“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Semakin Mengenalnya
Nyonya Hanifah tak langsung menjawab pertanyaan Ryu. Ia menatap ke arah tangga tempat Seroja menghilang.
"Nenek juga tidak tahu banyak," ucapnya pelan. "Yang Nenek tahu, Seroja dulu sempat kuliah."
Ryu mengernyit.
"Tapi kuliahnya tidak selesai karena diminta pulang oleh keluarganya untuk meneruskan ilmu pengobatan turun-temurun."
"Jadi dia memang belajar medis?" tanya Ryu.
"Mungkin," jawab Nyonya Hanifah dengan nada suara tenang. "Tapi Nenek tidak pernah bertanya lebih jauh."
Ryu terdiam. Ia bahkan tidak tahu apapun tentang wanita yang telah menjadi istrinya.
"Yang jelas..." Nyonya Hanifah tersenyum tipis. "Anak itu tidak sesederhana yang terlihat."
Ryu mengingat saat ia berada di desa Seroja. Dalam hati ia bergumam,
"Pantas saja logat bicaranya gak medok kayak warga desa lainnya. Ternyata pernah kuliah di kota."
Suara langkah kaki menuruni tangga terdengar. Seroja kembali dengan sebotol minyak di tangannya.
"Aku akan memijat Nenek. Aku rasa mungkin akan lebih nyaman kalau di kamar saja," ujarnya pada Nyonya Hanifah dengan nada suara lembut.
"Kalau begitu kita ke kamar Nenek," putus Nyonya Hanifah, lalu beranjak dari duduknya.
Seroja buru-buru membantunya. Namun sebelum melangkah menuju kamar wanita tua itu, ia menoleh ke arah Ryu.
"Aku pijat Nenek dulu."
Ryu mengangguk kecil. Ia menatap Seroja yang akhirnya berbalik melangkah sambil memapah neneknya. Entah mengapa, ia merasa dihargai hanya karena Seroja bicara padanya dulu sebelum pergi bersama neneknya.
Lalu, mendadak ia berdiri.
"Aku mau lihat apa yang dia lakukan. Jangan sampai malah membuat nenek gak bisa jalan."
Pemuda itu bergegas menyusul istri dan neneknya.
Di kamarnya, Nyonya Hanifah duduk di tepi ranjang dengan kaki selonjor. Seroja menyanggul surai hitamnya yang panjang asal. Beberapa helai anak rambut jatuh di pipinya. Tapi malah membuat gadis itu makin terlihat cantik.
Ia menggulung lengan bajunya perlahan, lalu duduk di bangku kecil di depan nenek mertuanya itu.
"Boleh aku lihat lutut Nenek?" Suaranya selalu terdengar lembut di telinga Ryu.
Nyonya Hanifah mengangguk. Wanita yang mengenakan blouse hijau sage sederhana itu menarik ujung rok panjang abu gelap yang dipakainya.
Pakaian wanita itu tidak berlebihan. Tapi tetap saja, auranya memancarkan wibawa lembut khas perempuan tua yang terbiasa dihormati.
Seroja mengoleskan minyak zaitun di telapak tangannya. Ia menyentuh lutut wanita tua itu perlahan, lalu meraba bagian sendi dan otot di sekitarnya. Hingga akhirnya jemarinya berhenti di satu titik di bawah lutut.
"Kalau bagian ini sakit gak, Nek?" tanya Seroja sambil sedikit menekan titik itu.
"Aduh..." Nyonya Hanifah langsung meringis. "Di situ ngilu sekali, Seroja."
Ryu yang berdiri tak jauh dari pintu langsung mengernyit. Lalu komentar bernada sinis itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Sakit begitu malah ditekan."
Seroja menjawab dengan tenang. "Titik saraf dan ototnya menegang di bagian sini. Kalau dibiarkan terus, nyerinya akan makin sering kambuh."
"Kamu diam saja," sewot Nyonya Hanifah. "Seroja memijat kaki Nenek atas kemauan Nenek sendiri. Gak ada yang maksa Nenek."
Ryu tidak berani lagi membuka mulutnya.
