NovelToon NovelToon
Sebait Doa, Sekeping Asa

Sebait Doa, Sekeping Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: Alvinoor

"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".

Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.

Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.

Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Aisyah mengangkat wajah nya, kedua pipinya basah oleh air mata.

"Semoga adik baik baik saja ya abi?" suara nya bergetar.

Setelah lebih dari satu jam, pintu ruangan terbuka, seorang pria paruh baya berpakaian dokter, keluar dari dalam ruangan itu.

"Keluarga Muhammad Kaenan?" tanya dokter itu.

Kiai Nuruddin, Aisyah dan pak Bayu berdiri berbarengan.

"Iya dok!, bagai mana keadaan putra saya?" tanya Kiai Nuruddin.

"Kepalanya mengalami trauma benda tumpul yang cukup parah, sekarang keadaan nya sudah mulai stabil, sebentar lagi dipindahkan ke ruang perawatan, kita berdoa saja, semoga tidak menimbulkan efek buruk kedepan nya, kami masih mengobservasi keadaan nya berapa hari kedepan" sahut dokter itu.

Beberapa saat kemudian, sebuah Brankar di dorong oleh dua orang pria muda, keluar dari dalam ruang UGD itu.

"Adik!" ....

Jeritan Aisyah lepas begitu saja, saat melihat wajah Kaenan yang babak belur. Hati nya begitu sedih dan hancur setelah mengetahui keadaan remaja itu sebenar nya.

Disebuah ruang rawat inap kelas ekonomi, Kaenan di tempatkan selama menjalani pemulihan kesehatan nya. Satu kamar dengan beberapa orang pasien yang lain nya.

Kaenan menatap kearah Kiai Nuruddin dan Aisyah yang berjalan masuk di ikuti oleh pak Bayu dan beberapa orang anak.

"Kiai!… maafkan saya!" ucap Kaenan pelan, dua bulir air mata mengalir di sudut mata nya.

"Istirahat lah nak!, jangan pikirkan apa apa!" ujar Kiai Nuruddin menatap iba kearah anak muda itu.

"Bagai mana dengan ibu kiai?" tanya Kaenan lagi.

"Sudahlah nak!, jangan khawatirkan ibu mu, ummi mu akan bisa membujuk ibu mu, dia akan menurut dengan ummi mu" ....

"Adik!, apa yang telah terjadi?" tanya Aisyah disela sedu sedan nya.

Kaenan tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya saja, tidak ingin mengatakan apapun juga.

"Ini bukan kecelakaan kan dik?, tidak mungkin kecelakaan bisa bonyok seperti ini, ini jelas dipukuli, kita harus bertindak bi!, kita tidak boleh diam saja" ucap Aisyah.

Kiai Nuruddin terdiam beberapa saat, "ya!, abi juga merasa ini bukan kecelakaan biasa, bisa jadi ini perkelahian atau pengeroyokan, bagai mana pak Bayu?" ....

"Terserah tindakan apa yang akan Kiai lakukan, saya akan mendukung kiai, tetapi orang yang kita lawan, bukan orang yang seharus nya kita singgung, takut nya nanti urusan akan merembet kemana mana, bahkan tidak mustahil pondok pesantren Al Ilmi pun bisa terkena imbas nya juga Kiai, kami bukan nya tidak berani bicara, tetapi terlalu banyak orang lain yang terkena getah nya nanti" sahut pak Bayu.

"Tidak usah Kiai, Kae sudah ikhlas, ini sudah kehendak nya Allah, maafkan Kae yang sudah merepotkan Kiai sekeluarga, mencemarkan nama baik pondok pesantren Al Ilmi, saya tahu saya dipihak yang lemah, apapun yang saya ucapkan, tak akan ada seorang pun yang mau mempercayai nya, makanya saya tidak ingin mencari pembenaran, atau alasan apapun, biarlah Dunia melihat saya salah, yang penting saya benar di hadapan Allah, itu sudah cukup bagi saya Kiai" ujar Kaenan meminta agar Kiai Nuruddin tidak memperpanjang masalah nya. Dia tahu seberapa kuat keluarga Hanggada itu, nyaris tak ada seorangpun yang berani terang terangan melawan mereka, dari segala sisi, telah mereka kuasai, baik usaha, kepolisian, maupun Hukum, bahkan anggota Dewan saja bisa mereka pengaruhi.

Kaenan sadar, jika Kiai Nuruddin melawan keluarga itu, bukan cuma Kaenan yang akan hancur, tetapi termasuk Kiai Nuruddin dan keluarga nya, serta pondok pesantren Al Ilmi juga terkena imbas nya. Mangkanya dia memilih menyerahkan segala nya kepada sang pemilik hidup ini saja.

"Tapi adik!… kita tidak boleh diam dan pasrah saja saat hak kita di injak injak seperti ini!" desak Aisyah.

Kaenan tersenyum lirih menatap gadis cantik dan baik hati yang sudah sembilan tahun dikenal nya itu.

"Kita tidak pasrah kak!, sekuat apapun mereka, se zalim apapun mereka, biar lah kak, kita masih punya Allah" sahut Kaenan.

"Ah andai saja" pikir Aisyah yang ingin sekali menyentuh anak muda di hadapan nya ini, walaupun sekedar mengurangi derita nya.

"Apapun alasan mereka, kakak lebih percaya adik, kakak kenal adik sudah lama sekali, lebih lama dari siapapun di kota ini, maafkan kakak dik!, kakak tidak mampu melindungi adik!" ucap Aisyah disela air matanya yang terus mengalir membasahi pipi putih nya.

Mata Kiai Nuruddin berkaca kaca menatap kearah sang putri.

Pria paruh baya itu tahu, semenjak Kaenan Akil balik, putri nya tidak lagi mau bersentuhan tubuh dengan anak muda itu, tetapi meskipun begitu, sikap dan tindakan nya tidak berubah sedikitpun, itu karena Aisyah tahu, bagai manapun Kaenan bukan saudara kandung nya yang boleh bersentuhan sesuka hati dengan nya, namun begitu, kasih sayang gadis itu kepada Kaenan tidak pernah berubah sedikitpun juga, dia memperlakukan Kaenan layaknya seorang adik yang amat dia kasihi.

Kiai Nuruddin memiliki tiga orang anak, dua orang laki-laki dan satu orang perempuan.

Yang tertua bernama Salafudin, dan yang kedua bernama Nasirudin, kedua dua nya sedang berkuliah di universitas Al Azhar Mesir.

Kaenan sendiri mengenal Bang Nasir (panggilan Aisyah dan Kaenan kepada Nasirudin), laki-laki muda, berusia baru dua puluh lima tahun itu, yang kini telah menyelesaikan S dua nya di Al Azhar Kairo Mesir.

Rencana nya, tahun ini jika tidak ada halangan, putra tertua Kiai Nuruddin akan kembali ke tanah air setelah menimba ilmu di Kairo Mesir, dan akan mengabdikan dirinya di pondok pesantren Al Ilmi, membantu sang abi nya di pondok pesantren ini.

Aisyah sendiri mengerti, jika rasa kasih sayang nya kepada Kaenan, tumbuh semenjak anak muda itu berusia dua tahun waktu itu, hingga kini tidak pernah berubah sedikitpun juga, malahan tampak semakin lama, seiring waktu berlalu, kasih sayang Aisyah kepada Kaenan semakin besar saja.

Aisyah juga seorang Hafizah Qur'an termuda dan Qori pelantun Qasidah sholawat terindah, sehingga sering diundang ibu ibu pengajian, saat ada acara maulidan maupun saat ummi Nazeha memberikan Tausiyah nya di acara acara para ibu ibu itu. Dari uang amplop yang sering dia dapatkan itu, Aisyah tabung semua nya hingga terkumpul cukup besar, sebagian dia ambil untuk membelikan pakaian Kaenan.

Setiap kali melihat senyum kebahagiaan terbit di wajah Kaenan, serasa ada kebahagiaan tersendiri dihati Aisyah.

