana sempurna Anda di depan Mama? Anda yang sakit hanya akan membuat Mama Sofia kembali drop."

Renard seketika membeku di tempat duduknya.

Kalimat balasan Arumi itu telak menghantam logikanya tepat sasaran.

Ia memutar kembali kursinya, menoleh dan menatap Arumi dengan tatapan elang yang tajam, berusaha sekuat tenaga untuk merangkai kembali topeng esnya.

Namun, usahanya kali ini benar-benar gagal total. Kantung mata yang menghitam dan garis kelelahan yang tergambar jelas di wajahnya justru meneriakkan sisi manusiawinya yang rapuh, yang diam-diam sangat mendambakan istirahat.

"Kamu ini... benar-benar terlalu banyak bicara," desis Renard, menyerah kalah.

Suaranya kini terdengar agak serak, kehilangan seluruh ketegasannya yang biasa. Ia menghela napas panjang. "Tapi... untuk kopi ini. Terima kasih."

Arumi tersenyum sangat manis, menyadari kemenangan kecilnya atas arogansi sang suami.

Ia kemudian bangkit dari duduknya.

Tanpa ragu sedikit pun, Arumi berjalan memutari meja kerja yang luas itu, melangkah ke belakang kursi kulit yang diduduki Renard.

Hanya dalam hitungan detik, dengan gerakan yang sangat alami dan lembut, Arumi meletakkan kedua telapak tangannya di atas pundak pria yang lebar itu.

Ia mulai memijat perlahan otot-otot yang menegang kaku di sana, memberikan tekanan yang pas untuk mengurai kekusutan urat saraf.

Renard tersentak hebat.

Tubuhnya seketika menjadi sangat kaku seperti balok kayu, seolah baru saja tersengat aliran listrik statis yang mengejutkan. "Arumi! Apa-apaan yang kamu lakukan?!" serunya tertahan, suaranya dipenuhi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan.

"Pijatan ringan untuk meredakan stres," jawab Arumi teramat santai, sama sekali tidak memedulikan protes suaminya dan terus melanjutkan gerakannya. "Diamlah dan nikmati saja, Tuan Muda. Kalau Anda terus-terusan melawan sentuhan saya, otot bahu Anda justru akan semakin kaku dan nyeri."

Di dalam kepalanya, Renard ingin sekali membentak. Logikanya memerintahkan agar ia segera menepis tangan Arumi, menyuruh perempuan itu keluar dari ruang kerjanya sekarang juga. Ia ingin berteriak dengan lantang bahwa tindakan fisik seperti ini telah melanggar batasan zona amannya.

Namun, entah sihir macam apa yang digunakan Arumi, sentuhan hangat jemari mungil di leher dan pundaknya itu justru terasa seperti penawar racun yang paling ampuh.

Perlahan namun pasti, rasa pening yang sejak semalam berdenyut menyiksa di pelipisnya mulai memudar, luruh bersamaan dengan ketegangan ototnya. Sensasi rileks yang sudah berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun—tidak ia rasakan, kini menjalar nyaman ke seluruh aliran darahnya.

Keheningan yang damai perlahan menyelimuti ruangan kerja tersebut. Tidak ada lagi perdebatan sengit. Yang terdengar hanyalah irama konstan dari detak jarum jam dinding antik di sudut ruangan, berpadu dengan ritme napas Renard yang kini perlahan-lahan mulai teratur dan tenang.

Untuk pertama kalinya sejak mereka terikat di bawah atap yang sama, Renard tidak lagi mencoba memunggungi Arumi.

Ia tidak melarikan diri dengan rentetan kata-kata tajam berkedok reputasi. Pria itu justru membiarkan kepalanya sedikit bersandar mundur pada bantalan sandaran kursi, memejamkan kedua matanya rapat-rapat, dan menyerahkan dirinya untuk menikmati perhatian tulus dari seorang wanita yang seharusnya, secara teknis, hanyalah rekan bisnis di atas selembar kertas bermeterai.

"Arumi," panggil Renard tiba-tiba memecah keheningan. Suaranya sangat rendah, berat, dan bergetar halus, hampir menyerupai bisikan yang terbang tertiup angin.

"Ya?" sahut Arumi lembut, jemarinya masih setia menekan titik-titik lelah di pundak suaminya.

Renard menelan ludah dengan susah payah, memberanikan diri. "Jika... maksudku, seandainya di antara kita tidak pernah ada yang namanya kontrak... apa kamu akan tetap melakukan hal-hal seperti ini padaku?"

Pertanyaan yang keluar dari bibir Renard itu sukses membuat gerakan tangan Arumi terhenti sejenak di udara.

Perempuan itu tertegun.

Jantungnya tiba-tiba berdegup satu ketukan lebih cepat. Renard, pria yang selama ini selalu memagari dirinya dengan dinding baja berduri, baru saja membuka sebuah celah kecil yang rapuh untuk memperlihatkan apa yang sebenarnya ada di balik pertahanan diri yang ia bangun dengan darah dan air mata.

Arumi menundukkan kepalanya, menatap lurus ke arah punggung tegap pria yang sedang bersandar pasrah padanya. Sorot matanya memancarkan kelembutan yang tak terhingga.

"Jika ini bukan tentang kontrak..." bisik Arumi sangat pelan, nyaris tak terdengar, mendekatkan bibirnya sedikit ke arah telinga Renard. "...mungkin saya sudah jatuh cinta kepada Anda sejak lama, Renard."

Setelah mengucapkan kalimat sakti itu, Arumi kembali melanjutkan pijatannya dengan ritme yang sama, seolah kalimat barusan hanyalah hembusan angin lalu.

Renard sama sekali tidak menjawab. Ia hanya terdiam membisu di posisinya.

Namun, jika saja Arumi bisa berjalan ke depan dan melihat ekspresi wajah suaminya saat itu, ia pasti akan menemukan semburat merah padam yang amat pekat, menjalar hebat dari leher hingga membakar seluruh permukaan telinga pria itu karena salah tingkah yang tak terbendung.

Kali ini, Renard tidak lagi menolak.

Di lubuk hatinya yang terdalam yang selama ini ia kunci rapat, sang miliarder arogan itu baru saja menyadari satu fakta pahit sekaligus manis: dinding pertahanan yang selama ini ia bangun mati-matian bukan lagi sebuah benteng perlindungan, melainkan sebuah penjara. Dan kini, ia sangat berharap penjara es itu akan perlahan-lahan diruntuhkan hingga tak bersisa oleh tangan hangat Arumi.

Sementara itu, di luar ruangan, tanpa sepengetahuan dua insan yang sedang bergulat dengan perasaan mereka, sebuah drama kecil sedang terjadi.

Di balik pintu kayu jati ruang kerja yang tadi lupa ditutup rapat oleh Arumi, Mama Sofia berdiri mematung. Tangan keriputnya masih memegang erat kenop pintu yang sempat ia dorong sedikit hingga menyisakan celah pandang.

Wanita paruh baya itu menatap pemandangan intim putranya yang sedang dipijat oleh sang istri dengan senyuman yang merekah luar biasa lebar.

Pendengarannya yang tak lagi awas mungkin tidak menangkap seluruh perdebatan mereka di awal, tetapi ia mendengar dengan sangat jelas bisikan lirih Arumi tentang 'jatuh cinta'.

Setitik air mata haru yang hangat menetes di sudut mata Mama Sofia.

Bagi sang ibu yang selama ini cemas akan masa depan putranya yang dingin, benih-benih perasaan dan kebahagiaan itu akhirnya mulai tumbuh mekar di tempat yang paling tidak terduga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!