Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Anna menatap manik mata Axel yang gelap, lalu sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. "Aku rasa sudah tidak sakit lagi, Paman. Karena tadi sudah Paman sentuh," ucapnya dengan nada menggoda.
Axel tersentak diam sejenak, tak menyangka Anna akan melontarkan gombalan seperti itu untuk pertama kalinya. "Benarkah?" tanyanya dengan suara serak, sedikit tidak percaya namun merasa puas mendengarnya.
Anna hanya mengangguk mantap sambil tersenyum polos. Axel menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. "Masuk dan tidurlah," perintah Axel lembut.
"Selamat malam, Paman," bisik Anna.
Namun, sebelum Anna sempat berbalik, Axel menarik tengkuknya dan membungkam bibirnya dengan ciuman yang jauh lebih intens dari sebelumnya. Ia melumat bibir lembut Anna dengan posesif, seolah ingin menghapus jejak rasa sakit yang ditinggalkan Arland di sana. Axel menggigit kecil bibir bawah Anna hingga gadis itu sedikit meringis dan membuka mulutnya, memberi kesempatan bagi Axel untuk memasukkan lidahnya, mengabsen setiap sudut rongga mulut Anna dengan liar.
"Nngghhh... P-paman... Ah..." desah Anna tertahan di sela-sela pagutan mereka. Tubuhnya bergetar hebat saat merasakan lidah Axel yang hangat menari-nari di dalam mulutnya, menghisap seluruh oksigennya hingga ia merasa melayang.
Axel perlahan melepaskan ciumannya, lalu beralih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anna. Ia menghirup aroma tubuh Anna yang memabukkan dengan napas yang memburu, membuat Anna kembali mendongak sambil mencengkeram lengan jas Axel.
"Malam," bisik Axel tepat di telinga Anna.
Sebuah senyum tipis yang sarat akan makna terukir di wajah tampannya. Axel kemudian melepaskan dekapannya, berbalik, dan berjalan pergi meninggalkan Anna yang masih mematung di ambang pintu dengan napas tersengal dan jantung yang berdegup tak karuan. Pria itu baru saja pergi, namun aroma dan sentuhannya seolah masih tertinggal jelas di kulit Anna.
Keesokan paginya di sekolah, suasana di koridor kelas masih tampak sepi saat Anna baru saja meletakkan tasnya. Jolina dan Emma langsung menyerbu mejanya dengan wajah yang dipenuhi rasa khawatir, langsung memeriksa pipi Anna yang kemarin malam sempat memerah.
"Anna! Lo beneran gapapa? Pipi lo gimana? Masih sakit gak?" tanya Jolina beruntun sambil memegang kedua bahu Anna.
Emma ikut mendekat, matanya menyipit teliti. "Iya, Na. Semalem gue kepikiran terus tau gak. Kalau si Arland brengsek itu ada di depan gue sekarang, udah gue patahin tangannya."
Anna tertawa kecil melihat kepanikan kedua sahabatnya. Ia menyentuh pipinya sendiri yang kini sudah benar-benar pulih—berkat "sentuhan" obat dari Axel semalam. "Gue udah oke kok, beneran. Udah gak sakit sama sekali. Kalian tenang aja, ya."
"Syukur deh kalau gitu. Tapi tetep aja, awas aja kalau si Zella sama Arland macem-macem lagi hari ini," gerutu Jolina yang akhirnya bisa bernapas lega dan mulai duduk di kursinya.
Saat mereka bertiga baru saja ingin memulai obrolan santai tentang tugas sekolah, tiba-tiba handphone Anna yang berada di atas meja bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal tertera di layar. Anna mengernyitkan dahi sejenak sebelum menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo?" ucap Anna.
"Gue dapet info lo pindah sekolah. Kenapa lo pindah, hah?"
Suara di seberang sana berdesis dingin, sarat akan nada frustrasi yang tertahan. Anna seketika membeku di tempatnya saat mengenali suara yang sangat familiar itu. Itu suara Ezkiel.
Ya lagian, tentu saja gue pindah karena emang gamau ketemu antagonis gila kayak lo! teriak Anna dalam hati dengan panik. Apalagi tokoh utamanya di sekolah lama ada semua. Mending gue cari aman di sini daripada nyawa gue melayang!
Meskipun jantungnya berdegup kencang karena ketakutan, Anna berusaha menetralkan suaranya agar terdengar tegas dan tidak menunjukkan kelemahannya.
"Kiel? Lo dapet nomor gue dari mana?" tanya Anna dingin. "Dan lagian, apa urusannya sama lo kalau gue pindah sekolah? Kayaknya kita gak ada hubungan apa-apa deh sampai gue harus laporan dan ngasih tahu semua urusan hidup gue ke lo."
"Anna, jangan main-main ya lo—"
"Denger ya, Kiel. Jangan pernah hubungi gue lagi. Urus aja urusan lo sendiri," potong Anna cepat sebelum Ezkiel sempat meluapkan kemarahannya lebih jauh, lalu klik, Anna langsung mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak.
Anna menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, mencoba meredakan tangannya yang sedikit gemetar. Jujur, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Anna masih merasa sangat takut. Jika plot novel ini benar-benar berjalan sesuai alur aslinya, dia tahu betul nasib tragis apa yang menantinya—dia bisa mati secara mengenaskan di tangan Ezkiel. Satu-satunya jalan hanyalah menjauh sejauh mungkin dari pria itu.