Itulah cerita dari sudut pinggiran kota besar ini, namun lain lagi cerita dari sudut lain nya.

Nun cukup jauh dari pondok pesantren Al Ilmi, tepat nya di pusat kota besar ini, disebuah rumah mewah bertingkat tiga dengan halaman yang sangat luas, terlihat seorang wanita cantik berusia paruh baya sedang duduk di teras depan rumah gedong itu.

Sekilas tidak ada yang aneh dengan wanita ini, hanya saja dia duduk menatap ke arah taman di depan rumah nya, namun terlihat jelas jika dia tidak menikmati pemandangan itu.

Tatapan matanya seakan hampa mengambang dengan pikiran yang pergi entah kemana.

Seulas senyum terbit di wajah nya, menatap deretan bunga bunga, lalu melambaikan tangan nya, "nak! Ayo pulang yok sayang!, sebentar lagi hujan turun sayang" ucap nya, seolah olah berbicara dengan seseorang, namun tidak ada seorangpun yang berada di hadapan nya.

Bik Sumi, sang pembantu yang sedang menyapu teras mengangkat wajah nya, menatap wajah wanita cantik itu beberapa saat, lalu menatap taman di depan nya secara bergantian, lantas wanita itu melepaskan sapu yang dia pegang dan berlari kearah dalam.

"Non!, non Syafea!, non Syafea!" teriak nya seraya berlari ke arah dalam.

Beberapa saat kemudian, dari arah dalam, muncul Syafea, berjalan kearah wanita cantik itu.

"Mah!, mamah!, masuk yok!" ajak gadis itu sambil memegang kedua pundak wanita cantik itu.

Wanita cantik itu menoleh kearah Syafea tanpa reaksi apapun juga.

"Ajak adik masuk!, kasihan adik, hari mau hujan" tegas nya.

Syafea menatap taman yang di tunjuk oleh mamah nya, tidak ada apa apa, hanya keheningan yang terlihat.

Sudah sembilan tahun, mamahnya mengalami depresi berat, semenjak adik nya hilang dulu.

Pada saat saat awal awal nya dahulu, setiap hari wanita itu selalu berurai air mata, hingga beberapa lama setelah itu, tidak ada lagi tangisan, namun juga tidak ada senyuman, wanita cantik itu seperti mati rasa, jasad nya hidup, namun seolah tanpa jiwa.

Semua nya berawal pada sembilan tahun yang lalu, saat itu mereka sedang berlibur di villa mewah milik keluarga Hanggada.

Pagi itu, Shanty sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan putra putri nya, sementara Irfan sang suami sedang menelpon seseorang sambil duduk di teras, dan Syafea sedang bermain bola plastik dengan Yukae adik laki-laki nya di dekat gerbang villa.

Sebagai seorang kakak, Syafea sangat menyayangi Yukae adiknya yang berusia belum genap dua tahun itu. Dia selalu menyempatkan bermain dengan Yukae yang saat itu sedang tumbuh lucu lucu nya itu.

Tiba-tiba Yukae melemparkan bola plastik cukup keras, hingga melambung ke dekat teras.

"Adik diam di sini, jangan kemana mana, kakak ambilkan bola nya!" teriak Syafea yang saat itu baru berusia lima tahun sambil berlari kearah bola plastik yang dilemparkan adik nya tadi.

Namun saat dia kembali ketempat adik nya tadi, sang adik ternyata sudah tidak ada lagi di tempat itu.

Syafea mencari disekitar halaman villa, hingga ke taman samping, namun tidak juga menemukan keberadaan sang adik.

Akhirnya Syafea kecil berlari keluar halaman villa yang pintu gerbang nya terlihat sedikit terbuka.

Di luar tidak ada siapa pun juga, hanya kesunyian jalan yang kian terasa.

Syafea kembali masuk kedalam, mencari Yukae kemana mana sambil berteriak, yang membuat pak Irfan dan istri nya ikut panik.

