Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.
Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Saksi Pertama
# Bab 3 — Saksi Pertama
**POV: KSAN**
---
Namaku KSAN. Bukan nama asli—itu singkatan dari Ketua Siswa Nakal, julukan yang kuberikan pada diriku sendiri sejak kelas satu SMA. Di sekolah, aku adalah raja dari semua siswa yang suka bolos, bikin onar, dan bikin guru pusing. Tapi di luar sekolah? Aku hanya anak seorang pejabat desa yang punya terlalu banyak waktu luang.
Hari itu seharusnya menjadi hari yang biasa. Rencanaku sederhana: bikin pengalihan, kabur dari jam pelajaran olahraga, dan nongkrong di warung kopi sampai pulang sekolah. Anggota kelompokku sudah siap. Anak-anak SMP sudah kusuruh berpura-pura jatuh dari tangga. Semua berjalan sesuai rencana.
Sampai aku melihatnya.
Aku sedang berjalan menuju gerbang belakang—tempat favorit untuk kabur—ketika sesuatu menarik perhatianku. Di dekat tiang listrik di pinggir lapangan, ada dua orang. Satu adalah gadis kecil dengan mantel krem yang aneh. Yang satunya... Reiki. Anak pindahan yang baru beberapa bulan lalu masuk sekolah kami.
Aku berhenti. Bukan karena aku peduli dengan Reiki—aku tidak peduli sama sekali. Tapi ada sesuatu yang aneh dengan cara mereka berdiri. Gadis itu memegang perangkat kecil, seperti sedang merekam sesuatu. Dan Reiki... Reiki memegang tiang listrik.
*Apa yang dilakukan anak bodoh itu?*
Lalu listrik padam.
Bukan hanya di sekolah—seluruh desa gelap dalam sekejap. Lampu-lampu mati, kipas angin berhenti berputar, dan dari kejauhan aku mendengar teriakan-teriakan bingung. Aku berdiri di tempat, mencerna apa yang baru saja terjadi.
Dan kemudian aku melihatnya.
Cahaya biru.
Cahaya itu berasal dari Reiki. Tubuhnya—aku bersumpah—tubuhnya bercahaya biru terang. Rambutnya berdiri tegak seperti tersengat listrik. Matanya... matanya bersinar seperti dua bola lampu neon.
Aku tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa menatap.
Gadis di sampingnya—gadis mantel krem—berteriak sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengar apa. Dunia terasa seperti berjalan dalam gerak lambat. Reiki melepaskan tiang listrik dan jatuh ke tanah. Gadis itu menangkapnya.
Dan untuk sesaat, mata Reiki—yang masih bercahaya biru—menatap tepat ke arahku.
*Dia melihatku.*
Aku berlari.
---
Aku tidak tahu ke mana aku berlari. Yang aku tahu, kakiku bergerak secepat mungkin, membawaku menjauh dari tempat itu. Jantungku berdebar kencang. Pikiranku kacau.
*Cahaya biru. Rambut berdiri. Matanya menyala.*
Apa yang baru saja kulihat? Apa Reiki itu manusia? Atau sesuatu yang lain?
Aku berhenti di depan balai desa, napasku tersengal-sengal. Ayahku bekerja di sini—ia adalah kepala administrasi desa. Jika ada yang tahu apa yang terjadi, mungkin ia bisa membantu.
Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Ayahku sedang duduk di meja kerjanya, berbicara di telepon. Ia menatapku dengan heran.
"Ada apa? Wajahmu pucat."
"Yah... aku... aku melihat sesuatu."
"Apa?"
Aku membuka mulut, tapi kata-kata tidak keluar. Bagaimana aku menjelaskan bahwa aku melihat seorang anak SMA bercahaya biru? Ayahku akan mengira aku gila.
"Tidak... tidak apa-apa. Aku hanya... pusing."
Ayahku menatapku curiga, tapi tidak mendesak. Ia kembali ke teleponnya. Aku duduk di kursi tunggu, mencoba menenangkan diri.
