Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim untuk Sahabat 13
"Aku mohon Dhira!" Andra bahkan sampai meneteskan air mata tepat di depan wajah Nadhira. Nadhira hanya bisa menutup matanya. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
Nadhira merasakan oksigen di paru-parunya seolah menipis. Tawaran Andra bukan sekadar kerja sama, melainkan sebuah jerat yang dilapisi emas.
Nadhira memejamkan mata erat-erat, membiarkan air matanya mengalir deras melewati pipi yang kini terasa dingin. Setiap tarikan napasnya terasa sesak, seolah pasokan oksigen di dalam ruangan kedap suara itu telah habis dirampas oleh keegoisan Andra. Di depannya, pria yang dulu selalu pasang badan saat dia dirun-dung di masa sekolah, kini justru menjelma menjadi sosok yang menaruh pisau tepat di lehernya.
Andra masih berjongkok di hadapannya, tatapan matanya memohon, namun genggaman tangannya di sisi pintu mengunci seluruh ruang gerak Nadhira. Dia tak bisa kemana-mana saat ini. Andra benar-benar tak membiarkannya bernapas.
"Pergi, Andra! Buka pintunya, biarkan aku pergi!" bisik Nadhira, suaranya parau, nyaris habis oleh gelombang emosi yang menghantam dada.
Andra menghela napas berat, menatap kedua mata Nadhira yang tak bisa dia artikan. Perlahan mundur dan memberi ruang. Dia tahu dia telah melintasi batas, namun keputusasaan telah membutakan nuraninya. Dia tak percaya kepada orang lain untuk mengandung be-nih keluarga Antanagara. Sedangkan Nadhira, Andra yakin dengan sahabatnya. Dia tahu bagaimana sahabatnya dan juga sifatnya. Nadhira juga tak akan memanfaatkan situasi.
"Pikirkan matang-matang, Dhira. Aku tidak memintamu menjawabnya detik ini. Tapi ingat, waktu kita tidak banyak."
Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Nadhira bangkit berdiri. Kakinya masih gemetar hebat saat dia memutar kunci dan menyentak gagang pintu ruang kerja Andra. Dia berlari keluar tanpa memedulikan tatapan heran dari beberapa rekan kantor yang berpapasan dengannya di koridor. Laporan keuangan yang tadi dipeluknya erat kini tertinggal begitu saja di lantai ruang kerja Andra, berserakan seperti harga dirinya yang baru saja diinjak-injak.
Tempat utama yang dia cari adalah kamar mandi. Dia masuk ke dalam salah satu kamar dan menangis sejadinya sambil menutup mulut. Kenapa semua ini harus terjadi padanya. Kenapa dia harus segala kekurangan? Jika saja dia punya segalanya. Mungkin dia tak perlu memohon dan bergantung kepada orang lain untuk pengobatan ibunya saat ini. Nadhira memukul dadanya yang terasa sesak.
Permintaan Andra benar-benar membuat dia tak mengira. Hal itu benar-benar menghancurkan dirinya. Dan yang membuat dia sakit, orang yang mengatakan hal itu adalah Andra. Pria yang sudah dia anggap sebagai pria yang paling baik dan dia kagumi selama ini. Ternyata punya pemikiran seperti itu.
Aroma obat-obatan dan pembersih lantai langsung menyengat indra penciuman Nadhira begitu dia melangkah masuk ke bangsal kelas tiga Rumah Sakit Umum Daerah. Di atas ranjang besi yang sempit, ibunya terbaring lemah dengan berbagai selang yang menempel di tubuh. Wajah wanita paruh baya yang paling dicintainya itu tampak pucat dan tirus, kontras dengan bunyi monitor jantung yang berbunyi monoton di sudut ruangan.
Nadhira duduk di kursi plastik di samping ranjang, menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin dan kasar. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya di dalam angkutan umum akhirnya runtuh juga.
"Ibu..." bisik Nadhira lirih, mengecup punggung tangan ibunya dengan air mata yang kian menderu.
"Nadhira harus bagaimana, Bu?"
Di satu sisi, nuraninya berteriak menolak. Menjual rahim, mengandung anak dari suami orang lain—meskipun melalui prosedur medis tanpa kontak fisik. Itu adalah sebuah kehinaan yang tak pernah terbayangkan dalam hidupnya. Bagaimana mungkin dia bisa memberikan anak yang dikandungnya selama sembilan bulan kepada wanita lain, kepada Diana.
Kemudian setelahnya dia harus pergi seolah tidak pernah terjadi apa-apa? Dia bukan mesin inkubator. Dia manusia yang memiliki hati dan perasaan. Jika dia menerima tawaran itu, dia akan selamanya terjebak dalam lingkaran kehidupan Andra dan Diana yang selama lima tahun ini sudah mati-matian dia hindari.
Namun di sisi lain, kenyataan pahit kembali menamparnya saat seorang perawat masuk ke dalam ruangan membawa selembar kertas rincian biaya.
"Permisi, Mbak Nadhira," ucap perawat itu dengan nada sungkan namun tegas.
"Ini rincian biaya untuk obat darurat semalam dan persiapan operasi lanjutan lusa depan. Pihak administrasi meminta bagian deposit segera dilunasi agar jadwal operasi Ibu tidak tertunda. Mengingat kondisi jantung Ibu yang tidak stabil, operasi ini tidak bisa ditunda lebih dari tiga hari, Mbak."
Nadhira menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Angka total di bagian bawah lembaran itu seolah mengejek kemiskinannya. Berapa ratus kali lipat dari sisa saldo di rekeningnya? Bahkan jika dia menjual seluruh or-gan tu-buhnya sendiri secara le-gal, uangnya tidak akan terkumpul dalam waktu dua hari. Jaminan kesehatan dari pemerintah yang dia miliki ternyata memiliki banyak batasan untuk jenis tindakan dan obat khusus yang dibutuhkan ibunya saat ini.
“Aku adalah keajaiban itu, Nadhira.”
Kata-kata Andra kembali terngiang di kepalanya, bergema seperti kutukan yang manis. Andra benar. Pria itu adalah satu-satunya jalan pintas yang bisa menjamin ibunya mendapatkan perawatan medis terbaik, memindahkan ibunya ke kamar VIP yang nyaman, dan memastikan ibunya tetap hidup untuk mendampinginya. Kompensasi dari Andra bisa mengubah nasib mereka.
Tapi harganya adalah rahimnya sendiri. Harganya adalah masa depannya. Batin Nadhira menjerit, mencengkeram dadanya yang terasa sangat nyeri.
Malam kian larut, namun badai di kepala Nadhira tak kunjung mereda. Dia menatap langit-langit bangsal rumah sakit dengan pandangan kosong. Jam dinding berdetak, terus berputar mendekati angka sepuluh pagi esok hari. Waktu tenggat yang diberikan oleh Andra.
Nadhira dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama membunuhnya: Menjadi anak berbakti yang mengorbankan harga diri demi nyawa ibunya, atau mempertahankan kehormatannya sebagai wanita namun membiarkan ibunya perlahan pergi menjemput ajal karena ketiadaan biaya. Sebuah transaksi gila yang menuntut seluruh sisa kewarasannya.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh