Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.
Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.
Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.
Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Keluarga
Joulle langsung menegakkan badan kaku-kaku, wajahnya yang tadi garang berubah pucat dan gemetar ketakutan. Ia bahkan membungkuk dalam-dalam.
Dori melongo tak percaya. Cowok yang tadi sok berkuasa dan mau mengerjai dia, sekarang jadi selembar kertas di depan orang tuanya?!
"Gila ... ini beneran dunia terbalik! Jadi selama ini dia cuma bawahan Papa?!" batinnya meledak kaget.
Ayah Dori, Prof Barroq, hanya tersenyum santai sambil membetulkan letak kacamatanya. Ia berjalan mendekat dengan tenang.
"Sudah cukup Joulle. Latihannya selesai. Kau terlalu jauh melangkah."
"Ta-tapi Prof ... saya cuma mau memverifikasi data ... saya mau ambil spesimen itu sesuai perintah..." bantah Joulle terbata-bata.
"Kami tidak pernah memerintahkan kau menyakiti anak kami sendiri!" potong Ibu Dori yang berjalan di samping suaminya. Wajahnya teduh tapi tatapannya tajam.
Matcha yang tadi siap tempur, kini menurunkan tangannya perlahan. Ia menatap pasangan tua itu dengan pandangan tajam dan curiga.
"Jadi ... kalian yang di balik semua ini? Kalian yang menciptakan sistem ini?" tanyanya dingin.
Prof. Barroq berhenti di hadapan mereka berdua. Matanya menatap Matcha lekat-lekat, lalu tersenyum lebar penuh kekaguman.
"Akhirnya ... aku bisa melihatmu secara langsung. Tuan Matcha ... legenda yang hilang."
Matcha terkejut. "Kau ... kenal aku?"
"Tentu saja. Aku dan istriku yang meneliti jejak energimu bertahun-tahun. Kami yang merancang alat agar jiwamu bisa bertahan dan 'hidup' kembali."
Prof. Barroq menepuk pelan laptop yang ada di tangan Dori.
"Laptop yang kau pakai itu... bukan barang bekas sembarangan. Itu prototipe khusus yang kami kirimkan khusus buat Dori."
JLEB!
Dori ternganga. "Ja-jadi ... laptop itu bukan aku yang beli kebetulan?! Papa yang kirim diam-diam?!"
"Iya sayang. Papa sengaja biar kamu nemu sendiri. Supaya ikatan kalian terbentuk secara alami," jawab Ibunya lembut.
"Kenapa?! Kenapa kalian lakukan semua ini?!" seru Dori bingung campur marah.
"Karena kau satu-satunya yang punya resonansi yang cocok sama dia. Hanya kau yang bisa jadi 'baterai' dan 'rumah' buat dia."
Joulle yang berdiri di pojok cuma bisa garuk-garuk kepala malu. "Jadi ... selama ini aku salah paham? Mereka ini keluarga baik-baik?" gumamnya pelan.
Matcha mendengus kesal. "Hmph! Kalau begitu kenapa anak buahmu galak dan mau membunuhku?! Kenapa main curang pake alat penghambat!"
"Maafkan dia. Dia terlalu antusias. Sifatnya memang begitu, kerja keras tapi kurang mikir perasaan," kata Prof. Barroq menenangkan.
Ia lalu menatap Matcha dengan sangat serius.
"Tuan Matcha ... terima kasih. Terima kasih sudah menjaga putri kami sebaik ini. Bahkan rela habiskan energi buat lindungi dia."
Wajah Matcha tiba-tiba berubah merah padam. Ia memalingkan wajah malu-malu, tangan menggaruk pipi.
"Ehm ... itu ... sudah tugasku sebagai guru dan pelindung. Lagipula ... Dori juga sudah rawat aku dengan baik kok."
Dori di sebelahnya senyum-senyum sendiri. "Ih, gengsian banget sih ini cowok!" batinnya.
"Tapi..." Wajah Prof. Barroq berubah serius lagi. "Sekarang masalahnya bukan di sini."
"Ada apa Pa?" tanya Dori.