Tapi pikiranku tidak bisa tenang.
---
Beberapa jam kemudian, desa masih gelap. Listrik belum menyala. Aku duduk di teras balai desa, menatap langit yang mulai gelap. Badai sudah reda, tapi meninggalkan suasana yang tidak nyaman.
Aku masih memikirkan Reiki. Anak pindahan yang pendiam itu. Yang tidak pernah menonjol di kelas. Yang selalu duduk di bangku belakang dengan headphone di telinganya.
*Apa dia menyembunyikan sesuatu? Atau dia sendiri tidak tahu?*
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Lalu aku melihatnya lagi.
Reiki berjalan di pinggir jalan, sendirian. Langkahnya gontai, seperti kelelahan. Rambutnya sudah normal kembali—tidak berdiri lagi. Tapi aku tahu apa yang kulihat tadi. Itu bukan halusinasi.
Aku berdiri, berniat mendekatinya. Tapi seseorang mendahului aku.
Gadis mantel krem itu muncul dari bayangan, menghampiri Reiki. Mereka berbicara sebentar—terlalu pelan untuk kudengar—lalu berjalan bersama menuju arah gudang tua di pinggir desa.
Aku mengikuti mereka dari jarak aman.
---
Gudang itu sudah tidak terpakai selama bertahun-tahun. Atapnya bocor, pintunya miring, dan baunya apek. Tapi malam ini, ada cahaya samar dari celah-celah dindingnya.
Aku merangkak mendekat, bersembunyi di balik semak-semak. Dari celah dinding kayu, aku bisa melihat ke dalam.
Reiki duduk di lantai, memeluk lutut. Gadis itu—Hime, aku mendengar Reiki memanggilnya—duduk di depannya dengan perangkat perak di tangannya.
"Kau psikis," kata Hime. "Kau tidak tahu?"
Psikis? Aku mengerutkan dahi. Apa itu psikis?
"Aku tidak tahu apa-apa," jawab Reiki. Suaranya terdengar lemah. "Aku pikir aku anak SMA biasa."
Hime menghela napas. "Kau tidak biasa, Reiki. Dan kau tidak akan pernah bisa hidup biasa setelah hari ini."
Aku menahan napas. Percakapan ini... ini bukan percakapan biasa. Ini seperti sesuatu dari film fiksi ilmiah.
"Kemampuanmu baru saja bangkit," lanjut Hime. "Dan dari apa yang kulihat, itu bukan kemampuan level rendah. Kau bisa menyerap energi listrik. Mungkin lebih dari itu. Dan itu akan menarik perhatian."
"Perhatian siapa?"
Hime diam. Terlalu lama.
"Ada organisasi," katanya akhirnya. "Mereka mengawasi orang-orang seperti kau. Dan mereka tidak akan diam jika tahu ada psikis level tinggi di desa terpencil seperti ini."
Aku menelan ludah. Organisasi? Psikis level tinggi? Apa yang sedang aku dengar?
"Organisasi apa?" tanya Reiki.
"Penjaga Gerbang," jawab Hime pelan. "Tapi itu cerita untuk lain kali. Sekarang kau harus istirahat."
Aku mundur perlahan dari semak-semak. Cukup sudah yang kudengar. Aku perlu waktu untuk mencerna semua ini.
*Reiki adalah psikis. Hime tahu tentang dia. Dan ada organisasi bernama Penjaga Gerbang yang mengawasi mereka.*
Dunia yang selama ini aku kenal tiba-tiba terasa lebih kecil. Dan lebih menakutkan.
---
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku duduk di kamarku, menatap langit-langit, memikirkan apa yang harus aku lakukan.
Aku bisa melaporkan ini pada ayahku. Tapi apa yang akan kukatakan? *"Yah\, aku melihat anak SMA bercahaya biru dan ternyata dia psikis dan ada organisasi rahasia yang mengawasinya."* Ayahku akan mengirimku ke psikiater.