Bibir Seroja bergerak samar melirik suaminya sekilas. Tangannya tetap melanjutkan memijat area betis hingga belakang lutut dengan perlahan. Meski tekanannya tidak terlalu keras, tapi cukup membuat Nyonya Hanifah beberapa kali menahan napas untuk meredakan rasa nyerinya.
"Awalnya memang akan terasa sedikit sakit," ujar Seroja lembut. "Karena aliran otot dan sendinya kaku."
Tak lama kemudian, ekspresi Nyonya Hanifah perlahan berubah.
"Hm..." Wanita tua itu tampak terkejut. "Hangat."
Seroja mengangguk kecil. "Darahnya mulai lancar."
Tanpa sadar Ryu memerhatikan gadis itu sejak tadi. "Ternyata dia benar-benar ahli memijat," pikirnya.
Matanya jatuh ke kakinya yang tadi pagi terkilir. Dari diurut Seroja tadi rasanya semakin membaik. Bahkan ia sudah bisa berjalan normal meski masih nyeri saat ia menggendong Seroja tadi. Tapi masih bisa ditahan. Dan sekarang sakitnya hanya terasa samar saat dipakai berjalan.
Di atas kasur, Nyonya Hanifah mulai merasa nyaman dengan pijatan Seroja. Tapi itu tak berlangsung lama kala Seroja menekan titik lain di dekat pergelangan kakinya.
"Aduh..." Nyonya Hanifah refleks memegang seprai. "Sakitnya sampai ke lutut."
"Yang ini memang jalur saraf yang sampai ke lutut, Nek," jelas Seroja. "Makanya kalau ditekan terasa sampai atas."
Beberapa menit berlalu. Seroja memijat dengan sabar dan telaten. Tatapan Ryu tak lepas dari gadis itu.
"Semakin aku mengenalnya, makin aku penasaran padanya," katanya dalam hati.
Dan semakin ia memandangi wajah tenang itu, semakin sulit ia berpaling darinya.
"Nek, coba sekarang gerakkan lutut Nenek pelan-pelan," pinta Seroja setelah ia selesai memijat.
Nyonya Hanifah menurut. Dan setelah menggerakkan kakinya, ia tampak terdiam sesaat.
"Rasanya..." Wanita tua itu mengangkat wajahnya perlahan. "Lebih ringan."
Ryu langsung menatap neneknya. Ia mengenalnya sejak kecil. Wanita tua itu tidak akan berbohong hanya untuk menyenangkan hati orang lain.
"Syukurlah," gumam Seroja lega. "Hari ini udah dulu ya, Nek. Besok kita lanjut."
"Terima kasih, Seroja," ucap Nyonya Hanifah tulus.
"Sama-sama, Nek." Seroja menutup botol minyaknya. "Untuk sementara, jangan terlalu sering naik turun tangga dulu ya, Nek," ujarnya tetap dengan nada suara lembut. "Lutut Nenek sudah terlalu sering menahan beban."
Nyonya Hanifah mengangguk pelan mendengarkan.
"Kalau duduk terlalu lama, jangan langsung berdiri mendadak," lanjut Seroja. "Gerakkan dulu kakinya pelan-pelan supaya sendinya gak kaget."
Ryu yang sejak tadi diam berdiri bersandar di kusen pintu ikut mendengarkan.
"Lalu soal makan?" tanya Nyonya Hanifah. "Apa ada yang harus Nenek pantangi?"
Seroja berpikir sebentar. "Ada, Nek. Kurangi makanan yang terlalu sering memicu radang di tubuh. Jangan kebanyakan makan gorengan. Makanan yang terlalu asin, atau terlalu manis juga harus dihindari."
"Kamu seperti dokter saja," celetuk Ryu tanpa sadar.
Seroja tidak menanggapi. Ia melanjutkan penjelasannya dengan tenang.
"Perbanyak makanan hangat yang bagus untuk tulang dan sendi. Ikan, sayur hijau, kacang-kacangan, sama air putih yang cukup."
Nyonya Hanifah tersenyum kecil. "Pantas kamu tadi masak sayur pakis."