Pak Irfan mencari putranya kemana mana, nyaris seisi kota diaduk aduk, ratusan anak buah di sebar, namun tidak membuah kan hasil, bahkan pihak kepolisian pun tidak berdaya.

Mulai saat itu, Shanty seperti depresi, setiap kali termenung, pasti menangis memanggil pangeran kecil nya yang sudah tidak ada lagi.

Namun beberapa bulan terakhir ini, kebiasaan shanty yang suka menangis setiap dia termenung itu berhenti, dan sebagai ganti nya, dia sering tersenyum, bahkan tidak jarang tertawa sendirian.

Kepedihan hati Syafea semakin bertambah tambah, melihat keadaan sang ibu yang sedang depresi berat itu.

Sudah beberapa psikiater didatangi, berbagai terapi dijalani, namun hasil nya tidak ada, keadaan bu shanty tidak pernah berubah sedikitpun juga.

...****************...

1
Was pray
langkahmu masih panjang kae ! tapi semua harus dirajut sejak dini, sepotong baju butuh beberapa proses untuk mewujudkannya, mulai dari seirat dipintal menjadi benang, benang ditenun menjadi kain baru kain dijahit menjadi baju, jadi semua butuh ikhtiar untuk mewujudkannya, berdoa tanpa usaha berarti pemalas, berusaha tanpa doa berarti sombong, jadi ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan, benang tak akan jadi baju jika hanya diam tanpa mau dirajut demikian juga cinta dan cita2 kae
Hentri Gunawan
bagus dan buat pelajaran
Was pray
kapan kaenan mau hidup damai? waktu miskin diinjak injak oleh ortunya sendiri, setelah diketahui kae anak orang kaya bukan makin tenang hidup kae malah tambah runyam, diperalat oleh keluarga ortunya demi harta
Was pray
harta adalah fitnah yg mempirak porandakan segalanya, harta bisa menjadi barokah tapi juga gak laknat jika ditangan yg serakah
Was pray
memaafkan belum tentu harus menerima kehadirannya kyai! takdir anak dan orangtua kandung memang tidak bisa diubah kyai, mengakui tidak harus menerima, durhaka itu jika si anak gak mau mengakui kalau dia orangtuanya kemudian berbuat dholim kepadanya , tidak berbakti terhadap kedua orangtuanya yg Sholeh/Sholehah, juga jika kamu diposisi kaenan apakah yg kau katakan sanggup kau lakukan kyai Nurudin? ceramah itu mudah melaksanakan apa yg diceramahkan itu yg belum tentu bisa
Was pray
kelurga pak Irfan yg waras akal budinya cuma Bu shanty, pak Irfan hanya kebetulan darahnya mengalir di tubuh kaenan, syafea bukan kakak kaenan hanya takdir yg membuat keduanya terpaksa lahir dari ibu dan bapak yg sama, orang2 seperti gak pantas dapat gelar ayah dan kakak kandung, luka hati dan penderitaan yg disebabkan oleh sosok orang yg terpasang berkedudukan jadi ayah dan kakak kandung lebih dalam lukanya dan tak kan hilang selamanya , pak Irfan syafea lebih rendah dari binang babi yg najis dan haram
Was pray
nasib tragis tahfid. Al-Qur'an , hilang dari orangtuanya sampai2 ortunya gak nyadar, biasanya ortu akan ada ikatan batin dengan anak kandungnya sendiri,ini ortu apaan sih pak Irfan itu?disiksa ortu dan kakak kandung sendiri. cek cek cerita tragis bagi umat muslim yg taat beibadah
Was pray
yah MC nya lemah .. apagunya IQ tinggi tapi gak ada nyali untuk membela diri, umat Islam memang diajarkan untuk selalu welas asih terhadap sesama, mengalah demi kebaikan tapi ya jangan keterlaluan dengan pasrah menerima nasib ketika dilecehkan dan direndahkan oleh orang tanpa sedikitpun membela diri, lama2 mati konyol tuh kaenan, miskin harta gak apa2 tapi Islam tetap mengajarkan umatnya untuk membela diri jika itu sudah melati batas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!