Atau aku bisa diam. Berpura-pura tidak melihat apa-apa. Kembali ke hidup normal sebagai Ketua Siswa Nakal.
Tapi sesuatu dalam diriku berkata bahwa aku tidak bisa berpaling. Bahwa apa yang kulihat hari ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Dan entah kenapa, aku merasa terlibat—meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya.
Aku mengambil ponselku, membuka kontak, dan mengetik pesan singkat ke nomor yang tidak kukenal:
*"Aku tahu tentang Reiki. Aku ingin bicara."*
Aku tidak tahu apakah pesan itu akan sampai ke Hime. Tapi aku harus mencoba.
Karena jika ada satu hal yang aku pelajari sebagai Ketua Siswa Nakal, itu adalah: lebih baik berada di sisi orang yang tahu apa yang terjadi, daripada menjadi korban dari apa yang tidak kau mengerti.
---
Pagi berikutnya, aku bangun dengan tekad baru. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di desa ini. Dan aku akan mulai dengan Reiki.
Tapi ketika aku sampai di sekolah, Reiki tidak ada. Mejanya kosong. Tempat duduknya di bangku belakang tidak terisi.
"Hei, Ival," aku menghampiri Ival yang sedang mengobrol dengan Niki. "Reiki mana?"
Ival mengangkat bahu. "Gak tahu. Katanya sakit."
Sakit. Tentu. Alasan yang mudah.
Aku berbalik dan berjalan keluar kelas. Guru memanggilku, tapi aku tidak peduli. Aku harus menemukan Reiki.
Dan aku harus menemukan Hime.
---
Aku menemukan mereka di gudang tua yang sama. Pintunya terbuka sedikit. Aku mendorongnya pelan dan masuk.
Reiki sedang duduk di lantai, minum air dari botol. Hime berdiri di dekat jendela, memegang perangkat peraknya. Mereka berdua menatapku ketika aku masuk.
"Kau," kata Hime. Matanya menyipit. "Aku melihatmu kemarin. Di dekat tiang listrik."
Aku mengangguk. "Aku melihat semuanya."
"Dan kau datang ke sini... kenapa?"
Aku menarik napas dalam-dalam. "Karena aku ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini. Siapa kalian. Dan apa itu psikis."
Hime menatapku lama. Lalu ia menoleh ke Reiki, yang hanya mengangkat bahu.
"Aku tidak punya waktu untuk mengurus anak SMA yang penasaran," kata Hime dingin.
"Kau butuh bantuan," jawabku. "Aku kenal desa ini. Aku kenal semua orang. Dan aku punya akses ke balai desa—ayahku bekerja di sana. Kalau ada yang bisa membantu kalian, itu aku."
Hime diam. Aku bisa melihatnya berpikir, menimbang-nimbang.
"Kenapa kau mau membantu?" tanyanya akhirnya.
Aku menatap Reiki. Anak itu—yang kemarin bercahaya biru—kini hanya duduk diam, menatapku dengan mata lelah.
"Karena aku tidak suka berada dalam kegelapan," jawabku. "Dan karena aku rasa, apa yang terjadi di desa ini akan mempengaruhi kita semua. Aku lebih baik berada di sisi yang tahu, daripada menjadi korban."
Hime tersenyum tipis. Senyum yang sulit diartikan.
"Kau lebih pintar dari yang kukira, Ketua Siswa Nakal."
Aku tersentak. "Kau tahu julukanku?"
"Aku tahu banyak hal tentang desa ini. Termasuk siapa yang berpengaruh di sekolah." Ia menyimpan perangkatnya. "Baik. Kau boleh membantu. Tapi ada satu aturan: kau tidak boleh bertanya tentang masa laluku."
Aku mengangguk. "Setuju."
Dan dengan itu, aku resmi menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari yang pernah kubayangkan.
