Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *32
"Udah, Yara. Makasih udah datang jenguk. Tapi Merlin masih butuh banyak istirahat," ucap Rey tiba-tiba. Nadanya tegas, dingin, dan tidak ada tawar-menawar.
Yara sedikit terkejut mendengar nada bicara Reyno yang berubah drastis itu. Namun ia hanya mengangguk pelan, lalu berpamitan pergi.
Setelah pintu tertutup dan Yara pergi meninggalkan ruangan itu, suasana kembali sunyi seperti semula. Namun kali ini, keheningan itu terasa lebih berat dari sebelumnya.
Reyno duduk kembali perlahan di sisi ranjang. Ia menarik napas panjang, lalu menatap wajah istrinya yang masih diam menunduk. Dengan suara yang sangat pelan, penuh ketulusan, ia berbicara.
"Aku bakal jaga kamu mulai sekarang, Mer. Beneran. Mulai detik ini, cuma ada kamu. Nggak ada siapa-siapa lagi."
Merlin mengangkat wajahnya. Ia menatap suaminya lama sekali. Menyelami manik mata itu, mencari kejujuran, mencari kehangatan yang dulu ada di sana. Namun kali ini, tidak ada lagi harapan yang bersinar di mata wanita itu.
Yang ada hanya kelelahan. Kelelahan yang mendalam, kelelahan jiwa juga kelelahan hati.
"Udah telat, Rey," ucapnya lirih. Sangat pelan, namun terdengar sangat jelas dan menyakitkan.
Kalimat pendek itu cukup untuk membuat hati Rey jatuh ke dasar paling dalam, jatuh ke tempat yang paling gelap dan sepi. Karena untuk pertama kalinya, Reyno sadar akan satu kenyataan pahit. Bahwa cinta yang terus-menerus disakiti, diabaikan, dan dikhianati prioritas, bisa habis perlahan-lahan. Bisa menguap pelan-pelan tanpa suara. Dan saat itu terjadi, saat cinta itu benar-benar habis, bahkan penyesalan terbesar pun mungkin tidak akan cukup untuk mengembalikannya lagi.
Reyno menundukkan wajahnya, menahan tangis yang kembali ingin meledak. Ia sadar, ia mungkin sudah terlambat. Dan sekarang, ia harus hidup dengan kenyataan bahwa ia telah kehilangan segalanya demi sesuatu yang ternyata tidak sebanding nilainya.
***
Sore itu, langit terlihat mendung kelabu, seolah ikut merasakan beratnya suasana hati dua anak manusia yang sedang beranjak pulang. Merlin akhirnya diperbolehkan dokter untuk meninggalkan rumah sakit. Namun perjalanan kembali ke apartemen mereka terasa sangat, sangat berbeda dibandingkan biasanya.
Suasana di dalam mobil begitu sunyi. Hanya terdengar suara hujan yang mulai turun rintik-rintik membasahi kaca jendela dan suara mesin kendaraan yang berjalan pelan. Tidak ada lagi obrolan-obrolan kecil yang biasa mereka lakukan. Tidak ada Merlin yang cerewet meminta mengganti lagu di pemutar musik. Tidak ada Reyno yang sesekali tersenyum menggoda istrinya, atau yang meraih tangan kecil itu untuk digenggam erat saat berhenti di lampu merah.
Yang ada hanya dua orang suami istri yang duduk berdekatan secara fisik, namun terasa terpisah jarak ribuan mil di dalam hati. Reyno menyetir dengan tenang, namun pikirannya kacau balau. Berkali-kali ia melirik ke samping, ke arah kursi penumpang tempat Merlin duduk bersandar lemas.
Wanita itu sepanjang perjalanan hanya menatap lurus ke luar jendela. Menonton tetesan air hujan yang meluncur turun. Tatapannya kosong, jauh, dan penuh kelelahan yang mendalam. Tidak ada ekspresi, tidak ada kata-kata, dan tentunya, tidak ada senyum sedikit pun yang terlukis di bibir.
Dan diamnya Merlin itulah yang membuat dada Reyno semakin terasa sesak dan sakit. Ia lebih rela jika istrinya berteriak, marah, atau menangis padanya. Setidaknya emosi itu masih ada. Tapi ketiadaan rasa seperti ini, itu jauh lebih menyakitkan.
Sesampainya di depan gedung apartemen, Reyno memarkirkan mobilnya dengan hati-hati. Ia langsung turun dan bergegas membukakan pintu untuk Merlin, lalu menyanggah tubuh istrinya agar bisa berjalan masuk ke dalam.
"Ati-ati, Sayang. Pegangan pada lenganku aja ya," bisiknya pelan.
Merlin hanya mengangguk kecil. Gerakannya lambat, kaku, dan terlihat sangat lemah. Seolah-olah tubuh dan jiwanya sama-sama telah kehabisan seluruh tenaga yang sebelumnya ia miliki.
Meraih berjalan langkah demi langkah menuju lift, menuju koridor, hingga akhirnya sampai di depan pintu rumah mereka. Rumah ini. Tempat yang dulu penuh tawa dan kehangatan. Sekarang terasa begitu asing dan dingin.
Reyno membantu Merlin masuk ke dalam kamar tidur, lalu memapahnya perlahan hingga bisa berbaring di atas kasur empuk mereka. Ia menarik selimut hingga menutupi pinggang istrinya, lalu menatap wajah pucat itu dengan penuh keprihatinan.
"Kamu istirahat dulu ya di sini. Aku ambilin air hangat dulu buat cuci muka sama minum obat," ucapnya lembut.
Merlin kembali mengangguk pelan, matanya perlahan terpejam sejenak. Reyno berdiri diam beberapa detik di ambang pintu kamar. Matanya menatap sosok si istri yang terbaring diam itu dengan tatapan sendu.
Ada rasa sakit yang luar biasa menyayat hati Rey saat ini. Ia ingin sekali masuk, duduk di sisi ranjang, dan memeluk wanita itu dengan erat dan penuh kasih. Tapi ia sadar, kehadirannya justru mungkin menjadi alasan kenapa Merlin merasa sakit.
Setelah sosok Reyno menghilang menuju dapur, Merlin perlahan membuka matanya kembali. Ia menatap sekeliling kamar ini. Kamar yang dulu sering ia impikan penuh kebahagiaan. Di tempat inilah dulu ia sering berbaring membayangkan masa depan mereka. Membayangkan sebuah tempat tidur bayi di sudut ruangan. Membayangkan bayi kecil mereka tidur pulas di tengah-tengah mereka berdua. Membayangkan Rey tersenyum lebar sambil menggendong anak mereka dengan bangga.
Namun sekarang, semua bayangan indah itu lenyap sudah. Hilang terbawa rasa sakit dan darah yang tumpah malam itu. Dan yang tersisa sekarang hanya rasa kosong yang begitu besar, luas, dan hampa. Rasanya ada bagian dari dirinya yang ikut mati bersama anak yang tak sempat lahir itu.
Malam pun tiba. Di rumah itu, Reyno berusaha sekuat tenaga untuk melakukan segalanya dengan benar. Ia memasak sendiri makanan yang lunak dan bergizi di dapur, ia menyiapkan obat-obatan sesuai jadwal, ia merapikan kamar, dan ia bahkan memaksa Merlin untuk makan sedikit saja meski wanita itu sama sekali tidak memiliki nafsu makan.
"Ini sedikit ... aja ya, Mer? Cuma beberapa suap. Kamu harus makan biar tenaga kamu balik lagi," bujuk Rey pelan sambil menyodorkan sendok berisi bubur hangat ke depan mulut istrinya.
Merlin menatap sendok itu lama sekali. Matanya sayu. Namun akhirnya, ia membuka mulutnya pelan-pelan, membiarkan suaminya menyuapi. Ia menelan makanan itu tanpa merasakan apa pun.
Saat melihat kepatuhan sederhana itu, melihat betapa lemah dan pasrahnya istrinya sekarang. Entah kenapa justru membuat Reyno ingin menangis sejadi-jadinya di situ sekarang juga.
Rey teringat akan waktu yang telah berlalu. Dulu saat Rey yang sakit, saat Rey yang lelah, atau kelelahan bekerja, Merlin lah yang selalu ada di sisi. Merlin yang selalu merawatnya dengan sabar, dengan senyum manis, dengan perhatian-perhatian kecil yang dulu tidak pernah ia sadari betapa berharganya hal itu.
🥹🥹