"Energi yang Tuan Matcha keluarkan tadi terlalu besar. Itu memicu peringatan di pusat sistem. Artinya ... keberadaan dia mulai terdeteksi oleh pihak lain."
"Pihak lain siapa?"
"Organisasi gelap yang juga mencari kekuatan ini. Mereka tidak sebaik kita. Mereka mau pakai kekuatan ini buat hal buruk."
Ibu Dori melanjutkan, "Mulai hari ini, status perlindungan kalian naik level. Tidak ada lagi main-main."
"Dan kamu Joulle..." Prof. Barroq menoleh ke arah pemuda itu.
"Ya Prof?!"
"Kamu diturunkan pangkat! Mulai sekarang tugasmu bukan menangkap, tapi jadi badan pengawal pribadi mereka!" perintah Prof. Barroq tegas.
"HAH?! Saya harus ngawal hantu dan manusia ini?!" Joulle melongo syok.
"Betul. Ganti rugi karena sudah bikin mereka takut. Dan awasi terus, jangan sampai ada yang tahu rahasia ini."
Joulle menatap Matcha, Matcha menatap Joulle.
Dua orang yang tadi mau bunuh-bunuhan, sekarang disuruh jadi partner?!
"Dasar nasib sial..." gerutu Joulle kesal.
"Hmph, jangan harap aku mau ngomong sama kamu," sahut Matcha sombong.
Dori tertawa kecil melihat interaksi mereka.
Tapi tiba-tiba...Tubuh Matcha gemetar hebat. Cahayanya berkedip-kedip tidak stabil lagi.
"Aduh ... apa lagi ini ... energinya... tiba-tiba lonjak tinggi terus drop..."
"Cha! Kamu kenapa?!" Dori panik memegang tubuhnya yang mulai transparan.
"Ini efek samping ... karena pakai kekuatan penuh barusan. Tubuh ini... mau kembali ke bentuk awal..."
"Tahan! Jangan hilang di depan orang tuaku!"
Terlambat. Dengan suara
zupp!
tubuhnya lenyap kembali masuk ke dalam laptop.
Layar menyala normal, dan wajah Matcha muncul dengan napas ngos-ngosan.
"Huft... huft... capek... butuh makan enak... banyak."
Prof. Barroq dan Ibu tertawa melihat tingkahnya.
"Seperti yang sudah kita duga. Dia sama seperti cerita-ceritanya. Dramatis tapi manis."
"Nah Dori, sekarang bawa dia pulang. Besok kita ada pertemuan penting di rumah. Banyak hal yang harus kalian tahu soal masa lalu Tuan Matcha. Dan soal... kenapa dia bisa terikat sama kamu sedemikian rupa."
Dori menatap layar, lalu menatap orang tuanya.
"Ayo sayang, kita pulang." Suara lembut Ibu menyentuh hati Dori.
Segala ketegangan, ketakutan, dan kemarahan tadi seolah menguap hilang diganti rasa lega yang luar biasa.
Dori mengangguk cepat, lalu memeluk laptopnya erat-erat. Di dalam sana, Matcha masih terlihat lemas dan kehabisan napas.
Prof. Barroq berjalan di depan, diikuti oleh Joulle yang wajahnya masih manyun dan kaku.
"Joulle, bawa tas Dori. Dan jalan di belakang, awasi situasi," perintah Prof. Barroq tanpa menoleh.
"Siap Prof..." jawab Joulle pasrah, lalu dengan enggan mengambil tas punggung Dori.
Matcha yang melihat itu dari layar langsung menyeringai menang. "Hahaha! Rasakan! Jadi kuli angkut sekarang ya kau!"
"Diam kau barang bekas! Aku cuma nurut perintah doang!" balas Joulle kesal tapi pelan takut didengar bosnya.
...***...
Malam itu, perjalanan pulang terasa berbeda. Mobil mewah orang tua Dori melaju mulus di jalanan kota yang mulai sepi.
Di dalam mobil, suasana hangat. Ibu sibuk menyuapi Dori makanan ringan, sementara Prof. Barroq sesekali melirik ke arah laptop yang menyala redup.
"Jadi ... ini dia ya sang pujangga legendaris?" tanya Prof. Barroq sambil tersenyum ke arah layar.