---
Hari-hari berikutnya berjalan dengan cepat. Aku mulai sering mengunjungi gudang tua itu, membawa makanan, air, dan informasi tentang desa. Hime dan Reiki menjadi... teman? Mungkin bukan kata yang tepat. Tapi setidaknya, kami bukan lagi orang asing.
Aku belajar banyak tentang dunia psikis dari Hime. Tentang hierarki mereka—dari Psikis Biasa hingga Raja Dewa Psikis yang legendaris. Tentang Markas Psikis Pusat yang mengatur mereka. Tentang Penjaga Gerbang, organisasi misterius yang menjaga keseimbangan antar-dimensi.
Dan aku belajar tentang Reiki.
Anak itu tidak tahu apa-apa tentang dirinya sendiri. Ia tidak tahu kenapa ia bisa menyerap energi. Ia tidak tahu kenapa matanya bercahaya biru. Ia hanya anak SMA yang kebetulan punya kekuatan aneh.
Tapi Hime tahu sesuatu. Aku bisa melihatnya dari caranya menatap Reiki—seperti ia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
"Kau yakin dia tidak tahu?" tanyaku suatu sore, saat Reiki sedang tidur.
Hime menatapku. "Yakin."
"Tapi kau tahu."
Ia diam.
"Kau tahu sesuatu tentang dia, kan? Sesuatu yang tidak kau ceritakan."
Hime menghela napas. "Ada beberapa hal yang lebih baik tidak kau ketahui, KSAN."
"Seperti apa?"
"Seperti... kenapa aku ada di sini."
Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat celah di balik topeng dinginnya. Kelelahan. Kesedihan. Sesuatu yang sudah lama ia pendam.
"Suatu hari nanti," kataku, "kau harus cerita."
"Mungkin." Ia menatap ke luar jendela. "Tapi tidak sekarang."
---
Sementara itu, di sekolah, kekacauan mulai mereda. Listrik kembali menyala keesokan harinya. Pak Silent—guru olahraga yang paling ditakuti—mengumumkan bahwa pemadaman disebabkan oleh badai. Tidak ada yang curiga.
Kecuali aku.
Aku tahu penyebab sebenarnya. Dan aku tahu bahwa ini baru awal.
"KSAN!" Ival menghampiriku di koridor. "Kemarin kau bolos lagi! Pak Silent mencari-cari."
"Bilang saja aku sakit."
"Kau selalu sakit kalau ada tes fisik."
Aku mengangkat bahu. "Mungkin aku memang lemah."
Ival tertawa. Tapi matanya menyipit curiga. Ia tahu aku berbohong. Tapi ia tidak tahu tentang apa.
"Hei," katanya lebih pelan, "kau baik-baik saja? Akhir-akhir ini kau sering pergi."
Aku menepuk pundaknya. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
Tapi aku tidak baik-baik saja. Dan aku tidak tahu apakah aku akan pernah baik-baik saja lagi.
---
Malam itu, aku kembali ke gudang. Tapi ketika aku sampai, Hime sedang berdiri di luar, menatap langit. Wajahnya tegang.
"Ada apa?" tanyaku.
Ia menunjuk ke arah bukit. "Ada pesawat mendarat."
Aku menoleh. Di kejauhan, di balik bukit, aku bisa melihat lampu navigasi yang berkedip dalam pola yang tidak biasa.
"Pesawat apa?"
"Bukan pesawat biasa." Hime menatapku serius. "Kita mungkin punya masalah."
---
Aku tidak bisa tidur malam itu. Pikiran tentang pesawat misterius itu terus menghantuiku. Aku duduk di kamar, membuka laptop, dan mencoba mencari informasi tentang pesawat dengan tanda-tanda yang kulihat. Tapi tidak ada hasil. Pesawat itu tidak tercatat di mana pun.
Aku mengambil ponselku dan melihat foto misterius itu lagi. Siluet di bawah cahaya biru. Aku memperbesar gambar itu, mencoba melihat detail. Dan untuk sesaat, aku merasa bahwa siluet itu sedang menatapku.