"Itu bagus untuk tubuh Nenek," jawab Seroja sederhana. ""asal jangan satu mangkuk dihabiskan sendiri," imbuhnya dengan nada bercanda. Bibirnya melengkung tipis.
Ryu melihatnya. "Manis," gumam Ryu tanpa sadar.
Nyonya Hanifah yang tertawa kecil karena candaan Seroja refleks menoleh.
"Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Seroja pada Ryu.
"Enggak," kilah Ryu memasang wajah datar.
Seroja terdiam sejenak, lalu kembali memegang lutut wanita tua itu perlahan.
"Dan satu lagi..."
"Apa?" tanya Nyonya Hanifah.
"Jangan terlalu sering menahan sakit."
Ryu dan Nyonya Hanifah sama-sama menatapnya.
"Kalau tubuh sudah memberi tanda sakit, artinya minta istirahat. Kalau dipaksa terus, nanti kerusakannya bisa makin parah."
"Nenek itu meski lututnya sakit tetap aja gak bisa diam," cetus Ryu.
"Nenek gak biasa diam dan rebahan doang," sahut Nyonya Hanifah.
"Harus mendisiplinkan diri sendiri ya, Nek," saran Seroja. "Biar cepat sembuh."
"Baiklah, akan Nenek usahakan," kata Nyonya Hanifah. Meski ia tahu, mendisiplinkan diri sendiri itu bukan hal yang mudah.
"Ada lagi Nek, kalau mau cepat sembuh," kata Seroja.
"Apa?" tanya Nyonya Hanifah penasaran. "Katakan saja."
"Kompres hangat pagi atau malam, jangan terlalu sering jongkok, latihan gerak ringan," anjur Seroja. "Dan usahakan jangan tidur terlalu malam, karena radang akan lebih terasa saat tubuh lelah."
Ryu mengangkat satu alisnya. "Kamu... beneran pernah kuliah?"
Nyonya Hanifah menoleh ke arah Ryu, lalu beralih menatap Seroja.
...🔸🔸🔸...
...“Semakin seseorang terlihat sederhana, kadang semakin banyak hal yang disembunyikannya.”...
...“Tubuh selalu memberi tanda saat lelah, hanya saja manusia terlalu sering memaksanya bertahan.”...
...“Rasa penasaran adalah awal dari hati yang mulai memerhatikan.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Hampir mirip kisahnya, istri yang disembunyikan tapi bikin penasaran suami dengan segala tindakannya
Apakah Seroja masih ponakan Vexia ya 🤭😃
Seroja mau lanjut kuliah, Nenek senang mendengarnya - antusias mendukung Seroja kuliah lagi.
Ryu menawari Seroja pakai mobilnya, disuruh pilih yang Seroja suka. Setelah bertanya Seroja apa bisa bawa mobil.
Seroja malah pilih naik motor. Padahal motor Ryu motor sport wkwkwk.
Ryu mendengar Seroja mau pakai motor sport miliknya sampai hampir tersedak buburnya.
Yang ngajarin Seroja naik motor sport Tony. Nah lho - Ryu cemburu tuh 😄
lanjut kak nana... 💪🙏
Lucu juga nih Seroja. Meraba tubuh Ryu dari atas ke bawah - yang dikira gulingnya dan mengendus aromanya pula 😄.
Kebayang bagaimana Ryu menegang ketika diraba tubuhnya dan diendus Seroja wkwkwk.
Ryu turun ranjang menuju kamar mandi, repot menjinakkan ularnya yang menegang tuh.
Kebiasaan Ryu tidur bertelanjang dada. Seroja tertegun sejenak melihatnya. Jantungnya mulai tak karuan.
Dalam hati dua insan yang sudah sah sebagai pasabgan suami istri berbeda.
Dalam hati Seroja - apa Ryu bakal minta haknya sebagai suami.
Dalam hati Ryu yang ditanya kenapa tidak pakai baju - apa tubuhku gak bagus. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali.
Perbincangan mengalir - mereka mulai tidur.
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Bagus Seroja... Lanjutkan lah lagi kuliahmu itu! Sayang loh, kslau nggk di lanjutkan!:😂😂😂