"Benar, Tuan. Saya yang dulu pernah menciptakan ribuan karya indah," jawab Matcha sombong tapi sopan.
"Dan sekarang jadi hantu yang doyan makan dan suka cemburu buta?" celetuk Ibu Dori.
Plek!
Wajah Matcha langsung merah padam, ia menunduk malu. "Ibu ... jangan sebut begitu dong... itu kan karena..."
"Karena apa? Karena sayang sama Dori ya?" goda Ibu lagi.
"SUDAHLAH! MAKANANNYA KAPAN DATANG?! AKU LAPAR!" Matcha pura-pura marah buat menutupi malunya.
Semua orang di mobil tertawa. Suasana akrab sekali, padahal baru beberapa jam lalu situasinya mencekam.
Sesampainya di rumah kontrakan Dori yang kecil ... Joulle dan Prof. Barroq langsung melongo melihat kondisi tempat tinggalnya.
"Kau... tinggal di sini? Sesempit ini?" tanya Joulle kaget.
"Kenapa? Bersih kok! Dan nyaman!" bela Dori cepat.
Matcha langsung mendengus marah. "Jangan menghina markas kami! Di sini aku merasa hidup! Di sini aku diajari apa itu cinta sejati!"
"Yeee ... meleleh lagi," ejek Joulle pelan.
Tiba-tiba Prof. Barroq mengangkat tangan meminta tenang.
"Dori, Tuan Matcha ... dengarkan baik-baik. Mulai detik ini, hidup kalian tidak akan sama lagi. Karena energi Tuan Matcha sudah meledak keluar secara besar-besaran, penyamaran kita jadi rentan."
"Artinya?" tanya Dori.
"Artinya ... makhluk lain atau organisasi jahat bisa melacak lokasi kalian kapan saja. Mereka juga mencari kekuatan macam ini."
Wajah Prof. Barroq berubah sangat serius. "Mereka tidak sebaik kami. Mereka tidak peduli perasaan. Kalau mereka dapat Matcha, mereka akan kuras habis energinya sampai hilang selamanya."
Dori langsung memeluk laptop erat-erat lagi. "Gak akan! Aku gak bakal biarin siapapun ambil dia!"
"Untuk itu..." Prof. Barroq menoleh ke Joulle. "Kau tinggal di sini mulai malam ini. Tugas jaga 24 jam. Jangan sampai ada yang masuk."
"HAH?! DI SINI?! Kamarnya sempit gini! Mau tidur di mana saya?!" Joulle melongo syok.
"Tidur di sofa atau di lantai. Itu hukuman buat kau yang tadi mau mengerjain mereka," sahut Ibu tegas.
Joulle menatap Matcha, Matcha menatap Joulle dengan senyum menang.
"Hahaha! Nasib buruk! Silakan nikmati sempitnya kamarku, wahai tuan kaya raya!"
"Dasar hantu sialan..." gerutu Joulle pasrah.
Tapi tiba-tiba... Layar laptop berkedip biru. Muncul notifikasi sistem besar yang dilihat semua orang.
[SISTEM UPDATE: VERSI 2.0 AKTIF]
[STATUS HUBUNGAN: 95%]
[DATABASE INGATAN: SEDANG DIPROSES...]
Matcha terkejut. "Apa ini? Kenapa tiba-tiba update?"
"Ini efek pertemuan kita tadi. Sistem otomatis membuka akses data yang terkunci," jelas Prof. Barroq.
"Artinya ... ingatan Tuan Matcha mulai kembali perlahan. Besok ... kita akan bahas semuanya. Siapa kau sebenarnya, dan kenapa kau terikat dengan Dori."
Dori pun tidur memeluk laptop di kasur, Joulle tidur di sofa dengan selimut seadanya, dan di luar ... dunia menunggu cerita selanjutnya.
Tapi saat tengah malam... Dori terbangun karena merasa getaran aneh. Ia membuka mata dan melihat layar menyala sendiri.
Tulisan besar muncul di sana, hanya untuk dia baca.
[DORI... MIMPI KITA SAMA. KAU JUGA MERASAKANNYA KAN?]
Dori terbelalak.