*Sudahlah. Ini hanya foto.*
Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu itu bukan hanya foto. Itu adalah petunjuk. Petunjuk tentang sesuatu yang lebih besar.
Aku mematikan ponsel dan merebahkan diri. Di luar, bulan bersinar terang. Dan di kejauhan, lampu pesawat itu masih menyala.
Menunggu.
---
Pagi harinya, aku bangun dengan keputusan bulat. Aku akan bergabung dengan Hime dan Reiki sepenuhnya. Bukan sebagai pengamat, tapi sebagai bagian dari tim.
Aku menemui ayahku sebelum berangkat ke sekolah. Ia sedang duduk di meja makan, membaca koran.
"Yah, aku mau tanya sesuatu."
Ayahku menurunkan koran. "Tentang apa?"
"Tentang pesawat yang mendarat di balik bukit kemarin."
Untuk sesaat, sesuatu melintas di mata ayahku. Kekhawatiran? Atau mungkin ketakutan?
"Kau tidak perlu tahu tentang itu," katanya.
"Tapi aku sudah melihatnya."
Ayahku diam. Lalu ia berkata, "Ada hal-hal di dunia ini yang lebih baik tidak kau ketahui, Nak."
"Seperti apa?"
"Seperti... apa yang terjadi di balik bukit itu."
Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat bahwa ayahku—yang selalu tenang dan terkendali—sedang takut.
"Kau tahu sesuatu, Yah?"
Ia tidak menjawab. Ia hanya kembali membaca korannya, memberi isyarat bahwa percakapan selesai.
Tapi aku tidak menyerah. Aku akan mencari tahu sendiri.
---
Aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah hari itu. Sebagai gantinya, aku pergi ke gudang tua untuk menemui Hime dan Reiki.
Mereka sedang duduk di lantai, berbicara tentang sesuatu. Ketika aku masuk, mereka berhenti.
"Ada apa?" tanya Hime.
"Aku ingin bergabung," kataku. "Sepenuhnya."
Hime menatapku lama. "Kau yakin?"
"Ya."
"Kau tahu risikonya?"
"Aku tahu."
Hime tersenyum tipis. "Baik. Tapi ingat: sekali kau masuk, tidak ada jalan keluar."
Aku mengangguk. "Aku siap."
Dan dengan itu, aku resmi menjadi bagian dari tim. Bukan lagi pengamat. Bukan lagi saksi. Tapi anggota.
---
Hari itu, Hime mengajarkanku cara menggunakan perangkat deteksi energi. Alat itu mirip dengan yang ia bawa—perangkat perak kecil yang bisa mendeteksi fluktuasi energi psikis.
"Coba di area sekitar gudang," katanya. "Lihat apa kau bisa menemukan sesuatu."
Aku mengambil perangkat itu dan berjalan keluar. Arahkan ke utara. Tidak ada. Ke selatan. Tidak ada. Ke timur...
Perangkat itu bergetar.
"Ada sesuatu," kataku.
Hime mendekat. "Di mana?"
Aku menunjuk ke arah bukit. "Di sana. Dekat tempat pesawat itu mendarat."
Hime menatap ke arah yang kutunjuk. Wajahnya serius.
"Itu bukan pesawat biasa," katanya. "Itu adalah pesawat Markas Psikis Pusat."
"Markas Psikis?"
"Organisasi yang mengatur semua psikis. Mereka tidak suka dengan psikis liar seperti Reiki."
"Berarti mereka musuh?"
Hime diam sejenak. "Belum tentu. Tapi juga belum tentu teman."
Aku menyimpan perangkat itu. "Jadi apa yang harus kita lakukan?"
Hime menatapku. "Kita tunggu. Dan kita bersiap."
"Bersiap untuk apa?"
"Untuk apa pun yang akan datang."
**— Bersambung —**