NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 12

Tiba waktunya Erlan dan Alyra untuk kembali ke kediaman keluarga Pradana, setelah satu minggu lamanya menghabiskan waktu di rumah Dewangga.

Suara mesin mobil jeep yang sudah dimodifikasi terdengar meraung, berhenti di halaman luas berhias air mancur di tengah jejeran bunga kertas yang tertata rapi.

Alyra turun dari mobil, menatap gelisah pada bangunan bergaya eropa yang berdiri kokoh, terlihat congkak dan mengintimidasi, membuatnya ragu-ragu untuk melangkah maju.

‘Di rumah ini … aku akan memulai hidup baru, semakin dekat dengan musuh, hidup berdampingan dengan sosok yang telah merusak hidupku. Bisakah aku—’

“Apa gerangan yang membuatmu gelisah, wahai Istriku?” Erlando menyela monolog Alyra, seolah tahu kegundahan yang menyerbu istrinya, terbaca dari raut wajahnya.

Ia menelisik. “Jangan bilang … Lo lagi deg-degan bakal ketemu sang mantan, iya, ‘kan?” Alisnya naik-turun, tatapannya mengejek.

Alyra melirik sinis, menatap tak suka pada sosok yang tersenyum sampai mata menyipit layaknya bulan sabit. “Hentikan itu, saya tidak menyukai senyum jenakamu.”

“Senyum jenaka?” Yang disindir mengerutkan keningnya. “Lo nggak tau? Inilah pesona seorang Erlando Pradana, yang bikin klepek-klepek banyak betina.” Suaranya ditekan pelan, waspada orang sekitar mendengar.

“Sudahlah, saya malas berdebat.”

“Siapa juga yang ngajakin debat, gue cuma ngasih tau aja. Pengingat, supaya Lo hati-hati ke depannya, takutnya kepincut beneran sama pria jenaka ini.” Usai melontarkan kalimat yang jelas membuat Alyra kesal, Erlan berjalan ke arah bagasi mobil.

Ia mengambil dua koper berukuran besar, berisi perlengkapan ganti milik istrinya. Telinga seolah tertutup, sama sekali tak menghiraukan gerutu si wanita.

“Udah, udah … jangan kenceng-kenceng ngomelnya. Nanti didengar sama orang rumah, berakhir rencana kita gagal total,” bisik Erlan, kini berdiri sejajar dengan Alyra.

Perempuan dengan balutan gaun berwarna merah muda, hanya memutar bola mata, menghela napas malas.

Erlan menggenggam jemari Alyra. “Ayo masuk, kasih senyum, jangan cemberut mulu.”

Sangat lembut Erlan bertutur kata, ia sudah mulai memainkan perannya.

Keduanya melangkah seraya bergandengan, tangan lain si pria mendorong dua koper sekaligus.

Roda koper yang menderit di lantai marmer, terdengar seperti alarm bencana alam, membuat Ervin tak tenang duduk di depan meja makan.

‘Mereka sudah datang?’ Sosok berwajah masam itu meneguk ludah kasar.

“Ervin. Kendalikan dirimu, angkat kepalamu. Jangan membuat keributan yang akan menyulitkan dirimu sendiri,” bisik Zaskia, memperingati putra sulungnya.

“Iya, Ma.” Sang putra hanya menatap sekilas, kemudian kembali menundukan kepala.

Di ujung meja makan, duduk sosok berwajah tegas di kursi tunggal. “Di mana Velisa?” Dirham menatap pada kursi kosong, yang biasanya diisi oleh sosok menantu kesayangan.

“Masih di kamar, Pa. Sebentar lagi turun,” sahut Ervin.

“Kalian sudah baikan?” Kening Dirham mengerut tajam, tatapan seolah menekan.

“Iya, Pa. Kami berdua sudah baik-baik saja.” Ervin menjawab dengan tenang.

Tak lama kemudian, sosok yang sedari tadi dibicarakan akhirnya muncul dengan penampilan mencolok. Gaun merah menyala yang membalut tubuhnya begitu ketat, dipadukan riasan wajah tebal serta lipstick maroon gelap yang membuatnya tampak seolah baru saja melahap daging mentah.

Langkahnya dibuat pelan, berusaha terlihat anggun.

“Velisa, kamu ada acara hari ini?” tanya Zaskia, menatap heran pada sosok menantunya.

“Nggak ada, Ma. Kan katanya kita kedatangan tamu hari ini, harus totalitas dong untuk menyambut mereka.” Ia menarik kursi, lalu menghempaskan bokongnya.

Ervin hanya menatap biasa, bibir dipaksa tersenyum. “Kamu cantik, Sayang,” pujinya penuh dusta.

Di mata Ervin, penampilan Velisa lebih mirip badut panggung sirkus daripada wanita elegan. Riasan wajah yang terlalu tebal serta pakaian ketat yang tak selaras dengan bentuk tubuhnya yang rata, justru membuat penampilannya terlihat tak cocok dan tampak berlebihan.

Dirham hanya menanggapi dengan senyuman, tak ada komentar, ia cukup puas melihat Ervin sudah mulai patuh dan memperlakukan Velisa dengan baik.

Pasangan sejoli yang dianggap sebagai tamu itu, akhirnya tiba di ruang makan — tempat berkumpulnya keluarga.

“Pa … Erlan pulang,” ucap putra kedua Dirham Pradana, menatap penuh arti kepada sang papa.

Dirham menyambut dengan senyum yang dipaksakan, tak ada ekspresi lain, hanya sorot mata dingin.

“Duduklah, kita makan bersama.”

Erlan merapatkan bibir, semakin erat genggaman pada jemari sang istri.

Mata Alyra memicing, menyapu semua orang dengan tatapan heran. ‘Suasana macam apa ini … nggak ada yang menyambut kedatanganku sama sekali?’

Ia menyunggingkan sudut bibir, tatkala menatap langsung sorot mata bengis wanita yang menjadi rivalnya sejak masa kuliah, yakni Velisa.

Istri Ervin tampak menyeringai, memasang ekspresi tak suka, melempar tatapan sinis kepada Alyra.

‘Ada apa dengannya? Ngapa pula matanya terus mendelik, ngajak ribut?’ monolog Alyra nyaris bocor bersuara.

“Ayo, Sayang. Kita duduk di sini.” Erlan sudah lebih dulu maju, menarik kursi, mempersilakan sang istri.

Alyra mengangguk, lalu duduk di kursi, berhadapan dengan Velisa dan Ervin.

Erlan pun ikut duduk di samping sang istri.

“Masih ingat pulang juga kamu? Mama pikir udah betah banget di rumah mertuamu,” kata Zaskia, tak ada raut ramah atau pun penuh kasih saat bicara dengan putra keduanya.

Erlan tak menjawab, hanya menatap tanpa ekspresi. Ia lalu beralih pada sang istri.

“Kamu mau makan apa, Sayang?” Erlan bertanya lembut, binar matanya penuh kasih dan sayang.

Alis Alyra terangkat. “Hah?” Belum terbiasa dirinya menerima perlakuan sedemikian, terlebih dari seorang Erlan.

Ia menelan ludah, berusaha memasang raut wajah biasa, seolah perlakuan manis suaminya sudah menjadi kebiasaan dalam hari-harinya.

“Aku mau udang, Sayang.” Ia menunjuk pada piring berbahan keramik, mengimbangi permainan peran yang tengah dilakukan suaminya.

Dengan senyum yang cukup lebar, Erlan melakukan apa yang diminta istrinya. Mengambilkan beberapa sendok udang, menuangkan air ke dalam gelas, mendekatkan piring-piring yang terisi menu favorite Alyra.

Ia bertutur lembut, menatap penuh cinta. “Makan yang banyak, ya. Ibu hamil harus selalu sehat, banyak makan supaya kuat.” Senyumnya begitu hangat. “Udah mendingan, 'kan? Sekarang mualnya nggak terlalu parah?”

Alyra membalas dengan senyuman tak kalah hangat, menganggukan kepala. “Berkat dokter kandungan yang kamu rekomendasikan, aku diberi obat anti mual, dan itu cukup bekerja.”

“Ibu hamil?” Ervin menyeringai tipis, genggaman tangannya pada sendok begitu kuat. “Berhentilah bertingkah … seolah kamu-lah ayah dari bayi itu.”

Erlan dan Alyra menanggapi dengan santai, netra menatap datar.

“Ada yang salah?” sahut Alyra, ia tetap duduk dengan tenang.

“Al … maksud aku—”

“Apa maksud dari ucapanmu?” sela Erlan, matanya menatap tajam. “Alyra adalah istriku, sudah pasti bayi yang dikandungnya … adalah anakku.” Ia sedikit mencondongkan tubuh. “Aku ayahnya.”

“Makin hari dibiarin … Lo semakin keterlaluan, ya, Lan,” geram Ervin, sorot matanya bergetar menatap sang adik. “Memang benar kalau Alyra itu istrimu. Tapi … Lo nggak bisa seenaknya ngaku-ngaku kalau bayi itu anakmu. Sampai kapan pun … akulah ayahnya.”

“Ervin, jaga sikapmu.” Peringatan sang mama sama sekali tak dihiraukan.

Dirham meletakkan sendok di atas meja, sorot matanya menusuk, terlihat jelas bara amarah menumpuk pada iris berwarna legam.

Sementara Velisa masih diam, namun batinnya menahan geram. Ia mengatupkan bibir, tangan mengepal di atas pangkuan.

“Lucu sekali,” Erlan tersenyum tipis. “Setelah menelantarkan ibu sang bayi, sekarang … Lo ngaku-ngaku jadi bapak si bayi?”

Brak!

Ervin menggebrak meja dengan keras. Bangkit dari kursi, matanya menyala penuh murka. Tetapi, Erlan menanggapi dengan tenang, sama sekali tak terguncang.

“Denger, ya. Gue nggak pernah nelantarin Alyra, gue mau bertanggung jawab. Tapi Lo yang tiba-tiba muncul dan ngerebut posisi itu—”

PLAK!!

PLAK!!

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!